
Digo yang merasa dirinya di tatap oleh Arumi dengan tatapan sinis, ikut menolehkan kepala. Dia menekan bibirnya dan berkata dengan bisik-bisik kenapa Arumi menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat seperti itu?
Pengacara Digo berdehem, membuat keduanya seketika menoleh kembali lurus ke depan sambil memaksa untuk tersenyum. Mengambil kesmpatan dalam kesempitan ketika lelaki paruh baya itu mengambil sesuatu dari dalam tas jinjing miliknya, Kepala Arumi condong mendekati telinga Digo.
"Lo bilang surat pranikah kita isinya cuma daftar keinginan kita yang harus di taati pasangan masing-masing. Lah terus ini apaan bambang? Lo mau tipu gue, huh?"
"He, Jubaedah itu surat isinya tentang pembagian harta gue kalau lo hamil anak gue dan kita ada masalah sampe memutuskan untuk bercerai, paham paijem?"
Arumi mendengus keras kearah Digo. Kemudian memposisikan duduknya bersiap mendengarkan isi surat pranikah yang tertulis di sana.
"Bagaimana kalian siap mendengarkan isi surat ini?"
"Siap." Jawab serentak keduanya secara bersamaan.
"Pihak pertama yaitu Tuan Digo Uparengga dan Pihak Kedua yaitu Nona yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Arumi Maharani dengan ini sepakat tidak akan mempermasalahkan segala jenis harta apapun jika kalau sewaktu-waktu keduanya memutuskan untuk berpisah."
Arumi menghela napas di sebelah Digo.
"Ada pula pembagian harta pribadi tuan Digo Uparengga akan sepenuhnya diberikan sebanyak delapan puluh persen dari perusahaan kelapa sawit milik keluarganya kepada Nona yang sebentar lagi menjadi Nyonya Arumi Maharani jika dia dapat menyembuhkan kelainan impoten yang selama ini Tuan Digo derita. Juga jika dalam pernikahan terlahir seorang anak sepenuhnya harta milik keluarga Uparengga akan jatuh ke tangan sang anak. Minimal usia 19 tahun. Surat ini di buat dan di setujui oleh kedua pihak dalam kondisi sadar."
Arumi terperangah mendengar isi dalam surat pranikah itu. Dia tak menyangka jika isi dalam surat itu malah terdengar seperti surat wasiat yang di buat oleh Digo sebelum dia nanti mati.
"Nona Arumi, kau baik-baik saja?" Melihat Arumi yang hanya diam terperangah tak bergerak di tempat dengan mulut sedikit terbuka, membuat pengacara Digo khawatir jika wanita itu kesambet setan Belanda.
"Hey, lo gapapa, kan?" Digo menyenggol lengan Arumi, seketika membuat Arumi tersadar dari lamunannya.
"Eh, maaf." Berkali-kali Arumi mengangguk-anggukan kepala meminta maaf. "Saya melamun tadi."
"Lo kenapa? Sakit?" tanya Digo.
"Enggak, gue cuma kaget aja lo mau kasih 80 persen harta lo sama gue."
"Oh cuma perkebunan kelapa sawit aja. Gak masalah kok, itu cukup kan dari gue buat lo sebagai tanda terimakasih kalau lo benar-benar bisa buat gue sembuh?"
"Itu lebih dari cukup, kok."
"Baik. Apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya lelaki paruh baya kepada Arumi.
Kepala Arumi menggeleng. Cepat-cepat menuang air ke dalam gelas dan menenggaknya hingga tandas.
__ADS_1
"Tidak. Silahkan lanjutkan."
"Baik, jika tidak ada pertanyaan saya akan membacakan surat pranikah yang kedua. Yaitu permintaan dari kedua calon pengantin. Di mulai dari tuan Digo Uparengga." Lelaki paruh baya itu mengambil satu kertas yang tadi dia sematkan di ujung meja.
"Kalian siap?"
"Siap."
"Pertama ini adalah peraturan yang tidak boleh di langgar oleh nona Arumi selama menjadi istrinya. Yang pertama, tidak boleh keluar rumah di atas pukul sembilan malam. Tidak boleh merokok, minum alkohol apalagi hingga mabuk. Nurut perintah suami, tidak boleh melanggar jika tidak akan ada konsekuensinya."
Bibir atas Arumi terangkat menatap Digo. Apa-apaan sih, nih laki? Mau jadi laki posesif apa over protektif ama gue?
"Selanjutnya, nona Arumi harus bisa memasak makanan yang di sukai oleh tuan Digo karena selama menikah tidak ada yang boleh memasak makanan untuk tuan Digo selain nona Arumi."
Arumi masih bersabar dan memaklumi, karena memang kodratnya seorang istri adalah melayani suami. Contohnya memasak.
Namun, tiba-tiba pengacara pribadi Digo menghentikan ucapannya. Seperti menimbang-nimbang ingin mengatakan itu kepada Arumi.
"Apa sudah selesai?" Penasaran Arumi bertanya.
"Ini terlalu sensitif apa saya juga perlu membacakannya?" Pertanyaan itu di tunjukkan kepada Digo.
Digo yang sedaritadi duduk dengan memasang wajah sedatar-datarnya dengan santai menjawab
Berat, dan sambil menahan malu, Pengacara pribadi Digo pun melanjutkan.
"Keempat, selama tidur bersama tuan Digo nona Arumi tidak di perbolehkah menggunakan dalaman jenis apapun."
Mata Arumi mendelik. Sekali kibasan, Digo sudah nyaris terjungkal karena pukulan Arumi yang begitu kuat.
"Kau gila ya? Kau itu bukan lelaki impoten, tapi penjahat kelam... ihhhh."
Digo tiba-tiba saja membekap mulut Arumi. Memandangi semua pengunjung restoran yang secara serentak menatap mereka bertiga dengan wajah binggung. Untuk mereka tidak mengerti dengan bahasa yang Arumi katakan. Jika mengerti mati sudah. Berita tentangnya yang mengidap kelainan impoten akan segera tersebar.
"Lo bisa diam gak, sih? Kenapa harus bicara keras seperti itu? Untung kita berada di Belanda kalau di Indonesia bagaimana? Mau di taro di mana muka gue?"
Bruk...
"Akh, sial." Digo memekik, melepaskan bekapannya dari mulut Arumi ketika tiba-tiba saja Arumi menginjak kakinya dengan sangat keras.
__ADS_1
"Lo benar-benar gak waras asli. Masa gue tidur gak boleh pake dalamen. Kalau gue masuk angin gimana, Digo?"
"Tinggal kerokin."
"DIGO!"
Digo terkekeh dengan kepolosan Arumi. Kali ini, dia percaya jika gadis yang akan dia nikahi benar-benar seratus persen virgin. Bahkan untuk urusan seperti itu saja, pikiran Arumi masih begitu suci dan gak traveling ke mana-mana.
"Terus apa lagi? Apa ada hal yang lebih gila selain tidur gak pake daleman?"
"Ada nona." Pengacara pribadi Digo menjawab dengan lugas.
Sialan, Digo. Benar-benar cowok mesum. Awas aja gue bakal bales lo.
"Nona harus melayani tuan Digo termasuk memandikan dia."
"WHAT? Loe kira gue nikah ama orok kali, ya?"
Disebelah, Digo tak dapat lagi menahan tawanya. Dia menyembur, tergelak hingga nyaris ngompol melihat ekspresi Arumi yang begitu lucu.
"Anggap aja simulasi lo sebelum punya baby."
"Ya kali, gue ngelahirin bayi segede gini." Arumi berdecak kesal sambil bersedekap.
"Apa lagi, apa lagi?" Mengibas-ngibaskan tangan kepada pengacara pribadi Digo untuk meneruskan membacakan surat pranikah.
"Selebihnya hanya hal-hal dasar yang normal di minta suami kepada istri."
Pengacara pribadi Digo memberikan kertas yang ia pegang kepada Arumi, agar arumi dapat membaca dan mengingatnya.
Selanjutnya giliran kertas milik Arumi yang di ambil. Digo sudah bersiap memasang kuping mendengar isi permintaan Arumi kepadanya.
"Baik sekarang milik nona Arumi. Tuan Digo tolong dengarkan permintaan calon istri anda kepada anda."
"Oke."
"Pertama nona Arumi meminta tuan Digo untuk setia. Meskipun pernikahan ini karena bisnis, tapi nona Arumi memiliki prinsip untuk menikah sekali seumur hidup. Kedua jangan kasar, mengekang, dan bersikap manis meskipun hanya belum ada cinta di hati tuan Digo."
Arumi hanya menunduk malu ketika pengacara membacakan isi permintaannya kepada Digo. Digo yang duduk di sebelah Arumi tertegun. Tak menyangka jika gadis itu akan benar-benar menulis mengunakan hatinya.
__ADS_1
"Tolong sayangin keluarga nona Arumi seperti anda menyayangi keluarga Anda. Lupakan masalah lalu anda bersama mantan istri anda, dan memulai lembaran yang baru bersama dengannya. Satu lagi ada tambahan di sini, nona Arumi ingin anda menjadi suami terbaik seperti ayah nona Arumi.
****