
Sore masih begitu terik takkala Laluna terlihat duduk sendiri termenung di atas balkon kamarnya. Steve beberapa waktu lalu berpamitan ingin membelikan makanan untuk sang istri yang di landa lapar tetapi begitu malas untuk turun ke bawah karena kelelahan setelah packing barang tadi.
Di raihnya sebungkus rokok dari dalam kantung celana jeans yang dia gunakan. Tak lupa juga ada sepuncuk korek api gas yang tak pernah ia lupa bawa kemana-mana. Di ambilnya satu batang rokok mint itu lalu ia nyalahkan. Asapnya mulai membumbung tinggi dan menghilang kemudian datang kembali manakala dengan kuat-kuat Laluna menghisapnya.
Perasaannya kini berkecamuk sendiri. Tak dapat, Laluna tutupi jika ia begitu amat sedih dan terluka melihat Digo kini sudah menjadi suami dari wanita lain. Ingin rasanya Laluna marah. Menghentikan pernikahan Digo dan Arumi kemarin. Tapi, semenjak malam itu. Malam dimana Digo membela Arumi dan mempermalukan Laluna di hadapan keluarga besarnya, dirinya menyadari sudah terlalu jauh jarak yang memisahkan dirinya dan Digo. Laluna kesal, dongkol, dan marah. Di hisapnya kuat-kuat rokok itu tanpa ia menjeda untuk mengeluarkan asap dari mulutnya. Terus menerus tak peduli dadanya mulai terasa sesak. Buliran air mata mulai menetes di pipinya. Jatuh bersamaan dirinya yang tersendak dan batuk akibat tak kuat menahan asap yang memenuhi dadanya.
Tubuh ringkih Laluna ambuk jatuh tersungkur di atas balkon tertutup kamarnya. Rokok yang tinggal setengah batang itu terlepas dari apitan tangannya. Wanita itu menangis, sambil menjenggut-jenggut rambutnya dan berteriak frustasi.
Tak ada lagi harapan untuk dirinya dapat hidup dan kembali kepada Digo. Kini lelaki itu sudah menjadi suami dari wanita lain. Jalan untuk menuju kembali pada hati Digo benar-benar sudah tertutup. Laluna sudah menyadari jika sekarang hubungan dengan Digo benar-benar sudah berakhir.
Dirinya amat begitu marah, tak terima dengan semua kenyataan yang ada. Tak peduli, sudah begitu lama dirinya menjadi istri Steve adik kandung Digo sendiri. Laluna sampai detik ini masih menyimpan rasa kepada Digo dan terus berusaha mencari cara agar dapat rujuk kembali dengan lelaki itu.
"Akhhh... Gue benci lo Arumi. Gue benci lo. Lo benar-benar penghalang terbesar gue buat dapatin Digo." Laluna berteriak bak seorang yang sudah tidak waras. Wajahnya sudah basah dengan air mata. Rambutnya begitu berantakan semrawut tak karuan. Dia terus memaki Arumi dengan kata kata kasar.
"Gue bakal pastiin, lo gak bakal bahagia selama hidup di dalam keluarga Uparengga. Gue bakal buat lo sengsara karena udah ngerebut Digo dari Gue. Gue bakal pastiin itu Arumi."
__ADS_1
***
"Selesai." Satu koper besar di letakan Arumi di atas ranjang milik Digo. Kemudian satu koper besar lainnya menyusul. Di letakkannya koper besar bermerek Swiss army itu bersebelahan, sebelum kemudian Arumi mengambil langkah menuju kamar mandi.
Digo yang tengah tepekur dengan pekerjaan di luar balkon kamar mendengar air shower yang menyalah dari dalam kamar mandi. Lelaki itu menyudahi pekerjaannya. Menutup laptop abu-abu berlogo buah apel di gigit lalu bangkit dari duduknya. Ia masuk ke dalam kamar dan menemukan Arumi tak ada di sana. Tangan kanannya merogoh kantung celana jeans yang ia gunakan. Mengambil sebuah kapsul dan menatap kapsul tersebut seksama.
Apa gue coba sekarang?
Pikirannya kembali melayang beberapa jam yang lalu. Ketika dirinya tadi bertemu dengan Gendis lewat temu janji yang Digo buat setelah ia tiba-tiba kabur begitu saja dari permainan panasnya dengan sang istri. Digo ingat betul apa yang Gendis katakan kepada dirinya, jika dia akan kembali seperti pertamakali merasakan bercinta. Dirinya akan cepat mencapai puncak dan harus sering-sering melakukan terapi sendiri untuk melatih miliknya agar kuat dan tahan lama di atas ranjang.
Tak puas dengan jawaban Gendis, Digo meminta solusi yang paling cepat. Gendis tanpa malu langsung menyodorkan beberapa kapsul yang di yakini obat kuat pria kepada Digo. Tetapi sebelum memberikan kapsul tersebut, Gendis sempat berpesan kepada Digo jika dirinya tidak boleh selalu bergantung kepada obat kuat tersebut jika ingin bermain dengan Arumi. Digo harus melatih sendiri miliknya agar tahan lama di ranjang. Jika Digo membandel dan tetap terus bergantung dengan obat kuat, Gendis berkata jika bisa saja milik Digo tidak akan bangun untuk selamanya. Meskipun sudah di mainkan oleh Arumi.
Baru saja Digo hendak melangkah menghampiri Arumi di dalam kamar mandi, tiba-tiba saja Arumi keluar yang sukses membuat Digo terkejut. Bahkan saking terkejutnya, tanpa sadar Digo memasukan kapsul tersebut ke dalam mulutnya dan meminumnya tanpa air.
Mata Digo mendelik, mengerutuki kebodohan dirinya sendiri. Ia mulai cemas, takut akan terjadi sesuatu kepada dirinya yang akan merangsang untuk melakukan sengama.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arumi.
"Hmmm... Gak. Gak apa-apa. Haus, mau ambil minum." Digo salah tingkah. Ia berjalan menyeloroh ke dapur kamar. Mengambil satu botol air dingin dari dalam kulkas dan langsung menengguknya hingga tandas.
Setelah menghabiskan satu botol air dingin, Digo kembali berjalan keluar menuju balkon. Duduk kembali di kursinya tadi dan menyalahkan laptopnya kembali.
Dia tidak melanjutkan bekerja. Hanya pura-pura untuk menghindari kecurigaan Arumi terhadap tingkahnya yang aneh. Pikirannya tidak fokus, takut-takut obat kuat yang Gendis berikan mulai beraksi.
Lima menit berlalu, Digo belum merasakan hal aneh pada tubuhnya. Di liriknya matanya untuk melihat ke arah Arumi yang ternyata sedang tiduran di sofa dengan gaun santai yang ia kenakan sedikit tersingkap memperlihatkan pah*nya yang begitu putih dan bersih. Digo menelan saliva kasar. Ia kemudian memalingkan kepalanya lagi agar tidak melihat Arumi yang pasti akan meruntuhkan keimanan dirinya. Dia bahkan memukul-mukul kedua pipinya keras-keras secara bergantian agar tetap sadar dan akal sehatnya berjalan.
Selang sepuluh menit, tiba-tiba tubuh Digo memanas. Dia merasakan gerah dan panas hingga ingin rasanya melepaskan seluruh pakaiannya. Benak bertanya sebenarnya obat apa yang berikan Gendis kepada dirinya? obat kuat kah? Atau malah obat perangs*ng.
Di ingat kembali perkataan Gendis tadi pagi, sembari tangannya merogoh kantung celana jeans kembali. Di keluarkannya beberapa kapsul dengan dua warna berbeda yang masing-masing berjumlah tiga buah. Digo berpikir dan kemudian mengingat perkataan Gendis tadi pagi.
"Nih, yang ijo itu obat buat punya lo biar lebih kuat dan tahan lama di ranjang. Dan yang putih, lo kasih ke bini lo biar mainnya makin hot di atas ranjang."
__ADS_1
Alamak!!! Digo menepuk jidatnya. Ia baru ingat jika yang di minumnya tadi adalah obat perangs*ng yang sengaja ia minta dari Gendis agar Arumi dapat bermain panas bersamanya. Bodoh!!! Digo memukuli dirinya sendiri atas kebodohannya. Bagaimana bisa, ia bisa salah meminum obat. Harusnya obat yang ia minum ia berikan kepada Arumi. Sekarang, dirinya harus bagaimana efek obat perangs*ng yang ia minum sepertinya mulai bekerja.
****