
Malam merambat pergi secepat kilat. Arumi yang ketiduran selepas menunggu Digo yang tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi terbangun. Dirinya mendapati tak ada seorang pun di sebelahnya. Benaknya kemudian bertanya apakah Digo tidur di dalam kamar sedari subuh tadi?
Tubuh Arumi bangkit, kaki-kaki jenjangnya berlahan turun dari atas ranjang menapaki lantai kamar yang terasa dingin menggigit. Saat tubuhnya berdiri, seketika dia merasakan sakit yang amat sangat di bagian area intinya. Arumi mengejang, jatuh terduduk di ranjang tak kuat merasakan sakit yang datang tiba-tiba menerjang.
Mata sayu khas orang bangun tidur menyapu seluruh kamar suite itu dengan seksama, hingga kemudian berhenti tepat di depan kamar mandi yang pintunya masih tertutup seperti sedia kala saat terakhir kali ia melihat Digo berlari masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu. Hatinya semakin yakin jika suaminya itu telah tidur di dalam kamar mandi, lalu benaknya kembali mengajukan tanya apa sebabnya Digo melakukan itu? Apakah ada yang salah dengan ku saat melayani Digo?
Keping demi keping ingatan tadi subuh tersusun di dalam otak Arumi. Tak ada satupun momen yang dapat menjelaskan mengapa Digo tiba-tiba saja pergi begitu saja meninggalkan dia. Padahal Arumi sudah sangat senang dan bahagia karena mampu menyelesaikan tugas terbesarnya menjadi istri Digo.
Tak ingin pikirannya terus menerka-nerka, Arumi mencoba memanggil Digo.
"Digo kamu masih di dalam?"
Lama menunggu berharap ada yang menyahut dari dalam sana, tetapi sayang semenit berselang tanyanya seperti angin lalu.
"Digo tolongin aku berdiri dong, aku benar-benar gak bisa berdiri. Ini aku sakit banget." Arumi masih berusaha. Kini nadanya sedikit meninggi. Namun sayang seribu sayang selang beberapa menit pintu kamar mandi tak urung juga terbuka. Bahkan suara deru napas sang suami pun tak terdengar oleh telinganya.
Merasa ada yang tidak beres, Arumi mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mencoba bangkit kembali. Rasa sakit yang menerjang menghampiri dirinya kala berdiri tak ia pedulikan. Dengan jalan terseok-seok dan tangan berpegangan di beberapa tempat Arumi menuju kamar mandi. Di ketuk pintu kamar mandi itu berkali-kali, tetapi tetap saja ia tak menemui jawaban. Sudah merasa kesal dan jengkel dengan tingkah Digo yang aneh, tanpa aba-aba atau permisi Arumi langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata pintu sama sekali tidak terkunci.
Tak ada satu orangpun di dalam sana. Kamar mandi itu kosong. Di tempat shower ataupun WC Arumi sama sekali tidak menemukan sosok Digo. Dia pun bingung bercampur khawatir. Bagaimana bisa Digo menghilang sedang dirinya sama sekali tidak mengetahuinya. Arumi benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi subuh tadi. Dan apa yang salah dengan dirinya. Padahal jelas-jelas beberapa menit sebelum Digo menghentikan permainan panasnya secara tiba-tiba, Arumi dapat melihat dengan jelas raut wajah Digo yang begitu senang bercampur kenikmatan.
__ADS_1
Buru-buru Arumi membersihkan dirinya, lalu keluar dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Menggunakan gaun mini santai berwarna hitam, Arumi langsung menyambar ponselnya dan berjalan tergesa-gesa tak memperdulikan rasa sakit yang masih dapat ia rasakan di bagian intinya meskipun tak sehebat ia bangun tidur keluar dari dalam kamar. Dia berjalan menuju lift, masuk dan keluar lobi untuk menuju tempat sarapan. Benaknya berkata jika saat ini Digo sedang berada di restoran hotel untuk sarapan.
Dan benar saja, pikirnya. Saat kakinya tiba di restoran hotel, wanita itu langsung mendapati Digo yang duduk berdua dengan seorang wanita paruh baya yang tak ia kenal sama sekali. Keningnya mengernyit penasaran dengan sosok wanita paruh baya yang nampaknya begitu akrab sekali dengan Digo. Dirinya bahkan sesekali membeliakan mata atau memukul lengan Digo keras-keras sambil mengumpati Digo.
Namun, saat kakinya hendak melangkah menghampiri keduanya tiba-tiba saja kedua orangtua Digo memanggil. Mereka ternyata juga ada di sana, duduk dalam satu meja yang terdapat juga Steve dan Laluna di dalamnya. Mendengar panggilan orangtua Digo, Arumi mau tak mau memutuskan untuk menghampiri meja mereka yang jaraknya lumayan jauh dengan meja tempat Digo sarapan.
"Selamat pagi semua." Sapa Arumi dengan mata yang masih mencuri-curi pandang ke arah sang suami.
"Morning, sweetheart. Ayo makan, mami sudah pesankan kamu sarapan."
Arumi mengangguk seraya tersenyum tipis. Di tariknya satu kursi di sebelah Laluna persis, lalu dia duduk di sana dan meletakkan serbet putih di atas pahanya.
Ada banyak menu yang di hidangkan di atas meja berbentuk bundar dengan taplak meja berwarna merah. Namun, dari sekian banyak makanan yang tersaji Arumi hanya mengambil nasi goreng itupun dengan porsi yang amat sedikit. Tentu hal itu mengundang perhatian dari kedua mertuanya. Papi Digo yang penasaran pun bertanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu makan begitu sedikit?"
Lalu di timpali oleh sang ibu mertua. "Apa malam pertama pun tidak berjalan baik, Rum?"
Kepala Arumi secepat kilat menggeleng. Dia tidak mungkin menceritakan kepada mereka tentang Digo yang tiba-tiba menghentikan permainan panasnya mereka di tengah jalan. Sudah pasti wanita di sebelahnya akan menertawainya, atau bahkan mungkin langsung menghina tanpa pandang bulu di mana sekarang mereka berada.
__ADS_1
"Gak kok, Mi. Semalam berjalan dengan lancar." Cengegesan menutupi fakta yang sebenarnya menyesakkan dada.
"Lalu kenapa kamu makan dikit banget? Kamu gak enak badan?"
"I... Iya, Mi. Kayanya, Rumi kecapean karena pesta semalam." Bual Arumi lagi.
Mendengar itu Mami Arumi langsung terlonjak kaget. Wanita itu lalu membuka tas miliknya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"Setelah makan minum lah ini. Jangan sampai sakit, ya. Mami ingin segera mendengar kabar kamu mengandung anak Digo." Tersenyum seraya menyerahkan sebungkus obat kepada Arumi.
Arumi menerimanya dengan canggung, kemudian melanjutkan makannya dengan hening dan damai.
Selepas makan, Arumi mendapati Digo yang masih berbincang dengan wanita paruh baya tak dirinya kenal. Ada rasa penasaran yang menggerogoti dirinya, melihat keakraban yang tercipta antara Digo dan wanita tersebut.
"Namanya Gendis." Tiba-tiba ibu mertuanya berkata membuyarkan Arumi dari lamunannya menatap lekat Digo.
"Beberapa bulan lalu Digo dekat dengan dia. Menurut teman-teman Mami yang kenal sama dia, kerjaan Gendis itu semacam dukun atau tabib yang bisa menyembuhkan kelainan **** pada wanita dan lelaki."
Arumi tercengang mendengar penjelasan ibu mertua tentang siapa wanita paruh baya yang sedang berbincang dengan suaminya. Tak ia sangka, ternyata wanita paruh baya itu adalah salah satu orang yang Digo percaya dapat menyembuhkan kelainan impotennya. Pantas saja, mereka begitu dekat dan akrab. Rupanya wanita paruh baya bernama Gendis itu salah satu orang yang berusaha mengobati kelainan Digo. Tetapi ada satu hal yang tiba-tiba mengusik pikiran Arumi kenapa tiba-tiba dia ada disini? padahal jelas-jelas kemarin wanita paruh baya itu Arumi yakini tak datang di acara pernikahan dia dan Digo.
__ADS_1
****