
Playlist : Adam Lavine ~ Lost Star
“Kalau yang elo lakuin cuma baca novel dewasa atau erotis dan nonton film aja gak bakal bikin ade lo bangun. There’s only one thing to do, you have to get laid.”
Itu omongan Kinanti, seorang tabib wanita atau semacamnya yang sudah Christian percaya bisa menyembuhkannya. Namun, sudah hampir tiga tahun dia kontrol dan konsultasi dengan Kinanti tak ada satupun usaha yang Kinanti berikan berhasil untuk membuat kejantanannya kembali bangun. Kinanti pun bahkan rasanya terkadang begitu frustasi dan ingin sekali menyerah. Tapi, Chris yang sudah mempercayai sepenuhnya kepada Kinanti justru yang tidak pantang menyerah. Meskipun dalam hatinya, ia juga pesimis akan masa depannya sendiri, akan tetapi Chris tetap berusaha untuk menyemangati Kinanti untuk menyembuhkan dia.
“Berapa puluh ***** yang udah gua bayar buat bikin, nih ade gua bangun? Tetep aja, enggak ada yang berhasil.”
“Nyerah deh, gua. Asli. Semua cara udah gua coba, dari nyuruh mak erot ngurut elo, berendem di air garem, sampe ngeliatin Maria Ozawa setiap mau tidur dan bangun tidur, tetep aja tuh adek lo enggak bangun juga. Mungkin, emang udah saatnya kali elo pensiun nyari mama muda.”
“Hushh! Jangan ngaco, lo.” Mengibas tangan tak terima. “Umur gua baru 34, yang aki-aki usia 80 masih doyan apalagi gua yang baru jadi duda 3 tahun.”
Benar juga, lelaki tua yang bahkan sudah bau tanah saja terkadang miliknya masih bisa tegak sempurna kalau di suguhkan pemandangan yang menantang jiwa. Apalagi dengan lelaki seusia, Chris yang ibaratnya masih muda dan penuh gairah.
“Tapi gimana? badan kekar dan muka bule elo gak ngejamin cewek jatuh cinta sama lo kalau mereka tau otong lo aja gak bisa bangun.”
Sial! Ucapan Kinanti juga ada benarnya. Bahkan, Chris ingat betul beberapa gadis yang pernah ia sukai, ia ajak untuk naik ke atas ranjang. Sialannya, mereka pergi meninggalkan Chris dengan rasa malu yang amat besar setelah mengetahui milik Chris tidak mau bangun-bangun. Meskipun, mereka sudah melakukan apapun yang biasa membuat milik lelaki bangun.
“Terus gua harus apa, Kin?” Tanya Chris frustasi duduk di sofa rumah bernuansa garden milik Kinanti. “Semua saran, dan obat-obatan yang elo kasih udah gua lakuin dan minum. Tapi tetap aja, adek gua belum juga bangun. Elo tadi nyuruh gua ML kan? Berlusin ada cewek Jakarta pernah gua bayar. Mungkin semua diskotik di Jakarta cewek-ceweknya kenal kali sama gua. Tapi tetap aja adek gua enggak bangun.”
Melihat Chris yang sudah frustasi seperti sekarang, ada rasa kasihan yang menghampiri diri Kinanti. Sebenarnya, ia ingin sekali membantu Chris tapi apalah daya semua usahanya selama ini tidak pernah berhasil menyembunyikan seorang Christian Evans yang mengidap Impoten sejak dua tahun silam akibat pengkhianatan mantan istri dengan adik kandungnya sendiri. Tak hanya terluka dan meninggalkan kelainan impoten dalam dirinya, Chris yang awalnya memiliki sifat penyayang, humble, dan ceria berubah drastis menjadi Chris tanpa hati yang kerap kali menyakiti banyak wanita. Kinanti sebenarnya iba dengan keadaan kacau Chris, terlebih kedua orangtuanya yang begitu membela adik Chris, Giorgino yang jelas-jelas salah karena mengkhianati kakaknya sendiri.
“Nih, baca.” Kinanti memberikan sebuah buku dengan sampul sudah menguning kepada Chris.
“Ini buku novel dari kisah nyata di Singapura. Lelaki impoten setelah dikhianati ketemu sama cewek lugu dan polos tanpa sengaja yang mana ngebuat dia akhirnya kembali turn on.”
Menggelikan! Chris benar-benar tak kuasa menahan tawa ketika mendengar cerita Kinanti. Bagaimana bisa, tabib wanita satu ini memberikan novel absurd seperti ini kepada dirinya? Ah, benar! Mungkin Kinanti sudah saking frustasinya karena tidak juga berhasil menyembuhkan dia.
__ADS_1
“Lo bercanda memberikan gua buku ini?” Dia tak bisa menahan tawanya, dan dengan tanpa sopan santun Chris memperlihatkan deretan gigi putihnya lebar, terkekeh menertawai sikap Kinanti. “Yang benar saja, Kin.” Serunya lagi.
“What happen?” Kinanti nampak bingung dengan balasan Chris yang menjawabnya dengan nada bercanda. Padahal jelas, dia memberikan buku itu tidak hanya sekeder memberi. sebelum memberikan kepada Chris dia bahkan sudah lebih dulu merisetnya. Datang langsung ke Singapura dan bertemu lelaki bernama Dito guna mencari jawaban yang benar tentang dirinya yang memiliki kelainan seperti yang Chris alami.
“Jangan mengada-ngada. Gua sudah cukup gila menerima kenyataan jika gua lelaki anomali. Menjalankan semua ritual dari lo. Tolong jangan tambahkan lagi dengan keinginan lo untuk mendoktrin gua dengan bacaan buku bulshit ini.”
Mulut Kinanti nyaris tercengang dengan alasan menyebalkan bin menjengkelkan yang keluar dari mulut Chris. Ternyata, sialnya lelaki ini tidak mempercayai dirinya. Chris bahkan menyebut buku yang dia berikan adalah sebuah buku bulshit.
Nyaris saja, Kinanti ingin menyemburkan semua luapan yang memenuhi dadanya. Beruntungnya, Kinanti dapat mengontrolnya dengan pelan-pelan berkata kepada Chris,
“Listen to me. I don’t care kalau elo enggak percaya dengan buku ini, dan menganggap buku ini bulshit atau sampah. But, what you have to remember dari buku ini adalah, sekuat apapun lo berusaha sembuh dari penyakit lo, atau sebanyak apapun duit yang elo keluarin buat ngobatin diri lo. Kalau trauma yang ada di hati lo belum bisa elo singkiri dan obatin, jangan pernah berharap penyakit lo bisa sembuh. Lo harus mulai dari sini.” Tangan Kinanti jelas menunjuk ke arah dada Chris. “Hilangin yang di sini, maka yang di bawa pasti bakal bangun.”
Christian tidak menjawab dan justru terdiam menatap nanar ke arah Kinanti. Jelas raut wajahnya yang menegang sudah menjelaskan semua pertanyaan Kinanti yang selama ini belum terjawab. Tentang alasan Chris yang menyembunyikan penyebab dirinya mengidap impoten, atau alasan di balik perceraian dirinya dengan mantan istri, Marcella yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Kinanti sendiri.
Dan Chris malah bangkit dari duduknya. Meninggalkan rumah Kikan begitu saja. Dan sekarang berada di jarak ratusan kilometer, ucapan Kinanti terus menggelayuti pikiran Chris. Chris mendengus kesal sembari berjalan menelusuri lorong hotel dengan perasaan campur aduk dan menghilang di balik pintu kamar hotel 204.
Di tempat yang sama dengan waktu yang jauh lebih mundur sedikit, Gladys Martha datang bersama dengan teman-teman tongkrongannya ke diskotik yang berada dalam satu gedung yang sama dengan hotel di mana Chris berada. Wanita berambut bergelombang, bertubuh mungil hanya kira-kira mempunya tinggi badan 149 cm itu berjalan masuk ke dalam diskotik dengan heels berukuran lima sentimeter. Malam ini, seperti janjinya beberapa minggu yang lalu, dia dan teman-temannya akan merayakan status jomblo mereka dengan berparty tanpa sedikitpun memikirkan masa lalu atau mantan.
Mereka berempat yang terdiri dari, Gladys, Terrence, Cika, dan Dianna membaur menjadi satu dengan lautan manusia yang haus akan kenikmatan surga dunia. Berjoget suka ria membebaskan beban yang sudah sejak lama menggelayut di dada yang begitu terasa berat. Berbotol-botol minuman keras akan menjadi santapan wajib bagi mereka untuk lebih nikmat menghabiskan malam indah ini. Tak peduli akan seberantakan apa mereka nanti, yang penting malam ini mereka bersenang-senang tanpa harus menangis mantan pacar mereka yang telah berkhianat.
“Cheers.”
Suara gelas berdenting saat mereka menjatuhkan, menjadi melodi yang begitu indah yang terdengar di telinga mereka. Dalam sekali tegukan, setelah bersulangan singkat itu minuman keras yang entah sudah botol keberapa mereka teguk.
__ADS_1
Namun, saat mereka masih asik menikmati suasana diskotik, tiba-tiba saja Terrence atau Terre mengumpat keras-keras. Dia kelihatan begitu panik sembari mengacak-acak isi dalam tasnya. Diana yang bingung dan tak mengeti bertanya kepada Terre yang langsung di jawab oleh Terre dengan berkata,
“anjrit, hp gua ketinggian di kamar hotel atas lagi. Sial banget, mana gua gak males banget dan ga bakal mau balik ke atas gara-gara tuh kakek peot genjot gua kaga berhenti-henti lagi.”
“Hah, kok bisa sih beb, tuh hape pake ketinggalan?” Selama mengenal Terre, Cika tahu betul jika Terre adalah seorang yang perfeksionis, dan tidak mungkin meninggalkan barang berharganya di sembarang tempat.
“Yeh, tadikan gua udah ceritain kalau gua kemarin malam dapat pelanggan aki-aki umur 50 tahun keatas. Semalaman gua di genjot gak berhenti-berhenti sampe punya gua ledes semua mau yang atas atau bawah. Udah gitu, tuh aki-aki mainnya ganas banget lagi yang mau gak mau terpaksa tadi gua ngumpet-ngumpet pergi dari kamar dan sekarang gua lupa hape gua ternyata ketinggalan di sana.”
Semua menggelengkan-gelengkan kepala menghadapi tingkah teledor Terre. Wanita bebas yang memiliki kecanduan **** luar biasa itu kerap kali memang mencoba hal baru dalam berhubungan intim, salah satunya bercinta dengan laki-laki jauh di atas usianya. Ketiga sahabatnya itu bahkan sudah tidak heran atau kaget jika wanita kaya seperti Terre bisa melakukan hal seperti itu nyaris setiap hari.
“Terus lo mau gimana?” Tanya Cika yang sudah mabuk.
Terre yang juga sebenarnya sudah mabuk mulai berpikir, tapi entah karena efek mabuknya atau dia benar-benar tidak memiliki cara untuk mengambil ponselnya, maka Terre hanya menggelengkan kepala pasrah.
Karena merasa yang masih waras di antara keempatnya hanya dia seorang, Gladys akhirnya bangkit dari duduk dan mengajukan diri untuk ke atas mengambil ponsel milik Terre.
“Yaudah biar gua aja yang ngambil. Berapa nomor kamarnya?”
“Hah, elo serius mau ambil tuh hape? Gak takut kena genjot tuh aki-aki?” Mata Terre melotot kaget mendengar Gladys yang mau naik ke atas dan menumbalkan diri untuk mengambil ponsel milik Terre yang tertinggal.
Merasa hal itu tidak akan terjadi, dengan percaya dirinya Gladys tetap menyakinkan diri mau ke atas menolong mengambil ponsel Terre yang tertinggal.
“Udah, gak bakal terjadi apa-apa. Udah berapa nomor kamarnya.”
“204.” Serunya dengan nada yakin.
Dan, sialnya setelah mengatakan itu tubuh Terre seketika ambruk bersama dengan Cika dan Diana yang sudah teler duluan. Gladys hanya menghela napas keras, kemudian memanggil seorang keamanan dan memintanya untuk menjaga ketiga teman-temannya selama dia pergi. Setelah itu, Gladys pun keluar dari dalam diskotik naik lift menuju lantai di mana kamar 204 yang Terre bilang berada.
__ADS_1
halo dear ini adalah cuplikan suamiku, CEO impoten yang di daur ulang dari novel ini. maaf sebelumnya cerita arumi dan digo tidak akan berlanjut, tapi tenang akan berlaju cerita Christian dan Gladys di F1zz0 dengan judul Suamiku, CEO Impoten dan nama pena Indigo Sparkle. Tenang kalian tidak akan di suruh top up untuk buka bab atau vote cerita. Cukup dukung cerita ku dengan membaca bab tanpa di skip saja. Terimakasih