
We were love drunk, waiting on a miracle ...
Tryna find ourselves in the winter snow ...
So alone in love like the world had disappeared ...
Oh, I won't be silent and I won't let go I will hold on tighter 'til the afterglow ...
And we'll burn so bright 'til the darkness softly clears...
Oh, I will hold on to the afterglow ...
Oh, I will hold on to the afterglow ...
Lagu Afterglow milik Ed sheeran masih terdengar merdu di telinga keduanya, saat Marco berdecak tak percaya dengan cerita perjuangan hidup wanita di depannya. Mulutnya bahkan sampai terngaga, mengetahui fakta jika Arumi bisa menyembuhkan orang yang mengidap Impoten seperti Digo yang kini menjadi suami. Akan tetapi, Marco juga sedikit merasa kasihan kepada wanita itu. Karena telah di khianati oleh mantan kekasihnya, perusahaan yang ia rintis dan bangun dari nol di rebut, serta cintanya bertepuk sebelah tangan kepada Digo yang masih trauma akan masa lalunya.
"Semua pasti akan menemukan jalan cinta masing-masing." Marco berusaha menyemangati Arumi. "Orang yang kau cintai masih ada di dunia ini. Mungkin hanya hatinya yang masih milik orang lain. Itu tak masalah, selagi kau mau berjuang membuktikan betapa besarnya cinta mu kepada suami mu, aku yakin lambat laun Digo akan mencintai dan berdamai dengan masa lalunya."
Arumi terdiam sambil tersenyum. Hatinya melantangkan Amin yang begitu kencang atas doa yang Marco panjatkan untuknya.
"Kau lelaki baik, Marco." Kata Arumi tulus.
"And you, good women. Digo beruntung mendapatkan wanita berhati setia seperti mu."
"Dan tunangan mu pun beruntung mendapatkan lelaki setia juga seperti mu. Menjalankan sisa hidupnya di atas bayang-bayang menyedihkan masa lalu. Mungkin jika aku jadi mu, aku sudah akan bunuh diri menyusul tunangan ku."
Kepala Marco menggeleng pelan. Dia tau bunuh diri itu adalah jalan yang salah untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Dan, dia yakin jika dia bunuh diri di alam sana dia tidak akan bertemu dengan tunangannya. Tuhan pasti akan marah dan menghukumnya. Marco tak ingin itu terjadi. Makanya, meskipun setiap langkahnya di kelilingi dengan kenangan menyedihkan akan tunangannya. Marco tetap bertahan menjalankan hidup atas nama cinta. Biarkan dia hidup menderita di dunia dengan kenangan yang tunangannya tinggalkan, asalkan ketika mati dia dapat di pertemukan lagi dengan cinta abadinya. Dan itulah cinta sejati menutur versi Marco.
"Bunuh diri bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah, Rumi." Jelas Marco.
__ADS_1
Arumi nampak sedikit terkejut dengan ucapan Marco. Dia yang masih asik melahap nasi goreng pesanannya, menghentikan sejenak aktivitas makannya guna mendengarkan perkataan Marco.
"Maksudmu?"
"Sama seperti mu. Aku juga sedang membuktikan cintaku kepada tunangan ku di alam sana, Arumi."
Kening Arumi mengernyit semakin tak mengerti.
"Ya, aku sama seperti mu. Seperti kau, yang berusaha diet, cantik demi menarik perhatian Digo dan membuat lelaki itu mencintai mu. Aku pun sama. Aku sedang membuktikan cinta ku kepadanya yang kini berbeda alam dengan ku. Dengan cara menjalankan hidup sesuai impiannya. Hidup sendiri dan bersumpah tak akan mencintai siapapun selain dirinya. Hingga hari itu tiba di mana aku akan di panggil atas ijin tuhan dan bertemu dengannya di keabadian. Dan menurutku itu adalah cinta sejatiku dalam versi ku sendiri."
Arumi tertegun. Dia diam seribu bahasa. Ada rasa kagum bercampur kasihan melihat diri Marco. Hatinya terusik. Seandainya, dia dapat menemuka lelaki seperti Marco yang mencintainya begitu tulus, hingga akhir hayat.
"Kau sudah kenyang?" tiba-tiba Marco bertanya dan langsung membuyarkan lamunan Arumi.
Arumi jadi kikuk dan salah tingkah.
"Mau saya antar?" tawar Marco.
"Gak perlu. Rumah ku dekat banget dari sini. Lebih baik kamu pulang saja, jangan terlalu mengkhawatirkan ku."
"Baiklah. Tapi kau harus ingat, jangan menangis di tengah jalan, apalagi dengan keadaan perut kosong." Marco terkekeh. Entah mengapa dia begitu senang meledek Arumi. Selain Arumi polos, dia juga bukan tipikal wanita yang mudah baperan. Hal itu juga mengingatkan Marco akan sosok tunangannya yang memiliki sifat persis seperti Arumi.
'Baiklah, sampai jumpa lagi, Rumi." Marco melambaikan tangan yang di sambut juga oleh Arumi.
Dari sudut bangku kafe itu, Arumi masih menatap punggung lebar Marco. Memperhatikannya nanar, masih pikiranya berkhayal dapat memiliki lelaki seperti Marco.
Sedangkan di rumah, Digo yang sudah selesai mandi merasa ada yang aneh. Kamar itu terlihat begitu senyap sekali. Dia lupa, karena masuk ke dalam kamar setengah mabuk jika Arumi sedang tak ada di rumah untuk pergi Jogging. Maka, setelah keluar dari kamar mandi dan meminum obat untuk meredakan nyeri kepala akibat hangover, Digo segera turun ke bawah untuk mencari Arumi.
Setibanya di bawah, dia mengelilingi setiap sudut rumahnya. Memeriksa kamar-kamar atau rumah yang tak menyatu dengan rumah utama, tak terkecuali teman olahraga yang seperti pak Ketut tadi sebutkan. Namun, setelah hampir satu jam mencari Digo tak juga menemukan sosok istrinya. Membuat dia khawatir, takut istrinya nyasar dan tidak tau jalan pulang.
__ADS_1
Saat, dia menelusuri kolam renang. Beruntungnya, Digo bertemu dengan pelayan yang tadi berpapasan dengan Arumi tadi di tangga. Digo bertanya kemana hilangnya Arumi kepada pelayan tersebut yang langsung pelayan itu jelaskan.
"Tadi pagi, nona Arumi terlihat keluar dari kamar dengan menggunakan setelan olahraga. Saya sempat mendekat dan menawarkannya sarapan. Tapi, nona menolak dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun keluar dari rumah."
Mendengar penjelasan pelayannya, Digo semakin yakin jika Arumi nyasar dan tidak tau jalan menuju rumah utama. Akan tetapi, entah dari arah mana tiba-tiba pak Ketut datang dan langsung menimpali ucapan pelayan wanita tadi.
"Nona sedang pergi joging di luar rumah, tuan." Begitu kata Pak Ketut.
Kening Digo mengerut. Matanya memicing bingung menatap pak Ketut lekat.
"Joging? Apa dia tidak tau area rumahku lebih besar di bandingkan gelora bung Karno? kenapa harus joging di luar rumah?"
"Tadi saya sudah bertanya kenapa harus joging sedangkan di dalam rumah di sediakan banyak jenis olahraga. Tapi nona menjawab, joging lebih cepat mengeluarkan keringat."
Digo tak mau ambil pusing. Mendengar Arumi tidak kesasar sudah membuatnya sedikit lega. Dia pikir, Arumi pasti sedang menikmati jalan jalan santai di kota Bali, dan Digo akan membiarkan itu.
Digo pun beranjak dari sana menuju meja makan. Dia sarapan akhirnya sendiri tak menunggu Arumi kembali. Selain karena sudah lewat jam sarapan, Digo juga sedang terburu-buru untuk menemui seorang klien dekat sini.
Dan, saat Digo baru saja selesai makan ponselnya berdering. Sebuah pesan whatsapp ia terima. Namanya tak ada di dalam kontak ponsel Digo. Tapi terlihat dari isi chat, sepertinya Digo sering berhubungan dengan pemilik nomer tersebut.
Digo membuka isi pesan tersebut. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi dalam pesan tersebut. Nomer itu mengirimkan beberapa foto kepada Digo yang berisikan foto Arumi yang sedang duduk dan bercekrama dengan Marco di kafe tadi. Meskipun wajah sang pria tak terlihat, tapi terlihat jelas dari foto yang di tangkap betapa bahagianya Arumi duduk bersama dengan lelaki asing itu.
Dengan kasar, Digo mengebrak meja makan. Berdiri sambil masih menatap nanar ke arah layar ponsel.
Jadi di luar dia ketemu cowok. Awas aja, Rumi.
Digo beranjak meninggalkan meja makan dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dengan membanting pintu ruangan. Selama ini, Arumi tak pernah sadar jika Digo selalu mengawasinya kemana pun dia berada. Digo secara sembunyi-sembunyi membayar seorang orang untuk membututi Arumi. Melindungi dia dari serangan apapun, juga tentu melaporkan apa saja yang Arumi lakukan di luar sana saat tidak bersamanya. Meskipun, Digo tetap menampik dirinya tak menyukai Arumi. Tapi dengan caranya yang begitu posesif memperlakukan Arumi, sudah menjawab semua isi hati sebenarnya seorang Digo Uparengga.
...----------------...
__ADS_1