Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Ke Pesta


__ADS_3

"Kalau dia tidak mau jangan kau paksa!" ucap seseorang menarik paksa baju Rangga ke belakang dan berdiri di antara keduanya membelakangi Amel.


Amel membalikan tubuhnya. "Om Doni."


"Maaf, saya tidak punya urusan dengan Anda Tuan. Mel, aku minta maaf." Rangga ingin mengambil tangan Amel dan Doni menepis tangannya.


"Telingamu budeg ya, dia bilang tidak mau, ya jangan kau paksa!" cegahnya tegas.


"Siapa kau berani mengatur urusanku? Amel pacarku, jadi aku berhak atas dirinya!" sentak Rangga kesal di halangi terus.


Doni menoleh kebelakang. "Dia..."


"Dia calon suamiku... Sekarang kau pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi!" potong Amel merangkul lengan Doni.


Doni mengkerutkan alisnya, tapi kemudian ia mengikuti drama yang Amel buat. "Apa kau dengar, aku calon suaminya dan sekarang kamu pergi dari sini!" usir Doni mempersilahkan Rangga pergi.


Rangga menggeram kesal, dia tidak percaya dan dia akan kembali untuk membuat Amel kembali kepelukannya.


"Lepas!" titahnya dingin.


Dahi Amel mengkerut. "Lepas apa, Om?"


"Sampai kapan kamu akan merangkul tangan saya? sandiwaranya sudah berakhir Amelia."


Sontak Amel langsung melepaskan rangkulan nya. Ia tersenyum kikuk menikmati situasi tersebut. "Terima kasih sudah membantuku," ucapnya menunduk membalikan badan.


Dug...


Amel lupa membuka pintunya sampai ia tak sengaja menubruk pintu kaca tersebut. Doni tersenyum menggeleng-geleng kepala.


Pletak...


Jitakan di kening begitu terasa oleh Amel. "Iissh sakit tahu," protesnya kesal mengusap jitakan dari Doni.


"Makanya, kalau jalan jangan nunduk. Ke jedot pintukan?" Doni membuka kan pintu menyuruh Amel masuk ke dalam.


Amelpun masuk dan Doni mengikutinya dari belakang.


"Ngapain Om kemari?" tanya Amel menolehkan kepalanya kebelakang sambil lanjut jalan menuju ruangannya.


"Nanti malam akan ada pesta ulang tahun pernikahan rekan kerjaku. Kamu ikut ya, menemaniku?" ajak Doni mengikuti Amel dari belakang.

__ADS_1


Amel yang hendak membuka pintu ruangan kerjanya berhenti dan kembali menatap Doni. "Kenapa aku harus ikut? biasanya juga Om tidak ngajak aku maupun siapapun?"


"Sebenarnya sih males ngajak kamu, tapi ya, karena kamu sendirian di rumah, Kak Dita dan Mas Dika ke kota M, jadi aku ngajak kamu. Takutnya kamu malah ketakutan sendirian di rumah. Dan....Kak Dita menitipkan kamu kepadaku."


Amel memberenggut kesal. "Kenapa mereka semua selalu menitipkan aku sama Om? emangnya aku anak kecil apa? aku ini udah gede, aku bisa kok jaga diri sendiri," sergahnya kesal dan duduk menopang dagu sambil cemberut.


Doni juga duduk di hadapan Amel. "Karena mereka khawatir sama kamu. Mau ikut tidak? kalau tidak juga tidak pa pa sih."


"Iya, aku ikut. Males di rumah sendirian tidak ada siapapun."


"Pilihan yang bagus, nanti aku jemput, dandan yang rapi karena kita akan bertemu para pengusaha di acara pesta!" Donipun berdiri mengusap pucuk kepala Amel. Entah kenapa tangannya selalu replek mengusap kepala Amel dan dan Amelpun tidak merasa keberatan.


Bola mata Amel mengikuti pergerakan tubuh Doni sampai hilang di balik pintu.


*****


Sesuai kesepakatan, Amel sudah siap dan sedang menunggu Doni menjemput. Dia berdandan sederhana, rambutnya ia gerai, wajahnya ia rias tipis, dan tidak lupa kacamata bulatnya yang selalu tidak pernah ia lepas.


Amel memakai long dress berwarna merah marun dengan payet menghiasi area pinggang sampai atas. Tangannya mententeng tas merah marun.


Dan tak lama kemudian Doni datang berteriak memanggil Amel.


"Mel, sudah siap belum?" teriak Doni menunduk membalas pesan dari Syafira.


Doni yang tengah menunduk melihat handphone terus melangkah tidak melihat bahwa Amel berjalan ke arahnya. Saking fokus ke benda persegi, ia sampai menubruk tubuh Amel.


Karena menggunakan high heels, Amel sampai ingin jatuh. "Om..!" pekiknya sambil menarik tangan Doni dan Doni menarik balik tangan Amel langsung melepaskan genggamannya dan secepat kilat merangkul pinggang Amel menggunakan tangan kirinya hingga tubuh Amel bertubrukan dengan dada bidangnya.


Mata keduanya saling beradu pandang, Doni baru sadar kalau dari dekat Amel begitu cantik, dan manis.


Amel juga baru sadar, kalau Om-om ngeselinnya ternyata ganteng juga.


"Kamu tidak apa-apa? apa kakimu sakit?" tanya Doni menatap mata Amel.


"Tidak, kakiku baik-baik saja." balasnya juga masih menatap mata Doni.


Sentilan pun di layangkan Doni ke kening Amel. "Makanya kalau tidak bisa pakai high heels tidak usah pakai. Nyusahin saja."


Amel cemberut, ia melepaskan tangan kekar Doni dari pinggangnya. "Kan aku mau jatuh gara-gara Om tabrak."


"Di bilangin malah nyalahin. Ayo jalan!" ajak Doni dan Amelpun mengikuti perintah Doni.

__ADS_1


******


Kedua anak manusia berbeda jenis itu melangkah masuk secara bersamaan ke dalam gedung tempat di adakannya pesta.


Amel mengedarkan pandangannya menatap kagum dekorasi tersebut. "waaaah, bagus banget! Kira-kira ini habis berapa ya, Om? Nanti kalau aku nikah aku juga mau yang kayak gini, itupun si pria mampu. Rasanya macam anak kolongmerat ini mah."


Doni tersenyum simpul melihat kepolosan Amel. Amel bukan anak orang kaya, dia hanya anak tukang penjual mainan. Amel juga tidak pernah keluar rumah kalau tidak ada hal penting yang harus ia lakukan.


Pacaranpun jarang jalan bareng, kebanyakan telponan atau chatting an. Dan kalau ingin makan berdua ke luar, Amel selalu nolak dengan alasan makanan rumah sendiri lebih sehat daripada jajan di luar.


Amel juga belum pernah datang ke acara mewah seperti ini dan ini merupakan pengalaman pertama datang ke pesta termewah menurutnya. Dan kalaupun hadir ke pesta hanya pesta kecil-kecilan yang selalu di adakan setiap hari ultah teman-temannya ataupun pesta pernikahan biasa.


"Tidak usah senorak itu, Mel. Kamu fokus saja ke depan dan jangan lirik sana lirik sini! Mengerti..?!" Bisik Doni.


"Mengerti, Om."


Saat sudah dekat dengan pemilik pesta, Doni memberikan ucapan selamat. "selamat ulang tahun pernikahan Tuan David, Nyonya Semoga pernikahan kalian langgeng terus." Ucapnya menyalami dan memeluk rekan kerjanya.


"Terima kasih Nak Doni. Semoga kau cepat nyusul kami," balasnya terkekeh.


"Doakan saja, Tuan. Saya lagi mencari dulu wanitanya Tuan." Balasnya mengurai pelukan.


"Hahaha kau ini bercanda saja, masa tidak ada yang mau kepadamu, Nak?"


"saya juga tidak tahu, Tuan. Padahal muka saya cukup ganteng, manis seperti kedelai malika, dan cukup kaya," ucapnya sombong.


Amel mendelik malas akan ucapan Doni.


"Kalau kau mau, saya punya keponakan, dia seorang model cantik di Asia. Kalau kau minat bisa ku kenalkan dia." Davin mengedarkan pandangannya mencari nya


"Itu dia, Helena, kemari" ucapnya melambaikan tangan.


"Iya, Om ada apa?" Wanita yang bernama helena itu mendekati.


"Kenalin, dia Doni Alexander tangan kanan sekaligus rekan kerja om di restoran."


Helena melihat penampilan Doni yang terlihat keren, ganteng dan kaya. Dengan sangat antusias ia mengulurkan tangannya. "Helena, senang berkenalan denganmu, Doni."


"Doni," balasnya menerima uluran tangan Helena.


Amel cemberut kesal, ia merasa Doni melupakannya, hatinya menggerutu karena Doni tidak mengenalkannya dan malah asik berbincang dengan Helena dan yang lainnya.

__ADS_1


Merasa tidak di perlukan, Amel perlahan mundur ingin menjauhi dari kerumunan tersebut. Saat sudah ber balik siap melangkah, tangannya di cekal Doni.


Bersambung....


__ADS_2