
Digo menarik tangan Arumi masuk kembali ke dalam kamar. Menyuruh sang istri duduk di pinggir ranjang, sementara dia mulai sibuk mengeluarkan koper dan memasukkan pakaian milik mereka berdua. Arumi diam mematung. Tak tau harus berbuat apa selain senyap. Dirinya merasa takut melihat wajah Digo yang merah padam karena amarah. Dia tau, lelaki itu marah karena membelanya. Tapi, Arumi juga tidak mungkin membiarkan Digo meninggalkan rumah itu lagi untuk kedua kalinya. Dengan berat hati, Arumi mengumpulkan keberaniannya. Berdiri dan berjalan mendekati Digo.
"Jangan berkata apapun, Rumi. Aku melakukan ini bukan untuk membela mu."
Tangan Arumi yang hendak menjangkau punggung lebar Digo terhenti di udara. Arumi menarik kembali tangannya, bibirnya bawahnya ia gigit. Berusaha memutar otak mencari cara agar Digo tetap tinggal di rumah itu dan tidak meninggalkan rumah tempat dia di lahirkan untuk kedua kalinya.
"Digo, jangan terbawa emosi. Kita bisa mencari jalan keluar dengan damai. Tidak seperti ini. Kamu tau, ini akan menimbulkan masalah baru khusunya untuk mami kamu."
Digo menghentikan aktivitasnya memasukkan pakaian ke dalam koper. Tubuhnya memutar menghadap Arumi. Air mukanya berangsur berlahan berubah. Terlihat lebih lembut.
"Kita tetap akan pindah. Aku akan membawa mu ke bali. Di mana rumah asli kita berada." pungkas digo dan kembali memasukkan pakaian mereka ke dalam koper.
Kepala pelayan Gress yang menyaksikan dari awal pertengkaran Digo dan Steve mengusap wajah kasar. Dia bersama beberapa pelayan termasuk Ria, berdiri di balik pintu belakang memperhatikan semua yang terjadi di ruang tengah. Hatinya mengeryit. Terusik dan merasa sesuatu yang akan menimpah keluarga ini kembali terulang.
Paruh baya itu ingat betul, kejadian setelah Digo memutuskan untuk pensiun dari diplomatnya dan menceraikan Laluna. Seluruh keluarga Uparengga mencelanya. Tak sedikit dari mereka juga yang secara terang-terangan menyalahkan Digo karena terlalu sibuk bekerja dan membuat Laluna kesepian lalu memilih berselingkuh dengan Steve. Mereka seperti tutup mata, tak peduli seular apa hati wanita itu kala menjelek-jelekan Digo di depan umum.
"Jika saja, Digo tidak pergi dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan sebagai diplomatik dan memilih untuk melanjutkan perusahaan Uparengga, Luna pasti tidak akan kesepian dan mencari kebahagiaan yang tidak Luna dapat dari Digo bersama Steve."
"Luna melihat Steve bak Digo. Mungkin karena mereka kakak beradik. Luna merasa nyaman bersama Steve layaknya bersama Digo. Maka itu alasan Luna berselingkuh dengan Steve."
Awalnya semuanya merasa iba kepada Laluna termasuk seluruh pelayan yang ada di rumah utama. Tapi lambat laun, rasa iba itu menjadi rasa jijik ketika tau sifat asli Luna yang tak lebih seperti seekor ular betina. Wanita itu menunjukkan sikap aslinya, dengan berkuasa di rumah utama ketika Nyonya besar down akan perceraian dia dan Digo. Belum lagi, Steve yang menikahi Laluna hanya terpaut dua bulan dari penceraian mereka.
Puncaknya, Nyonya terserang struk ringan dan gangguan mental saat Digo memutuskan hubungan keluarga dengan Uparengga dan keluar dari rumah meninggalkan Indonesia lalu menetap di Amsterdam. Mulai dari sana tak ada lagi kedamaian yang menyelimuti kediaman keluarga Uparengga. Luna mulai mengibarkan bendera perang, mengambil alih kekuasaan Nyonya besar di rumah utama. Bertindak semena-mena kepada semua pelayan dan para penjaga. Bertingkah angkuh dan sombong seperti dia–lah pemilik rumah Utama.
__ADS_1
Sejak saat itu, keluarga besar Uparengga mulai sadar jika kesalahan terletak pada diri Luna bukan Digo. Terlebih ketika Digo akan melangsungkan pernikahannya dengan Arumi. Secara terang-terangan, Laluna mencari cara untuk mengagalkan pernikahan mereka. Yang keluarga besar tak habis pikir adalah, betapa lembeknya Steve kepada istrinya. Padahal dahulu keluarga besar Uparengga mengenal Steve sebagai pemuda badboy yang sangat begajulan.
"Aku sudah tidak tahan." Gress mengeram. Mengepalkan tangan dan mengambil langkah seribu menuju ke ruangan kerja pribadinya.
Gress sudah dapat menafsirkan apa yang akan terjadi jika Digo keluar lagi dari rumah utama. Nyonya besar, pasti akan down kembali. Penyakit mentalnya yang sudah hampir satu bulan tidak kambuh pasti akan kambuh lagi. Mengingat, Digo adalah anak kesayangannya sementara Steve anak kesayangan ayahnya, Baskara.
Tangan Gress sudah meraih gagang telpon, dia hendak menghubungi majikannya yang saat ini sedang berada di pulau dewata bali karena urusan penting.
"Ada apa kau menelpon ku sepagi ini?" Suara parau khas orang bangun tidur terdengar di sebrang telpon.
"Tuan besar, aku mohon kembali lah." Gress berkata sambil kedua tangannya mencekam gagang telpon kuat.
"Ada masalah apa?" tanya lelaki di seberang sana yang tak lain adalah tuan besar Baskara.
"Nona Luna kembali berulah. Ulahnya kali ini menyebabkan Nona Arumi terluka serius, dan membuat tuan Digo marah dan memutuskan untuk keluar dari rumah ini lagi."
"Tahan dia bagaimana pun caranya. Jangan biarkan anak itu keluar dari rumah dan menyebabkan istriku kembali sakit. Kau paham, huh?"
"Tapi tu–" Ucapan Gress tak terselesaikan. Baskara sudah keburu menutup panggilan darinya. Sekarang, dia teramat bingung, entah bagaimana caranya untuk membujuk Digo agar tidak meninggalkan rumah utama.
Suara gaduh dari luar terdengar dari indra pendengaran milik Gress. Dia sangat hapal sekali suara dari kedua anak majikannya yang saling berteriak satu sama lain.
"Ada apa?" Gress sudah kembali di ruang belakang berkumpul bersama dengan pelayan yang lainnya.
__ADS_1
"Tu–tuan Digo hendak meninggalkan rumah utama membawa Nona Arumi." Salah satu pelayan menjelaskan sambil menujuk keruang tengah di mana Digo sedang beradu argumen dengan sang istri.
"Kamu jangan kaya gini." Arumi berusaha meronta saat Digo dengan kasar menarik tangannya. Sudah memakai jaket juga yang menutupi luka di bahunya.
"Saya suami kamu Arumi!" Bentak Digo membuat nyali Arumi ciut. Seumur hidup baru kali ini ia di bentak oleh kekasihnya. Jika sudah seperti itu, Arumi berpikir Digo begitu mirip dengan abangnya yang kerjaannya suka marah-marah dan membentak dirinya.
"Kalau kamu mau ingin tetap tinggal di sini, silahkan. Tapi jika kamu kembali mendapatkan perilaku seperti itu jangan mencari saya untuk menolong kamu."
Arumi terdiam menundukkan kepala. Tentu dirinya tak ingin sendirian di rumah besar ini. Menghadapi nenek lampir penuh drama seperti Laluna yang pasti tidak akan pernah mau menang. Tapi, Arumi juga tidak dapat memungkiri kekhawatiran dia dengan ibu mertuanya yang pasti akan drop kembali dan takut gangguan mentalnya akan kambuh.
"Sekarang kamu pilih, ikut saya atau tetap tinggal di rumah ini?" Digo melepaskan genggaman tangannya. Dan menunggu Arumi menjawab pertanyaannya.
Senyap, Arumi tak dapat berpikir. Dia tak mungkin tetap tinggal di sini sementara suaminya pergi meninggalkan rumah. Dia harus ikut suaminya. Tapi bagaimana dengan ibu mertuanya.
Di tengah kebingungan yang melanda otaknya, Arumi berusaha untuk tetap tenang mengingat nasihat yang selalu ibunya berikan kepadanya.
Ingat sebagaimana pun suami kamu tetap kamu harus nurut katanya. Kemana pun dia pergi, ikuti langkah kakinya meskipun itu ke lubang semut.
Dengan sekali hembusan napas, Arumi menguatkan diri meraih tangan Digo dan menggenggamnya.
"Aku ikut kamu, Digo."
Tak jauh dari sana, para pelayan saling melempar tatapan menyedihkan. Tak ada pembela yang akan melindungi mereka lagi dari perilaku semena-mena Laluna. Semua pasrah kembali menerima nasib akan di perilaku bak seorang budak tak berharga oleh Laluna.
__ADS_1
Sama halnya dengan para pelayan yang lain. Gress mengepalkan kedua tangannya erat. Bersumpah serapah dalam hati mengerutuki makhluk ciptaan tuhan yang memiliki hati sebusuk itu. Dia harus bersiap melihat nyonya besar kembali berteriak-teriak tak jelas memanggil nama Digo. Melemparkan barang ke sana kemari hingga melukai dirinya sendiri lagi.
...----------------...