Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Masalah Awal Pernikahan


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah keluarga Uparengga, tak henti-hentinya Pak Ujang terus membicarakan kelakuan nakal Digo sewaktu kecil yang dia ingat. Tak peduli meski ada orangnya di belakang sana yang sudah sedaritadi memelototinya, Pak Ujang masih asik mengobrol dengan Arumi yang sialnya juga nampak antusias mendengar ucapan Pak Ujang. Jangan heran, jika pak Ujang berani bicara ini itu di depan Digo. Dirinya sudah begitu lama mengabdi untuk keluarga Uparengga, bahkan ayah Digo sudah menganggap pak Ujang bagian dari keluarganya. Bisa di bilang juga, pegawai paling berani dan sangat di percaya oleh ayah Digo ya sudah pasti Pak Ujang orangnya.


Mereka terus bercengkrama, menghiraukan orang yang sudah sedaritadi memasang muka masam di sebelahnya. Hingga tak sadar mereka telah sampai di rumah utama.


Pak Ujang menelakson mobilnya, sebelum dari bilik kecil sebelah pagar seorang penjaga menekan tombol dan pintu segera terbuka.


Seperti sebelum-sebelumnya datang kemari. Arumi terus di buat kagum dengan halaman rumah utama keluarga Uparengga. Taman yang luas dengan di tumbuhi tanaman dan pohon indah, juga ada beberapa hewan seperti kelinci, kucing, bahkan dua ekor rusa yang di biarkan lepas dan berkeliaran di halaman rumah begitu saja.


Mobil berhenti di pelataran rumah utama. Seorang penjaga segera membukakan pintu mobil. Sebelum Arumi dan Digo keluar dari dalam mobil, pak Ujang berbisik sesuatu kepada Arumi yang membuat Digo memicingkan mata kesal.


"Jangan terpengaruh dengan sikap dingin dan ketus tuan muda, nona. Sebenarnya dia bukan lah orang seperti itu. Dia cengeng dan sangat baperan. Saya harap nona bisa mengerti sifatnya dan betah tinggal di rumah ini."


Sambil menahan tawa Arumi menjawab.


"Ya, pak. Terimakasih. Mohon bantuannya."


Ketika mereka keluar mobil nampak sepi rumah besar dan mewah itu. Tidak ada para pelayan yang berjejer di kanan dan kiri untuk menyambut kedatangan mereka seperti waktu Arumi datang ke rumah itu. Hanya seorang penjaga berbadan kekar, berwajah garang dan brewokan yang tadi membukakan pintu untuk mereka. Tak mau ambil pusing, Arumi berpikir jika para pelayan dan penghuni rumah pasti sudah tertidur. Apalagi ketika mereka tiba di rumah utama waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.


Namun, saat penjaga berbadan kekar membukakan pintu untuk Arumi dan Digo betapa terkejut dia melihat tiga pelayan sudah berdiri di depan pintu masuk. Satu dari pelayan tersebut Arumi tak asing. Dia adalah pelayan senior juga merangkap menjadi kepala pelayan yang di temuinya saat pertama datang kemari.


"Selamat datang tuan muda dan nona muda." Serentak ketiga pelayan membukakan badan.


Lagi-lagi Arumi sungkan di perlakukan seperti itu.


"Kalian belum tidur?"


Ketiga pelayan saling melemparkan pandangan bingung mendengar ucapan Arumi. Namun, segera kepala pelayan yang berdiri di himpit oleh para juniornya berdehem dan menjawab.


"Tidak mungkin kami tertidur, sementara tuan dan nona belum kembali pulang ke rumah dengan selamat."


Arumi manggut-manggut.

__ADS_1


"Yaudah karena kami sudah pulang, lebih baik kalian tidur. Kalian pasti lelah setelah bekerja seharian."


"Tidak apa, nona. Setelah mengantarkan tuan dan nona ke kamar kami akan kembali ke kamar kami masing-masing."


Kening Arumi mengerut. Kenapa musti di antar? Memang kami ini bayi apa.


"Tidak perlu. Kalian pergi tidur saja. Dan biarkan semua keperluan Digo aku yang urus."


Sejenak kepala pelayan terdiam. Melirik ke arah Digo yang langsung memberi intruksi untuk mengikuti saja perintah Arumi.


"Baik, nona. Tapi jika anda membutuhkan sesuatu, anda hanya tinggal memencet tombol hijau di remote yang berada di kamar tuan dan nona."


"Ah, baiklah. Terimakasih bantuannya."


Tiga pelayan pergi, selepasnya datang Pak Ujang yang baru saja menaruh koper milik Digo dan Arumi di dalam kamar Digo. Lelaki itu nampak sedikit kelelahan, maklum kamar Digo yang terletak di lantai tiga dan Pak Ujang membawanya tanpa menggunakan lift rumah.


"Kamar anda sudah siap, tuan dan nona." Membungkukkan badan untuk memberikan jalan kepada keduanya.


Pintu lift terbuka, seorang penjaga menyambut. Mempersilahkan mereka dan menghantarkan keduanya sampai pintu kamar.


"Selamat malam. Selamat beristirahat, tuan dan nona."


Pintu di buka Digo. Ragu, Arumi melangkah masuk. Dia berdecak saat melihat betapa besar dan mewahnya kamar Digo.


"Aku mau mandi. Boleh minta tolong siapkan baju ku?"


Kepala Arumi mengangguk paham. Ia tersadar dari lamunannya dan langsung bergegas masuk ke dalam walk-in closet yang menyatu dengan kamar mandi pintu transparan yang dapat berubah gelap.


Sedikit kebingungan dengan letak baju milik Digo. Arumi bahkan sampai tak bisa membedakan mana baju formal dan santai Digo. Semua terlihat sama. Mewah, bagus, dan mahal.


"Digo baju tidur kamu di mana? Aku gak nemu-nemu?" Arumi berteriak yang tentu dapat Digo dengar dari jarak kurang 5 meter.

__ADS_1


"Pintu paling pojok, rak ke tiga." Jawab Digo yang di iringi guyuran air shower.


Setelah menemukan baju tidur milik Digo, Arumi keluar dari dalam ruangan walk-in closet. Duduk di sofa depan ranjang menunggu Digo selesai mandi.


Lama menunggu sang suami selesai mandi, membuat Arumi bosan dan pada akhirnya memilih untuk melihat-lihat seluruh inci kamar milik Digo. Dia juga membuka laci dan bufet yang ada di kamar tersebut. Hingga, dirinya berhenti di sebuah laci kecil lemari kecil untuk meletakkan tv yang yang terkunci. Penasaran langsung menerjang dirinya. Di carinya kunci laci tersebut untuk membuka dan melihat isi di laci tersebut. Mulai dari nakas di kedua sisi ranjang hingga ransel milik Digo yang Arumi tau menyimpan banyak kunci yang entah kunci apa.


Di ambil kumpulan kunci banyak dari dalam ransel milik Digo. Satu persatu kunci yang berbeda-beda bentuk itu Arumi coba. Matanya tak berhenti melirik ke arah ruangan walk-in closet. Takut-takut Digo keluar dari sana dan mendapati dirinya yang sedang mengubrak-abrik isi dalam kamarnya.


Sekitar lima kunci yang tidak cocok untuk membuka laci tersebut. Akhirnya kunci keenam dapat membuat laci itu terbuka. Di tariknya berlahan laci meja yang terbuat dari kayu jati asli itu, hingga isi di dalamnya menyembur keluar membuat mata Arumi mendelik tajam.


Lembaran-lembaran kertas jatuh berserakan. Di antara lembaran kertas kusam itu, terselip sebuah bingkai foto lumayan besar juga sebuah buku harian. Arumi jongkok, merapihkan lembaran-lembaran kertas yang jatuh berserakan itu menjadi satu tumpukan. Setelahnya, ia mulai membaca apa isi di dalam lembaran-lembaran kertas putih usang tersebut.


Itu sebuah artikel yang di printer.


Laluna Malik, menjadi Model termahal di Indonesia.


*Menikahi adik mantan suaminya. Laluna Malik menjadi model top Indonesia.


Terpuruk karena pemerannya dengan model top Laluna Malik. Digo uparengga melarikan diri ke Belanda.


Komen menohok Laluna Malik setelah bercerai dari sang suami: Dunia tau jika dia yang berselingkuh dari saya*.


Beberapa judul artikel yang tertulis dari lembaran-lembaran kertas itu membuat hati Arumi teriris. Airmatanya tak dapat di bendung, apalagi kala ia mengangkat bingkai foto yang terbalik dan membalikannya. Ia tertegun, melihat foto yang ada dalam bingkai tersebut yang tak lain adalah foto pernikahannya dengan Laluna dulu. Nampak terlihat begitu bahagia senyum di wajah Digo, di foto itu. Mereka berdua nampak serasi bersanding dengan setelan jas, dan gaun pengantin putih super mewah.


Di belakang bingkai foto tersebut, Arumi ternyata juga menemukan sepasang cincin couple yang ia yakini adalah cincin pernikahan Digo dan Laluna. Hatinya semakin teriris. Merasakan perih dan sakit yang selama ini Digo pendam sendiri.


Aku tau kamu kecewa, dan terluka karena pengkhianatan Laluna dulu, Digo. Aku janji gak akan buat kamu merasakan hal itu lagi. Lebih baik aku yang merasakannya, daripada harus melihat kamu terluka.


Arumi tak mengerti mengapa dia menangisi Digo. Ada sesuatu yang salah dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang ia sendiri tak tau dan tak bisa menjelaskan. Terlebih perihal perasaannya kepada Digo.


****

__ADS_1


__ADS_2