Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
EPISODE 55


__ADS_3

Saat memasuki restoran, Digo dan Ken langsung di sambut oleh manager restoran yang menyapa mereka dengan ramah tamah. Manager hotel seorang pria itu bahkan memperkenalkan namanya, dan menjelaskan jika seluruh restoran itu telah di pesan oleh Marco untuk menyambut kedatangan Digo.


Digo yang mendengar penuturan manager hotel, samapi terheran-heran dan tak sabaran ingin bertemu dengan orang bernama Marco yang menurut informasi dari Ken, asisten pribadinya adalah seorang pria yang sangat hangat.


"Saya pernah bertemu dengannya dua kali. Saat, tuan masih berada di Amsterdam." Begitu penuturan Ken, waktu di mobil tadi. "Dia seorang lelaki baik, dan hangat. Hanya saja, dia irit bicara dan tidak suka basa-basi. Tapi saya yakin, tuan muda akan menyukai tuan Marco."


Pandangan Digo menelusuri setiap inci ruangan bergaya Amerika classic. Mencoba mencari sosok lelaki bertubuh tinggi semampai, berbadan agak kekar, dan berambut ikal blonde seperti ciri-ciri yang Ken katakan tentang perawakan Marco. Tetapi sayangnya, di seluruh ruangan restoran nan besar itu tak ada satu pun orang yang duduk di antara kursi dan meja mewah yang tersedia. Ruangan restoran itu kosong melompong tak berpenghuni. Membuat, Digo bertanya-tanya apakah Marco belum datang?


"Di mana, dia?" tanya Digo kepada Ken.


Belum juga Ken menjawab ucapan Digo, manager restoran sudah terlebih dulu menyerobot. Dengan suara lembut yang di buat-buat dan senyuman yang terus mengembang di bibir dia menjawab.


"Mr.Anderson telah menunggu di lantai dua, silahkan mari ikuti saya."


Digo dan Ken pun berjalan mengikuti kemana manager restoran itu melangkah. Mereka menaiki satu demi satu anak tangga berkarpet merah menuju lantai dua seperti yang di kata manager restoran.


Saat tiba di lantai dua, seseorang pria tinggi, berkemeja kotak-kotak biru putih yang lengannya di gulung tengah berdiri di balkon restoran. Memandangi indahnya kota Seminyak, Bali sambil menghubungi seseorang dari balik ponsel yang ia genggam.


Berbeda tidak seperti ruangan di lantai bawah. Di lantai atas restoran, bukanlah tempat makan yang di rancang di dalam sebuah ruangan. Di lantai dua, tak ada ruangan tertutup. Hanya ada sebuah outdoor sedang yang berisikan empat meja panjang dengan empat kursi saling berhadap-hadapan.


"Apa, dia orangnya?" Bisik Digo kepada Ken.


Kepala Ken mengangguk. Langsung saja, Digo berjalan menghampiri Marco dan menyapanya dengan sopan.


"Selamat pagi menjelang siang, Mr.Anderson?"


Marco yang masih sibuk dengan telponnya refleks menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut ketika melihat siapa yang ada di hadapannya kini. Digo berdiri sambil tersenyum simpul menatap lekat memandangi wajah tampan khas orang Inggris milik Marco. Langsung saja, Marco menutup panggilan telponnya dan mengulurkan tangan kanan untuk berjabat tangan dengan Digo.


"Selamat pagi, tuan Uparengga."

__ADS_1


Digo yang meraih uluran tangan Marco di buat terkejut dengan bahasa Indonesia Marco yang begitu terdengar sangat fasih.


"Maafkan saya membuat anda menunggu lama." Digo menarik tangannya, menyudahi jabat tangan mereka.


Keduanya kemudian berjalan menuju salah satu meja restoran yang tersedia. Digo duduk bersebelahan dengan Ken. Sementara, Marco duduk sendiri tepat di hadapan Digo.


"Is ok, tuan Uparengga. Saya juga baru saja tiba di sini." Jelasnya masih dengan logat bahasa Indonesia yang begitu fasih.


Digo tersenyum kecut. Tak mampu menyembunyikan rasa takjub mendengar Marco yang begitu fasih berbahasa Indonesia. Dia, bahkan secara terang-terangan memuji, Marco yang sangat bagus mengucapkan setiap kata demi kata.


"Aku tak percaya ternyata anda dapat begitu fasih berbahasa Indonesia."


"Haha, aku sudah berada di Indonesia kurang lebih satu tahun. Rasanya aneh, jika aku tidak bisa berbahasa Indonesia, tuan."


"Tapi, tetap saja gaya berbahasa mu benar-benar sudah persis seperti orang asli pribumi."


Mereka pun memulai meeting hari ini. Meskipun sudah lama, Digo tidak mempersentase di depan umum. Tapi hari ini, Digo percaya diri dan yakin Marco akan mau menandatangani kontrak kerjasama mereka seperti dulu kedua orangtuanya.


"Saya berharap dengan pembagian hasil seperti ini, baik perusahaan tuan maupun saya tetap mempunyai keuntungan yang sama besar. Agar kita kedepannya dapat melanjutkan kerjasama besar ini."


Marco bertepuk tangan mendengar akhir kata dari persentase yang Digo berikan. Pemuda itu nampak sangat berseri-seri dan bersemangat setelah Digo menyampaikan persentase terbaiknya. Ken, yang sedaritadi duduk memperhatikan pun, yakin jika Marco akan menandatangani kontrak kerjasama dengan Uparengga grup menggantikan ayahnya.


"Luar biasa," puji Marco. "Jika persentase semua perusahaan seperti anda, mungkin saya akan bingung memilih yang terbaik. Tapi untungnya hanya perusahaan anda, dan anda sendiri yang dapat menyakinkan saya dengan persentase seperti tadi."


"Terima kasih, Mr.Anderson atas pujian anda. Saya bahagia dan mengucapkan beribu terima kasih jika anda menyukai persentase yang tadi saya jabarkan."


"So..." Marco menegakkan duduknya. Digo dan Ken bersama menoleh mantap Marco yang tengah membetulkan kancing kemejanya dengan lekat dan deg-degan. "Di mana saya harus tanda tangan kontrak kerja kita."


Seketika raut wajah khawatir dan takut kedua orang itu mencair. Digo tersenyum cerah di ikutin Ken yang ikut tertawa bahagia. Cepat-cepat, Ken langsung mengeluarkan beberapa berkas dari tas kulitnya. Meminta, Marco untuk membaca isi berkas tersebut sebelum kemudian di tanda tanganinya.

__ADS_1


"Baik, jika seperti itu. Saya berharap kedepannya kerjasama yang kita jalin akan terus lancar seperti ini." Digo sudah berdiri setelah Marco selesai menandatangani kontrak kerjasama mereka.


Di sebelah, Ken juga telah selesai mengepak barang-barangnya. Menyeruput kopinya yang tinggal setengah, sebelum kemudian ikut bangkit.


"Saya berharap lebih, tuan Uparengga."


Keduanya kembali berjabat tangan dsn tersenyum untuk terakhir kalinya. Setelah lama berjabat tangan, Digo pun berpamitan.


"Baiklah. Saya dan asisten saya mohon pamit. Terima kasih atas pertemuan yang begitu luar biasa siang hari ini, Mr. Anderson."


Namun, bukannya membalas pamitan Digo, Marco justru menarik tangan Digo sejurus berkata.


"Saya ingin mengundang anda berserta istri anda ke pesta ulang tahun saya satu minggu lagi. Apa, anda keberatan?"


Sejenak, Digo tercengang. Baru kali ini, dia di undang ke acara non formal dari rekan bisnis ayahnya. Mungkin sedikit canggung baginya dan aneh. Tapi seperti akan seru dan menyenangkan. Sudah lama juga, bagi Digo tidak menghadiri pesta semacam ini. Semenjak perceraiannya dengan Laluna, Digo seperti menutup diri dari dunia luar dan lebih memilih mengurung dirinya untuk menjadi seorang Introvert dan mengarah ke anti sosial.


Mungkin ini saatnya, dia kembali seperti Digo yang dulu. Pemuda tampan, penuh enerjik dan semangat untuk mencoba hal baru.


"Tentu. Malah, saya sangat terhormat bisa di undang ke acara ulang tahun, anda."


"Kata, ayah saya Mr.Uparengga adalah orang satu-satunya rekan bisnis ayah saya yang seperti sahabat sendiri. Makanya, saya juga ingin berteman dengan anda bukan hanya sebagai rekan bisnis tetapi juga sahabat seperti kedua orangtua kami."


"Tentu, Mr.Anderson. Saya juga berharap bisa berteman dekat dengan anda. Bukan hanya sebagian patner bisnis tetapi juga sahabat."


"Oke. Saya tunggu kedatangan anda, sabtu depan di rumah saya. Ajak juga istri anda, Tuan Uparengga."


"Course." Digo menaikkan kedua bahunya." Tentu, saya akan mengajak istri tercinta saya."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2