
Syafira dan keluarganya sedang menunggu Doni dan Amel keluar dari kamar, Fira sudah standby di dekat kamar yang di pakai Doni.
Tak berselang lama kedua sejoli yang baru saja berhubungan badan itupun keluar menunduk malu ketahuan keluarga Amel.
Tanpa aba-aba Syafira langsung saja memukul Doni.
Buggh.... pukulan pertama di pipi sebelah kiri.
Buggh.... pukulan kedua di pipi sebelah kanan.
Buggh.... dan pukulan ketiga tepat mengenai hidung Doni.
"Syafira....!" jerit Amel dan yang lainnya.
"Ini tidak seberapa dengan apa yang telah Paman lakukan. Seharusnya Paman menahan diri untuk tidak melakukannya, pria macam apa kau ini sampai tega merusak wanita yang di cintainya sebelum halal, hah?" sentak Fira menatap tajam marah akan kelakukan Pamannya.
Doni tak membalas pukulan Fira, kalau ia membalasnya yang ada dirinya akan babak belur oleh Ponakannya sendiri. Dan Doni juga merasa bersalah sebab dia tidak bisa menahan diri.
"Mas, hidungmu berdarah..!" Amel memegang pipi Doni, ia menangis melihat Doni terluka.
"Kenapa kamu memukulnya, Ra? bukan Mas Doni saja yang salah aku juga salah karena dengan senang hati sudah memberikannya."
Plak....
Kali ini Dinda yang marah dan ia menampar Amel. "Kamu..! Mama tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini, Mel. Mama selalu menyuruhmu untuk selalu menjaga kehormatanmu sampai kamu benar-benar halal untuk suamimu. Mama kecewa dengan apa yang kamu lakukan," sentak Dinda marah.
"Mah, Amel..."
"Jangan bicara lagi! Besok kalian harus menikah!" pekik Arman mengambil tindakan secepatnya tanpa banyak pikir.
"Bagus, tuh. Nikahkan saja mereka sebelum Amel bunting di luar nikah," sahut Reyhan.
"Aunty Amel mau nikah sama uncle Om bujang lapuk itu? gak salah? emangnya aunty mau sama tua bangka macan uncle Om?" celetuk Felix.
Fira yang tadinya marah mengulum senyum, Amel dan Doni terbelalak mendengar penuturan Felix terutama Doni.
"Dasar bocah, kurang ajar sekali bilang ku tua Bangka," batin Doni.
"Uncle Om emang tua Bangka, buktinya baru sekarang mau nikah. Dan aunty juga aneh mau sama orang kayak uncle Om."
"Felix...!" ujar Doni kesal.
"Paman...!" sahut Fira dan Doni tak jadi mengumpat anak keponakannya itu.
__ADS_1
"Ok, keputusan sudah bulat, besok kalian berdua akan menikah dan aku akan mengurus segalanya. Mulai dari acara pernikahan sampai tempat bulan madu," tutur Fira.
Doni dan Amel tentunya senang mereka akan menikah secepatnya. "Kita mau menikah besok," ucap keduanya kompak.
Arman, Dinda, dan Reyhan pasrah. Di larangpun percuma karena Doni sudah mengambil apa yang seharusnya Amel jaga dan merekapun mau tak mau harus menikahkan keduanya sebelum benih dari Doni bersemayam di dalam rahim Amel.
***********
Pagi pun telah tiba. Syafira benar-benar menyiapkan segalanya dan kini seluruh keluarga besarnya telah berkumpul di rumah Arman.
Mama Sofi, Nicho dan anaknya juga hadir padahal mereka berada di kota B. Begitupun juga dengan Bella yang juga turut hadir beserta baby Hasna dan Elsa.
Pernikahan Doni sama seperti pernikahan Syafira yang hanya di hadiri oleh keluarganya saja dan beberapa anak buah Syafira. Untuk resepsinya akan di adakan setelah masalah Doni selesai dan hari ini hanya akan di adakan akadnya saja.
Skip....
Pernikahan Doni dan Amel telah selesai di selenggarakan dan kini keduanya telah resmi menyandang status suami istri sah baik agama maupun negara.
"Wah, gua gak nyangka kau akan menikah secepat ini, Bos. Apa jangan-jangan kau sudah tak tahan ingin segera menggarap Amel?" tuding Leo curiga.
Keduanya sedang duduk di taman belakang rumah sedangkan yang lain berada di dalam bercengkrama dengan para sanak saudara lainnya.
"Kau ingin tahu kenapa pernikahan kita di laksanakan secepat ini?" tanya Doni memakan cemilan kue.
"Ya, gue penasaran banget padahal semalam kalian tidak memberitahukan tentang rencana pernikahannya."
Leo berpikir keras tentang apa yang Doni katakan, ia terbelalak saat menyadari apa maksud ucapannya. "Jangan bilang semalam kalian melakukan ini?" Leo menamprakkan satu tangannya dan di tumpangi telapak yang satunya kemudian di gerakkan.
Doni mengangguk mengiakan.
"Astaga, Bos..! Kurang ajar sekali kau ini sampai membobol duluan tanpa stempel halal. Wah parah loe Bos. Dan jangan-jangan kalian ketahuan tidur berdua di bawah selimut oleh Syafira dan yang lainnya?"
Doni kembali mengangguk. "Hasilnya kita menikah hari ini."
"Ck, Bos gila loe Don. Segitunya ingin dapetin Amel?" umpat Leo.
"Eh, tapi, tapi, rasanya gimana? enak? mantap? terus berapa kali kalian melakukannya?" lanjut Leo penasaran.
"Ah pokonya tidak bisa di lanjutkan dengan kata-kata. Dan gue berhasil menanam benih 5 kali."
"What?! sebanyak itu? gak capek? Jadi pengen rasain gimana rasanya?" celetuk Leo.
Pletak....
__ADS_1
Jitakan di layangkan Doni. "Nikah dulu baru loe bisa rasain, jangan ngikutin jejak gue, Le! Apa yang gue lakukan tidak pantas di tiru, ok!"
"Iss, iya, iya, lagian gue belum punya calon."
*******
"Eh, berarti Doni dan Syafira jadi adik ipar dong." Ucap Bella.
"Benar tuh, kalau di jadiin sinetron bagus nih. Judulnya pamanku adik iparku atau Paman istriku adik iparku," sahut Mama Sofi tertawa.
"Benar banget, dan pasti ceritanya akan seru. Siapa tahu di angkat jadi film layar lebar," timpal Reyhan.
"Eh, eh. Ngomong-ngomong gimana rasanya di garap sama bujang lapuk, Mel?" celetuk Dita senang kalau Amel menjadi istri Doni meski harus ada drama segala.
Amel yang di tanya menunduk malu tak berani menjawab.
"Pasti nikmatlah, masa kagak." Jawab serempak mereka.
"Kalau tidak nikmat mana mungkin Amel mau ya gak, Mel?" tanya Syafira menyindir Amel.
Amel semakin terpojok dan menunduk malu.
"Meski awalnya sakit tapi lama-lama jadi enak, ya kan?" lanjut Dinda ikut menggoda.
"Dan akhirnya ketagihan deh," timpal Mama Sofi.
"Isshhh, kalian ini, bisanya malah memojokan Amel. Tidak lihat wajahnya sudah merah malu." Lerai Arman.
"Tapi, berapa kali Doni menabur benihnya? lama tidak?" lanjut Arman.
"Kita tidak boleh kalah sama mereka, Man. Kita juga harus buktikan kalau kita masih kuat dan masih seperti pengantin baru," ujar Dika.
"Benar tuh. Aku juga mau ikutan lomba nanam benih dan kita lihat siapa di antara kita yang terkuat," timpal Reyhan.
"Hei, bisa tidak bicaranya jangan mengarah ke arah situ?! di sini ada anak kecil dan ada yang jomblo, tahu." kata Fira menyindir Alex.
"Kau tidak usah menyindirku, Ra." balas Alex.
"Sudah-sudah, kalian ini masih saja sengklek. Sudah tahu masalah ini private masih saja di bahas," lerai Nicho yang paling waras.
"Tapi kalau untuk membuktikan siapa yang paling kuat saya ikutan!" lanjut Nicho.
Para wanita saling melirik dan menepuk jidat akan kelakuan para pria.
__ADS_1
"Pembicaraan tak berpaedah," batin Amel.
Bersambung.....