
Piona keluar dari angkot dengan lesu,
Sehari hari dia pergi pulang menggunakan
angkot umum, Karena dia mengingat dirinya berasal dari orang w sederhana,dia juga sudah terbiasa menggunakan angkutan, hanya di waktu tertentu saja dia pergi mengunakan mobil atau di antar sopir.
Begitu lah Piona dengan hidupnya yang sederhana, selama ia nyaman ia tidak pernah
mau seperti apa orang memandang nya, selama ia bahagia ia tidak peduli.
"Pio, aku khangen kamu"Ucap Nara sambil merangkul gadis itu setelah berada di pintu gerbang sekolah.
"Apaan sih Tan, aku lagi nggak mut mau bercanda"Ucap Piona sambil menepis? tangan Tania di pundak nya.
"Kenapa Pio, ada masalah lagi cerita dong sama kita,"Ucap Nara yang melihat muka Piona terlihat kusut.
"Piona, Nara ayo sini ikut gabung!"Teriak Tania .
Tania yang saat ini duduk di koridor sekolah
bersama Popon yang sedang asyik memakan kuaci, memanggil Piona dan Nara.
Popon yang sedang memakan kuaci terdepak
ketika terkejut saat mendengar Tania berteriak memanggil Piona dan Nara,
"Berisik, jangan teriak teriak di pagi hari bikin nggak konsen aja,"Ucap Popon yang baru saja terbatuk karena kuaci miliknya sendiri.
"Sorry Po, muka mu kenapa merah gitu mau berat ya.?"Tanya Tania polos.
Popon yang sedang kesal karena terselak
saat terkejut mendengar Tania yang tadinya
berteriak memanggil Piona dan Nara, akhirnya berkata, bawah diri nya habis terselak karena mendengar teriakkan Popon,
"Dasar bodoh, aku habis terselak mendengar
__ADS_1
suara mu yang cempreng itu,"Ucap Tania yang sedang kesal.
Tania yang tidak terima suaranya dikatakan
cempreng oleh Tania,dia mengatakan bahwa suara merdu seperti suara penyanyi Raisa.
"Suka gitu kamu PO, kata mamaku suara ku
merdu kaya Raisa"Ucap Tania yang tidak terima.
"Masa , bukan nya telinga mamamu bermasalah ya."Tanya Popon penasaran.
Tania yang sedang berdiri di samping nya
menjawab, dirinya menyanyi sebelum telinga
mamanya bermasalah,
"Iya sih, tapi aku bernyanyi sebelum telinga
Popon yang sedari tadi duduk di sampingnya
mengatakan kuping mamanya Tania bermasalah karena mendengar suara Tania.
"Apa jangan-jangan kuping mamamu bermasalah mendengar suara mu Tan?"Tanya Popon.
Tania mengatakan bahwa mamanya pernah masuk rumah sakit ketika mendengar diri nya
bernyanyi, dan itu juga yang membuat kuping
mamanya bermasalah, saat itu juga dokter melarang Tania agar tidak bernyanyi dirumah
sebelum mamanya sembuh total.
"Kok kamu tahu PO? padahal aku belum cerita
kamu bisa Merawang ya,ia sih mamaku masuk rumah sakit saat mendengar suara ku, dan kata dokter aku tidak boleh dulu bernyanyi dirumah sebelum mamaku sembuh, kata mama ku suara ku bagus sakin bagusnya mamaku mau menangis mendengar suara ku."Ucap Tania bercerita dengan Banga.
__ADS_1
Popon yang sedang duduk di samping nya
melarang Tania untuk bernyanyi karena dia
tidak mau masa depan nya hancur, ketika mendengar suara cempreng teman nya itu.Dia menyuruh Tania bernyanyi di pernikahan Piona dan Nara.
"Terserah kamu saja deh Tan, yang penting jangan bernyanyi didekat ku,aku tidak mau masa depan ku hancur,"Ucap Popon memperingatkan
"Ya sudah kalau gitu aku nyanyi di pernikahan mu sajalah"Ucap Tania.
"Dasar bodoh aku tidak mau malam pertama
ku masuk rumah sakit gara gara kamu, kamu nyanyi di pernikahannya Piona dan Nara aja."Ucap Popon
Tania merasa kesal sama Popon lalu
berteriak kepada Piona dan Nara, sambil mengatakan Popon telah menjahatinnya.
"Jahat kamu Po, teman teman lihat nih Popon
jahatin aku,"Ucap Tania sambil merajut memeluk Nara,
"Jangan pegang pegang Tan, hari ini aku lagi nggak bawa obat menular hari ini,"Ucap Nara,
"Kamu kenapa Pio,kok lesu amat kaya nya wajah mu?,"Tanya Popon yang melihat wajah Piona kusut disampainya.
"Bagi dong PO, aku lagi lapar nih," Ucap Nara sambil meminta kuaci sama Popon.
Tania yang melihat Piona duduk di samping
nya yang sedari tadi terlihat murung dan tidak berbicara apa pun, akhirnya bertanya
kepada teman nya tersebut.
"Aku lagi galau,"Jawab Piona pelan membalas pertanyaan Popon.
"Kamu kenapa Pio,kok murung terus,apa kamu diselingkuhi lagi ya, tapi kan kamu jomblo ?"Tanya Tania
__ADS_1