
Sepulang sekolah Piona,Nara dan Popon serta Tania berkumpul di gerbang, mereka terlihat sangat lelah kecuali Tania yang masih terlihat bersemangat.
"Bang Hardi i aku nembeng sampai lampu merah dong,"Ucap Tania saat melihat rahadi mengeluarkan motor nya.
"Ayo Hardi sayang kita pergi,"Ucap Berby sambil naik di job motor Hardi.
Tania menatap berby tidak suka padahal jika dibandingkan Tania, jauh lebih baik lagi untuk tidak dibandingkan artis model cantik berby.
"Maaf ya Tania,aku harus mengantar Berby
pulang"Ucap Hardi sambil menjalankan motor nya.
"Mari semua kita duluan ya!."Ucap Berby sambil tersenyum dan dibalas langsung oleh Piona,Nara dan Popon kecuali Tania yang lebih memilih membuang muka saat Berby dan Hardi melewati mereka.
"Sabar Tan mungkin ini ujian untuk mu, makanya kalau milih pasangan jangan ketinggian,"Ucap Piona sambil menekuk pundak Tania.
"Iya Tan masih banyak cowok yang nggak
seganteng Hardi kok,sadar diri ajalah
masih untung ada yang mau sama kamu,"Ucap Nara ikut ikutan menasehati.
"Iya Tan,mau ngak ngikutin saran aku kemarin, dijodohin sama tukang bubur yang kemarin orang nya lumayan kok baik lagi,"Ucap Popon sambil menunjuk tukang bubur yang ada diseberang jalan.
Piona ,Nara dan Tania memperhatikan
orang tersebut yang berumur 30 tahun
awal, orang tersebut memiliki badan yang
putih kuning Langsat dan ganteng serta memilik sopan santun jika bertemu dengan orang lain,dan ya janggan lupakan dia juga
memiliki senyuman yang manis jika dia sedang tersenyum.
"Aduh senyum manis banggat Ra, pasti
banyak cewek yang ngantri tuh pengen
jadi pacarnya,"Ucap Piona saat melihat orang
itu tersenyum.
"Iya memang, udah Sana gebet kali aja
cocok buat kamu kulit nya sama kayak
punya kamu tuh sama sama kuning
Langsat,"Ucap Nara menyuruh Tania menghampiri tukang bubur itu.
"Nggak pede aku,aku takut jadi malu
kalau dia nggak mau sama aku,"Ucap Tania.
"Makan yuk aku lapar banget nih, sekalian
kita nongkrong di cafe."Ajak Nara.
"Boleh tuh,aku juga bosan dirumah
terus nggak ada yang seru,"Ucap Piona mengiyakan ajakan Nara sementara yang lain ikut ikut dengan ajakan mereka.
Piona sebenarnya memang malas buru buru
pulang kerumah, selain bosan karena Dimas
tidak ada disampingnya dia juga diganggu terus Raffi.
"Nggak apa-apa deh pulang ke rumah telak
dari pada ngadain si kunyut Afi yang
__ADS_1
nyebelin itu!,"Gumam Piona dalam hati.
Akhirnya mereka pun pergi kesebuah cafe yang lumayan terkenal menggunakan mobil milik Nara yang mengantar Nara, seperti nya orang tua sudah tidak mengizinkan anak mereka menggunakan mobil sendiri lagi.
Setelah sampai di sana mereka duduk disudut duduk disudut kafe, mereka
sengaja memilih duduk di sudut agar
tidak banyak orang berlalu lalang menganggu mereka.
Disitu mereka juga bebas melihat pemandangan kendaraan yang memenuhi
jalan diluar,Piona melihat kearah jendela dengan pandangan kosong kosong.
"Pio kamu mau pesan apa?"Tanya Nara.
"Iya Pio lihat nih Tania aja udah seobrek obrek pesananya nggak tau tuh anak mau bayar pakai apa?."Ucap Popon sambil menunjuk pesana Tania.
"Awas ya Tan, tanggal tua nih aku mau minjamin,aku belum dikasih jatah."Ucap Nara memperingati Tania.
"Yah gimana dong kamu punya uang
nggak Pon,?Tanya Tania.
"Mana aku punya Tan,nih liat uangku aja sekarat,"Ucap Popon sambil memperlihatkan dompet nya yang hanya berisi uang 10 RB.
"Pio kamu punya uang nggak,aku pinjam dong nanti aku ganti kapan kapan kalau
aku ingat hehe,"Ucap Tania sambil tersenyum.
"Kapan kapan kamu bilang Tan,kamu
mau minjam atau minta, seenaknya
aja kamu,pantasan aja utangmu udah
banyak sama aku nggak kamu bayar bayar."Ucap Nara kesal.
"Kapan sih Ra?aku minjam sama kamu
"Dasar ******, itu Lo Tan, waktu kita
nonton bioskop kan kamu waktu itu
minjam uang sama aku, sekalian kita makan."Ucap Nara kesal.
"Oh iya ya lupa aku,besok aku bayar
tapi nyicil ya hehe, gimana Pio punya uang nggak?"Tanya Tania lagi.
"Ya terserah kamu aja, terserah kalian aja pesanin aku apa aja,"Ucap Piona cuek.
"Untung teman mu baik semua Tan, kalau nggak habis kamu dilaporin atas penipuan,minja kaya minta aja nasib apa
punya teman kaya kamu Tan,"Ucap Popon
menggelengkan kepalanya tak mengerti.
"Pio aku minjam juga ya,uangku tipis hehe,"Ucap Popon tanpa menoleh.
"Ini juga bocah 1 ikut ikutan,gaya kalian
mau nongkrong dicafe nggak punya uang,
setau aku ya jatah kalian tau banyak, tentang uang kalian habis buat apa sih,"Ucap Nara kesal.
"Uangku habis buat aku beli listrik sama
alat alat kosmetik yang lainnya kemarin hehe,"Ucap Popo sambil tersenyum.
"Kalau kamu Tan, habis buat apa,?"Tanya Nara penasaran.
__ADS_1
"Aku mah bermanfaat punya ku habis
buat poster bang Hardi sama seprai gambar
bang Hardi kemarin."Ucap Tania bangga.
"Ya ampun Tan, kalau Hardi tau
tahu bisa pingsan dia, photo nya kamu
buat begituan."Ucap Popon kaget.
"Benar tuh Tan,aku nggak nyangka
sampai segitunya kamu ngejar Hardi Tan,
Tapi kayaknya Hardi nggak pernah
nangapin kamu Tan,"Ucap Popon.
"Nggak apa-apalah namanya juga lagi
usaha,aku ngak akan nyerah sampai titik darah penghabisan"Ucap Tania semangat.
"Terserah kamu aja deh Tan,kami hanya
hanya bisa berdoa untuk yang terbaik
buat kamu."Ucap Nara malas.
Tania adalah gadis yang sangat keras
kepala dia tidak akan menyerah apa
yang ingin dia dapatkan, meskipun gadis itu
sudah diberi tahu,dia tidak akan mendengar kan kata orang lain sampai dia merasa kan
akibatnya.
"Mba jadi pesan apa nih, dari tadi saya
nunguin malah Ngobrol,"Ucap pelan merasa kesal pada mereka.
"oh iya maaf mba saya lupa,itu sama 1buat teman saya,1 lagi pesan es semangka nya buat teman saya ya Mba,"Ucap Nara malu.
"Baik silahkan ditunggu pesanannya
sebentar lagi nyampe,"Ucap pelayan
sambil beranjak pergi.
Dalam diam Piona menatap layar hpnya
disana terpampang photo Dimas,Piona ingat
dia mengambil photo Dimas saat Dimas tertidur pulas didepan TV.
"Bang aku khangen cepat pulang,"Gumam Piona Pelan.
Ditempat lain Dimas sendang duduk
dibalkon hotel tempat nya menginap,
sambil menatap kearah awan yang terlihat sedikit mendung.
"Piona tunggu aku pulang,"Gumam Dimasa Pelan.
Dimas menutup mata nya sambil
membayangkan Piona lagi tersenyum,
__ADS_1
dia terlihat cantik banget dengan rambut nya
yang pantas.