Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Calon Suami


__ADS_3

Mata Digo mengerjap dan langsung mendelik lebar. Dia terdiam berusaha meyakinkan diri jika yang di ucapkan oleh Arumi adalah nyata bukan khayalan.


"Lo... Lo serius?" Terbata Digo bertanya untuk meyakinkan.


"Iya, gue serius. Tapi sebelumnya apa boleh gue minta tolong?"


Dengan mata berbinar dan raut wajah berseri-seri Digo berselebrasi. Memukul-mukul angin, dan menghapus sedikit air mata yang hendak jatuh di pelupuk mata.


"Ya, tentu. Apa?"


"Bokap gue kecelakaan. Dia butuh uang 90 juta untuk biaya operasi. Gue gak bisa bantu karena di tabungan gue cuma ada 20 juta doang. Sedangkan tabungan gue beratasnamakan perusahaan di blokir Leon. Apa gue boleh pinjem duit lo buat bantuin nyokap bayar operasi bokap gue?"


"Gak perlu minjem. Gue langsung transfer. Kirimin nomor rekening nyokap lo, biar sekarang gue transfer."


Arumi menghela napas lega. Satu masalah telah selesai. Akhirnya, dia dapat menolong sang ayah.


"Oke nanti gue kirimin nomor rekening nyokap. Btw setelah ini gimana? Apa kita langsung balik ke Indonesia dan nikah gitu?"


"Nanti malam gue bakal jemput lo buat ketemu pengacara pribadi gue. Kita bakal ngomongin surat pra nikah."


"Hah apa harus segala ada surat pranikah segala?" Arumi tak habis pikir, ternyata Digo telah mempersiapkan sebuah perjanjian sebelum menikah. Entah surat pra nikah seperti apa, tapi satu yang jelas Arumi tidak menyukai itu. Karena baginya, jika sudah menikah tak ada lagi pembagian harta ataupun yang lainnya. Semua milik bersama. Dia tak ingin di bagi-bagi atau di atur.


"Ya tentu. Biar kita sama-sama enak."


"Enak gimana? Lo buat surat itu seakan-akan harta lo takut gue rebut ketika kita bercerai gitu. Seakan-akan..."


"Gak ada seakan-akan, Arumi. Dengerin ya, gue buat surat pra nikah bukan itu isinya." Dengan tegas, Digo memotong ucapan Arumi.


"Lah terus?"


"Surat pranikah yang gue bikin ini isinya perjanjian berupa permintaan gue dan elo yang tertulis dan harus gue dan elo taati setelah kita nikah."


"Hah? Gue gak ngerti."


"Astaga." Tahan Digo, sabar. Demi masa depan lo dan keturunan lo. "Contoh nih, ya." Arumi berdehem memfokuskan diri mendengarkan ucapan Digo. "Kalau surat pranikah umumnya menggatur tentang harta bawaan, atau bersama setelah menikah. Nah kalau pranikah yang gue buat, cukup lo tulis permintaan apa aja sama gue setelah gue jadi suami lo. Misalnya, gue gak boleh ngerokok, pulang gak boleh malam, mabuk, atau selingkuh. Ngerti non?"

__ADS_1


Arumi cekikikan. "Oh oke oke gue ngerti. Tapi gue doang nih yang nulis permintaan?"


"Enggak lah, enak aja. Gue juga bakal nulis permintaan dan aturan apa aja yang harus lo taati dan gak boleh di langgar." Suara Digo meninggi di ujung telpon.


"Biasa aja dong. Kan gue nanya."


"Udah sekarang lo tutup nih telpon, kirim nomor rekening nyokap lo. Abis itu tunggu gue jam 8 malam."


"Siap calon suami."


Pipi Digo seketika memerah ketika mendengar Arumi mengatakan calon suami kepadanya. Rasanya sudah lama sekali hatinya tidak merasakan seperti ini. Berbunga-bunga dan ingin meledak. Namun, sebisa mungkin Digo tetap stay cool dan biasa saja. Malah, dengan tegas dia berkata


"Jangan malu-maluin gue di depan pengacara gue. Dengan lo mabuk kaya kemarin."


"Ish, gue juga tau tempat kali. Yaudah, udah dulu ya calon suami." Nada bicaranya tiba-tiba melembut dan sengaja di manja-manjakan. "Aku tutup dulu telponnya. Nanti segera aku kirimin nomor rekening calon mertua. Btw makasih atas bantuannya." Tut...


Dan, Arumi langsung menyudahi panggilannya. Dia menghentak-hentakkan kaki menahan malu dan jijik dengan ucapan yang dia katakan kepada Digo.


Bego bego bego. Ngapain juga si gue harus ngomong begitu sama Digo. Bikin malu aja. Tak kuasa menahan malu sendiri, Arumi menutupi mukanya dengan bantal kemudian berteriak kencang-kencang mengerutuki dirinya sendiri.


Akhirnya gue bisa buktiin ke orang-orang kalau gue bukan manusia anomali. Dan yang terpenting akhirnya masa depan gue kembali.


****


Pukul setengah delapan malam, Arumi sudah siap dengan baju terbaik yang ia bawa dari Indonesia. Dia duduk di depan cermin memandangi wajahnya sambil menunggu Digo datang.


Dering ponsel mengagetkan Arumi. Arumi segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengubungi.


Nama, Dicko tertulis di layar ponsel gadis itu. Seketika perasaannya di runduk cemas karena tak biasanya kakak lelaki yang sudah lama tak ada kabar menghubunginya. Arumi yakin, Dicko menelponnya karena tau berasal darimana uang untuk biaya operasi sang ayah. Arumi yakin, kakak satu-satunya itu ingin memastikan ada hubungan apa antara dirinya dan Digo yang notabene dikenal sebagai penerus perusahaan terkemuka di Indonesia.


Ragu, Arumi mengangkatnya.


"Ha... Halo, Bang?"


"Kemana aja? mati, huh?"

__ADS_1


Arumi mendesah. Sudah biasa Dicko berkata kasar seperti itu kepadanya.


"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Arumi katakan kepada Dicko.


"Gue langsung to the point sama lo. Sejak kapan lo punya hubungan sama Digo Uparengga? Dan kenapa dia bisa transfer uang sebanyak itu buat papa? Lo gak ngapa-ngapain kan sama dia?"


Benar feeling Arumi, jika Dicko menghubunginya karena ingin mengulik hubungan antara dia dan Digo.


Andai, Dicko tau apa yang Arumi pertaruhkan untuk menolong ayah dan perusahaannya. Pasti, Dicko akan marah besar dan memaki-maki Arumi seperti mana biasa dia lakukan dulu ketika Arumi berbuat hal bodoh.


"Dia temen, Rumi." Arumi membual. Dalam pikirannya, dia berusaha merangkai cerita bohong untuk mengelabuhi kakaknya.


"Cih, seorang anomali seperti Digo temen lo? Gak usah ngarang Arumi. Gue tau siapa dia, gimana keluarga, juga masalah-masalah hidupnya. Jadi lo mending jujur sama gue, daripada gue tau apa yang lo perbuatan nanti."


Arumi menelan saliva kasar, mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dalam hati dia bertanya, apakah dia harus tetap berkata bohong kepada Dicko, atau jujur saja.


Diam-diam, Arumi takut. Takut kalau Dicko mengetahui fakta jika Arumi akan menikahi Digo karena ingin membantu lelaki itu sembuh dari kelainan impotennya. Pasti, Dicko akan sangat marah, dan merasa Arumi gadis bodoh yang sama seperti gadis murahan yang rela menukar diri untuk uang. Dicko pasti akan nekad, dan Arumi tak bisa membayangkan jika abangnya sudah marah dan berbuat di luar nalar.


Tapi, jika Arumi berkata jujur sekarang kepada Dicko dan membeberkan fakta kalau Digo impoten, pasti pernikahan mereka akan gagal dan Digo akan menarik kembali uang yang telah ia berikan kepada Arumi untuk operasi sang ayah. Arumi binggung, akan berbuat apa.


"Di... Digo pacar Rumi, Bang."


"What? Lo serius?"


"I... Iya. Digo dan Arumi udah dua bulan pacaran. Itu juga sebabnya kenapa perusahaan Arumi diambil alih Leon. Karena Leon ngerasa Arumi khianati dia."


Akhirnya, Arumi berkata bohong. Dalam hatinya, dia akan mengatakan kepada Digo nanti di perjalanan menuju tempat pengacara Digo agar membual juga ketika nanti bertemu Dicko. Merangkai cerita sedemikian apik untuk menghindari kecurigaan Dicko.


"Lo pacaran sama cowok abnormal kaya dia?"


"Dia gak abnormal, bang. Dia baik, setia, penyayang dan... Cinta sama Rumi." Sebenarnya kata terakhir yang di ucapkan Arumi tidak dia yakini.


Namun, tak di sangka Arumi yang berpikir Dicko akan marah dan mengerutuki dirinya justru tertawa bahkan terbahak-bahak. Kening Arumi mengerut binggung, ada apa gerangan? Apakah Dicko menyetujui pernikahan ini?


****

__ADS_1


__ADS_2