
Bali, tahun 1991
Digo remaja, berdiri tembok dengan kedua tangan yang di rentangkan dan di tempelkan ke tembok. Ia tak memakai celana dan baju. Kain satu-satunya yang menutupi tubuhnya hanya celana boxer pendek berwarna hitam. Di belakang Digo, ayahnya sudah bersiap. Berdiri dengan seulas cambuk panjang yang ia genggam di tangan kanannya. Ibunya berdiri menyender pada tembok tak jauh dari Digo berdiri. Memeluk Steve dengan beruraikan air mata.
"Aku mohon, mas jangan lakuin sama Digo. Dia sudah dewasa, tidak pantas di perlakukan seperti ini." Mohon Irene kepada suaminya. Agar tidak menghukum Digo dengan cara keras seperti itu.
Sudah menjadi tradisi keluarga uparengga yang di mulai dari ayah Digo, Baskara. Untuk menghukum seseorang yang berbuat salah di rumah itu adalah dengan cara menyambuk tubuhnya lima belas kali. Itu untuk perbuatan salah kecil. Dan, jika ada keluarga maupun pelayan dan para penjaga rumah keluarga besar Uparengga yang berbuat salah besar, hukuman akan di tambah dengan cambukan sebanyak tiga puluh kali.
Sama seperti yang lainnya. Digo adalah orang yang tak dapat menghindari hukuman aneh yang ayahnya terapkan itu untuk keluarganya. Lelaki itu di anggap kolot, menirukan gaya hukuman para ayah amerika kuno yang sangat kampungan. Tapi, ayah Digo tak peduli. Menurut Baskara, dengan mendidik para penghuni rumah keluarga besarnya dengan cara keras seperti itu, akan membuat mereka patuh dengan segala peraturan yang ia sendiri buat. Sifat dan sikap mereka pasti akan terbentuk dengan kepribadian yang menurut Baskara jauh lebih baik.
Sudah sedari kecil, baik Digo maupun Steve jika melakukan kesalahan yang membuat ayah Digo marah pasti cambukan adalah hukuman itu mereka. Mereka akan di suruh berdiri menghadap dinding tembok kamar mereka, merentangkan kedua tangan mereka menempel pada tembok sebelum kemudian ayah Digo melayangkan cambukan menyayat tubuh mereka. Tak hanya kedua putra kebanggaannya. Para pelayan yang kebanyakan adalah perempuan muda berenergi dan semangat bekerja juga tak luput dari hukuman menyakitkan itu. Mereka tak akan segan-segan menerima hukuman cambuk, ketika mereka melakukan kesalahan yang membuat ayah Digo marah dan murka.
Selama hukuman itu masih berlaku. Kurang lebih sekitar empat puluh pelayan berhenti dari pekerjaannya karena tak sanggup dengan hukuman konyol yang ayah Digo terapkan.
Namun, di antara para pelayan yang keluar masuk bekerja untuk keluarga besar uparengga hanya segelintir pelayan saja yang bertahan atas nama dedikasikannya terhadap kemurahan hati nyonya muda, Irene. Hanya dengan hitungan jari, mereka bertahan dan mulai bertahap mempelajari hal-hal apa saja yang dapat membuat tuan besar marah juga menyukainya. Dan di antara para pelayan yang masih bertahan hidup dan bekerja dengan keluarga Uparengga, nama Gress lah yang paling di hormati menjadi kepala pelayan di rumah keluarga besar Uparengga. Wanita berambut putih uban yang selalu di gulung rapih bahkan telah bekerja dengan keluarga Uparengga sebelum ayah Digo Baskara mengambil alih kursi kekuasaan tuan besar Sudibyo. Makanya tak heran, jika saat ini wanita paruh baya itu di angkat dan di percaya menjadi kepala pelayan yang mengurusi segala kebutuhan keluarga Uparengga.
Dan karena sifat kasar ayahnya yang selalu enteng tangan kepada Digo. Membuat lelaki itu menurunkan warisan sang ayah dan masih menjalankan ritual menyakitkan untuk menebus kesalahan yang di lakukan oleh penghuni rumah.
"Mana cambuknya?" Tangan Digo terjulur kearah pelayan yang tadi ia perintahkan mengambil seutas cambuk panjang.
__ADS_1
Ragu, penjaga berseragam jas hitam dengan kemeja putih itu menyerahkannya. Sambil sesekali melirik ke arah Ria yang tertunduk dengan mulut komat kamit membaca mantra yang ia percaya dapat menolongnya dari amuk tuan muda Digo.
"Berdiri di depan tembok sekarang." Perintah Digo kepada Ria.
Ria menurut. Dia berjalan dan berdiri menghadap tembok. Kedua tangannya saling bertautan, menggenggam ujung seragam pelayannya untuk menahan sakit yang segera akan ia rasakan lagi.
Digo berdiri tepat di belakang Ria. Tangan kanannya sudah bersiap menggenggam cambuk berwarna hitam dan mengayunkan belahan sebagai pemanasan. Namun, baru juga dirinya akan mengayunkan cambuk ke tubuh Ria, mata Digo langsung menangkap noda darah memanjang pada seragam kerja Ria.
"Apa yang terjadi kepada mu, huh?" tanya Digo penasaran. Matanya masih menelisik noda darah yang tak hanya satu titik di tubuh Ria, melainkan tiga sampai empat titik yang kebanyakan terdapat pada kaki juga bahunya.
"Aku bahkan belum mencambuk mu. Tapi tubuh mu sudah mengeluarkan darah terlebih dahulu begitu persis dengan goresan cambukan."
"Sa... Saya yang salah, tuan. Maafkan saya dan tolong laksanakan hukuman itu."
Digo tercengang mendengar penuturan Ria. Pasalnya, Digo tau di dunia ini tak ada yang mau mendapatkan sebuah hukuman apalagi jelas-jelas itu bukan kesalahannya. Tapi itu berbeda dengan Ria yang seperti begitu keuhkeuh menutupi fakta asli dan seperti sedang menutup-nutupi kesalahan seseorang.
"Ria, lebih baik kau berkata jujur." Gress berkata cukup keras. Sudah menggenggam tangan Ria dan menariknya.
Tapi tiba-tiba fokus semua orang beralih ketika dokter yang menangani Arumi berkata.
__ADS_1
"Nona sudah sadar."
Dengan segera Digo berlari kembali menghampiri Arumi. Menggenggam tangan istrinya erat dan tanpa sadar mengecup punggung tangannya.
"Rumi, kamu tidak apa? Mana yang sakit katakan padaku?" Wajah Digo begitu khawatir. Apalagi melihat kondisi sang istri yang nampak lemas dengan dahi yang memar.
"Digo, kepala ku sakit banget." Bisik Arumi.
Semua salah Ria. Batin Digo. Dirinya harus menghukum pelayan itu dan memberinya pelajaran. Bahkan, Digo juga sudah berniat ingin memecat pelayan itu sekarang juga. Tetapi, rencana yang sudah di siapkan Digo berantakan ketika Arumi memegang lembut tangannya. Menggenggamnya seraya berbisik dengan nada terbata-bata menyebut nama mantan istrinya.
"Lu–Luna. La–Luna yang melakukannya."
Digo terhenyak mendengar ucapan Arumi. Beberapa detik ia terdiam, berpikir dan menjernihkan otaknya. Sebelum kemudian kepalanya menoleh kearah Ria yang masih diam di posisinya.
"Panggilkan aku petugas keamanan IT. Katakan padanya, aku ingin melihat rekaman CCTV di dapur pagi ini." Titah Digo kepada para pengawal. Yang langsung membuat para pengawal itu keluar melaksanakan perintahnya.
Tinggal–lah di sana Digo, Arumi, kepala pelayan, Ria, dan dokter yang menangani Arumi. Digo bangkit dari duduknya, melepaskan genggaman tangan Arumi dan menyuruh dokter wanita bernama Shella untuk menemani Arumi terlebih dahulu.
"Ikut aku ke ruangan kerja." Katanya kepada Ria dan kepala pelayan.
__ADS_1
****