Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
EPISODE 50


__ADS_3

Angin malam membawa langkah Digo menelusuri penatnya malam di Bali. Hingar bingar kehidupan glamor Bali terasa mencekam dirinya, kala lelaki itu memaksakan diri memasukin sebuah klub malam terkenal di seminyak. Seorang wanita bertubuh sexy dan berbaju minim langsung menghampiri. Bergelendotan di punggung lelaki itu, sesekali menggodanya dengan menyetuh inti milik Digo.


Seperti sudah di duga, Digo tak beraksi. Dia sama sekali tak berselerah dengan tubuh wanita di depannya. Digo lantas pergi begitu saja menuju meja bar. Memesan sebuah minuman, dan langsung menebaknya hingga tandas. Dia meminta lagi minuman yang baru kepada bartender. Lagi menenggak hingga tandas, dan terus memesan dan melakukan hal serupa hingga ia mabuk.


Bayangan ucapan Arumi memenuhi isi otak Digo. Digo seperti melayang. Hanya ada wajah sang istri yang begitu polos, sambil berucap dengan lantang menyukai dirinya. Lalu berganti dengan suara isak Arumi yang menangisi kebodohan dia sendiri telah menyatakan cinta kepada Digo. Digo benar-benar sudah mabuk berat. Matanya kunang-kunang tak fokus melihat sesuatu. Otaknya sudah terkunci pada satu orang, yaitu istrinya yang sedang menangis di rumah. Meratapi kebodohannya yang telah menyukai Digo.


Kenapa lo harus suka sama gua, Rum?


Hati Digo terusik. Dia galau tak menentu memikirkan ucapan Arumi tadi. Malam semakin beranjak pergi, dan di tempat itu Digo meluapkan rasa yang sebenarnya tidak ia mengerti dengan minuman keras.


......................


pagi harinya, di rumah kediaman Digo. Kamar utama itu masih terlihat gelap gulita, jendela jendelanya pun juga masih tertutup rapat berserta gorden tebal berwarna cokelat. Akan tetapi, sudah sehabis subuh tadi keran di dalam kamar mandinya terus menyalah. Meskipun tak tau apa yang di lakukan oleh Arumi di dalam sana selama kurang lebih dua jam.


Srek...


"Akh!"


Arumi menarik Paper wax (kertas perontok bulu kaki) dari kakinya. Dia memekik, karena tak biasa menggunkan barang seperti itu sebelumnya. Wanita itu kini sedang duduk di atas wastafel, menatap dirinya di pantulan cermin super besar dan panjang yang di pasang di dinding kamar mandi.


Bibirnya mengerucut kala kedua mata sembab akibat menangis semalaman itu melihat kakinya yang merah akibat ulah Paper wax–nya.


Yaelah mau cantik gini amat, sih.


Arumi turun dari atas wastafel. Kemudian masuk ke dalam bath up dan langsung menenggelamkan diri di antara buih-buih gelembung sabun yang begitu banyak. Sejam setelah itu, dia sudah bersiap dengan menggunakan pakaian olahraganya. Berdiri di depan cermin meja rias terus menatap dirinya, sambil melakukan pemanasan.


Tadi malam, Arumi sudah bertekad akan mengubah bentuk tubuh dan wajahnya. Dia akan memulai program diet ketat, lalu ikut kelas yoga, juga akan rutin melakukan treatment wajah untuk mempercantik diri. Ini adalah salah satu bentuk usahanya, untuk mendapatkan hati suaminya.


"Mangat, Rumi." Dia mengangkat satu tangannya dan mengepalkan tangan setengah dada. "Lo harus cantik dan langsing ngalahin Laluna. Bila perlu, lo biar kaya artis korea yang bening kaya ubin masjid, dan kurus kaya tiang listrik."


Setelah menyemangati dirinya sendiri, Arumi melengos pergi berjalan meninggalkan kamar. Namun, baru saja ia ingin membuka pintu tiba-tiba.

__ADS_1


Bruk...


"Akh! DIGO..."


Digo masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba. Membuat Arumi yang berada tepat di belakang pintu langsung terbentur dan jatuh tersungkur. Arumi meringis kesakitan memegang kepalanya yang seperti benjol itu. Sedangkan, Digo yang masih setengah mabuk berjalan tanpa dosa masuk ke dalam kamar mandi.


Arumi mengerut melihat kelakuan suaminya itu. Ia kesal setengah mati, melihat Digo yang cuek-cuek saja dan tidak merasa berdosa setelah apa yang ia lakukan kepadanya.


"Ngeselin. Awas aja. Kalau gua udah cantik, gua bikin lo klepek-klepek dan jatohin ke ke tanah."


"Emang kamu siapa mau jatohin saya?" Tiba-tiba Digo membuka pintu dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


Kepala Arumi menoleh, menatap Digo nanar dan mendegus kesal. Tak lama, ia berdiri dan langsung berlalu pergi meninggalkan Digo dengan menyisahkan kekesalan yang amat dalam.


Saat menurun anak tangga, seorang pelayan wanita menghampiri Arumi. Berkata jika sarapan sudah siap semua. Namun, karena Arumi sedang kesal dengan Digo, wanita itu mengacuhkan pelayan wanita itu. Berjalan begitu saja dan pergi meninggalkan rumah untuk lari pagi.


Di luar, pak ketut dengan beberapa satpam lain terlihat sedang duduk bersama di pos satu. Arumi segera menghampiri pak ketut dan meminta untuk di antar hingga pintu gerbang menggunakan mobil Digo. Rasanya, jika Arumi berjalan kaki menuju gerbang utama, dirinya akan kelelahan duluan sebelum lari paginya di mulai. Maka dari itu, Arumi meminta Pak ketut untuk mengantarkannya.


Sekejam, Pak Ketut terdiam. Saling melemparkan pandangan ke arah rekan satu profesinya.


"Nona, mau keluar?" tanyanya dengan logat khas orang Bali yang begitu kental.


"Iya, saya mau olahraga. Kenapa? Apa Digo ngelarang?"


"Tidak. Tapi aneh saja."


Kening Arumi mengerut. "Aneh kenapa, pak?"


"Ya aneh saja. Di dalam rumah ini kan sudah di sediakan tempat yoga, gym, kolam renang, bahkan ruangan khusus karambol, tapi kok nona lebih milih lari pagi?"


Arumi tersenyum sangat manis. Hingga membuat kedua satpam yang notabene masih anak muda itu salah tingkah.

__ADS_1


"Simple, pak jawabannya."


"Apa?" tanya pak Ketut penasaran.


"Biar cepet kurus." Arumi segera berjalan membuka mobil Alphard milik Digo yang memang satu-satunya mobil yang baru di panasin oleh Pak Ketut.


Pak Ketut pun tak punya pilihan lain selain menurutin keinginan Arumi untuk mengantarkan hingga pintu gerbang utama.


"Terima kasih pak. Nanti kalau saya pulang, saya akan kabarin bapak." Arumi keluar dari dalam mobil.


"Baik, Nona. Saya akan selalu stand-by."


Arumi pun pergi meninggalkan rumah milik Digo. Berlari menelusuri kawasan yang memang notabene di isi oleh resort dan vila vila terkenal di seminyak. Hatinya terasa damai. Rasanya sudah lama sekali, dia tidak merasakan alam sesejuk dan sesegar ini. Meski Bali sudah menjadi kota metropolitan, tapi alamnya masih begitu asri dan dapat di nikmati sesuka hati. Arumi berharap tempat indah, dan sejuk seperti ini akan berlangsung lama.


Arumi terus berlari, hingga mencapai jalan raya. Di jalan raya utama itu, para turis-turis asing terlihat berkumpul di sepanjang jalan seminyak. Ada yang olahraga sepertinya, atau hanya sekedar berjalan-jalan saja.


Saat melewati pasar tradisional, mata Arumi tertuju kepada satu rok cantik batik khas Bali. Ia pun mampir ke toko yang menjual rok cantik itu, menanyakan kepada sang penjual berapa harganya.


"Permisi ibu, rok ini berapa ya harganya?"


Si ibu pemilik toko menoleh. Namun, betapa terkejutnya Arumi, ketika mengenal ibu penjual rok tersebut. Tubuhnya bergemetar hebat, refleks arumi langsung memundurkan langkahnya menjauh dari toko. Dan sama seperti Arumi, pemilik toko berwajah tua tertutup keriput itu juga nampak begitu shock melihat siapa pembelinya.


Namun berbeda dengan Arumi yang malah menjauh, pemilik toko baju itu malah justru keluar dari tokonya dan berusaha mendekati Arumi. Dia menjulurkan tangannya, hendak menyentuh Arumi. Tubuh Arumi semakin mundur dan menjauhinya. Baru pemilik toko itu ingin mencengkram tangan Arumi, Arumi sudah keburu membalikan badannya dan berlari dengan cukup kencang meninggalkan toko dengan isak di pelupuk pipi.


Arumi berlari keluar dari pasar. Melewati para pengunjung pasar, dan tak jarang menabrak atau menyenggol dagangan milik orang lain. Dia terus berlari hingga ke jalan raya utama. Menyebrang sembarangan, hingga sebuah mobil tiba-tiba melaju cukup kencang dan hampir menabraknya.


Mobil itu berhenti, kala Arumi berjongkok di tengah jalan sembari menutup kedua telinganya. Semua pejalan kaki yang memadati jalanan kota Seminyak langsung berkumpul menatap Arumi bahkan ada yang sampai mengabadikan tingkah aneh Arumi dengan ponselnya. Pemilik mobil yang hampir menabraknya pun segera turun, ikut berjongkok untuk memastikan keadaan Arumi.


"Miss, You okey?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2