
"Pagi, Mami." Sapa Amel menghampiri Dita di dapur dan ia ikut membantu mengupas bawang.
"Pagi juga, Mel. Itu bawangnya tolong kamu iris, ya!" pinta Dita menyiapkan susu dan roti panggang kesukaan suaminya.
Amel menginap di rumah Dita atas permintaan Dita sendiri. Dita tidak tega melihat Amel di rumah sendirian meski di rumahnya ada Art.
"Mel, apa teman perempuan mu ada yang jomblo?" tanya Dita sambil mengoleskan selai kacang ke roti.
"Teman Amel tidak banyak dan setahu Amel mereka sudah punya pacar. Emangnya kenapa, Mi?" tanyanya kembali melirik sebentar kemudian kembali melanjutkan mengupas bawang.
"Mau cari pasangan buat Doni. Mami takut Doni tidak menyukai wanita, makanya Mami berniat mencarikan jodoh untuknya supaya Doni mau menikah."
"Oh, gitu." Ada rasa yang tidak rela mendengar Doni akan di carikan jodoh.
"Bagaimana kalau kita buat pengumuman saja, Mi. Misalnya, Pengumuman, di cari calon pasangan untuk Doni Alexander. Gitu, Mi. Macam biro jodoh, gitu."
Dita berpikir, "Apa akan berhasil? Mami takut mereka hanya mengincar hartanya saja. Kamu tahukan wanita zaman sekarang, ada uang Abang sayang, enggak ada uang Abang ku tendang. Yaaaa... macam cewek matre, Mami tidak suka itu." Kata Dita selesai membuat susu dan roti selai kacang. Dia kembali melanjutkan kegiatannya memasak nasi goreng kuning.
"Kita lakukan tes dulu terhadap mereka, kita kasih Om Doni waktu untuk mengenal calon pasangannya selama satu minggu, dan setelah seminggu Om Doni putuskan lanjut atau end," usul Amel menyodorkan bumbu ke Dita yang siap di goreng.
"Boleh juga, tapi kamu bantuin cari, ya! Anggap saja kamu yang jadi biro jodohnya," balas Dita mengaduk-aduk nasi goreng di wajan.
"Iya deh, aku pasti bantu, Mami tenang saja, akan ku pastikan Om Doni mendapatkan yang terbaik," ujarnya tak yakin.
******
Di ruangan kerja, Amel serius menatap laptopnya. Jari lentiknya serius mengetikkan sesuatu sesuai keinginan Dita.
Klik.
"Selesai, tinggal menunggu yang ingin daftar." Amel beranjak dari duduknya dan keluar menuju meja kasir.
"Bang Gilang, tolong Abang cek stok mainan di gudang, apa saja yang sudah habis kemudian laporannya serahkan ke aku ya!"
"Ok siap, Mel. Oh, iya, tadi ada yang nyariin kamu," ujar Gilang menyapu lantai.
"Siapa? cewek atau cowok?"
"Cowok, katanya dia mantan kamu, dia juga nitip salam buat kamu."
Amel mengerutkan keningnya berpikir siapa yang di sebut mantan. "Oh, mungkin dia Rangga," batin Amel mengingatnya.
******
Cafe SC and R
__ADS_1
"Leo, tolong persiapkan dokumen untuk meeting! Sekarang juga kamu antarkan ke ruangan saya!" ucap Doni melangkah masuk ke dalam Cafe.
"Baik, Bos."
Banyak pasang mata memperhatikan Doni penuh kagum. Terutama para wanita, mereka tak hentinya memuja memuji seorang Doni Alexander, tangan kanan Aurelia Syafira yang terkenal dingin namun mempesona.
Tubuh tegap, rahang kokoh berbulu membuat para wanita makin klepek-klepek. Menurut mereka pria yang berjenggot terlihat sangat macho dan keren.
"Duh, Adek terkesima, Bang!"
"Aku mau deh jadi pacarnya, apalagi jadi istrinya mau banget."
"Om, kapan kita bisa jalan bareng."
Bisik-bisik ucapan mereka sempat terdengar di telinga Doni dan Leo. Doni cuek dan tak menanggapi, namun Leo.
"Abang juga terkesima sama, neng. Kalau mau jadi pacar Abang, hayu aja. Besok juga hayu kita jalan, tapi makannya bayar masing-masing, ya!" sahut Leo membalas celotehan mereka namun tetap melangkah mengikuti Doni.
Doni duduk, "Wanita emang aneh ya, lihat yang bening rame, lihat yang jelek, rame, lihat yang setengah mateng juga rame, herman deh gue."
"Heran bos, bukan Herman," Leo membenarkan.
"Terserah saya, dong. Mulut saya yang bicara kenapa situ yang komen?"
Leo cengengesan, "Ya cuman membenarkan doang, apa salahnya."
"Bagus itu, siapa tahu loe segera dapat pasangan," balas Leo sambil menyiapkan beberapa dokumen penting untuk di bawa meeting.
Namun handphone Leo terus berdering, lebih tepatnya sebuah pesan masuk terus masuk. "Ada apa sih, rame bener handphone gue?" Leo mengambil benda persegi yang ada di sakunya dan membuka sosmednya. Seketika matanya terbelalak kaget.
"Bos...! Gawat darurat..!" pekik Leo mengagetkan Doni.
Doni yang serius membaca berita menoleh mengernyit heran. "Ada apa? heboh bener!"
"Ini jauh lebih heboh, Bos. Dirimu sedang Viral." Leo menunjukan postingan Amel yang menandai dirinya dan Doni.
Doni yang penasaran, melihatnya. Dia terbelalak dan geram akan kelakuan adik ipar keponakannya.
PENGUMUMAN
DI CARI CALON PASANGAN UNTUK :
NAMA : DONI ALEXANDER
UMUR : 36 TAHUN
__ADS_1
SIAPA YANG BERSEDIA DAFTAR TOLONG HUBUNGI NO DI BAWAH INI! NANTI KAMI AKAN MENYELEKSI SIAPA YANG TEPAT DAN PANTAS MENJADI CALON PASANGANNYA.
08578XXXXXXX
"Ameeelll.... maunya apa sih ni anak kecil? ini sudah tidak bisa di biarkan lagi!" Doni geram, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat. Dia melemparkan majalah dan beranjak pergi.
"Don, Don, jaga amarah loe! Jangan kasar sama cewek, Don!" Leo mengikuti langkah Doni yang cepat.
Sedangkan di luaran sana,
"Eh lihat deh, ini kan Doni Alexander. Wah, dia lagi cari calon pasangan! Aku mau ah daftar," pekik salah satu wanita tak sengaja melihat postingan Amel.
"Ini kesempatan kita buat bisa dapetin hatinya. Aku juga mau daftar ah."
"Eh, itu Doni keluar!" pekik salah satu pembeli yang ada di Cafe.
"Aaaaa Doni, aku mau dong daftar!" Pekik wanita yang tadi mengagumi Doni menghampiri Doni.
Seketika Doni menjadi rebutan para cewek-cewek. Dia yang ingin keluar sulit karena di hadang para penggemarnya.
"Apaan sih, minggir! Saya mau lewat!" Doni risih di kerumuni seperti ini.
"Aduuhhhh, si bos mendadak jadi seleb banyak fansnya," ujar Leo berusaha menghadang para wanita untuk menjauhi Doni.
"Doni aku padamu, aku mau daftar!"
"Iya, Nona, nanti kami akan atur kapan waktu daftarnya, ya, Nona!" Leo merentangkan tangannya menghadang. Doni cepat-cepat menghindari kerumunan tersebut membiarkan Leo dan penjaga yang menanganinya.
"Minggir, Tuan! Saya tidak punya kepentingan dengan kamu!" Leo sampai di dorong-dorong, bahkan ada yang mencubitnya supaya tidak menghalangi.
"Emaaaakkkk, aku di cubitin cewek, makkkk... senangnya, Maaakkk. ada yang pegang-pegang pipi aku...." pekik Leo masih bertahan bersama penjaga lainnya menghadang para cewek-cewek.
******
Doni tiba di toko mainan, dia sampai memakai masker dan kacamata hitam supaya tidak di ketahui para penggemar barunya.
"Gilang, mana Amel?" tanya Doni dingin, wajahnya sudah tak bersahabat.
Gilang yang sedang melayani pembeli menoleh ke suara bariton. "Amel ada di ruangannya, Bang."
Doni pun langsung melangkah ke ruangan Amel. Secara kasar ia mendorong pintu, "Apa yang kamu lakukan, Mel?" cerca Doni dingin.
Amel tengah duduk dan bersibaku dengan tumpukan dokumen laporan tokonya. Gadis berdagu belah itu terlihat cantik jika dalam keadaan serius dengan kaca mata bulat yang bertengger di pangkal hidungnya.
Amel mendongak mendengar pertanyaan Doni. "Om..!"
__ADS_1
Bersambung....