
Leo membawa orang-orang yang menjadi tawanan ke tempat paling aman serta luas. Dia turun dari mobil membuka penutup belakang yang ada di belakang truk kemudian menyuruh orang-orang turun.
"Kalian semua tunggu di sini, nanti akan ada helikopter mendarat di sana dan kalian akan pulang kerumah masing-masing."
"Kamu sendiri bagaimana, Leo?" tanya Alberto.
"Saya akan kembali ke sana untuk membantu Doni dan Alex. Saya harap kalian pulang dengan selamat termasuk Anda tuan Alberto."
"Nak, Leo. Ikutlah pulang bareng kami. Di sana bahaya," ucap salah satu dari mereka.
"Benar, Leo. Setidaknya kau selamat dan bisa berkumpul lagi dengan keluargamu."
"Pantang bagi Saya pulang sebelum misi berhasil. Kalau kita semua harus mati, maka kita akan mati bersama-sama. Prinsip black Eagle ialah, berjuang sampai titik darah penghabisan. Jangan khawatirkan kita, kita semua pasti baik-baik saja," jawab Leo.
Dan beberapa helikopter mendarat di tempat tersebut.
"Masuklah, cepetan! Sebelum mereka menangkap kalian lagi." Leo sedikit berteriak sebab bising oleh baling-baling helikopter.
Dari mereka ada yang memeluk Leo. "Terima kasih, Nak Leo. Semoga kalian berhasil dan pulang dengan selamat."
Leo menepuk-nepuk punggung mereka. Dan mereka silih berganti memeluk Leo.
"Leo, semoga Tuhan memberkati kalian." tutur Tuan Alberto memeluk Leo.
"Aamiin."
Dirasa semua telah masuk dan pesawat tersebut kembali terbang, Leo bergegas mengendarai truk kembali lagi membantu kedua saudara tak sedarah.
*************
Buggh... Bugh... Bugh...
Doni dan Alex masih berusaha melawan anak buah Thomas. Thomas sendiri duduk di depan mobil sport nya memperhatikan mereka yang berkelahi seraya menyesap nikotin.
"Mereka semakin banyak, Don. Kita tidak mungkin melawan mereka berdua," pekik Alex sambil menangkis pukulan lalu menerjangnya.
"Jangan menyerah, Lex. Kita yakin mampu menghadapinya sampai bala bantuan datang," jawab Doni yang juga sibuk melawan mereka.
Leo sudah sampai, dia mengintip dari jauh mencari cara untuk melawan anak buah Thomas yang berjumlah 30 orang. Dia mengendap-endap mendekati seraya matanya mengedarkan penglihatan mencari benda untuk di jadikan senjata.
Mata Leo tertuju pada ketapel yang tergeletak tak jauh dari sana. Dia berjongkok kemudian berguling mengambil ketapel tersebut dan kembali bersembunyi. Tangannya mengambil batu kecil, matanya fokus ke salah satu dari mereka dan...
__ADS_1
Shuuuuuttt... pluk..
"Tepat sasaran," ujar Leo berhasil mengarahkan ke mata mereka dan ia kembali mengulanginya sambil terus bersembunyi.
Shuuuuuttt.... pluk..
"Yes, berhasil." Gumamnya girang tepat sasaran mengenai burungnya sampai lawannya mengerang kesakitan memegang burung miliknya.
Doni dan Alex saling lirik, mereka berkata, "Leo." Hanya Leo yang mampu membidik lawan menggunakan ketapel dan itu salah satu kelebihan Leo.
Thomas membuang nikotinnya dan menginjak kuntung tersebut. Dia mengarahkan senjata ke arah Doni. Namun, Leo melihat pergerakan tersebut dan....
Shuuuuuttt... pluk...
Batu tersebut tepat mengenai pergelangan tangan Thomas sampai Thomas merasakan sakit dan tak sengaja melepaskan cekalannya terhadap senjata tersebut.
"Aaaawwww, brengsekkk... siapa yang berani menyerang ku?" pekiknya salah satu tangannya memegang pergelangan tangan.
"Saya, mau apa loe? mau marah? mau lapor emak? mau lapor polisi? atau mau goyang dombret? terserah!" pekik Leo keluar dari tempat persembunyiannya yang tak jauh dari Thomas sambil bertolak pinggang.
Thomas menggeram, amarahnya memuncak merasa di ledek oleh Leo. Dia ingin mengambil senjatanya. Leo yang melihat pergerakan langsung mengambil kayu menggunakan kaki di angkat ke atas lalu di ambil oleh tangannya dan...
Kayu tersebut ia layangkan ke pundak Thomas dengan sangat kencang sebelum Thomas menggapai senjatanya. Thomas memegang pundaknya, matanya mulai menggelap dan ia tersungkur tak sadarkan diri.
"Ck, tua bangka bangkotan. Sudah banyak uban juga malah berbuat jahat, bukannya taubat nasuha malah banyak maksiat," cibir Leo mengikat tangan dan kakinya Thomas.
"Tua-tua keladi. Semakin tua semakin menjadi. Pletak.... pletak...."
"Rasain jitakan saya." Leo gemas sendiri, ia malah menjitak kepala Thomas yang tak sadarkan diri seperti yang di lakukan Doni terhadapnya.
"Eh, Lele. Bantuin kita! Pengawalnya masih banyak." Pekik Alex sambil menghajar anak buah yang tersisa. Leo mendongak dan ia mengambil senjatanya kemudian di angkat ke atas dan....
Dor... dor... dor...
Mereka yang berkelahi terdiam menoleh ke asal suara. Mereka terkejut Bosnya sudah terkapar di tanah dalam posisi tengkurap dan di duduki oleh Leo.
"Hentikan perkelahian ini! Bos kalian sudah tak berdaya. Menyerahlah atau kalian akan mati sia-sia!" teriak Leo mengarahkan senjatanya ke mereka.
"Gimana ini? Bos besar sudah kalah."
"Menyerah sajalah daripada kita mati di tangan mereka."
__ADS_1
"Mending menyerah, mereka terlalu kuat. Kita yang segini banyak tenaganya sudah terkuras habis. Tapi mereka, mereka justru semakin kuat saja."
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar di telinga mereka.
"Hei, malah bisik-bisik tetangga. Saya menyuruh menyerah bukan menyuruh bergosip. Emangnya kalian emak-emak rempong apa?" cebik Leo menggeram kesal. Doni tersenyum simpul menggelengkan kepalanya.
Dan, suara sirine polisi mendekati area tersebut.
"Datang terlambat, bukannya datang di saat genting malah datang di saat pemeran utama sudah berhasil. Kebiasaan, gak di sinetron, gak di dunia nyata, gak di novel, bala bantuan selalu datang belakangan," ujar Alex mendelik jengah.
"Tangkap mereka!" ujar kepala polisi. Para anak buahnya menyeret paksa orang-orang di sana.
"Terima kasih kalian sudah membantu polisi untuk menangkap penambang liar." Ucap kepala polisi kepada Doni, Leo, dan Alex.
"Sama-sama, pak. Kami senang bisa membantu kalian." jawab Doni tersenyum ramah.
"Kalian senang, kita yang capek dan babak belur," celetuk Leo.
"Eh, gue dan Doni yang babak belur melawan banyak orang. Loe sih cuman lawan satu orang doang dan itupun si tua bangka Thomas yang tenaganya udah loyo," sahut Alex menoyor kepala Leo.
"Eh, gue juga bantu lawan mereka menggunakan ketapel. Jadi, jangan sok merasa paling menderita deh," jawab Leo mencebik kesal.
"Ya tapi tetep kita berdua yang capek berkelahi," sahut Alex tak ingin kalah.
"Gue juga capek membidik mereka dengan...." ucapan Leo menggantung sebab Doni sudah angkat suara.
"Diam! Kita sama-sama bekerja keras melawan mereka. Jadi jangan saling salahkan, jangan saling iri, jangan saling mencela. Yang penting kita semua berhasil."
Doni mengulurkan tangannya kedepan, diikuti oleh Alex, Leo dan kepala polisi yang juga ikutan.
"Misi... berhasil..."
Bersambung....
Jujur, saya tidak pandai merangkai kata, saya tidak pandai membuat alur cerita menarik dan membuat kalian baper.
Maaf jika kata-katanya acak-acakan atau tidak sesuai dengan ekspektasi kalian.
Jujur, saya minder dengan mereka yang begitu apik dan bagus dalam merangkai cerita. Sehingga membuat saya sedikit berkecil hati apakah cerita saya di terima atau tidak?
Maaf cerita saya membosankan, dan maaf cerita saya tidak sebagus cerita author-authir lainnya 🙏🙏
__ADS_1