
"Mas, berapa lama kita tinggal di sini?" tanya Amel kepada Doni.
Keduanya sedang duduk di bebatuan dekat sungai menikmati sejuknya suasana pedesaan menatap hamparan sawah hijau berjajar rapi seperti tangga.
"Sampai misi kita berhasil, dan sebelum selesai pantang bagi kita untuk pulang."
"Berarti akan lama, dong. Terus bagaimana dengan hubungan kita? kapan Mas Doni akan datang kerumah?" Amel kembali bertanya mengenai hubungan keduanya.
Doni menoleh tersenyum. "Ingin banget ya di lamar?"
"Ti-tidak, bukan begitu," balas Amel gugup menunduk malu ketahuan berharap banget.
Batinnya mengumpat, "Duuuhhh, pake keceplosan lagi. Kan malu ketahuan banget berharapnya."
"Jujur saja, sayang. Aku tahu, pesona seorang Doni Alexander memang tak diragukan lagi bahkan banyak orang yang berlomba-lomba ingin mengejar cintanya dan menginginkan menikah denganku," kata Doni membanggakan diri.
Amel yang tadinya malu kini malah menunduk cemberut. Dia tidak suka banyak cewek berlomba-lomba mengejar Doni.
"Aku memang berharap sama kamu, Mas. Entah kenapa aku takut sekali kehilangan kamu," jawabnya jujur namun masih menunduk.
Doni memegang kedua pundak Amel dan menghadapkan tubuhnya ke hadapan Doni. "Setelah masalah di sini selesai, aku akan segera menikahi mu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita selain kematian."
Amel mendongak menatap serius mata Doni. "Apa Mas Doni yakin mau menikahiku? lalu bagaimana dengan biro jodoh yang sedang berjalan? aku takut kamu memilih salah satu dari mereka," lirihnya ketakutan dan berkaca-kaca.
"Aku yakin, Mel. Soal biro jodoh, kita pikirkan nanti. Aku sudah menunda dulu hingga waktu yang di tentukan dan setelah dari sini kita lanjutkan biro jodoh itu."
Amel melepaskan tangan Doni yang ada di pundaknya. "Aku tidak mau di permainkan, Mas. Aku memang salah sudah mencarikan kamu pasangan, tapi aku juga yang keberatan akan ajang pencarian jodoh ini. Aku menyesal telah membuat pengumuman itu," katanya sedih.
Doni menangkupkan kedua tangannya di pipi Amel. "Aku tidak sedang mempermainkan kamu, Mel. Mas serius mau serius sama kamu dan jangan pernah menyesali setiap tindakan yang kamu lakukan. Karena apa? karena dengan adanya ajang ini kamu menyadari perasaanmu kepadaku dan aku bersyukur itu. Aku hanya mencintaimu dari dulu saat pertama kali bertemu kamu."
"Mas Doni serius?"
"Serius, sayang." Jawab Doni menatap lekat-lekat mata Amel. Keduanya saling memandang kemudian mata Doni beralih menatap bibir Amel.
__ADS_1
Dia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Amel dan Amelpun memejamkan mata untuk menerima kecupan tersebut. Sesaat bibir keduanya tinggal beberapa Centi....
Pluk....
Ada yang melempar batu ke kepala Doni sehingga Doni tidak jadi dan menjauhkan wajahnya.
"Siapa sih yang main lempar sembarangan?" gerutunya.
Pluk...
Lemparan batu kecil kembali mengenai punggung Doni.
"Siapa disitu? keluar!" pekik Doni.
"Wooooi, berduaan mulu, kata orang kalau dua orang manusia berbeda jenis berada di tempat sepi yang ketiganya setan. Hampir saja setannya menggoda kalian kalau aku tidak datang kau sudah main sosor tuh anak orang Don," pekik Leo muncul di balik semak-semak.
"Ck, Leoooo.... kau bilang yang ketiga setan, berati kau setannya," sergah Doni kesal.
"Kita tidak bertiga, Bos. Ada Sari di sini." Dan Sari pun berdiri di dekat Leo cengengesan.
"Tahu lah." jawab Leo dan Sari bersamaan.
Doni mencebik, ia mengacak-acak rambutnya prustasi dan batinnya menggerutu, "Ganggu saja, padahal tinggal sedikit lagi."
Sedangkan Amel menunduk malu ketahuan akan melakukan adegan mesum.
Leo tertawa melihat Bos sekaligus temannya memberenggut kesal. "Emang enak pas lagi pengen di ganggu."
********
"Ikut, kami! Kalian sudah berusaha menganiaya seseorang sampai mereka babak belur."
"Jangan tangkap kami, Pak. Kami tidak bersalah, justru mereka yang memaksa kami untuk meninggalkan tempat ini dan mereka menipu kami, Pak," tolak para warga.
__ADS_1
"Bohong, Pak. Mereka semua berbohong. Kalian telah menganiaya anak buah saya, hasil visum pun menunjukan kalau anak buah saya di pukuli dan mereka juga menyandera Mbah Surip. Itu sama saja mereka mencemarkan nama baik saya," pekik Bos besar rentenir tanah yang bernama Pak Jamet.
"Ajudan..!"
"Siap, komandan."
"Bawa mereka ke kantor polisi!"
"Siap laksanakan."
Beberapa warga di seret paksa oleh polisi. Sedangkan Jamet tersenyum puas melihat itu dan dia berkata, "Siapapun yang melawan saya akan bernasib sama dengan mereka dan jangan kalain coba-coba untuk melawan. Tinggalkan rumah kalain atau kalian akan bernasib sama.!"
*******
"Nak Doni.... tolong kami....Nak....!"
Teriak Pak Ian berlari menghampiri Doni.
Doni dan kawan-kawan sontak menoleh dan mereka menghampiri orang yang berteriak memanggil Doni.
"Pak Ian, ada apa?"
"Mereka datang lagi, Nak. Mereka menangkap penduduk yang tidak bersalah dan menuduh mereka melakukan penganiayaan. Tolong kami!" pinta Pak Ian memohon.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Doni.
"Di depan rumah-rumah warga, Nak."
"Kita harus segera selesaikan masalah ini secepatnya, Bos." ujar Leo dan Doni mengangguk.
Mereka semua tergesa-gesa segera pergi dari sana agar mereka dapat mencegah para polisi membawa warga yang tidak bersalah.
Doni dan kawan-kawan tidak akan membiarkan kejahatan menang dan mereka akan melakukan apapun demi kebenaran termasuk mengorbankan nyawa mereka demi negara.
__ADS_1
Bersambung.....