
Amel termenung sendiri di dalam kamar, ia mengingat kembali ucapan Doni yang bilang kalau dia menyerah.
"Aku menyerah, Mel. Sudah sekian lama ku mencintaimu tapi kamu tak pernah sedikitpun melihat cintaku. Kamu hanya menganggap ku tak ada."
"Kalau hatimu tertutup untukku, maka aku akan menutup hatiku untukmu. Kali ini aku serius untuk tidak menggangu mu lagi supaya hidupmu terasa tenang tanpa adanya pengganggu sepertiku."
"Saya sadar kalau saya hanya pria tua yang menginginkan wanita muda sepertimu. Saya sadar kalau kamu pasti akan malu berjalan beriringan dengan pria tua sepertiku. Maafkan aku karena telah mencintaimu."
"Aku mundur karena ku tak ingin menunggu sesuatu yang tak pasti. Semoga kamu senang dan bahagia."
Tak terasa air matanya menetes begitu saja, sesak, itulah yang saat ini ia rasakan. Dia sendiri yang ingin Doni menjauhinya dan dia sendiri yang merasa tak terima.
Amel terbaring memeluk guling dengan dada yang terasa sesak mengingat kembali ucapan Doni. Seharusnya ia bahagia tak akan ada lagi yang mengganggunya tapi ia malah sedih.
********
Sedangkan Doni terbaring di tempat tidur menatap langit-langit kamar.
"Aku menyerah hanya untuk kembali, aku menjauh hanya untuk melihat seberapa dalam kamu tersiksa tanpaku, Mel. Maafkan aku yang harus melakukan ini supaya kamu sadar akan perasaan mu terhadapku."
"Sampai kapanpun aku mencintaimu meski kau sendiri yang mencarikan wanita untukku tapi aku akan tetap mencintaimu."
Doni memejamkan mata dan semua akan kembali seperti awal bertemu.
*********
Pagi telah tiba, Doni dan Amel sudah bangun dan bersiap untuk bekerja. Kali ini Doni tak akan mampir dulu kerumah Arman dan hanya akan mampir kerumah Dita.
Doni juga tidak akan mengantar ataupun menjemput Amel seperti yang ia lakukan kemarin-kemarin.
"Mel, Papa sama Mama akan pergi keluar kota untuk meninjau tempat pembukaan toko. Kamu tinggal sama Mami Dita dulu, ya." kata Dinda menuangkan Nasi goreng ke piring Arman.
"Iya, Mel. Kami tidak tenang kamu tinggal sendirian di sini. Kalau di rumah Dita, ada Dika, dan juga Doni yang akan membantu menjagamu."
"Aku tinggal bareng Abang aja."
"Mereka juga akan pergi ke kota M untuk mengadakan Ziarah ke makan orang tuanya Felix. Kami tidak bisa ikut karena harus ke luar kota. Kamu juga tidak ikut karena harus mengurus toko yang ada di sini."
"Baiklah, aku tinggal di rumah Mami Dita saja."
********
__ADS_1
"Dik, Dit, kita titip Amel di sini. Kami tidak tega meninggalkannya sendirian di rumah apalagi Amel perempuan. Kalian juga tahu kan kalau keluarga kecil Reyhan mau ke kota M jadi hanya kepada kalian kami menitipkan Amel," ucap Arman.
"Kalian tidak perlu khawatir, Amel juga putri kita jadi dia berhak keluar masuk ke rumah ini meski tidak ada kami. Dita pasti senang kalau ada yang menemaninya di rumah," balas Dika.
"Iya, Din, Man. Saya senang kalau Amel mau menginap. Nanti pulang kerja suruh ke sini saja."
"Kita sudah memberitahukan Amel dan Amel pasti pulang ke sini. Kalau gitu kita merasa lega dan kita pamit dulu." ucap Arman.
Arman dan Dinda berpamitan untuk pergi ke luar kota mengurusi pembukaan toko di daerah lain.
**********
"Sar, kamu temenin aku nonton yuk!" ajak Amel menopang dagu memperhatikan jalan.
"Gue sih mau-mau saja, Mel. Tapi, saat ini gue lagi kerja dan loe sendiri yang jadi bosnya."
"Libur saja dulu deh, gue izinin loe libur asalkan loe temenin gue kemanapun gue mau. Please!!!" Amel menatap Sari memohon.
"Kalau bos yang bicara, Oke oke saja anak buah mah." jawab Sari girang bisa bebas namun gaji masih utuh.
"Lah, kok Sari di izinin libur?" tanya Gilang.
"Enggak libur, tapi bekerja nemenin gue macam seperti asisten gitu," jawab Amel.
"Macam judul lagu."
"Mau judul lagu mau bukan yang penting loe temenin gue jalan-jalan! Bang Gilang, tolong jaga toko ya!" pinta Amel.
"Ck, giliran susahnya gue, giliran senangnya Sari. Nasib, Nasib."
"Terima saja, Bang. Bye, kita pergi dulu," Sari melambaikan tangan meledek Gilang yang harus jaga.
*********
Amel dan Sari sudah tiba di mall dan mereka berkeliling tanpa membeli sesuatu sehingga membuat Sari kesal.
"Loe itu sebenarnya mau ngapain sih, Mel? Belanja tidak, nonton tidak, makan tidak, jalaaaaaaan mulu iya, pegel tau." gerutu Sari kesal dan sudah kelelahan.
"Gue juga tidak tahu mau ngapain, gue hanya ingin mencari sesuatu yang buat gue bahagia saja. Tapi, entah apa itu gue juga tidak tahu. Rasanya hidup terasa ada yang kurang," jawab Amel lesu menggandengkan tangannya ke lengan Sari sambil berjalan-jalan keliling mall.
"Lah, kau aneh. Emangnya apa yang membuatmu sampai lesu seperti ini? apa karena Rangga lagi? kan sudah ku bilang si Rangga kutu kupret mah jangan di pikirin terus, buang jauh-jauh."
__ADS_1
"Bukan soal Rangga, gak tau ah, gue sendiri bingung. Kita mampir ke cafe saja lah, laper dari tadi jalan terus," gerutu Amel kesal dengan keadaan hatinya dan mengajak Sari mampir di cafe untuk makan.
"Bukan dari tadi kek, gue udah capek banget ngikutin loe terus."
Keduanya sudah sampai di Cafe dan sudah memesan makanan yang mereka inginkan.
"Sar, apa loe pernah di cintai pria tapi loe malah menolaknya namun setelah pria itu mundur, loe merasa kehilangan?"
"Pernah, dan rasanya nyesek banget. Apalagi pria itu bersama orang lain membuat gue patah hati dan menyesal. Kenapa loe bertanya seperti itu?" tanya Sari sambil mengunyah makanan.
"Tidak, gue hanya bertanya saja."
Sari mengernyit heran memperhatikan Amel. Matanya tak sengaja melihat Doni bersama seorang wanita entah itu kliennya atau pacarnya.
"Mel, Om Doni sudah punya pacar ya?" tanya Sari tiba-tiba.
Amel mendongak menatap bingung. "Setahu gue belum, ada apa kau tanya Om Doni?"
"Oh mungkin lagi pendekatan kali." Jawab Sari manggut-manggut.
Amel semakin heran sama Sari. "Kenapa sih? tumben ingin tahu masalah Om Doni?"
"Gue lihat Om Doni jalan bareng cewek." jawabnya santai meminum jus namun matanya memperhatikan orang yang ada di belakang Amel.
Deg... "Ka-kapan?"
"Tuh, di belakang loe."
Amel menolehkan kepalanya ke belakang dan ternyata benar kalau Doni sedang bersama perempuan namun terlihat sangat akrab dan perempuan itu membelakanginya. Tiba-tiba saja ia merasa sesak sendiri melihat keakraban yang Doni tunjukan pada wanita itu.
"Katanya cinta sama aku, tapi kenapa malah jalan bareng cewek lain?" batin Amel menjadi dongkol.
"Sar, kita pulang yuk! Badan gue jadi tidak enak seperti ini."
"Lho, kau kenapa? sakit?" Sari heran padahal Amel terlihat baik-baik saja.
"Ayo, Sar!" Amel sudah berdiri dan menarik tangan Sari.
Sebenarnya Doni tahu kalau ada Amel, namun ia pura-pura tidak mengetahuinya. Dan wanita yang bersamanya adalah Rani.
"Aku ingin lihat seberapa kuat kau menghindari kenyataan bahwa kamu menyukaiku juga."
__ADS_1
Bersambung.....