
Di dalam perjalanan, Leo memikirkan perkataan Fira dan Felix yang bilang kalau Sari baper dan memiliki perasaan padanya.
"Apa benar cewek galak itu menyukaiku? tapi kenapa setiap bertemu dia selalu judes dan tak pernah menunjukan rasa sukanya?" gumam Leo. Tapi, di hatinya merasakan hal aneh, bahagia.
Leo menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Jika itu benar, dia merasa dapat lampu hijau. Di saat lampu merah, ia menoleh tempat yang di duduki Sari. Dahinya mengkerut.
"Lho, inikan handphone nya dia? dia pasti lupa atau jatuh dari saku celananya." Dan Leo memutuskan untuk memutar balik lagi mobilnya kembali ke rumah Sari.
**********
"Kembalikan kuncinya!" pekik Sari ingin mengambil kunci rumah yang di pegang Deni.
"Kamu mau ini? kembali dulu padaku baru aku akan memberikannya." Deni menyembunyikan kuncinya ke dalam saku celana.
Sari menatap tajam pria kurang ajar di hadapannya. Tangannya terkepal kuat menahan amarah.
"Kembalikan Deni!" seru Sari penuh penekanan.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" jawab Deni tersenyum jahil, matanya meneliti setiap penampilan Sari yang hanya mengenakan kaos putih memperlihatkan dua tonjolan di dadanya dan dipadukan dengan kulot hitam panjang.
Deni ingin menyentuh pipi Sari namun di tepis dan di dorong secara kasar.
Bruuuk....
Deni jatuh kelantai dan itu membuat Deni menggeram kesal tak terima. Mungkin karena pengaruh alkohol sampai membuatnya nekat untuk bertindak sesuatu.
"Aku datang baik-baik memintamu kembali tapi kau malah berlaku kasar padaku. Aku tidak akan melepaskanmu Sari." Pekiknya ingin memeluk Sari.
Sari memukul wajah Deni sampai menoleh kesamping. Pria itu semakin murka saja. Dia menarik pergelangan tangan Sari mencekalnya dengan kuat dan menguncinya kebelakang.
"Lepasin!" Sari berontak berusaha melepaskan kunciannya namun tak bisa.
"Tidak akan, sayang. Malam ini aku ingin kamu menjadi milikku sayang. Aku tidak mau kamu pergi dariku," bisiknya di telinga Sari sambil tangan satunya menyuntikan sesuatu ke tangan Sari.
"Aww, apa yang kau lakukan Deni! Kau menyuntikan apa padaku?" pekiknya terkejut.
"Sesuatu yang membuatmu panas, sayang." Ucap Deni menyeringai licik. Dia melepaskan cekalannya dan tinggal menunggu reaksinya sekitar 10 menit saja.
__ADS_1
Sari mengepalkan tangannya, dia beranjak ke laci kecil yang ada tak jauh dari pintu dan ia mencari kunci cadangan dengan cepat mengambilnya. Deni terkejut jika di laci itu ada kunci cadangan Dia ingin mengambilnya namun malah di tendang oleh Sari sampai tersungkur dan Sari secepatnya membuka pintu membuka lebar-lebar pintu itu.
"Keluar dari sini! Atau aku teriak memanggil warga untuk menyeretmu!" sentaknya.
"Toloooong ada maling..." teriak Sari seriusan. Deni gelagapan terkejut Sari tak main-main. Dia segera keluar rumah.
"Jangan berisik Sari!"
"Toloooong...!"
"Ada apa ini?" kata seseorang dan mereka menoleh. Sari bisa bernafas lega ada Leo datang tepat waktu.
"Kau jangan ikut campur, ini urusanku dengan kekasihku," sergah Deni menatap tajam penuh permusuhan.
"Aku bukan kekasihmu. Pergi dari sini atau aku akan memanggil warga!" ancamnya.
Deni mencebik kesal usahanya gagal. Daripada bonyok mending ia pergi saja. Leo memperhatikan Deni sampai dia pergi.
"Oh, iya, saya hanya ingin mengembalikan ponselmu yang ketinggalan di mobilku." Leo memberikan benda yang ia pegang ke hadapan Sari.
Sari sempat bingung dan ia mengambilnya. Namun belum juga wanita itu memegang ponsel, Leo sudah melepaskankan sampai tak sengaja jatuh kebawah.
"Tidak apa-apa," Sari berjongkok begitupun dengan Leo yang juga berjongkok ingin mengambil ponselnya namun tak sengaja tangan mereka bersentuhan dan seketika seolah-olah ada sengatan listrik yang menghantam tubuhnya.
Sentuhan tangan laki-laki itu menjadi sebuah magnet yang menghantarkan satu gelombang ke dalam seluruh tubuh Sari. Dia seolah-olah mendapat sebuah rang..sangan menghantam sekujur tubuhnya sehingga berharap lebih dari sekedar sentuhan.
"Bang..." kali ini suara Sari mulai berubah. Ada perasaan Aneh yang menyeruak kedalam tubuh. Dia ingin terus mendapatkan sentuhan itu.
Dia mengibas-ngibaskan tangannya saat suhu di tubuhnya mulai merasa panas
"Kenapa gerah sekali?" batin Sari risau.
"Kamu kenapa? perasaan ini dingan tapi kenapa malah seperti kepanasan?" tanya Leo memegang dahi Sari.
Gerakan tangan yang menyebabkan kulit mereka bersentuhan semakin mengganggu Sari. Dan satu has..rat luar biasa kembali menyerang sekujur tubuhnya seolah ada elektromagnet yang merasuk dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Aku tidak tahu, Bang. Tadi Deni menyuntikan sesuatu padaku tapi aku tidak tahu itu apa? sekarang tubuhku jadi merasa panas tak menentu." jawab Sari jujur memegang tangan Leo. Dia merasa candu akan sentuhan dari Leo.
__ADS_1
"Bang, tubuhku panas," lirihnya menggelung asal rambutnya menatap syahdu laki-laki di depannya. Dan seketika satu gairah membakar dirinya.
Seolah kehilangan akal sehatnya, Sari menyambar bibir Leo memangutnya penuh gairah.
Leo jelas terkejut saat tiba-tiba Sari memangutnya. Tak di pungkiri gerakan Sari membuat resah dirinya di saat Sari mulai menjelajahi lehernya.
"Sari, apa yang kamu lakukan?" Leo melepaskan Sari yang semakin liar tak terkendali.
"Aku membutuhkan sentuhanmu, Bang." Rengek Sari di saat gairah semakin naik ke ubun-ubun.
"Oh, shi..t. Sepertinya pria itu menyuntikan obat perangsang." Leo mengumpat, dia bingung harus berbuat apa.
Akal sehatnya semakin hilang kendali. Sari mendorong kasar tubuh Leo masuk kedalam rumah menutup pintunya lalu menyambar rakus bibir Leo.
Tangannya semakin nakal meraba dada bidang Leo. Ia melepaskan kaos yang ia kenakan di kala rasa panas dan gairah semakin memuncak sehingga menyisakan pakaian berbentuk kacamata berenda.
Glek...
"Oh, shi..t." Umpat Leo melotot.
"Bang..." rengeknya sensual meraih tangan Leo mengarahkan pada tubuhnya untuk minta di sentuh. Sari sudah tak bisa berpikiran jernih lagi.
Sari kembali menyusuri leher Leo, dia memegang erat tengkuk Leo dengan penuh naf..su dan sangat agresif. Leo masih berusaha mempertahankan pertahanannya untuk tidak tergoda.
Tapi, laki-laki mana yang bisa tahan jika mendapat serangan tiba-tiba dan seagresif itu. Dia laki-laki normal, dia juga memiliki naf..su, dan dia hanyalah laki-laki biasa yang tidak bisa menahan gairah hasratnya.
"Bang, please touch me!" pinta Sari menatap sayu penuh gairah memeluk Leo meraba setiap tubuhnya. Dan pada akhirnya, pertahanan Leo runtuh di kalahkan oleh naf..su.
"Kau jangan menyesal," ucap Leo menyambar rakus bibir Sari dan di sambut baik oleh Sari. Leo melepaskan kemejanya masih saling bertautan.
Dia berpindah menyusuri leher, telinga, bahkan dadanya Sari. Leo mengangkat tubuh wanita di hadapannya ala bridal style. Dia membawa wanita di gendongannya ke kamar terdekat dan membaringkannya dengan dia berada di atas tubuh Sari.
"Kamu yakin?" tanya Leo melepaskan tautan mereka.
"Lanjutkan, Bang. Sentuh dan puaskan aku!" Sari sudah pasrah, rasa Aneh di tubuhnya tak bisa ia kendalikan lagi. Dia semakin menggila di kala hasrat semakin memuncak tak terkendali.
"Jika itu maumu, jangan menyesal."
__ADS_1
Skip....
Bersambung....