
Mobil Fortuner putih metalik yang di membawa Digo dan Arumi memasuki sebuah halaman dengan pintu gerbang tinggi terbuat dari besi yang mirip di dalam film Harry Potter. Tapi bedanya, pintu gerbang ini di kendalikan oleh mesin yang secara otomatis bisa kebuka dan ketutup sendiri. Bukan dari sihir yang mengandalkan tongkat kayu dan melantunkan mantra magis.
Arumi yang awalnya masih tidur pulas, langsung terbangun. Mengelap ilernya yang menetes di ujung bibir kemudian mengelap matanya yang masih setengah mengantuk.
"Kita dimana?" tanyanya penasaran kepada Digo yang duduk santai di sebelahnya.
"Rumah." Jawab Digo datar sedatar papan triplek rumah.
Arumi menyapu pandangan keluar jendela mobil. Wah Digo boongin gue, nih. Udah tau ini resort, liat aja noh tamannya cakep bener, apalagi hamparan laut indah yang memanjakan mata terbentang luas gak jauh dari sini. Gue bahkan udah bisa nyium harumnya air laut yang kadang bikin kepala gue senewen kalau kelamaan naik kapal feri nyebrangin pulau. Arumi terus bermonolog dalam hati.
Matanya tak henti memandangi pemandangan yang ada di depannya. Ia terkesiap, terkesima, sekaligus takjub dengan apa yang ada di depannya.
Sebuah jalan berasap putih dengan di kanan kiri terdapat hamparan padang rumput hijau yang di tanami beraneka bunga berwarna-warni. Belum lagi, terdapat pohon-pohon tinggi nan rimbun yang tepat di bawahnya diletakkan kursi yang biasa orang bule buat berkemah. Ada juga mainan yang biasa terdapat di dalam TK, kaya ayunan, enjot-enjotan, dan teman-temannya. Arumi jelas berpikir jika saat ini dirinya ada di sebuah resort bukan rumah. Ya kali, ada rumah punya halaman segede lapangan golf begini. Lo kira gue nikah ama anak sultan dari Brunei?
"Kenapa diam? Gak percaya ini rumah aku?" Digo melihat raut wajah Arumi yang kalau di artikan apaan sih, nih cowok.
"Ya jelas lah aku gak percaya. Ini itu lebih mirip resort atau hotel. Gak mungkin rumah. Halamannya aja segede ini. Kalau pun ada rumah dengan halaman gede bejibun kaya gini, pasti cuma milik raja arab atau sultan Brunei." Dengan penuh percaya diri Arumi berkata. Dia keukeuh dengan keyakinannya kalau Digo lagi ngarang punya rumah dengan halaman segede lapangan golf.
Jika saja, Arumi lelaki mungkin sudah Digo suruh keluar dan mengajaknya gelud di tengah padang rumput yang hijau indah itu.
Lagi-lagi Digo hanya dapat menghela napas panjang. Mengusap wajah kasar dan sejenak berpikir. Apa tampang kaya gue gak layak punya rumah segede ini apa? Ampe bini gue kaga percaya ini rumah gue. Pake segala yang bisa beli rumah kaya gini cuma raja arab sama sultan Brunei. Pengen banget kayanya gue beli sekalian tuh negara biar mulut bini gue bisa diem.
"Ini rumah tuan muda, nona." Baru saja mulut Digo menganga ingin berucap. Pak Ketut sudah mewakili. Dengan sombong, Digo membetulkan posisi duduknya. Bersyukur dalam situasi seperti ini ada orang yang percaya kalau dia lelaki tajir melintir kepelintir.
__ADS_1
Dengan bangga pak Ketut menceritakan betapa kayanya Digo kepada Arumi. Tak lupa, dia juga menambahkan bumbu penyedap agar Arumi terkesima dan amat bersyukur memiliki suami seperti Digo.
"Rumah ini di beli dari hasil kerja keras mas Digo sendiri. Mulai dari dia kerja sebagai penjual tas kw bandung di kampus, terus beralih ke tas yang sedikit lebih premium meskipun tetep aja kw, sampe tuan Digo jadi pengusaha property dan seorang diplomatik. Semua ia kumpulkan dan hasilnya jadilah rumah dengan halaman seluas lapangan golf ini."
Nging...
Kuping Arumi berdenging. Blitz... Blitz... Blitz tiba-tiba cahaya putih tertangkap di depan matanya. Arumi diam seribu bahasa, tercengang sekaligus tercekat dengan penjelasan pak Ketut.
"Terus." Pak Ketut melanjutkan cerita. Padahal mobil sudah berhenti tepat di halaman rumah utama. Tapi seperti Arumi tak menyadari dan masih terhanyut dalam dunianya sendiri. "Tabungan tuan Digo itu banyak. Apalagi sekarang dia megang Uparengga grup udah di pastikan berapa pundi-pundi rupiah yang ngalir setiap detik ke rekening pribadinya."
"Tapi..." Tiba-tiba pak Ketut menjeda ucapannya. Kepala Arumi menoleh menatap Pak Ketut dengan muka polos, cenggo, berdekatan bego. "Meskipun orang tajir duitnya gak bakal abis tujuh turunan sepuluh tanjakan, ya hidup tuan Digo biasa-biasa saja. Bukan karena pelit, tapi memang begitu adanya lah dia. Tuan muda, lebih memilih menyumbangkan uangnya ke fakir miskin yang kekurangan biaya hidup. Dia bahkan mempunyai lima belas sekolah gratis yang tersebar di pelosok desa di Indonesia yang belum terjamah oleh pemerintah Indonesia sendiri. Belum lagi..." Ucapan Pak ketut terpotong. Arumi sudah tak tahan lagi, dan langsung mengulurkan tangannya kedepan wajah Pak Ketut. Menyuruh lelaki itu untuk diam dan memberinya waktu untuk berpikir.
"Stop." Katanya. Kemudian menundukkan kepala lagi dan berpikir keras.
"Aku tau sih, Digo kaya. Tapi sampe crazy rich kayanya gak mungkin."
Tenggorokan Digo tercekat mendengar penuturan Arumi. Sekali lagi, dia hanya dapat menghela napas sambil mengelus dada. Sabar... Sabar...
Pintu mobil terbuka percakapan pun di tutup. Daripada cerita yang pak Ketut ceritakan tidak berarti bagi Arumi. Lebih baik Digo menunjukkan sendiri buktinya.
Mereka berdua berdiri di depan dua buah bangunan tinggi berlantai dua yang saling berhadapan. Hampir seluruh bangunannya terbuat dari kaca. Tembok beton berwarna putih susu terlihat begitu menyatu dengan atap bangunan menonjol ke depan berwarna hitam. Dua bangunan itu menghimpit deretan anak tangga yang menyerupai sebuah lorong. Lorong kecil memanjang itu adalah akses pintu masuk ke dua rumah tersebut.
Jadi kita di belakang rumah? Batin Arumi menerka.
__ADS_1
Arumi berjalan mengikuti langkah kaki Digo yang menuruni satu persatu anak tangga. Melewati jalan setapak seperti lorong dengan lantai kayu panjang berwarna coklat tua. Mereka tiba di ujung. Mata Arumi langsung menangkap sebuah kolam renang yang menyatu dengan lautan lepas di depannya. Ia terkesima untuk kesekian kali, menatap secara berganti kepada Digo dan kolam renang yang menyatu dengan lautan lepas di depannya.
Tak beberapa lama, muncul lima orang pelayan dari dalam rumah. Mereka berbaris dan membungkuk badan menyambut kedatangan Digo dan Arumi. Menyapa Arumi serentak bagaikan sebuah paduan suara ekstrakurikuler anak SMP.
"Selamat datang di rumah, nona Arumi."
Arumi terkejut bukan main. Dia mengerjap-ngerjapkan mata cepat melongo melihat barisan para pelayan yang semuanya adalah wanita cantik.
Gimana, apa belum cukup bukti kalau gue kaya? Digo terus memperhatikan air muka Arumi. Dia tak sabaran ingin mendengar pujian Arumi kepadanya. Sumpah, entah kenapa hari ini Digo haus akan pujian karena kekayaannya. Padahal sedari dulu, dia amat benci orang yang memuji dia karena kekayaannya dan menganggap mereka sebagai penjilat bermuka dua. Munafik.
Sambil memasukkan tangan ke dalam celana bahannya, Digo bertanya kepada Arumi dengan nada yang terdengar begitu angkuh dan sombongnya.
"Gimana, kamu masih gak percaya kalau aku kaya dan punya rumah ini?"
Arumi menolehkan kepala. Menaik turunkan alisnya dan berkata dengan kepolosannya.
"Ya ampun Digo segitunya banget bikin aku terkesan. Sampe rela nyewa resort semewah ini dan jadiin para pelayanan ini pelayan kamu.' Tersenyum dengan wajah yang di buat-buat agar terlihat manis.
"Tapi, gak apa-apa kok kamu gak sekaya Raja arab atau pangeran Brunei. Aku bakal tetap terima kamu apa adanya. Kamu gak perlu nyewa resort ini dan ngaku kalau ini adalah rumah kamu. Gak perlu Digo. Aku tinggal di rumah sederhana pun jadi."
Batin Digo meronta keras. Gemas, kesal, geram. Pengen banget rasanya ia ngajakin Arumi gelud di tengah lapangan.
"ARUMI, INI BENERAN RUMAH AKU. KENAPA SIH GAK PERCAYA? EMANG TAMPANG KAYA AKU INI, GAK COCOK PUNYA RUMAH SEGEDE INI?"
__ADS_1
...----------------...