
Kepalanya kembali menoleh kearah Arumi yang asik nonton serial barat kesukaannya. Tubuh Digo semakin memanas, terlebih melihat belahan dada Arumi yang menyembul di balik gaun santainya. Pikiran kotor ala lelaki dewasa mulai menghinggapi diri Digo. Ia benar-benar tak tahan, dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.
Arumi tersentak kaget melihat Digo yang berlari tiba-tiba ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu seperti subuh tadi. Wanita itu langsung bangkit dan menghampiri kamar mandi untuk mengecek kondisi sang suami.
Di ketuknya pintu kamar mandi tersebut berlahan sembari telinganya menempel di daun pintu untuk mendengar apa yang terjadi di dalam sana.
"Digo, kamu kenapa?"
"A–aku gapapa, Akh..."
Mendengar suami yang mengerang seperti orang ke sakitan tentu membuat Arumi tidak percaya akan ucapan Digo barusan.
"Digo jangan bohong. Kamu kenapa? Kamu sakit?"
"Aku gak apa-apa." Nada suara Digo tertahan dan terbata-bata.
Dor... Dor... Dor...
Tak puas dengan ucapan Digo yang mengatakan dirinya tidak apa-apa terus padahal dari nada suaranya sudah jelas dirinya menahan sakit Arumi menggedor pintu kamar mandi begitu keras.
"Cepatan keluar, Digo. Kalau kamu gak mau cerita ada apa sama diri kamu, aku bakal bongkar alasan di balik pernikahan kita sama orangtua kamu."
Ceklek...
Pintu kamar mandi seketika terbuka. Digo muncul dengan tubuh yang sudah telanjang sementara celananya basah entah karena apa. Melihat keadaan suaminya, Arumi menaik turunkan alisnya bingung.
"Jangan katakan itu. Papi bisa shock dan jantungnya pasti kumat." Seru Digo. Nada bicaranya sudah terdengar lebih tenang dari sebelumnya.
Arumi tak menjawab, wanita itu malah ngeloyor begitu saja kembali duduk di sofa yang di ikuti Digo bagai sebuah hipnotis.
Sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, Arumi bertanya. "Jadi sebenarnya kamu kenapa?"
Kepala Digo tertunduk. Ia terlalu malu mengungkapkan kepada Arumi jika dirinya tak bisa tahan lama di atas ranjang. Juga tentang dirinya yang salah minum obat memberian Gendis tadi pagi.
"Jawab aku, Digo!!."
Digo menarik napas panjangnya. "Sebenarnya aku–aku punya masalah baru, Rum."
__ADS_1
"Masalah baru? Maksudnya?"
"Aku–Aku gak kuat lama di atas ranjang. Punya aku gak bisa main lama di ranjang."
Terdengar suara kekehan dari mulut Arumi. Digo mendongakkan kepala, menegakkan tubuh menatap Arumi lekat. Istinya itu benar-benar menertawainya.
"Kamu tertawa?"
Arumi segera menahan tawanya. Tetapi sedetik kemudian wanita itu kembali terkekeh.
"Maaf. Aku bukan bermaksud. Tapi kamu benar-benar lucu."
"Lucu kata kamu?" Digo tak habis pikir darimana letak kelucuan masalah pada dirinya hingga membuat Arumi terkekeh seperti itu.
Hening tercipta sejenak. Arumi merubah posisinya menghadap ke arah Digo. Di raihnya tangan sang suami lalu di gengamnya kuat. Ada sebuah sengatan yang di rasakan Digo kala Arumi menggenggam tangannya. Juga kehangatan yang pernah ia rasakan dahulu, ketika masih bersama Laluna.
"Dengerin aku. Jangan pernah lagi nyembunyiin sesuatu dari aku lagi, terlebih itu mengenai diri kamu. Aku ini istri kamu, Digo. Sudah sepatutnya kamu cerita sama aku, biar kita bisa mencari jalan keluarnya berdua. Bukan kamu malah nutup-nutupin dari aku dan memikulnya sendiri. Tugas aku bukan hanya dampingin dan cintai aku seumur hidup aku, tapi merasakan juga apa yang kamu rasakan. Kita harus sama-sama terbuka meskipun itu memalukan ataupun menyakitkan jujur itu jalan terbaik."
Hati Digo terhenyak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Arumi. Dia tidak menyangka, wanita di depannya bisa bersikap sedewasa ini juga.
"Maaf, kalau aku buat salah."
Ada rasa bahagia yang menyelimuti diri Digo. Meskipun dirinya belum memiliki rasa kepada Arumi, tetapi tak dapat ia tampik kata-kata manis Arumi membuat dirinya jauh merasa tenang menghadapi permasalahan yang ada.
"Terimakasih, Rumi." Gumam Digo menatap lekat dan berkaca-kaca mata Arumi.
Kepala Arumi mengangguk. Dia kemudian melepaskan tautan tangannya, lalu memeluk sang suami erat sambil membelai lembut dan mesra rambut halus sang suami.
"Terus kamu kenapa tiba-tiba lari ke dalam kamar mandi? Jangan bilang kamu ereksi hanya karena gesekan aja?" Tiba-tiba Arumi berbisik di telinga Digo.
Mata Digo melotot, dia reflek langsung melepaskan pelukan mereka. Kembali menundukkan kepala menahan malu, jika dirinya baru saja salah minum obat.
Dengan seksama, Arumi menelisik wajah tampan yang di tumbuhi bulu halus di sekita dagu milik Digo. Dia kembali menangkap gurat ketidakberesan dari wajah sang suami. Kembali Arumi menyilangkan kedua tangan di dada, berdehem tak sabar menunggu jawaban dari Digo.
"Jadi kenapa?"
"Hmmm... Kalau itu, karena aku salah minum obat." Jelasnya.
__ADS_1
Kening Arumi mengeryit tidak mengerti. Salah minum obat bagaimana? Pikirnya dalam hati.
"Maksudnya?"
"Gini," Digo mulai bercerita. "Kemarin subuh setelah aku tiba-tiba lari gitu aja tanpa menyelesaikan permainan kita aku hubungin Gendis."
"Terus?"
"Nah paginya Gendis nyamperin aku ke hotel, aku cerita semuanya ke dia kalau aku gak tahan kuat di atas ranjang. Dia kasih saran kalau aku suruh terapi sendiri buat melatih milik aku supaya bisa kuat dan tahan lama di ranjang. Tapi aku gak puas dan pengennya instan, dan Gendis akhirnya ngasih aku obat kuat gitu. Tapi aku malah salah minum obat."
Arumi semakin bingung di buatnya.
"Kok bisa salah minum obat? Kamu emang minta berapa obat sama dia?"
"Jadi, aku gak cuma minta obat buat aku, tapi juga buat kamu."
Mata Arumi membeliak hampir copot mendengar penuturan Digo.
"Lah kok buat aku? Gimana ceritanya."
Digo terdiam sesaat. Dirinya tak yakin akan melanjutkan ucapannya. Takut-takut penjelasannya nanti malah membuat Arumi salah paham. Dia pun mulai berpikir keras mencari solusi untuk tetap berkata jujur, tetapi tidak membuat Arumi merasa tersinggung ataupun salah paham.
"Jadi gini,"
Arumi menyelipkan rambutnya dan memasang telinga fokus mendengarkan penjelasan Digo.
"Kamu tau kan aku lelaki dewasa yang udah lama banget gak merasakan ****?"
Kepala Arumi mengangguk.
"Aku pengen menuntaskan hasrat yang sudah lama terpendam dalam diri aku lewat permainan panas kita. Maka dari itu, aku minta obat perangs*ng sama Gendis supaya kamu bisa bermain lebih panas lagi dari normalnya."
Sedikit tercengang Arumi di buatnya. Tetapi buru-buru, dia mengenyahkan pikiran dan memaklumi keinginan terpendam Digo. Dia memaklumi jika bertahun-tahun lama Digo tidak lagi dapat merasakan nikmatnya bercinta. Otaknya pasti sudah sangat lama menyimpan kepingan-kepingan adegan liar dan panas ketikan dirinya sembuh dari kelainan impoten. Menuntaskan permainan panasnya dengan penuh kenikmatan yang selama ini begitu sulit ia rasakan.
"Aku ngerti kok, keadaan kamu. Kamu gak perlu malu, atau takut cerita sama aku. Aku janji akan belajar menjadi istri yang baik buat kamu. Berusaha jadi yang sempurna di dalam maupun di luar kamar."
Digo tersenyum, tangannya terangkat lalu mengelus pipi Arumi penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
****