
Piona terbangun dari tidur panjangnya,dia
melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 07:00 pagi, dengan ngontai ia berjalan ke kamar mandi mengosok gigi nya disana.
Selsai melakukan runititasnya yang tidak bermanfaat dan membaca,Piona keluar menuju lantai bawah disana terlihat Bram dan Lasmi yang sedang duduk dan menangis.
"Sudahlah Pa, Mama nggak kuat lagi
punya anak laki yang udah nggak sayang
sama Mama,"Ucap Lasmi sambil sesekukan menangis.
"Sudah lah Ma, jangan nangis lagi mungkin
ini salah kita punya anak cowok, coba dulu nggak minta anak laki-laki mungkin tidak akan kayak gini"Ucap Bram sambil menghibur istri tcynya yang sedang menangis.
"Ada apa Pa, Kenapa mama manggis?"Tanya Piona bingung sambil menghampiri Lasmi dan Bram diruang tamu.
Dia menatap kearah Raffi yang sedang
memang sebuah koper, Raffi merasa bersalah
karena telah membuat Lasmi ibunya menangis seperti ini.
"Tanya sama adik iparmu Pio,mama nggak
kuat mau ngomongin nya,"Ucap Lasmi sambil menangis dipelukan suaminya.
"Ada apa Raf, apa yang sudah kamu lakuin sama Mama, sampai Mama nangis kaya gini?"Tanya Piona sambil menatap kearah Raffi.
"Aku nggak ngapa-ngapain aku cuma bilang
kalau aku mulai hari ini mau pindah dari
rumah ini dan tidak di apartemen,"Ucap Raffi
__ADS_1
"Tu liat sendiri Pio,anak nggak berperasaan mau ninggalin Mama sama Papa sendiri disini,"Ucap Lasmi sambil menatap ke arah Raffi penuh dengan Tajam.
"Berdua dong Ma,kan Mama sama papa jadi
dua, bukan sendiri,"Ucap Suaminya mengoreksi ucapan Lasmi.
"Diam Pa,Mama lagi sedih ini nanti aja
benaraninya."
"Sudah lah Ma,kan ada Papa disini yang
akan menemani Mama,"Ucap suaminya sambil memeluk Lasmi.
"Emang kenapa Raf kamu mau pergi dari
sini, dan kenapa nggak tinggal di sini
temani Mama sama Papa,"Ucap Piona.
"Mama juga maunya gitu Pio, tapi si Raffi
emang nggak ada lagi yang sayang sama Mama,"Ucap Lasmi.
"Mama ngomong apaan sih aku sayang kok
sama Mama,"Ucap Raffi.
"Diam kamu anak nakal kalau mau pergi
saja sana Mama nggak peduli lagi,
kalau mama sakit sendiri nggak ada yang tau."Ucap Lasmi sambil mengelap air mata nya yang terus mengalir.
"Sudah Ma,ada Papa disini yang akan jagain
__ADS_1
Mama selalu, anggap saja kita nggak punya
anak dari pada punya anak tapi nyakitin."Ucap Suaminya.
"Tenang Ma masih ada aku dan Bang Dimas
yang akan selalu jenguk Mama meski pun kami tidak tinggal disini tapi akan usahain jenguk Mama,"Ucap Piona berusaha menenangkan Lasmi mertua nya.
Dia sendiri bingung harus berbuat apa
disisi lain dia tau mengapa Raffi ingin pindah dari rumah,disatu sisi dia tidak tega melihat Lasmi menangis.
"Bang Dimas bantuin aku disini.!"Gumam Piona dalam hati.
"Ma kasih sayang,kamu emang seperti anak kandung Mama, yang selalu mengerti dengan Mama nggak kaya dia yang tega ninggalin
Mama,"Ucap Lasmi sambil mendelik ke arah Raffi.
"Okelah oke aku nggak jadi pergi, aku bakalan tinggal di sini Nemani Mama selama nya sampai Raffi menikah."Ucap Raffi yang menyerah.
Seketika Lasmi menghentikan tangisnya,
dia melirik ke arah Raffi yang menatap nya dengan sendu, Lasmi berdehem membersihkan tenggorokan yang kering sehabis menangis.
"Sudah lah Raf,jika kamu mau pergi,pergi
saja Mama nggak mau maksa kamu,biarin
Mama merana disini sendirian,"Ucap Lasmi.
"Nggak kok Ma,Raffi emang mau tinggal disini
mau nemanin Mama terus,"Ucap Raffi sambil
menghampiri lasmi.
__ADS_1
"Benarkah itu sayang Makasih ya karena kamu nggak jadi pergi,"Ucap Lasmi sambil memeluk Raffi
Bersambung.