
Cahaya matahari menyeruak masuk melewati jendela kaca yang masuk langsung menyoroti wajah Sari membuatnya sedikit terganggu. Dia menggerakan tangannya meraba bantal untuk menelusupkan mukanya.
Tapi, entah kenapa dia tidak nyaman dengan rasa perih yang terasa di area inti miliknya. Mata yang terasa berat dan mengantuk membuatnya enggan untuk bangun.
Mungkin karena kelelahan telah melewati sesi panas saat malam hari sampai beberapa ronde dan berakhir pada pagi-pagi buta membuat Sari kembali terlelap.
Ceklek....
Leo keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk yang terlilit di pinggangnya sambil menggosok rambut yang basah menggunakan handuk kecil.
Pria yang baru saja merasakan surga dunia kenikmatan tiada tara itu mengembangkan senyumannya ketika melihat wajah wanita cantik yang sudah resmi ia miliki masih terlelap di atas kasur.
Leo duduk di tepi ranjang dengan satu kaki naik di atas kasur, bola matanya masih memperhatikan wanita di sampingnya. Tangannya terulur mengusap lembut pipi wanita yang sudah ia sentuh.
Setelah apa yang mereka lewati tadi malam membuatnya memutuskan untuk menjadikan Sari istrinya. Terlebih dia juga telah menyukai wanita itu sejak lama. Walau bagaimanapun dialah orang pertama yang juga sudah merenggut apa yang seharusnya wanita itu jaga.
Dia bukan orang yang suka lari dari tanggungjawab. Maka dari itu, ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya meski semuanya berawal dari obat perangsang.
Bibirnya mengecup lembut pipi Sari, hatinya berkata, "Maafkan aku yang tidak bisa mengontrol hasratku sampai ku melakukan ini padamu. Sekarang kau milikku."
Leo sedikit menjauhkan wajahnya dan berpindah ke telinganya Sari.
"Sayang, bangun!" bisiknya lembut tepat di telinga Sari.
Dalam tidurnya, Sari sedang bermimpi kalau Leo menjadi suaminya dan posisinya Leo berada di sampingnya berusaha membangunkan ia tidur. Dia malah tersenyum masih dengan mata terpejam.
"Dia sedang mimpi sampai senyam-senyum seperti itu?" tanya pada dirinya sendiri merasa heran melihat Sari tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada bantal.
"Wah, jangan-jangan dia mimpi yang tidak-tidak? bagaimana kalau dia mimpiin mantan pacarnya? tidak bisa di biarkan, enak saja setealah apa yang terjadi malah mimpiin cowok lain," gerutunya tidak terima.
"Sari bangun!" Leo mengeraskan suara tepat di telinganya Sari sampai wanita itu membuka mata terkejut.
"Kenapa suaranya bang Leo seperti nyata?" gumamnya belum menyadari keadaannya.
"Ehemmm... ini aku, Leo."
__ADS_1
Deg....
Sari mematung terkejut, dia menoleh ke belakang punggung dan matanya terbelalak melotot ingin keluar terkejut ada Leo bertelanjang dada sedang duduk menatapnya.
"Tidak mungkin bayangan Leo ada di sini?" Sari mengucek-ngucek matanya menyangka kalau ia berhalusinasi. Tapi, bayangan itu tidak mau pergi dari hadapannya.
"Kok tidak pergi sih?" ucapnya bingung masih belum menyadari keadaan mereka.
Leo yang melihat raut kebingungan di wajah Sari membuatnya gemas dan ia menyambar bibir wanita itu beberapa detik. Sari terkejut, ia replek mendorong tubuh Leo dan bringsut menjauhkan tubuhnya sampai selimutnya merosot ke bawah. Namun....
"Sssttttt.... aawwww.." ringisnya merasa perih di bagian intinya.
"Hei, kau kenapa? apa masih sakit?" tanya Leo panik memegan pundak Sari.
Deg...
"Bang, ka kau! Kenapa kau ada di kamarku? kurang ajar sekali masuk rumah orang sembarangan!" pekiknya. Leo mengangkat alisnya.
"Apa kamu lupa dengan apa yang terjadi semalam?"
Dia melihat keadaannya dan ia terkejut melotot lalu segera menarik selimut menutupi kedua aset kembarnya.
"A apa yang terjadi, Bang? ke kenapa kita?" Sari gugup, gelagapan, malu, semua bercampur aduk.
Dia memejamkan mata mengingat-ingat kejadian semalam. Seakan menyusun puzzle membuatnya perlahan mengingat semuanya.
Wajahnya memerah malu mengingat kejadian yang memalukan diantara mereka. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu dan ia mencoba menetralisir jantungnya yang berdegup kencang.
Apa ia harus menyalahkan Leo atas apa yang terjadi sedangkan ialah yang memancingnya duluan? Kucing mana yang tidak menyantap jika di suguhkan Ikan?
Seketika ia menggigit bibir bawahnya saat satu kekhawatiran hinggap ke dirinya. Dia menatap Leo dengan tatapan hancur. Bola matanya mulai berkaca-kaca.
"Kita...sudah..." Sari tak sanggup lagi melanjutkan kata. Dia terisak memandang Leo.
Leo perlahan memeluk tubuh Sari, ada rasa bersalah menghantam dirinya karena telah merusak masa depan wanita itu. Dia merasa menjadi pria bajingaaan yang memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Maaf." Ucap Leo mengecup pucuk kepala Sari.
Sari terisak di pelukan Leo. Dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Leo. Dia yang salah.
"Apa yang telah kita lakukan, aku akan mempertanggungjawabkannya. Aku bukanlah bajingan yang akan lari dari tanggungjawab."
"Sejak kamu memutuskan memulainya, maka kamu adalah milikku dan tidak akan pernah menjadi milik orang lain. Maka dari itu, menikahlah denganku?"
Deg...
Sari terkejut, dia mendongak karena Leo tak melepaskan pelukannya. Matanya masih mengeluarkan air mata.
Leo menunduk menatap bola mata indah itu. "Maukah kau menikah denganku, menjadi Ibu dari anak-anakku dan menua bersamaku. Aku mencintaimu."
Deg...
Sari semakin terkejut, dia mendorong tubuh Leo. Dia tidak percaya ucapan Leo di karenakan pria itu suka bercanda. Leo bingung dengan sikap Sari.
"Aku tidak mau, kau pasti berbohong, aku tidak percaya dengan ucapanmu. Biarlah ku jalani hidupku sendiri meski ku harus hancur," lirihnya menggelengkan kepala berderai air mata.
"Aku tidak berbohong dalam hal ini. Aku serius ingin menjadikanmu milikku, aku serius mencintaimu. Apa aku terlihat berbohong padamu?" Leo mengerti kenapa Sari bisa memiliki pikiran seperti itu karena dialah penyebabnya.
"Cukup, Bang! Aku tidak ingin tertipu dengan ucapanmu lagi. Kamu selalu bilang serius tapi ujung-ujungnya kamu hanya bercanda," pekik Sari tak percaya dan ia menutupi telinganya. Dia tidak mau berharap kalau pada akhirnya hanya di permainkan.
Leo mengacak rambutnya bingung harus bagaimana lagi meyakinkan Sari kalau ia serius mencintainya dan mau menikahinya. Meski dia tidak melakukan ini, dia sudah bertekad untuk menikahi Sari.
Tangan Leo menangkup kedua pipi Sari dan menatap lekat-lekat matanya.
"Aku akui jika ku sering bercanda. Tapi, kalau soal perasaan, aku tidak mungkin bercanda. Setiap kali ku bicara, semuanya dari hati. Cuman, aku hanya ingin menutupi perasaanku dengan bercanda karena ku tahu kalau kamu sudah memiliki kekasih."
"Sari, terjadi atau tidaknya yang telah kita lakukan semalam, tidak merubah keputusanku untuk menjadikanmu milikku. Aku serius, aku sungguh serius ingin memilikimu dan aku serius mencintaimu!" Leo meyakinkan Sari.
Mata keduanya saling memandang. Leo mendekatkan wajahnya menautkan bibir mereka me.lu.matnya me.nye.sapnya penuh kelembutan. Tidak ada hasrat, tidak ada naf..su, yang Leo berikan melainkan ciuman penuh perasaan.
Bersambung.....
__ADS_1