Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
EPISODE 49


__ADS_3

Aku akan melupakanmu...


Aku benar-benar berjanji akan melupakanmu...


Hari di mana kita berdiri di hadapan tuhan dan saksi untuk mengikat janji suci kita. Mari kita lupakan sekarang...


Aku harus melupakanmu...


Benar-benar harus melupakanmu...


Kasih sayang yang ku terima di depan api unggun menyalah yang pernah ku dapatkan. Mari kita lupakan sekarang...


Malam di mana aku kesal dengan sikapmu yang tak peka dan tiba-tiba menyatakan cinta...

__ADS_1


Berjalan bersamamu bergandengan tangan di bawah sinar bulan dan suara merdunya deburan ombak laut. Mari kita lupakan sekarang...


Kaki tanpa alas itu berlari kencang masuk ke rumah utama, menabrak beberapa pelayan yang sibuk membereskan rumah. Dia berlari dengan tak terkendali menaiki anak tangga, lalu masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu keras. Airmata cukup deras mengalir di pelupuk Arumi. Rasanya sangat sakit, cintanya dan rasa sukanya bertepuk sebelah tangan.


"Kenapa gua harus sebodoh itu? Mengakui perasaan gua sendiri sama cowok gak punya hati kaya dia. Jelas-jelas gua tau, dia nikahin gua hanya karena ingin menyembuhkan impotennya dan juga memperbaiki keturunan dia. Lo bodoh Rum, bodoh kalau punya rasa sama dia."


Arumi memaki dirinya sendiri. Kenapa dirinya begitu bodoh bisa-bisanya mengungkapkan perasaan kepada lelaki yang jelas-jelas sama sekali tidak mencintainya. Lebih bodohnya lagi, kenapa dia bisa menyukai lelaki itu hanya karena Digo bersikap baik dan romantis kepadanya? Bodoh. Arumi terus memaki dirinya. Hingga tanpa sadar ada seseorang yang mendengar makian Arumi di balik pintu kamar.


Digo, lelaki itu ternyata diam-diam mengejar Arumi masuk ke dalam rumah. Lalu berhenti dan masuk ke dalam kamar langsung karena tak ingin membuat Arumi bertambah marah dan sakit hati. Digo lebih memilih diam-diam mendengar tangisan wanita itu. Dan tanpa di percaya mata Digo berkaca-kaca mendengar ungkapan hati Arumi kepadanya.


Entah mengapa hati Digo merasa sakit sekali mendengar Digo berkata cintanya lebih besar untuk Luna ketimbang cinta Arumi untuk Digo. Rasanya, Digo ingin mengkritik dan meralat ucapan istrinya itu. Di dalam diri Digo, dia juga merasakan ada sesuatu yang tak terima mendengar Arumi berkata demikian. Sesuatu yang Digo sendiri tidak mengerti; mengapa dirinya seperti ini? Mengapa rasanya, dia ingin marah dan tak terima Arumi berkata jika cintanya lebih besar kepada Laluna.


Digo pergi meninggalkan Arumi dengan perasaan tak terimanya, kembali ke pantai dan berteriak seperti orang tidak waras. Ia bahkan mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menendang pasir putih pantai yang bersih seperti belum terjamah oleh manusia manusia yang kerjaan hanya mencemari alam. Hatinya sungguh panas. Panas sekali mendengar Arumi yang berkata dirinya lebih besar mencintai Laluna.

__ADS_1


"Kenapa gua harus marah? Apa yang salah, huh?" Digo berteriak sambil menengadahkan kepalanya menatap langit hitam. "Kenapa gua harus marah saat dengar Arumi bilang gua lebih besar mencintai Luna? Apa benar masih ada rasa gua buat Luna?" Entah siapa yang di ajak bicara di atas langit sana, Digo masih terus berteriak sambil mencari sesuatu di sana dan menunggu jawaban.


Sementara di dalam kamar, Arumi menghapus air matanya dengan kasar. Membuang tisu terakhir dalam kotak yang telah habis ia buang-buang untuk menghapus air matanya yang tak seberapa itu ke bawah lantai kamar sembarang arah. Arumi bangkit dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Dia berdiri tepat di depan cermin wastafel dan mulai membersihkan make-upnya yang luntur karena terkena tangis.


Sambil membersihkan sisa make-up, Arumi berkaca memperhatikan wajahnya dengan mata sembab dan merah.


"Lo kuat." Menepuk-nepuk pipinya. "Bagaimana pun Digo suami lo. Lo harus yakini dia kalau wanita terbaik cuma lo. Buat dia mencintai lo bukan wanita lain apalagi mantan bininya. Lo cantik, lo lebih cantik dan lebih segala-galanya dari Luna. Jangan takut kalah jangan takut minder. Lo harus bisa buat Digo jatuh cinta sama lo gimana pun caranya."


Arumi terus menyemangati dirinya sendiri. Berusaha menyakinkan diri dan bertekad untuk mengambil hati suaminya. Pokoknya, dia harus merebut cinta Digo untuk Laluna. Dan untuk melakukan itu, Arumi mulai memutar otaknya, mencari cara agar Digo memiliki rasa kepadanya dan melupakan Laluna.


Arumi sekarang adalah misi mendapatkan cinta Digo. Gua tarik omongan gua kemarin yang gak sudi punya suami Impoten. Pokoknya gua bakal bahagiain suami Impoten gua dan buat dia jatuh cinta sama gua. Gimana pun dan apapun caranya. Mangat Rumi.


Sambil mengangkat satu tangannya dengan gaya memperlihatkan otot lengan Arumi bersemangat dan bertekad untuk menjalankan misi membuat Digo jatuh hati kepadanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2