
Arumi mengerucutkan bibirnya. Kesal karena perilaku ayahnya. Sudah lama tidak bertemu, bukannya sayang-sayangi anaknya, malah memukul kepalanya begitu kencang.
Tapi tunggu... Arumi menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Mengingat kembali ucapan yang dikatakan ayahnya barusan
Apa tadi papa bilang kalau Digo seorang keturunan bangsawan yogyakarta? Huh, apa lelaki ini keturunan sultan Prambanan juga?
Mata Arumi memincing menyoroti Digo yang sudah duduk di kursi tunggu pasien dengan tajam.
Melihat anaknya yang menyoroti lelaki dari keluarga terpandang begitu tajam, membuat ayah Arumi kembali memukul kepala anaknya itu lagi.
Plak...
"Papa sakit."
"Di bilang jadi cak wedok itu yang sopan. Tingkah mu itu gak sopan di depan tuan Digo. Ayo minta maaf sudah melototi tuan Digo seperti itu."
Arumi mencebik. "Ih siapa sih yang melototi Digo?"
"Arumi Maharani." Suara ayahnya meninggi. Membuat Arumi seketika memundurkan badan beberapa langka.
"Maafkan saya tuan Digo."
"Bagus." Ayah Arumi tersenyum dan kembali menatap Digo dengan gurat wajah bahagia.
Apa si spesialnya nih cowok? Sampe papa aja menghormati banget dia seperti Tessa.
__ADS_1
"Bagaimana kabar tuan Sudibyo?" Ayah Arumi mulai membuka pembicaraan kepada Digo.
"Kakek sudah lama meninggal, om."
"Astaga. Ya Tuhan saya sampe gak tau. Kapan tuan Sudibyo meninggal?" Ayah Arumi nampak terlihat terkejut mendengar kabar bahwa kakek Digo telah tutup usia.
"Sekitar dua tahun lalu. Sakit keras dan telat penanganan."
"Ya tuhan."
Pembicaraan mereka berlanjut dan terdengar begitu seru. Arumi tak pernah menyangka jika sang ayah begitu kenal dengan keluarga Digo bahkan mengetahui sejarah dan silsilah keluarga Digo di masa lalu.
Setelah mendengar pembicaraan Digo dan ayahnya. Dapat di simpulkan jika keluarga Digo bukanlah keluarga yang seharmonis itu. Kakeknya Sudibyo yang ternyata bos kakek Arumi menikah dengan Gretta wanita Belanda tanpa persetujuan dan restu orangtua Sudibyo.
Belum lagi ketiga anaknya, yaitu Baskara pratama Uparengga ayah Digo, Sri Ajeng Ayu Uparengga, dan Tri Hartono Uparengga tak mau mengurus Sudibyo dan Gretta di masa tua. Ketiga anaknya bahkan mengirim Sudibyo dan Gretta ke kampung halaman Gretta di Amsterdam dan membiarkan kakek nenek itu hidup terlunta-lunta.
Arumi diam mendengarkan. Begitupun dengan ayah dan ibu Arumi. Tapi ayah Arumi tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar akhir riwayat lelaki yang ia kenal berhati lembut dan ringan tangan.
"Kakek pernah meminta sebagian saham miliknya di Uparengga grup kepada ayah saya. Bukan untuknya tapi untuk nenek saya Gretta. Kakek takut setelah kepergiannya, nenek saya akan di bawa ke panti jompo karena di nilai tak layak hidup sendiri. Tapi papa saya dengan tega mengatakan jika saham milik kakek sudah di berikan kepada adik saya Steven."
"Kakek tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebelum pergi, kakek meminta nenek untuk mengubungi saya. Nenek bilang, orang yang bisa di sebut keluarga satu-satunya hanya saya. Tapi karena waktu kakek meninggal saya pun sedang ada masalah pribadi membuat saya telat datang ke Amsterdam menemui mereka."
Ayah Arumi mengusap wajah kasar. Tanpa di cegah buliran air mata menetes di pelupuk pipi paruh baya itu. Dia mengingat betapa baiknya Sudibyo dulu sewaktu kakek dan nenek Arumi bekerja di perusahaan Uparengga grup yang dulu bernama Panahan.
"Tuan Sudibyo orang baik." Ayah Arumi mulai bercerita. "Dulu sebelum Uparengga grup berdiri namanya adalah panahan. Sebuah toko matrial besar yang memiliki cabang di banyak tempat di pulau jawa. Pegawainya banyak. Dulu simbah kamu adalah salah satu langganan tuan Sudibyo. Setiap simbah beli bahan bangunan, tuan Sudibyo selalu memberikan bonus yang harganya tak murah. Dia juga di kenal ringan tangan. Sering membantu orang-orang susah masa itu. Bahkan, dia juga mendirikan panti asuhan untuk anak-anak yang di buang dan terlantarkan orangtuanya."
__ADS_1
"Papa tidak menyangka, akhir hidup seorang keturunan bangsawan baik hati, ringan tangan seperti tuan Sudibyo akan mengenaskan seperti itu. Padahal dulu, papa ingat betul betapa tuan Sudibyo dan nyonya Gretta membanggakan ketiga anaknya dan berharap dapat menuruni semua kekayaannya juga sikap dan sifat mereka. Namun, tidak di sangka ketiga anaknya malah setega itu dengan beliau." Ayah Arumi kembali menyeka airmata.
Begitu juga Arumi yang tanpa sadar ikut larut dalam kesedihan sang ayah. Dia tidak pernah menyangka keluarga terhormat seperti Uparengga tega melantarkan orangtuanya sendiri. Padahal beliau amat sangat menyayangi dan membangga-banggakan mereka.
Mungkin ini yang di maksud air susu di balas air tuba. Atau kasih orangtua sepanjang masa dan kasih anak sepanjang galah.
Berbeda dengan Arumi ayah dan ibunya yang larut dalam kesedihan karena akhir hidup seorang bangsawan baik hati yang begitu tragis. Digo sang cucu hanya duduk tertunduk dalam menahan malu yang amat dalam akibat perbuatan orangtua dan keluarga besar Uparengga lainnya. Berbagai cara telah ia lakukan untuk membahagiakan sang nenek dan menebus rasa sedih sang nenek karena kepergian suaminya. Tapi tetap saja, Digo menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang kakek yang telat penanganan.
Setelah lama berbincang menceritakan perjalanan penuh liku Sudibyo Uparengga yang berakhir menyedihkan di masa tua, Digo ijin pamit. Tak lupa, ibu Arumi mengucapakan banyak terimakasih kepada lelaki itu karena sudah membantu membayar biaya operasi ayah Arumi. Ibu Arumi juga berpesan untuk Digo kembali mengunjunginya setelah ayah Arumi sembuh.
Sepanjang perjalanan menghantar Digo keluar dari rumah sakit, Arumi melihat sikap Digo yang tiba-tiba berubah menjadi begitu dingin. Lelaki berambut lurus itu bahkan tak bicara sepatah katapun. Tidak seperti biasanya yang begitu cerewet dan amat menyebalkan.
Tak ingin, Digo kembali ke Jakarta dengan raut wajah muram Arumi memutuskan untuk mengajaknya makan malam terlebih dulu di kafe dekat rumah sakit.
Arumi memesan banyak makanan yang menurutnya dapat membuat mood Digo kembali membaik. Namun sayang jangankan memakan, menyentuhnya saja Digo enggan.
Semenjak pembicaraan dengan ayahnya tadi mengenai mendiang kakeknya, Digo benar-benar menjadi pendiam. Wajahnya begitu murung seperti memikirkan sesuatu hal luar biasa berat.
"Digo, lo makan ya. Sedikit aja, biar perut lo gak kosong."
Kepala Digo menengadah menatap Arumi lekat. Arumi yang di tatap Digo seperti ini malah menjadi kikuk dan sedikit ngeri.
"Ke... Kenapa?"
"Apa lo gak malu punya calon suami dengan keluarga yang begitu hina kaya gue?"
__ADS_1
****