Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Episode 62


__ADS_3

Jantung Arumi serasa baru saja tersengat listrik atau tersambar petir, mengetahui jika Marco adalah kolega bisnis yang Digo ceritakan. Dirinya bahkan sampai tercengang, menganga tak percaya sembari bermonolog pada dirinya sendiri.


Takdir macam apa ini? Kenapa selalu ada Marco di sekeliling gua?


Tak jauh berbeda dengan Arumi, Marco sendiri bereaksi bisa di duga. Dia terkejut, nyaris tak percaya melihat wanita itu lagi berada di hadapannya. Sepertinya, dia harus segera mencari sesuatu yang mengalihkan pikirannya. Agar tak ada lagi bayang-bayang wajah Arumi terus memainkan pikirannya. Marco bermonolog sendiri. Seperti orang sakit jiwa, dia menahan senyumnya yang jelek itu. Tapi sangat terlihat jelas di mata Digo. Pikirnya, Arumi yang berdiri di hadapannya hanya obyek ilusi dalam pikirannya karena ulah pegawainya tadi.


"Marco."


Sekali lagi, suara yang amat Marco kenal memanggil namanya. Marco jadi tertegun, sampai mengusap matanya berkali-kali hingga membukukan tubuh melihat wajah cantik Arumi dengan polesan make-up sederhana.


"Kau benar-benar, Rumi?" Tangannya sudah menyentuh pipi Arumi. Setengah mati memastikan, jika yang ia lihat bukanlah hanya obyek ilusi tetapi realita.


Namun, secara spontan tanpa tedeng aling-aling, Digo yang berada di sebelah Arumi segera menepis tangan sialan Marco yang langsung membuat Digo badmood dan sedikit agak risih.


"Kalian saling mengenal?"


Suara Digo membuyarkan lamunan keduanya. Baik Marco ataupun Arumi sekarang malah terlihat jadi salah tingkah. Bagaimana tidak, Arumi yang pernah menceritakan perihal pernikahannya dengan Digo kepada Marco jadi takut kalau nanti Marco malah akan menceritakan segalanya kepada Digo. Marco sendiri merasa aneh pada dirinya, hatinya seperti marah dan emosi melihat ternyata suami impoten yang Arumi ceritakan kepadanya dulu adalah Digo. Seperti tak terima, Marco bahkan sampai menggeram dan menghela napas panjang.


"Iya. Dia teman aku." Susah payah Arumi mengembalikan akal sehatnya yang barusaja menghilang. Menjelaskan sesimpel mungkin tanpa meninggalkan kecurigaan pada Digo.


"Oh, ya? Bagaimana kalian mengenal? Apa kamu pernah ke Inggris? Atau anda Mr. Anderson pernah ke Yogyakarta?"


Sial! Entah kenapa, Digo malah menanyai pertanyaan serinci itu. Membuat Arumi dan Marco semakin gugup dan salah tingkah. Lebih sialnya lagi, Digo adalah lelaki yang sangat peka terhadap apapun. Tak sulit baginya membaca gestur tubuh keduanya yang terlihat gugup dan panik.


"Begini, " Kali ini Marco yang angkat bicara. Tapi tanpa di sadari Digo, Marco melirik Arumi untuk memberi isyarat biar dirinya saja yang menjelaskan.


"Beberapa waktu lalu, saya tanpa sengaja menabrak istri anda. Lalu saya menolongnya, setelah itu kami berbincang beberapa saat sebelum aku mengantarkan dia pulang." Marco menjeda cerita, melirik ke arah Digo yang masih memancarkan tampang asam. "Pagi tadi, Arumi juga datang ke butik milikku."

__ADS_1


Kali ini, mata Digo melirik ke arah Marco terkejut.


"Untuk apa?"


"Membeli gaun ini." Menunjuk gaun hijau yang Arumi kenakan. "Dia bilang, suaminya akan mengajak dia ke pesta rekan bisnis. Dan tidak ku kira, ternyata rekan bisnis suaminya aku sendiri."


Tiba-tiba, Marco tertawa di ikuti oleh Arumi yang keduanya berusaha membuat Digo tidak berpikir macam-macam tentang mereka.


"Oh seperti itu." Wajah Digo kembali seperti semula. Datar dan kaku. Sekaku bon hutang di dalam dompet.


Dalam hati, Arumi rasanya ingin memaki Digo saja. Tadi kenapa tidak ia katakan saja kalau Marco adalah mantan kekasihnya. Agar Arumi tahu apa reaksi Digo kalau mengetahui rekan bisnisnya adalah mantan pacar istrinya sendiri.


"Iya, seperti itu Mr.Uparengga." Marco usap-usap dada. Untung saja, Digo tidak menerka hal yang tidak-tidak antara dirinya dan Arumi. Tapi entah kenapa, jauh dalam lubuk hatinya Marco begitu gusar dan kesal. Apalagi saat, Digo tiba-tiba meraih tangan Arumi dan menggenggamnya erat. Seperti ada yang salah pada dirinya. Untuk kali pertama lagi, Marco merasa marah dan tidak rela.


"Ya sudah kalau seperti itu, kami cari tempat duduk dulu."


Digo melempar senyum sebelum kemudian menuntun tangan Arumi dan membawanya masuk ke dalam villa untuk mencari tempat duduk. Mereka duduk bersama dengan rekan bisnis Digo lainnya. Tapi kali ini, Arumi mengenal rekan bisnis Digo dari wajahnya yang pernah hadir saat pernikahannya kemarin.


Namanya Brian, lelaki tampan kaya raya sukses dan masih muda tapi sayangnya belum punya pacar alias jomblo sampai sekarang. Dia duduk bersama asisten pribadinya juga Ken dan sedang asik mengobrol. Saat Arumi dan Digo mendekat, penuh kesopanan lelaki berdarah sunda itu langsung bangkit menyapa Digo.


"Tuan Digo, senang melihat anda bisa hadir di acara Mr.Anderson." Mengulurkan tangan hendak menyalami Digo.


Dengan senang hati, Digo meraih uluran tangan Brian tersenyum sumringah sembari membalas ucapannya.


"Tidak etis rasanya, menolak undangan dari rekan bisnis nomor satu ayah saya. Bagaimana pun, Anderson grup adalah rekan bisnis ayah saya yang paling lama."


"Ya, saya mengerti. Mari silahkan duduk."

__ADS_1


Digo menggeser kursinya dan menyuruh Arumi duduk di sana. Kemudian, dia juga menggeser kursi untuk duduk di sebelah kiri Arumi dan kanannya Brian.


"Selamat malam, nona Arumi."


"Arumi aja, jangan pakai nona." Arumi merenda. Jika di panggil nona oleh karyawan Digo dia masih memaklumi, tapi jika sudah di panggil oleh rekan bisnis Digo dengan sebutan nona rasanya terdengar ambigu di telinga.


"Baiklah." Tersenyum. "Bagaimana kabar keluarga anda, Tuan Digo?"


"Baik. Ayah saya baru saja membuka anak cabang perusahaannya ke 6 di bidang real estate di asia."


"Saya tidak heran dengan ayah anda. Beliau sudah sangat di segani oleh para pemilik perusahan besar baik dalam maupun luar negeri. Yang saya tanyakan, bagaimana kabar adik anda? Saya mendapatkan kabar jika istrinya di usir dari rumah utama."


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Arumi tersendak mendengar ucapan Brian. Dia yang sedang minum langsung memuntahkan seluruh isi dalam mulutnya.


"Yang kamu bilang beneran?" Sergah Arumi memotong obralan suaminya.


"Ya. Berita itu sudah tersebar dikalangan pebisnis seperti kami. Saya pikir sebagai kakak ipar, anda juga mengetahuinya. Apakah kalian tidak akur, karena mengetahui kalau istri adik Tuan Digo adalah mantan istrinya sendiri?"


Arumi tertawa. "Saya tidak tahu? Mana mungkin. Saya tahun segala tentang suami saya, kok. Bahkan tentang masa lalunya dan juga hatinya untuk siapa." Melirik ke arah Digo yang di tangkapnya dengan sinyal-sinyal menyindir.


"Oh, bagus lah. Ternyata kalian bisa aku juga."


"Kenapa, anda pikir saya tidak bisa akur dengan Laluna."


"Oh, maaf tapi yang saya tahu dan semua orang tahu kalau selama ini Tuan Digo ini belum bisa melupakan Luna. Bahkan foto pernikahan mereka dulu tidak pernah ia buang atau singkirkan dari kantornya yang ada di sini."

__ADS_1


****


__ADS_2