
"Berhubung masalah di sini sudah selesai, hari ini juga kita akan pulang ke kota J. Lex tugasmu masih sama yaitu mengurus Cafe yang ada disini, mengajari Bella ilmu bela diri sekalian menjaga mereka!" kata Doni.
"Siap, Bos. Laksanakan."
"Ck, itumah mau loe, Lex. Kau kan memang senang dekat-dekat dengan Bella lebih tepatnya jatuh cinta," sindir Leo mencebik.
"Kalau ia kenapa? masalah buat loe? bilang saja kalau kau ini cemburu gue deket dengan cewek, iya, kan?" balas Alex memicingkan mata.
"Gue cemburu sama loe? iiiihhh.... ogaahhh... sorry sorry don't worry, ya. Loe bukan tipe gue, emangnya gue cowok apaan?" Leo bergidik ngeri.
"Masa?"
"Isssshh... loe aneh, Lex."
"Sudah-sudah, kalian ini berantem mulu. Loe, Le, jadi cowok bisanya nyindiiiir mulu kayak netizen yang julitnya minta ampun. Dan loe Lex, sudah tahu Leo aneh masih saja di layani candaan si Lele."
"Lah, bos. Malah nyalahin kita, tuh salahin author nya yang bikin dialog kayak gini. Kita mah cuman ngikut aja," ujar Leo.
"Tau, Nih, bos. Salahin tuh si author yang mungkin udah kehabisan kata-kata sampai kita di suruh berkata begini," timpal Alex.
"Bisa diam tidak! Sudahlah, jangan pada nyalahin. Kita bersiap-siap dan hari ini juga kita pulang."
"Baik, bos." Ucap Leo dan Alex bersamaan.
"Eh tunggu, sebelum pulang ke kota J tolong kau pukul gue!" pinta Doni membuat kedua asistennya melongo.
"Seriusan, Don? loe udah gila nyuruh kita mukul loe?" cerca Leo dan Alex.
"Seriuslah, masa bohongan. Buruan pukul tepat di wajah!" titah Doni serius.
"Jangan ngadi-ngadi, Don. Entar gue malah di pecat jadi Abangnya Syafira," kata Leo enggan memukul Doni.
"Ho.oh."
"Ayolah, Le, Lex! Gue minta di pukul buat Amel. Bantu gue lah!" pinta Doni memohon.
Leo dan Alex tertawa terbahak-bahak melihat kebucinan bosnya terhadap Amel.
"Otak kau sudah gila, Don."
Sedetik kemudian mereka berhenti dari tawanya saling lirik dan....
Bugh... Bugh...
Dua pukulan dari Leo dan Alex mendarat pas di pipi dan hidung Doni.
"Sialaaan kalian, kenapa kalian mukul gue gak bilang-bilang?" pekik Doni terkejut.
__ADS_1
"Lah, malah pura-pura pikun. Kan loe sendiri yang nyuruh kita mukul wajah loe, Doni. Kesel juga lama-lama sama kelakuan loe," jawab Leo kesel.
"Gimana pukulannya, keras kan? Amel pasti kaget dan langsung bertanya, Om! wajahmu kenapa? pasti Amel akan bertanya seperti itu dan dia akan merawatmu, bos." timpal Alex.
"Tapi ini sakit, Leo, Alex. Kalian mukulnya terlalu kencang." Doni menggerutu kesal.
"Hehehe sorry, sengaja..." ucap keduanya cengengesan.
Doni menggeram kesal menjitak kepala mereka.
Pletak... plelak.... "Anak buah laknatttt....."
********
Kota J
"Sudah seminggu dia tak ada kabar. Kemana sih? kenapa aku rindu di ganggu dia?" batin Amel kesal membolak-balikan ponsel yang ia pegang berharap dapat panggilan dari seseorang.
Amel menatap no Doni, jarinya bergerak menekan tombol hijau.
No yang Anda tuju sedang tidak aktif.
"Iissssh... tidak aktif teruuuss..." Amel menggerutu kesal. Dadanya tiba-tiba saja merasa sesak tak ada kabar dari Doni.
Air matanya tak sengaja menetes saking kesalnya pada Doni. "Kau jangan cengeng, Mel. Jangan mudah percaya sama ucapan pria, dia pasti bohong, Om Doni pasti cuman nge prank loe doang dengan perasaan."
Saat sudah ada di depan parkiran, ia melihat Rangga menghampiri.
"Bunga cantik untuk gadis secantik kamu," Rangga menyerahkan sebuket bunga kepada Amel.
Amel menatap bunga itu dan beralih menatap Rangga. "Maaf, aku tidak suka bunga." tolaknya menaiki motor kesayangannya.
"Mel, jangan cuekin aku seperti ini. Aku beneran tidak mau putus sama kamu, Mel."
Amel menghelakan nafasnya. "Tapi aku mau putus sama kamu. Orang yang tidak bisa setia di saat pacaran pasti ketika menikah pun ia tidak akan setia dan aku mencegah hal itu."
"Beri aku kesempatan sekali lagi, Mel. Ku mohon dan aku akan memperbaiki kesalahan-kesalahan ku." bujuk Rangga.
"Rangga...." pekik seseorang.
Mereka berdua melihat siapa itu.
"Mama...!" Rangga terkejut ada Mamanya di sini.
"Ngapain kamu masih mengejar wanita penjaga kasir ini? dia itu tidak sepadan dengan kita, Rangga. Mama sudah menjodohkan kamu dengan Syifa anak orang kaya pemilik rumah susun."
"Aku tidak mencintai Syifa, yang aku cintai Amelia. Rangga tidak mau menikah dengan pilihan Mama."
__ADS_1
"Kau lihat, anakku melawanku dan itu semua karena ulahmu." sentak Mama Rangga menunjuk wajah Amelia.
"Saya tidak akan pernah menyetujui kalian. Kau tidak sepadan dengan kami, kau itu hanya seorang penjaga kasir."
Amel tersenyum mendengar setiap penuturan dari Mamanya Rangga. "Ya, Anda benar Nyonya, saya hanyalah penjaga kasir sekaligus anak dari pemilik toko mainan terbesar di kota ini."
Amel menjawab santai sambil memasangkan helm ke kepalanya kemudian menstater motornya.
"Saya, Amelia Putri Al-Hussein memang tidak pantas bersanding dengan putra Anda yang seorang pengkhianat." Ucapnya meninggalkan mereka yang terkejut.
"Al-Hussein..?!" Mama Rangga dan Rangga terkejut mendengar namanya Amel. Mereka mendongak melihat plang nama yang ada di bangunan. TOKO MAINAN AL-HUSSEIN
Toko yang sudah terkenal di kota J. Toko yang memiliki cabang 100 bahkan tersebar di seluruh tempat-tempat di sana dan di setiap Mall pun ada.
"Kenapa aku baru tahu kalau Amel anak dari Arman Al-Hussein?" batin Rangga.
"Kalau dia putri AL-HUSSEIN berarti dia anaknya Arman Al-Hussein pengusaha penjual mainan terbesar di kota J dan itu berarti, dia juga adik ipar dari pemilik SC AND R?!" gumam Mama Rangga terkejut.
"Astaga..! Kenapa ku bodoh sekali tidak tahu siapa pacar Rangga. Dia menantu idaman yang kaya raya."batinnya.
"Rangga, kau kejar Amel, Mama setuju kamu dengannya. Buruan kejar!" sentak Mama Rangga menyuruh anaknya mengejar.
Rangga bingung dan terlihat heran, baru saja Mamanya melarang, sekarang malah menyuruhnya untuk mengejar. Tapi, Rangga tetap mengejar Amel.
*********
"Enak saja mau menghina diriku, kalian pikir siapa sampai seenak jidatnya mengataiku miskin?" gadis cantik berkacamata itu menggerutu kesal sambil melangkah masuk ke dalam rumah Abangnya.
Langkahnya memelan mendengar suara yang ia kenali sedang berbincang dan ia melihat punggung pria itu sedang duduk di sofa membelakangi. Tapi, yang membuatnya terkejut kasa putih yang melingkar di kepalanya.
"Kok paman bisa sampai kecelakaan sih?" tanya Fira padahal sudah bisa membaca pikiran Pamannya.
"Namanya juga musibah pasti bisalah, Ra. Kalau tahu kita akan kecelakaan pasti Paman akan menghindarinya.
"Hadeuuhhh, ya, ya, musibah mana ada yang tahu ya. musibah di sengaja," sindir Fira pelan.
Amel melangkah maju, ada rasa bahagia di hati bisa bertemu kembali dengan bujang lapuk yang membuatnya kesal. Namun ia masih saja enggan mengakui kalau dirinya sudah menyukai Doni.
"Om kapan pulang?" tanya Amel berbinar.
Doni menoleh kebelakang dan tersenyum manis kepada wanita yang ia rindukan. "Tadi pagi."
Amel terkejut melihat wajah Doni yang memar. "Astaga..! Ini kenapa? kok biru-biru gini sih?" tanyanya khawatir langsung duduk di sebelah Doni menatap lekat-lekat wajah Doni.
"Luka kecil saja."
Bersambung....
__ADS_1
Ya ampun, Babang Doni moduuus mulu... sampai segitunya cari perhatian Amel.