
Wajah teduh Arumi menatap Digo lekat. Seperti sedang mencari sesuatu dari gurat serius sang lelaki. Beberapa saat sebelum kembali menunduk dan mengaduk-aduk minuman di hadapannya yang sudah tinggal setengah.
"Untuk apa Gue malu?" Arumi justru balik bertanya.
"Karena akan memiliki suami dengan keluarga segudang skandal."
Arumi terkekeh cukup keras. Yang mana mengundang sedikit tatapan tak bersahabat dari para pengunjung kafe. Arumi memang tak terlalu tau bagaimana sejarah dan kehidupan uparengga seperti sang ayah. Arumi hanya tau jika uparengga grup adalah perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Namun meskipun begitu mendengar cerita Digo dengan ayahnya tadi, memang sedikit membuat hati Arumi gusar. Bukan karena, dia malu akan mendapatkan suami dari keluarga penuh skandal seperti keluarga uparengga. Tetapi, Arumi justru takut tidak akan dapat di terima menjadi menantu dari seorang konglomerat itu.
Mereka terkenal sering menghina kaum rendahan seperti keluarga Arumi. Itu yang di katakan ayahnya tadi tepat di depan mata Digo.
Dan sialnya lelaki itu bukan mengelak atau membela keluarganya. Tetapi justru menganggukkan kepala mengamini.
Tak ayal hal itu menjadi ketakutan tersendiri untuk Arumi. Pikiran-pikiran negatif terus meranjam otaknya sedaritadi mereka keluar ruang ICU. Meski sudah berkali-kali Arumi coba enyahkan, tetap saja ucapan pedas dari sang ibu yang ayahnya tadi ceritakan, atau kata-kata merendahkan dari sang adik terus membayang-bayangi Arumi.
Lama keduanya hening, karena Arumi yang tak kunjung juga memberikan jawaban akhirnya gadis itu berkata dengan suara yang sedikit gemetar.
"Ga... Gak ada keluarga yang sempurna Digo. Bukan hanya keluarga lo yang memiliki segudang skandal. Keluarga gue pun sama. Tapi memang itulah fungsi dari skandal. Untuk menguatkan anggota keluarga lainnya agar tetap bersama dan gak goyang menjaga satu sama lain." Berusaha untuk tetap tenang dan menyakinkan Digo. Meskipun jauh di dasar hatinya rasa takut tidak di terima oleh keluarga Digo semakin besar.
"Lo gak usah khawatir. Bukannya salah satu alasan dari sebuah pernikahan adalah untuk menyempurnakan kekurangan satu sama lain?"
Digo tersenyum. Hatinya sedikit menghangat. Dia bersyukur Arumi dapat menerimanya juga keluarganya.
Setelah selesai makan malam, Digo pamit pulang kepada Arumi. Namun sebelum, laki-laki itu benar-benar pergi Digo sempat berpesan kepada Arumi untuk bersiap bertemu dengan keluarganya tiga hari lagi.
__ADS_1
Pelak hal itu membuat rasa takut Arumi semakin menjadi. Di halaman kafe, Arumi terus memandangi mobil yang di tumpangi Digo dengan tatapan datar. Hingga, dia kembali ke ruang ayahnya di rawat sepanjang menelusuri lorong Arumi terus melamun seperti orang kesambet.
Hatinya gelisah tak menentu. Jujur saja sebenarnya Arumi belum siap untuk bertemu dengan keluarga besar Digo. Dia terlalu malu dan takut karena datang dan lahir dari keluarga sederhana tak sederajat dengan mereka.
*Mulut ibunya begitu pedas ketika menghina orang-orang miskin.
Apalagi adikmu yang menikah dengan wanita hasil perusak hubungan kakak kandungnya sendiri. Begitu menghina dan penuh sarkas*.
Begitulah kata-kata ayahnya tadi di ruang ICU ketika mengobrol dengan Digo. Mengatakan bagaimana sikap keluarganya sering merendahkan kaum kecil seperti Arumi. Dan sialnya, Digo bukan mengelak atau membela keluarga namun justru menganggukkan kepala mengamini perkataan ayahnya.
"Mikirin perusahaan, kondisi papa, atau pewaris uparengga Grup?" Saat dia tiba dan duduk di kursi lorong rumah sakit, tiba-tiba Dicko yang ternyata belum pulang mendekat dan duduk di sebelah Arumi.
Kepala Arumi yang semula menatap datar langit rumah sakit menoleh sejenak menatap sang kakak. Tersenyum dan kembali pada posisi semula.
Walaupun sifat mereka berbeda seperti air dan api. Sebisa mungkin meskipun tanpa terlihat baik Arumi dan Dicko saling menjaga satu sama lain.
"Pewaris uparengga Grup." Jawabnya sambil menahan senyum yang hampir saja lolos dari bibirnya.
Untuk sekali dalam seumur hidup, Dicko tak dapat menahan rasa penasarannya dengan apa yang sedang adiknya rasakan.
"Ada apa dengan dia?" tanyanya tak bisa menyembunyikan raut wajah penasaran.
"Dia meminta ku untuk menjadi istrinya." Tanpa basa basi Arumi memberitahu Dicko. Dan langsung Dicko membelalakkan mata terkejut.
"Nikah? Sama Digo?" katanya terputus-putus.
__ADS_1
Kepala Arumi mengangguk. "Iya... Digo minta aku nikah sama dia. Tapi aku takut."
Setelah beberapa menit seluruh otot badannya menegang karena ucapan Arumi, akhirnya Dicko dapat menetralkan akal sehatnya.
"Takut kenapa?"
"Tadi papa sempet bilang kalau keluarga Uparengga selalu mandang rendah kaum miskin kaya kita. Aku takut kalau aku gak bisa di terima sama keluarga uparengga sebagai menantu."
Bukan bersimpati dengan kegusaran sang adik, Dicko justru terkekeh mendengar cerita Arumi.
Kening Arumi mengerut. "Kok abang ketawa sih? Gak punya perasaan banget."
"Lo lucu dan tolol." Jari telunjuknya sudah di kening Arumi. Menekan-nekan beberapa kali sampai kepala gadis itu mendongak ke atas.
"Yang menikah itu lo sama Digo. Bukan mak apa bapaknya. Yang jalanin itu lo berdua, ngapain ngurusin keluarganya. Tugas lo sama mertua lo bukan dengerin apa kata mulut mertua lo, tapi bersikap sopan dan menghormati mereka itu udah cukup. Paham?"
Hening, Arumi kembali terdiam berpikir. Perkataan kakaknya ada benarnya juga. Tak seharusnya, dia memikirkan bagaimana pandangan keluarganya nanti mengenai dirinya dan keluarganya.
"Positif thinking. Jangan banyak mikir aneh-aneh dan gak usah peduli gimana sikap keluarganya nanti sama lo. Inget kalau si Digo emang jodoh lo, prioritas lo itu dia bukan maknya bapaknya apalagi adiknya. Gak usah peduliin mereka, tugas lo berbakti sama suami udah."
Mata Arumi berkaca-kaca takjub. Bukan karena ucapan Dicko yang berusaha menguatkan dirinya, tapi justru Dicko lah yang membuatnya takjub. Sekali seumur hidup, Arumi tak pernah mendengar kakaknya berkata sedemikian indah seperti ini.
Kira-kira hantu rumah sakit mana yang masukin bang Dicko sampe bisa mengeluarkan kata-kata mutiara seperti itu?
****
__ADS_1