Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
EPISODE 51


__ADS_3

Pria tinggi tegap berjaket kulit itu segera turun dari mobilnya, ketika ia hampir saja nyaris menabrak seorang wanita ketika berkendara sambil menelpon. Pria muda berusia tiga puluhan itu, langsung berjongkok, mencengkram kedua bahu Arumi dan menggoyang-goyangkannya guna menyadarkan Arumi.


"Miss, Are you okey?" tanyanya dengan aksen Inggris yang begitu kental.


Kepala Arumi menengadah, memperlihatkan raut wajah berantakannya dengan buliran air mata yang masih mengalir di pelupuk pipi.


"Ya, a okey." Jawab Arumi terbata-bata.


Tak tega melihat keadaan Arumi, pria berwajah tampan dengan rambut klimis yang disisi begitu rapi menawarkan Arumi untuk di periksa ke rumah sakit terdekat.


Namun, Arumi langsung menolak dengan menggelengkan kepala yakin. Dia mengaku baik-baik saja, dan hanya sedikit shock saja. Tapi, pria dengan tinggi badan 180 cm itu, nampaknya kurang percaya. Bagaimana tidak, pria itu melihat dengan jelas kedua lutut Arumi yang berdarah, juga wajahnya yang pucat pasi. Keringat dingin juga mengalir begitu deras di pelupuk dahi. Dia tidak mungkin meninggalkan Arumi begitu saja. Apalagi semua ini terjadi karena ulahnya yang mengemudi sambil bermain ponsel.


"Jika kau tidak ingin ku ajak kerumah sakit. Ijinkan aku mengantarkan mu pulang."


Kepala Arumi menengadah, kembali menatap wajah tampan lelaki di depannya. Dia sedikit terkejut karena ternyata pria di depannya begitu fasih berbahasa Indonesia. Dan, jika di pikir-pikir, menurut Arumi lelaki ini mirip sekali dengan personil Chainsmokers yang lagi hits itu.


"Aku tidak mungkin meninggalkan mu dengan keadaan kacau seperti ini." Lanjutnya.


Arumi tersadar dan segera memeriksa dirinya. Dia memang benar-benar terlihat begitu kacau, dengan luka di lutut, airmata bercampur keringat. Sungguh, ia terlihat begitu menyedihkan. Arumi segera bangkit sembari menghapus airmatanya kasar dan meringis kesakitan karena luka di lututnya.


"Aku tidak apa. Rumah ku dekat sini." Jelas Arumi. Masih terus mencoba untuk menolak tawaran baik pria di depannya. "Lagi pula, aku yang salah. Aku berlari dan menyebrang tanpa melihat ke kiri dan kanan."


"Tapi tetap saja, kau terluka karena aku. Tolong jangan buatku merasa semakin bersalah dengan kau menolak tawaran ku. Paling tidak, ijinkan aku mengobati luka di kaki mu. Setelah itu terserah kepada mu."


Sejenak Arumi menimbang-nimbang. Di lihatnya lagi pria yang tampan dengan rambut pirang di depannya itu. Pria itu terus tersenyum kepada Arumi, dan terus mencoba membujuk Arumi dengan menatap polos kepada wanita itu.


"Baiklah. Kita ke kafe dekat sini. Kau boleh mengobati luka kakiku. Setelah itu, ijinkan aku pulang sendiri." Akhirnya Arumi mengalah dan mengabulkan salah satu keinginan pria di depannya itu.


Mereka akhirnya menuju ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari pasar tradisional. Kafe itu cukup sepi, itu bagus bagi Arumi. Ia tidak akan terlalu malu karena datang dengan keadaan kacau seperti sekarang.


Di bantu oleh pria tadi, dengan tertatih Arumi berjalan menuju salah satu bangku kafe. Seorang pelayan segera menghampiri setibanya kedua orang itu di sana. Menyodorkan buku menu yang langsung tolak Arumi dengan berkata.


"Beri aku makanan apapun di kafe ini. Perutku benar-benar lapar sekali."


Pelayan itu sedikit bingung, tetapi segera beranjak pergi dari sana dengan mencatat pesanan Arumi.


"Ulurkan kaki mu." Pria itu jongkok di bawah kolong meja.

__ADS_1


Mengeluarkan tas p3k yang dia ambil dari dalam mobilnya. Dengan telaten, Pria itu membersihkan luka di lutut Arumi dengan cairan alkohol. Kemudian membasuhnya lagi hingga bersih, sebelum kemudian meneteskan obat merah dan menutup luka menggunakan plaster luka. Setelah selesai, pria itu ikut duduk di bangku tepat di depan Arumi.


"Bagaimana rasanya? Apa masih sakit?"


Kepala Arumi menggeleng. "Tidak. Sudah mendingan, kok."


"Baguslah. Setelah itu habiskan sarapan mu, agar nanti jika di jalan kau menangis lagi perut mu tidak akan perih."


Arumi berdecak. Ternyata lelaki di depannya itu sedang mengejek dirinya. Kesal, Arumi hanya mampu membuang wajahnya keluar jendela kafe.


"Marco." Pria itu menjulurkan tangannya.


Arumi menoleh sambil mengeryitkan kening.


"Namaku Marco."


"Ah. Arumi. Aku arumi." Arumi menerima uluran tanga lelaki yang bernama Marco itu dengan malu-malu. Mereka pun akhirnya saling berkenalan dan bercekrama hingga makanan datang.


"Jadi kau asli Inggris?" Arumi berdecak kagum, ketika mengetahui jika Marco berkebangsaan Inggris dan sedang menetap di Indonesia karena suatu hal.


"Ya. Orangtua ku asli liverpool. Tapi sudah tiga setengah tahun, mereka pindah ke London karena pekerjaan ayahku."


Marco menundukkan kepalanya sejenak. Memain-mainkan cangkir kopinya sambil tersenyum getir.


"Hanya sedang menenangkan diri?"


Arumi semakin penasaran.


"Untuk?"


Marco menengadahkan kepala menatap Arumi dengan wajah ketidakpercayaan. Ternyata, wanita di depannya itu adalah orang yang memiliki rasa ingin tau begitu besar.


"Love."


Kali Arumi berdecak dan menatap Marco dengan raut ketidakpercayaan.


"Apa cinta mu ada di sini?"

__ADS_1


"No, no, no."


"Lalu?"


Marco menghela napas panjang. "Satu tahun lalu tunangan ku meninggal dunia, tepat seminggu sebelum pernikahan kami karena kanker yang di deritanya. Dia sama seperti mu, orang Indonesia yang begitu cantik. Dulu, dia pernah berkata kepada ku tentang satu impian terbesarnya. Yakni tinggal dan menjadi orang Bali."


"Dan untuk menghujudkan keinginannya, kau rela tinggal di Bali?" tiba-tiba Arumi menerka-nerka.


Marco tersenyum getir. "Wanita Indonesia memang pandai membaca hati."


Hati Arumi terusik. Ada nyeri di dalam dadanya dan rasa penyesalan karena telah kepo dengan kehidupan pribadi Marco. Dia tertunduk, mengeruruki sifat keponya itu dalam hati.


"Is ok, Arumi. Dia kini telah tenang di alam sana bersama Tuhan. Aku yakin, dia pasti sudah bahagia dan tidak lagi merasakan sakit seperti di dunia."


Hampir saja airmata Arumi jatuh. Untungnya, dia bisa segera menahan.


"Dan kau sendiri, kenapa berlari sambil menangis seperti tadi, huh?"


Arumi membuang wajahnya kembali menatap keluar jendela kafe. Melihat para pejalan kaki yang berlalu lalang memadati kota Seminyak di pagi menjelang siang itu.


"Aku baru saja bertemu dengan mantan selingkuhan ayahku. Ah tidak–tidak." Kepala Arumi menggeleng dan dia melarat ucapannya. "Tapi lebih tepatnya istri pertama ayahku. Mungkin bisa di bilang, ibuku lah yang selingkuhan ayah ku dulu."


Kini gantian, Marco yang penasaran akan masalah pribadi yang Arumi alami.


"Lalu apa masalahnya?" Menatap lekat wajah Arumi tak sabar menunggu jawabnya.


Arumi menatap langit-langit kafe. Entah mengapa air matanya tiba-tiba keluar lagi dan semakin deras saja.


"Ada rasa bersalah yang amat dalam dan tak bisa ku tebus dengan apapun kepada dia."


Marco diam seribu bahasa. Masih setia mendengar cerita Arumi.


"Sudah lama aku tidak berjumpah dengannya. Dan ku pikir, dia telah mati. Tapi ternyata aku salah. Aku di pertemukan lagi dengannya di sini, dalam keadaan dia yang begitu rapuh tanpa satu orang pun di sisinya."


"Aku memiliki seorang kakak, yang wajahnya mirip sekali dengan ku. Tapi wataknya jauh berbeda dengan ku. Aku dan dia bagaikan langit dan bumi. Awalnya ku pikir itu wajar, karena setiap orang punya watak yang berbeda-beda. Namun, hingga suatu malam saat ku masih duduk di bangku kuliah aku mendengar pertengkaran orangtua ku yang mengatakan jika kakak lelaki ku bukan anak kandung ibu ku."


Arumi menghela napasnya sejenak. Dadanya terasa sakit, tapi dia berusaha untuk menahannya.

__ADS_1


"Sejak saat itu, aku membenci ayah ku. Kami tak pernah aku dan selalu bertentangan. Finalnya, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan menetap di Yogyakarta untuk mendirikan perusahaan kosmetik. Aku tidak pernah mendengar kabar orangtua ku dan juga wanita itu. Awalnya ku pikir baik, hingga tepat satu bulan lalu ibu ku menelpon dan mengatakan ayahku kecelakaan dan koleps."


...----------------...


__ADS_2