
Malam pun tiba, saat Digo yang telah siap di lantai bawah dengan setelan jas abu-abunya Arumi justru gusar seorang diri di kamar. Bagaimana tidak, gaun yang ia beli di butik milik Marco nampak seperti lingerie. Sekarang, Arumi tahu mengapa butik milik Marco sepi pengunjung, meskipun pak ketut bilang jika butik itu terbaik di kota Bali. Ya, karena pihak pemasaran yang tidak bisa menjual barang. Mereka memaksa pembeli untuk membeli produk mereka, padahal sama sekali produk mereka tidak cocok di gunakan. Sialnya, Arumi malah menjadi salah satu korban mereka. Dan, meskipun mati-matian Arumi bersusah parah mengumpulkan keberanian untuk percaya diri. Tetap saja, saat melihat pantulan dirinya di cermin dia kembali mundur dan tak percaya diri.
Bagaimana ini? Rasanya aku ingin sekali terjun dari kamar ke bawah sekarang juga.
"Arumi. Kau tidur, ya?" Sudah lebih dari setengah jam, akhirnya Digo tak lagi sabar menunggu.
Mau tak mau, Arumi segera meraih tasnya dan keluar dari dalam kamar. Menurun anak tangga dan menemui Digo yang sedang berdiri membelakangi asik mengobrol dengan asisten pribadinya.
"Maaf menunggu lama."
Tubuh Digo berputar saat mendengar suara Arumi. Dia hampir saja tersendak melihat betapa cantik istrinya dalam gaun super mini namun cantik itu.
"Kau tidur? Atau menghayal di kamar mandi?" Susah payah, Digo berkata menahan ke terpukauannya. Sesegera mungkin, dia langsung memalingkan pandangannya saat Arumi berusaha beradu kontak mata.
"Aku hanya tidak pede dengan gaun ini."
"Kenapa? Gaun ini bagus, kok." Digo reflek berkata jujur. Selang beberapa detik kemudian, dia segera sadar lalu susah payah menjelaskan kembali maksud perkataannya. "Maksudku, daripada kau tidak punya gaun, gaun ini sudah bagus untukmu."
Arumi mengalah dan hanya menundukkan kepala saja sembari kedua tangannya terus berusaha menurunkan gaunnya agar menutupi bagian bawah paha.
"Ayo kita sudah terlambat." Digo menyadari dirinya begitu gusar melihat Arumi yang berpakaian seksi seperti ini. Tapi tak dapat di pungkiri juga, saat berjalan keluar dari rumah wajahnya bersemu merah begitu bahagia.
Di halaman depan, ternyata Pak ketut sudah menunggu dengan baju yang begitu rapih. Paruh baya itu tidak memakai jas seperti yang Digo atau Ken kenakan. Dia hanya memakai setelan hitam dan sebuah ikat kepala khas bali.
"Pak Ketut ikut?" Karena tak biasanya Pak Ketut ikut bersama ke acara formal yang keduanya hadiri. Bahkan saat menikah pun, Arumi sama sekali tidak melihat Pak Ketut hadir.
"Ya, Ken ada di depan kita nanti."
"Tumben, kenapa gak Ken aja yang bawa mobil?"
"Dia sedang ada pekerjaan."
"Pekerjaan apa sampai harus pisah mobil? Penting, kah?"
__ADS_1
Digo mengeram kesal. Entah mengapa, Arumi bisa secerewet ini.
"Sudah masuk, kamu berisik seperti kecoa." Berjalan dengan angkuh masuk ke dalam mobil.
Arumi tercengang hingga membuka mulut. Sekarang rasanya, ia ingin memukul Digo untuk melampiaskan kemarahan.
"Geser. Badan mu besar sekali, sih." Lengan kekar Digo menyenggol bahu Arumi, meminta wanita itu untuk menggeser posisi duduknya.
Jelas dari ucapan Digo lelaki itu sudah salah mengatakan jika Arumi memiliki badan besar.
"Apa kamu bilang? Jadi maksud kamu aku gendut gitu, huh?"
Mulut kurang ajar ini rasanya ingin sekali Digo gunting. Dari sekian banyak kalimat kenapa dia malah mengatakan hal yang paling sensitif seantero dunia untuk seorang wanita. Jika ini, dia katakan kepada ibunya pun wanita itu sudah pasti akan lebih marah dan berang melebihi Arumi.
"Jawab?" Memukul lengan kekar Digo dengan penuh dendam kesumat. "Jadi maksud kamu aku gendut? Oh pantes kamu cuma nyetuh aku sekali. Karena aku gendut, kan?" Membentak dengan membeliakan mata sudah seperti mata valak dalam film Conjuring.
Digo pasrah sekaligus malu menatap pak Ketut di balik pengemudi. Bagaimana bisa-bisanya, Arumi membuka urusan ranjang sendiri di depan supirnya? Sialan, Digo benar-benar malu.
"Tidak! Bukan itu maksud, ku." Berusaha mencoba untuk menenangkan Arumi, agar dirinya tak lagi membahas dan mengaitkan yang bukan-bukan. "Kamu gak gendut kok." Tersenyum merekah dan penuh cinta. "Kamu cantik Arumi. Cantik banget."
"Tuan, apakah kita bisa jalan sekarang?" Tanya Pak Ketut dengan nada tertekan karena menahan tawa.
Tangan Digo mengibas-ngibas memberi isyarat untuk Pak Ketut jalan. Wajahnya sudah lesuh tertekuk. Dia ikut terdiam menatap keluar jendela mengerutuki diri sembari sesekali melirik ke arah Arumi yang mukanya terlipat kecut.
Mobil milik Ken yang berada di depan memasuki sebuah perumahan elite. Arsitektur seni bangunan perumahan itu nampak berbeda dengan kebanyakan perumahan lain. Arumi seperti merasa masuk ke dunia yang berbeda, seperti masuk ke masa lampau di mana rumah-rumah di bangun dengan kayu, bambu, dan jati bukan beton atau granit.
"Aku baru tau, ada perumahan dengan arsitektur kuno seperti ini." Perkataan itu jelas di tunjukkan kepada Pak Ketut. Arumi bahkan mencondongkan dadanya sedikit mendekat ke arah pak Ketut.
"Perumahan itu sudah ada sejak tahun 90an, nona. Memang di rancang layaknya rumah-rumah khas bali, kata pemilik perumahan sih agar turis asing tahu Bali masih banyak menyimpan keaslian kota mereka."
"Woah, jadi banyak juga ya, turis yang berkunjung kemari?"
"Tentu. Selain menjadi perumahan elite beberapa di antara perumahan yang kosong menjadi villa untuk turis yang sedang berkunjung kesini."
__ADS_1
Masih asik mengobrol, ternyata mobil yang di kendari Ken berhenti di depan angkul-angkul besar yang Arumi yakini adalah sebuah villa. Ken pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri mobil mereka.
Tok... Tok... Tok
Kaca mobil di buka pak Ketut, Ken tersenyum menyapa Digo dan Arumi di kursi pengemudi.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Arumi.
"Ya, nona kita sudah sampai. Ini villa milik tuan Anderson, rekan bisnis Tuan Digo."
Sepertinya aku tidak asing dengan nama Anderson?
Belum sempat Arumi menjawab Ken sudah menyuruh Pak Ketut memarkirkan mobil di tempat yang sudah ia sediakan. Sementara itu, Digo menyuruh Arumi turun di sana saja.
"Kita turun di sini." Suaranya terdengar kesal. Arumi memutar bola mata tak kalah kesal.
Kenapa jadi dia yang sewot? lah harusnya kan gua.
Tak mempedulikan suasana hati Digo, Arumi keluar dan Digo segera menggandeng tangan wanita itu. Mereka menaiki satu persatu tangga Angkul-angkul, lalu masuk melewati gazebo yang di tengahnya terdapat meja penuh dengan minuman dan makanan. Lampu-lampu cantik menghiasi di setiap pinggir jalan setapak yang mereka lewati. Dededaunan yang rimbun dan rumput segar yang terpotong dan terjaga rapih berbaur menjadi satu fi penciuman Arumi.
"Apa ini pesta taman?"
"Mungkin."
Seorang pria tinggi tegap, berotot di balut kemeja putih dengan lengan di gulung tengah asik mengobrol. Meskipun Arumi tidak dapat melihat sosok pria itu karena pria itu mengobrol dengan membelakangi nya tapi, Arumi sangat yakin dia mengenali siapa lelaki itu.
Tubuh itu, seperti tidak asing untukku.
"Mr.Anderson." Digo menyapa pemilik tubuh itu. Seketika itu juga, pria yang membelakangi Arumi memutar tubuhnya.
Arumi nyaris saja tersungkur saat perlahan tubuh itu menghadap ke arahnya. Tubuh yang begitu ia kenal, wajah yang amat sangat ia kenal kini tersenyum sekaligus terkejut ke arah keduanya.
"Marco!!"
__ADS_1
****