Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Bimbang


__ADS_3

Sebelum baca dukung author dulu yuk, vote dan berikan hadiah agar author semangat nulisnya.


***


Mata Arumi melotot, terkejut mendengar perkataan ibunya bak petir ketiga yang menyambarnya secara beriringan dalam satu hari.


"Pa... Papa kecelakaan?" Susah payah ia berucap. Tenggorokannya tercekat, hingga sulit untuk mengeluarkan sepatah kata pun.


Sedangkan di sebrang telpon, ibunya sudah terisak bahkan tersedu-sedu. Sama halnya dengan Arumi, susah payah ibunya berkata hingga nyaris suaranya tak terdengar.


"Pa... Papa denger kabar perusahaan kamu di ambil Leon. Papa berniat ingin menemui kamu, tapi karena malam dan hujan juga pengelihatan mata papa yang kurang jelas, akhirnya mobil yang papa kendarai di tabrak truk sampai jatuh terseret dan jatuh ke dalam jurang." Terbata, akhirnya ibu Arumi dapat menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa sang ayah.


Masih dalam posisi duduk memeluk lututnya, tak dapat Arumi bayangkan bagaimana mobil miliknya ayahnya di tabrak oleh truk dan terguling hingga masuk ke dalam jurang. Sudah dapat di pastikan jika kini kondisi sang ayah kritis.


Sambil menahan isak, dan napas yang sesak Arumi bertanya. "Berapa lama Papa bertahan, ma?"


"24 jam, Rum. Jika papa tidak juga di operasi dalam waktu 24 jam, pendarahan di otak papa akan semakin parah. Dokter khawatir nyawa papa tidak akan tertolong." Ibu Arumi menjeda ucapan. Susah payah di seberang sana ia menyembunyikan diri untuk tidak terdengar sedang menangis. Namun, Arumi dapat merasakannya, meskipun ibunya bersusah payah menutupi. "Tolong, Rum. Tolong, mama. Mama gak mau papa kenapa-kenapa. Mama gak mau papa pergi, Rum."


Air mata kembali menetes membasahi pelupuk. Masih dalam posisi yang sama, duduk bersimbuh memeluk lutut dan bersandar pada pintu kamar Arumi terisak. Tidak seperti sang ibu yang diam-diam menangis dan berusaha menutupi kesedihan di depan putri semata wayangnya, Arumi justru menangis tersedu-sedu nyaris histeris.


Bayangan masa lalu yang begitu buruk dengan sang ayah kembali terlintas dalam benaknya. Bagaimana dahulu, Arumi menentang perjodohan yang di buat sang ayah dan lebih memilih pergi dari rumah serta tinggal bersama Leon. Dia bahkan tak peduli saat sang kakak lelaki menyuruh sang ayah mencoretnya dari daftar keluarga dan tetap mengukuhkan keyakinan jika Leon-lah lelaki terbaik untuk dia.


Rasa bersalah, dan berdosa mulai merajam hatinya. Dadanya begitu sesak mengingat bagaimana berdosanya dia kepada sang ayah hingga pernah beradu argumen keras dan berakhir hengkang dari rumah.


Mengingat ayahnya dalam kondisi kritis, segera Arumi mengenyahkan rasa bersalah kepada ayahnya dulu untuk memikirkan jalan keluar menyelamatkan sang ayah.


"Berapa biaya untuk operasi papa, Ma?" Arumi sebenarnya takut mengatakan hal itu.


Pasalnya, dia sendiri sudah tau jika semua aset beratas namakan AM kosmetik telah di blokir oleh Leon. Mungkin juga kini apartemen dan harta lainnya sudah ikut tersita atas perintah Leon. Sedangkan tabungan pribadinya sendiri, Arumi tak yakin masih tersisa banyak. Mengingat biaya dia berangkat ke Amsterdam juga biaya hidup yang telah ia lunasi selama tinggal di sana berasal dari uang tabungan pribadinya sendiri.


"90 juta, Rumi. Itu belum termasuk biaya kamar inap dan obat-obatan. Bang Dicko sudah membayar penuh biaya kamar dan pengobatan papa, tapi dia enggak bisa bayar biaya operasi papa karena istrinya yang sebentar lagi juga mau melahirkan dan butuh uang."


Dicko adalah kakak pertama Arumi. Lelaki itu usianya berjarak 5 tahun dari Arumi. Meskipun, mereka satu darah sifat keduanya di bilang cukup bertolak belakang.

__ADS_1


Jika Arumi memiliki sifat ceria, berbanding terbalik dengan Dicko yang pendiam. Jika Arumi penyabar, maka Dicko pendendam, jika Arumi lembut dan penuh cinta, maka Dicko keras dan ambisius. Mereka bagai air dan api, tak pernah akur dan hidup damai berdampingan sebagai kakak beradik. Sewaktu Arumi bertengkar hebat dengan ayahnya karena menentang perjodohan pun, Dicko adalah satu-satunya orang yang memprovokator untuk ayahnya mencoret nama Arumi dari kartu keluarga.


Hal itu bukan semata-mata, Dicko membenci Arumi dan ingin menyingkirkan adiknya sendiri. Dia justru beralasan melindungi Arumi dari lelaki licik seperti Leon.


Dahulu Arumi tak pernah mempercayai ucapan Dicko yang selalu menjelek-jelekkan Leon. Mengingat bagaimana sifat sang kakak yang keras dan tak ada baiknya kepada dia, berbanding terbalik dengan Leon yang penuh cinta dan selalu menujukkan sikapnya yang lembut dan rela berkorban untuknya.


Namun kini, Arumi telah sadar kalau apa yang di katakan Dicko sang kakak dulu adalah fakta. Arumi semakin menyesali kebodohan dulu mempercayai cinta palsu Leon. Berani menentang ayah dan kakaknya demi lelaki tak tau diri macam dia. Rasanya ingin sekali saat ini, dia bersimpuh dan meminta maaf di kaki kedua lelaki hebat dalam hidupnya. Arumi menyesali. Sungguh menyesal.


Di seberang telpon, ibunya yang menunggu Arumi membalas perkataannya tak kunjung dapat balas. Membuat ibunya penasaran dan di rundung khawatir. Takut terjadi sesuatu kepada Arumi karena shock mendengar kabar sang ayah.


"Rumi, kamu baik-baik saja kan, nak?"


Arumi tersadar dari lamunan panjangnya. Dia segera bangkit, menghapus air matanya, dan berjalan mendekati meja kerja sambil berkata kepada sang ibu


"Aku baik-baik saja, Ma."


Di bukannya laptop kerja miliknya, guna mengecek saldo dalam rekening pribadinya yang mudah-mudahan saja masih cukup untuk membayar biaya operasi sang ayah.


Arumi masih diam, belum yakin menjawab karena layar laptopnya sedang memuat jumlah saldo pada rekening pribadinya.


Lututnya lemas, selemas-lemasnya ketika netranya melihat jumlah saldo dalam rekening pribadinya hanya ada dua puluh juta rupiah. Setengah dari biaya operasi sang ayah pun tidak. Sekarang, dia binggung harus berbuat apa untuk menyelematkan sang ayah.


Tubuhnya kembali ambruk bersimbuh di lantai. Ponselnya masih setia ia tempelkan di daun telinga guna tetap dapat mendengar ucapan sang ibu dari nan jauh di sana. Sudah mulai frustasi, dengan kasar Arumi mengusap wajahnya. Membenamkan kepalanya di atas lutut kaki dan kembali terisak.


Bagaimana ini? Aku benar-benar bangkrut sekarang. Nyawa papa dalam bahaya, harus apa aku menolong dia?


Di tengah carut marut pikirannya yang bercabang, tidak tau harus berbuat seperti apa dia sekarang. Meminjam uang kepada Tessa pun rasanya itu tidak mungkin. Melihat keadaan sang teman yang untuk hidup sehari-hari saja begitu amat sulit.


Dengan amat sangat terpaksa, Arumi pun berkata, "Ma, beri aku waktu untuk mencari biaya operasi Papa. Jika aku belum menghubungi mu pukul tujuh pagi waktu Indonesia tolong katakan kepada Bang Dicko meminjamkan mama uang dari biaya persalinan kak Celline. Arumi janji akan mencarikan uang untuk operasi apa pun caranya."


"Iya. Terimakasih, Rum, terimkasih. Maafkan mama repotin kamu."


Telpon pun berakhir. Tanpa membuang-buang waktu, Arumi segera bangkit dari duduknya dan berlari keluar kamar. Dia mencari keberadaan Tessa yang sialnya tak ada di ruangan mana pun. Ponselnya juga sibuk, saat Arumi mengubungi. Arumi menyakini, jika saat ini Tessa berada dalam perjalanan menuju kantornya di pusat kota Amsterdam. Binggung, Arumi akhirnya memutuskan untuk mencari buku telpon yang biasa orang-orang simpan di sebelah telpon kabel.

__ADS_1


Buku bergaris hijau hitam itu ketemu, segera Arumi membuka dan membolak-balikan halaman demi halaman untuk mencari kantor Tessa bekerja. Hingga ia menemukannya terselip di beberapa kartu nama yang tertanam di beberapa halaman buku. Langsung saja, tanpa membuang-buang waktu lagi, Arumi menghubungi perusahaan Tessa.


"Good morning, ada yang bisa saya bantu?"


"Hello, good morning." Aksen British begitu kental terdengar saat Arumi berkata. "Saya Arumi teman satu apartemen Tessa. Apakah nona Tessa telah datang ke kantor?"


"uh... Maaf moms, Nona Tessa hari ini terlambat masuk karena ada satu perihal penting. Jika ada yang sibuk, miss atau nona bisa mengatakannya kepada ku."


Sejenak Arumi menghela napas. Menimbang-nimbang kembali apakah pilihan itu terbaik untuknya atau tidak. Namun, membayangkan sang ayah meninggal dunia membuat Arumi akhirnya memantapkan diri bertanya.


"Saya di suruh nona Tessa meminta nomor Mr. Digo Uparengga. Apa bisa?"


"Tentu. Tunggu sebentar, biarkan kami mencarikan dahulu."


"Baik."


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya suara wanita di sebrang sana kembali menyapa.


"Halo, miss?"


"Ya, bagaimana?"


"Nomor Mr.Uparengga adalah +31789xxxx."


Gagang telpon masih menempel di telinga, sementara tangan Arumi dengan lihai menulis nomor yang di sebutkan sang wanita di kertas kecil yang barusan ia robek dari buku telpon.


"Terimakasih." Seru Arumi setelah selesai mencatat.


Panggilan pun berakhir, Gagang telpon kabel itu sudah kembali ke tempatnya semula. Carut marut pikiran Arumi bercabang. Bimbang dengan keputusan sekarang.


Ditangannya sudah ada nomor Digo. Satu-satunya orang yang mampu dan bisa membantu Arumi dari semua masalah yang menimpa. Tetapi, tetap saja hatinya gundah untuk menerima pernikahan tanpa cinta dari seorang lelaki impoten seperti Digo.


****

__ADS_1


__ADS_2