
Mata Arumi terpejam, pasrah dengan apa saja yang Digo lakukan kepadanya. Tak ada sedikitpun penolakan dari gadis itu. Malam ini Arumi benar-benar akan menyerahkan harta yang paling berharga miliknya kepada lelaki yang kini telah sah menjadi persinggahan seumur hidupnya.
Kancing piyama polkadot itu sudah sepenuhnya terbuka. Arumi mendesah ketika Digo mulai menjelajahi tengkuk lehernya, sementara tangannya sudah bermain di dadanya. Sesekali lelaki itu memberikan tanda kepemilikan di beberapa titik tubuh Arumi.
Setelah puas menjelajahi leher gadis itu, Digo kembali mencium bibir Arumi. Ciuman kali ini terasa begitu basah untuk Digo. Maklum ini adalah kali pertama Arumi melakukan hal seperti ini. Masih dengan ciuman yang sudah berubah menjadi cumbuan, Digo menggendong tubuh Arumi, meniduri di atas ranjang dengan posisi gadis itu di bawah tubuhnya. Digo benar-benar ingin mendominasi malam ini. Sudah sangat lama sekali, dia tidak merasakan malam panjang yang begitu panas dan liar. Dirinya bahkan begitu rakus menciumi bibir Arumi dengan tangan yang terus aktif menjelajahi dada milik Arumi yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
"Sshhh." Arumi mendesah merasakan sensasi luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan ketika Digo memilin-milin put*ngnya.
Tangan satunya sibuk menggerayangi dada Arumi, tak tinggal diam tangan satunya dengan cekatan dan cepat membuka kaitan bra yang menutupi dada Arumi. Tak butuh waktu lama hanya seperkian detik, kaitan bra yang menutupi dada gadis itu terlepas. Arumi menyudahi ciumannya, menggigit bibir bawahnya sambil matanya melirik ke arah tubuhnya yang sudah polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"Lo boleh teriak sekencang mungkin. Karena akan sakit banget. Tapi itu gak akan lama, karena setelah itu sakit lo bakal berubah jadi enak."
Gadis itu malu-malu menganggukkan kepala. Menyembunyikan wajahnya yang merah merona di balik dada bidang milik Digo yang masih tertutup kaos putih polos.
Digo melanjutkan aksinya. Tangan kanannya berlahan turun ke pinggul Arumi lalu sel*ngkangan gadis itu dan merambat kebawah, menelusup masuk ke dalaman Arumi dan mulai memainkan **** *************. Digo memainkan jarinya di bawahnya sana, sambil terus memerhatikan raut wajah Arumi yang merem melek keenakan sesekali mengeluarkan desahan secara spontan.
Di akui oleh Digo, milik Arumi begitu sempit dan kering. Kini lelaki itu baru percaya jika benar nyatanya sang istri seratus persen masih perawan ting-ting. Ada sedikit keraguan dalam diri Digo untuk melanjutkan aktivitas panas mereka yang baru saja di mulai. Tetapi setan dalam dirinya berhasil menguatkan Digo untuk terus melanjutkan manakala lelaki itu mendengar desahan yang keluar dari mulut Arumi yang baginya terdengar begitu seksi.
"Akh, Digo." Satu tangan Digo keluar masuk di inti milik Arumi. Mendengar desahan yang keluar dari mulut Arumi yang terus menerus, dan inti milik istrinya yang mulai basah membuat Digo merasakan sesuatu yang mulai bergerak dan berlahan bangun dari miliknya sendiri.
Dia tersenyum, mengecup kening Arumi dengan tangan yang belum berhenti mengocok inti milik Arumi.
"Digo akh, akh, akh." Suami begitu jago memainkan miliknya, hingga rasanya Arumi ingin melayang merasakan intinya yang terus di kocok tanpa henti oleh Digo.
Dan saat Arumi ingin meledak, tiba-tiba Digo menghentikan aksinya. Mata Arumi mengerjap melihat Digo yang berdiri di hadapannya dan mulai membuka satu persatu kain yang melekat pada tubuhnya.
Ada debaran yang begitu keras di dadanya kala menyaksikan Digo melepaskan pakaiannya tepat di depan mata kepalanya sendiri. Terlebih ketika Digo mulai membuka kancing celana, reflek Arumi menolehkan kepalanya agar tidak melihat kejantanan Digo.
__ADS_1
"Lo harus liat." Suara serak Digo membuat jantung Arumi semakin berdebar. Tak mungkin dirinya berani melihat tubuh polos sang suami tanpa sehelai benang pun. Terlebih Digo yang menyuruhnya melihat dirinya. Tentu akan Arumi tolak mentah-mentah karena dirinya yang begitu malu.
Dengan lembut pun, Digo meraih tangan Arumi. Menyentuh kedua pipi sang istri agar mau menatapnya. Digo tersenyum, airmatanya sedikit menetes. Lelaki itu dengan penuh kasih sayang mencium kening Arumi lama seraya berkata.
"Kamu benar-benar obat aku. Kamu berhasil menyembuhkan kelainan impoten yang selama ini aku derita."
Mendengar penuturan sang suami Arumi langsung bangkit dari tidur. Tak memperdulikan keadaanya yang setengah telanjang. Dia memberanikan diri untuk menatap tubuh polos sang suami.
Di lihatnya dari atas, wajah tampannya, mata abu-abunya yang seakan ikut tersenyum kala bibir itu menyunggingkan senyuman indah kepada Arumi. Tubuhnya yang tegap berotot dengan perut dan dada kotak kotak atau biasa anak jaman sekarang bilang "Roti sobek". Berlahan turun ke bawah ke perutnya yang sedikit di tumbuhi bulu halus di bagian pusat, turun terus hingga matanya tertuju kepada satu titik. Tepat di mana kejantanan Digo yang sudah berdiri memanjang dan begitu keras. Arumi mengerjapkan matanya cepat.
Mata gue... Mata gue... Akhh!
Tangan Digo meraih kedua bahu Arumi, dengan penuh kelembutan lelaki itu kembali menidurkan Arumi berlahan. Pandangan mereka saling bertemu, Digo tanpa henti menyunggingkan senyum dengan mata yang mengeluarkan tangis bahagia.
"Lo... Lo sembuh?" tanya Arumi polos.
Kepala Digo mengangguk. Kemudian Arumi berdecak, lalu mereka pun tertawa bersama sambil tiba-tiba Arumi memeluk tubuh Digo erat. Membiarkan lelaki itu menidihi tubuhnya. Arumi bahagia, tugas utamanya menjadi istri Digo berhasil dengan mudah bahkan di malam pertamanya menyandang nyonya Uparengga.
"Gue bahagia lo sembuh. Masa depan lo kembali. Lo bisa punya anak Digo. Kita bisa punya anak." Arumi kegirangan berceloteh penuh syukur memeluk sang suami, meskipun tanpa di sadari dia berharap memiliki anak dari Digo.
"Kamu mau anak?" Bisik Digo tepat di telinga Arumi. Membuat Arumi seketika melepaskan pelukannya dan menatap lekat Digo.
"Kita buat sekarang, yuk?"
Malu-malu tapi Digo menangkap anggukkan kecil Arumi yang bertanda sang istri setuju. Tanpa buang-buang waktu pun, Digo langsung bangkit berdiri. Melebarkan kedua kaki Arumi dan mulai membasahi kejantanan juga milik Arumi dengan pelumas.
Arumi menggigit bibir bawahnya, ketika Digo mulai mendekati kejantanan ke milik Arumi. Gadis itu memejamkan matanya, kedua tangannya mencengkram sprei kala Digo mulai berusaha memasukkan kejantanan ke dalam intinya.
__ADS_1
"Uhmmm Digo."
Rasanya begitu sulit untuk Digo menyatuhkan penyatuan mereka. Mengingat Arumi yang masih perawan. Namun dengan sabar dan penuh kelembutan tak ingin membuat Arumi merasakan sakit, Digo terus menekan kejantanan masuk ke dalam inti milik Arumi.
"Digo sakit." Arumi mulai meringis, menggigit bibir bawahnya dan mencengkram sprei kuat-kuat. Alisnya mengerut menahan perih luar di intinya akibatnya di masuki milik Digo yang besar dan panjang.
Tak tega melihat Arumi yang kesakitan, Digo mengecup bibir Arumi. Membuat sedikit rasa perihnya menghilang. Sambil terus mengecup, Digo tetap berusaha memasukkan sepenuhnya kejantanan miliknya ke dalam inti milik Arumi. Hingga akhirnya.
Jlep....
"Akh..." Digo mendesah ketika akhirnya penyatuan mereka berakhir. Sengaja Digo mendiamkan dulu miliknya menunggu rasa sakit dan perih Arumi menghilang.
"Masih sakit?" tanya Digo kepada Arumi sambil mengelus rambut istrinya lembut.
"Enggak." Kepala Arumi menggeleng.
Setelah itu Digo mulai memaju mundurkan tubuhnya. Tangan Arumi terangkat, dia membekap mulutnya sendiri untuk meredam desahan yang pasti akan keluar dari mulutnya. Matanya merem melek, jantungnya terus berdebar begitu keras.
"Akh! Akh! Akh!" Meskipun sudah di bekap dengan tangannya sendiri, desahan kenikmatan tetap saja lolos dari mulut Arumi. Wanita itu tidak mampu menutupi rasa nikmat luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan.
"Digo... Akh!" Arumi tak dapat menyelesaikan ucapannya.
Digo terus menggejot Arumi sementara kedua tangannya meremas dada milik Arumi. Arumi tak berhenti mendesah, dadanya maju mundur mengikuti gerakan Digo.
Namun, ketika Arumi sedang menikmati permainan panas Digo tiba-tiba lelaki itu menghentikan geraknya. Bahkan melepaskan penyatuan mereka. Arumi mengerjapkan matanya, dan melihat Digo yang tiba-tiba saja berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu. Wanita itu pun kemudian bangkit dengan sedikit merasakan nyeri di bagian miliknya. Menatap ke lantai kamar yang memperlihatkan bercak darah yang ia yakini darah keperawanannya kemudian beralih menatap kosong ke arah pintu kamar mandi.
Apa yang salah?
__ADS_1
****