Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Obat Kuat


__ADS_3

Arumi duduk sambil nundukin kepala dan mesem-mesem gak jelas. Dia nahan tawa waktu Digo bentak dia gara-gara Arumi lupa pikun. Sebenarnya, Arumi. tidak lupa dengan perkataannya yang minta bukti kalau Digo itu kaya benaran bukan bohongan. Cuma, Arumi lagi iseng aja ngerjain Digo yang nurut banget keinginan istri. Kalau kata Arumi sih, Digo tipe-tipe suami idaman yang manut aja keinginan istri. Tapi sayangnya walaupun dia manut permintaan Arumi, tapi di hatinya gak ada sedikitpun cinta buat Arumi. Arumi galau jadinya kalau mikirin itu. Yang tadi mesem-mesem gak jelas kaya orang kemasukan jin iprit jadi kaya orang kesambet setan diam saja sambil muka di tekuk kaya bon utang dalam dompet.


"Silahkan baca." Digo buka suara lagi. "Semua atas nama aku. Bukan orang lain apa lagi mantan istri aku. Kalau kamu masih kurang percaya 5 menit lagi pengacara aku datang, bawa sertifikat rumah dan tanah ini."


Buset! Arumi kaget bukan main. Maksud hati ngerjain Digo eh kok malah jadi riweh gini?


"Kok, sampe manggil pengacara kamu segala sih, Go?" Arumi panik. Bingung cara jelasin dan menghadapi situasi kaya gini.


"Ya, biar kamu percaya kalau ini itu rumah bukan hotel, vila, apalagi resort."


Arumi tepok jidat. Duh ilah kenapa punya laki begini amat. Niat hati mau ngerjain dia malah jadi ribet begini. Pake segala manggil pengacaranya ke sini lagi. Amsyong amsyong.


Sabar! Sabar. Arumi usap-usap dadanya. Bukan ini yang dia mau. Dia cuma ngerjain Digo aja dengan pura-pura pikun. Pengen tau benar gak sih Digo bakal hujudin keinginan Arumi dengan membawa bukti-bukti kekayaannya. Benar sih, dia mencoba membuktikan. Tapi gak perlu sampai bawa pengacara juga. Yang ada urusannya malah serius, dan Arumi takut di bilang macem-macem karena di anggap ikut campur dengan harta milik Digo.


"Gak perlu sampai kamu manggil pengacara kamu ke sini, Go." Arumi berusaha membatalkan janji temu mereka. Bisa panjang urusannya kalau udah bawa-bawa pengacara Digo yang punya sifat perfeksionis itu.


"Gapapa. Bentar lagi dia datang kok. Katanya udah sampai depan gerbang. Sekalian juga aku mau kasih salinan surat pra-nikah kita." Digo ngomong tanpa melihat sedikit pun kearah Arumi. Matanya fokus membalas pesan dari pengacara pribadinya.


Sedang Arumi yang masih shock karena tak menduga Digo bakal melakukan sejauh itu seketika langsung mendelik. Surat pra-nikah? Dia teringat akan sesuatu hal.


"Digo?" Arumi duduk mendekati Digo. Dia bahkan nempel-nempel sampai bikin bulu kuduk Digo berdiri.


Digo yang takut juniornya berdiri gara-gara ulah jail Arumi langsung menjauh. Dia bahkan mendorong tubuh Arumi dengan keras.


Aduh cewek emangnya ya. Gak tau nih junior gua ga bisa kena rangsangan sedikit aja dari dia. Bisa-bisa di ketawain gua kalau nih junior gua berdiri cuma gara-gara Arumi gelendotan ama gua.


"Jauh-jauh aku belum mandi." Dalihnya. Padahal, dia lagi nahan sih junior yang bentar lagi mau bangun dari tidurnya.


Yaelah lo tong, kenapa sih cuma di senggol dikit ama Arumi langsung bangun. Bikin malu aja.

__ADS_1


"Aku juga belum mandi sih, Go." Arumi kesal. Dia mengerucutkan bibirnya ngambek gara-gara Digo dorong Arumi sedikit keras. "Tapi jangan sampai dorong aku juga kali."


Digo mengusap wajah kasar. Dasar cewek baperan amat. Gumamnya.


Tanpa di sadari, di pintu depan pengacara pribadi Digo sudah menunggu. Digo langsung memerintahkan salah satu pelayan untuk membukakan pintu dan menyuruhnya duduk bersama Arumi dan Digo.


"Jadi bagaimana?" Satu pertanyaan pertama langsung tertuju kepada Arumi.


Arumi diam terpaku. Tidak mengerti maksud pertanyaan pengacara pribadi Digo.


"Langsung jelasin aja, pak." Digo tiba-tiba menjawab.


Pengacara Digo mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tas. Arumi mulai kelihatan panik. Firasat buruknya kian mendera. Bagaimana jika Digo tiba-tiba mau cerai. Aduh masa dia pernikahan hanya bertahan dalam satu hari.


Di saat dirinya ketar ketir tak menentu, kedua orang lelaki di depannya masih sibuk dengan berkas yang pengacara pribadi Digo keluarkan. Digo sedang menata file-file penting menjadi sebuah urutan. Sedang pengacara Digo menjelaskan detail dari file-file yang ada di depan mereka.


"Ini baca." Tiba-tiba Digo menyodorkan semua berkas yang tadi dia rapihkan.


"Kenapa? Baca. Katanya mau bukti. Tuh, semua bukti kekayaan yang aku punya."


Sejenak Arumi tercengang. Haha dasar gue kira dia mau gugat cerai gua cuma gara-gara gua gak percaya dia kaya.


Dengan penuh semangat Arumi meraih kertas dari genggaman Digo membacanya dengan teliti sembari mendengarkan pengacara Digo menjelaskan.


"Semua rumah ini tanah, juga vila yang berada di seminyak, dan apartemen di ibukota Bali adalah milik tuan Digo." Jelas pengacara Digo.


Digo duduk berdehem, menyombongkan diri dengan semua harta yang dia miliki.


"Rumah, tanah, vila, apartemen adalah harta pribadi tuan Digo selama menjadi diplomat dan pengusaha dulu. Semua harta itu di luar dari harta milik Uparengga grup." Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Tunggu!" Tiba-tiba Arumi menghentikan penjelasan pengacara pribadi Digo.


Seketika kedua lelaki itu menoleh dan menatap Arumi nanar.


"Jadi harta yang akan di berikan kepadaku, masuk ke daftar harta milik siapa?"


Sejenak kedua lelaki itu saling melempar tatapan dengan ucapan Arumi yang tiba-tiba menyinggung soal pembagian harta.


"Bukan di surat pranikah itu di jelaskan, bukan? Kalau aku dapat menyembuhkan impoten Digo maka 80% harta milik Digo jatuh pada ku."


Pengacara Digo tersenyum simpul dan siap menjelaskan.


"Sebagian milik pribadi tuan Digo. Sebagian milik keluarga Uparengga. Seperti kebun kelapa sawit dua hektare itu adalah milik Uparengga grup. Sedang sisanya meliputi tanah di garut seluas lima hektare, sawah di bandung barat, satu unit apartemen di Keraton Residen, tabungan setiap bulan yang akan di transfer selama nona masih hidup sebanyak sepuluh juta tiap bulan, mobil berserta supir, dan harta yang paling berharga adalah satu liang lahat di San Diego Hills."


Arumi berdecak mendengar harta yang akan di wariskan kepadanya yang terakhir.


Sebegitu pedulinya dia dengan ku. Bahkan sampai tanah kuburan pun dia mewariskannya.


"Oke. Sekarang aku sudah percaya."


"Bagus." Sergah Digo. "Sekarang mending kamu mandi bersihin diri. Kamar ada di lantai 3 di sebelah kanan."


Seperti istri yang sangat patuh, Arumi langsung bangkir dan berjalan menuju lift. Tak lupa dia menyeret koper miliknya. Namun sebelum pintu lift tertutup, Arumi tiba-tiba menekan tombol berhenti pada lift yang mana membuat lift tidak berjalan.


Pada pintu lift yang kaca transparan, Arumi membuat pintu itu berembun dengan mulutnya. Kemudian pada pintu kaca yang berembun itu dia menuliskan sesuatu membuat semua orang yang berada di sana memperhatikan dirinya.


JANGAN LUPA MINUM OBAT KUAT DARI PAK KETUT. BIAR NANTI MALAM MAINNYA SEMANGAT.


Mata Digo melotot. Semua pelayan langsung tertawa terbahak-bahak tak terkecuali pengacara pribadi Digo. Namun berbeda dengan Arumi yang ketakutan melihat mata melotot Digo. Dia cepat-cepat menekan tombol lift dan pergi dari sana dengan menahan tawa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2