Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Menjadi tontonan


__ADS_3

Jangan lupa vote sebelum membaca agar author semangat updatenya.


***


Sorot mata Arumi masih terus menelisik keduanya. Khususnya wanita paru baya berpenampilan nyentrik bernama Gendis itu. Arumi yakin betul, jika kemarin sewaktu mereka melangsungkan pernikahan tak ada wanita bernama Gendis yang datang ke acara mereka.


"Mami juga dapat cerita dari teman-teman arisan Mami, kalau Digo dekat dengan Gendis tepat ketika bisnis klinik Gendis down. Mungkin Digo ngebantu finansial Gendis lagi sampe akhirnya mereka dekat seperti itu."


Telinga Arumi dengan seksama mendengarkan ucapan sang mertua. Jika apa yang dikatakan ibu mertuanya benar Digo membantu perekonomian Gendis saat wanita paruh baya itu sedang jatuh betapa bangganya Arumi memiliki suami seperti Digo.


"Gak usah khawatir, Digo gak sama Gendis gak punya hubungan apa-apa selain teman kok." Kata Ibu mertua seperti tau apa yang ada di dalam benak Arumi.


Pipi Arumi memerah, kepalanya menunduk menahan malu. Masa iya dia cemburu kepada Digo yang hanya dekat dengan wanita lain apalagi wanita itu wanita paruh baya yang usianya hampir sama dengan sang mama atau ibu mertuanya. Tanpa sadar, Arumi tersenyum. Mengerutuki dirinya sendiri akan kebodohannya berpikir macam-macam tentang sang suami.


Saat sarapan telah usai, mertuanya menjadi orang pertama yang pamit ke kamar untuk packing barang karena sore nanti mereka semua akan kembali ke ibukota. Di susul oleh Steve dan Laluna yang sebelumnya mengucapkan permintaan maaf karena tak bisa hadir di acara pernikahan Arumi dengan Digo karena alasan sakit. Meskipun Arumi tak memercayai alasan konyol Laluna, dirinya tak mampu berbuat apa-apa. Toh kalaupun dia mengjudge Laluna hanya akan menimbulkan masalah baru yang membuat mereka makin menjauh dan tidak akur sebagai sesama ipar.


Selepas peninggalan keluarga sang suami, Arumi bangkir dari duduknya dan berjalan mendekati Digo dan Gendis. Dari jarak tak terlalu jauh, Gendis yang menangkap kedatangan Arumi melambaikan tangan sambil tersenyum menyapa. Dengan hangat, Arumi membalas sapaan Gendis dengan anggukan kepala dan sebuah senyuman kecil, sebelum kemudian ia mencapai kursi di mana mereka duduk dan menarik salah satu kursi yang berada tepat di samping Digo.


"Jadi ini bini, lo?" Tiba-tiba Gendis bersuara. Wanita dengan kaftan hitam yang berenda di bagian bawahnya serta ikat kepala ala suku perdalaman itu bahkan melirik Arumi dengan wajah mengejek Digo. "Pinter juga lo nyari bini. Cakep." Dia mengacungkan kedua jempolnya kearah Digo lalu terkekeh.


Mata Arumi tak dapat di bohongi. Ia merasa tersanjung ketika Gendis secara tidak langsung memujinya. Sementara Digo, hanya mengusap wajahnya kasar lalu meraih secangkir kopi yang tersedia di atas meja dan menyeruputnya.


Kerutan hitam di bawah mata Digo tertangkap jelas oleh Arumi. Arumi menyakini jika lelaki itu belum tidur sedari semalam. Atau mungkin dua hari yang lalu. Wajahnya juga nampak berantakan, semrawut seperti orang tidak mandi selama beberapa hari.


"Kamu sakit?" tanya Arumi memastikan keadaan Digo.


Kepala Digo menoleh menatap Arumi beberapa detik sebelum kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Gendis dan memainkan alisnya.


Beberapa saat pandangan mata Digo bertemu dengan Gendis. Alisnya turun naik seperti sedang berbicara, namun menggunakan bahasa isyarat. Bodohnya, Arumi tak menyadari hal itu. Wanita itu justru menepuk punggung suami yang mengakibatkan Digo tersentak kaget hingga dengkulnya tak sengaja terbentur bawa meja.

__ADS_1


"Kamu baik-baik aja, kan Digo?" tanya Arumi kembali.


"Hah... Ya, aku baik-baik aja, kok."


Kening Arumi mengeryit seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Digo. Tapi baru saja, Arumi ingin bertanya kembali Gendis sudah terlebih dahulu menyelak dengan mengulurkan tangan kepada Arumi sambil mengenalkan diri.


"Hai, saya Gendis. Maaf kemarin gak bisa dapat ke acara kalian karena berhalangan."


Mau tak mau, Arumi melupakan rasa curiganya terhadap Digo dan meraih uluran tangan Gendis serta menjabatnya.


"Ia gapapa kok. Aku Arumi, panggil aja Rumi."


Ada sedikit kecanggungan pada diri Arumi saat berjabat tangan dengan wanita itu. Terlebih saat Gendis menelisik wajah Arumi. Mencengkram jabatan tangan mereka terus sambil menatap nanar mata Arumi.


"Cantik banget." Seru Gendis membuat Arumi reflek melepaskan tangan dan kembali menyunggingkan senyum canggung.


"Saya ini temen permainan Digo." Gendis mulai bercerita dengan kedua jari telunjuk yang saling di tempelkan. "Udah klop banget. Jadi jangan cemburu ya kalau ngeliat saya ngobrol lama sama dia. Karena nih laki butuh orang buat nemuin jalan lurus hidupnya."


"Ya, kan lo sendiri yang bilang ama gue waktu datang ke klinik gue. Gimana sih, lo?"


Rasa cemburu dan ketakutan Arumi semakin menghilang saat Gendis berkata demikian. Ia semakin yakin, jika Gendis adalah salah satu orang yang di percaya Digo dapat menyembuhkan kelainannya.


"Kata mami, Buk Gendis buka praktek buat nyembuhin kelainan s*ksual gitu, ya?"


Gendis menjentikkan tangannya tiba-tiba membuat Arumi sedikit terkejut dibuatnya.


"Betul sekali. Lo mau mampir? nanti saya kasih ramuan buat bikin Digo gak mau keluar dari rumah."


"Boleh. Dimana alamatnya? Nanti kalau ada waktu aku mau mampir deh. Siapa tau berguna." Tanpa basa basi Arumi langsung menyetujui ajakan Gendis.

__ADS_1


Digo yang berada di sebelah Arumi menyenggol tangan sang istri. Matanya mendelik ke arah Gendis yang hanya di balas oleh Gendis dengan kekehan kecil.


"Eh, Digo gue bilang juga apa."


"Diem lo. Jangan deket-deket Arumi, lo bisa ngerusak otak polosnya." Kemudian Digo bangkit dari duduknya dan meraih tangan Arumi. "Gue cabut. Mau packing barang."


Sambil melambaikan tangan Gendis mengamini. "Iya–iya udah sana, jangan lupa kalau mau main kudu ikutin saran gue. Biar pas lagi enak-enaknya gak di cabut lagi."


Arumi hanya melongok. Tak mengerti dengan perkataan Gendis. Tetapi otak dewasa meyakini jika perkataan Gendis ada hubungannya dengan sikap aneh Digo subuh tadi. Terlebih Gendis yang menekankan kata "gak di cabut lagi."


Belum sempat Arumi berpamitan kepada Gendis, Digo sudah menarik tangan Arumi dan membawa gadis itu keluar dari restoran. Arumi terus di tarik seperti seorang anak kecil oleh Digo hingga mencapai lobi hotel.


"Digo sakit." Protes Arumi yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Digo.


Mereka pun berhenti tepat di depan lift dan Digo langsung melepaskan cengkraman tangannya.


"Jangan dekat-dekat dengan Gendis." Seru Digo tanpa mau sedikitpun melirik atau menatap Arumi.


"Kenapa? Seperti dia baik."


"Baik darimananya? Dia itu cewek mesum yang isi otaknya cuma adegan anu-anu." Tiba-tiba Digo menghadap kearah Arumi dan berkata dengan berteriak yang sukses mengundang beberapa pengunjung hotel memperhatikan mereka.


Digo menjadi salah tingkah. Dan begitupun dengan Arumi. Keduanya langsung menundukkan kepala, berlahan memutar tubuh memunggungi para pengunjung hotel yang menatap mereka dengan tatapan berbeda-beda.


"Bisa gak sih, kalau ngomong jangan pake toa masjid? Malu tau." Bisik Arumi tak bisa menutupi rasa malu akibat ulah sang suami.


"Udah cepet masuk lift. Daripada kita disini jadi tontonan banyak orang."


Mereka pun berlahan berjalan masuk ke dalam lift dengan menautkan kedua tangan mereka. Sedang tangan satu lagi di manfaatkan untuk menutupi wajah mereka agar tidak kelihatan oleh para pengunjung hotel meskipun itu sia-sia.

__ADS_1


****


__ADS_2