
Digo mengusap wajah kasar. Di hadapannya Arumi sangat mengemaskan sedang cemberut dengan mengerucutkan bibirnya sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Ya, bukan gitu. Gak nyangka aja kamu bisa punya rumah segede ini." Ucap wanita itu sembari memainkan kedua tangannya mirip anak kecil.
Hati Digo menjerit. Gila! Kenapa gua baru sadar punya bini imut gini. Rasanya Digo ingin sekali mengangkat tubuh Arumi dan menguncinya di dalam. kamar.
"Perlu aku buktiin?" tanya Digo.
"Emang ada buktinya?" Arumi malah balik nanya.
"Wah, benar. Ngajakin gelud." Nada Digo sedikit meninggi. Tangan kanannya terangkat memanggil salah satu pelayan yang berdiri bejejer di depan mereka.
"Panggil pengacara pribadi saya." Perintah Digo kepada salah satu pelayan wanita. "Suruh dia datang bawa seluruh aset pribadi milik saya."
Tubuh pelayan wanita berambut panjang itu membungkuk. Sejurus dengan dia memundurkan tubuh dan pergi dari sana.
Arumi memperhatikan pelayan yang tadi di suruh Digo. Pelayan wanita berwajah cantik dan berkulit putih itu terlihat tengah berjalan masuk ke dalam rumah. Pergi ke ujung ruang tamu dan mengangkat gagang telpon. Arumi melihat dari tempatnya berdiri, pelayan wanita itu tengah bicara dengan seseorang di telpon yang Arumi yakini pengacara Digo.
Sementara itu, Digo tengah berdiri sambil memandangi kolom renang yang menyatu dengan lautan lepas itu. Langitnya terlihat begitu indah. Dengan warna biru muda yang terlihat indah bercampur awan awan seperti kapas bertebaran di beberapa sisinya.
Tiba-tiba, Arumi berdiri di sebelah Digo. Menyenggol lengan lelaki itu dan ikut memandangi betapa indahnya mahakarya tuhan yang agung.
"Rumah ini sebenarnya aku akan berikan kepada Laluna ketika aniversary kami yang ke satu tahun." Digo tiba-tiba memulai percakapan. Kepala Arumi seketika menoleh dan memasang telinganya untuk mendengarkan perkataan Digo.
"Sengaja, aku pulang gak ngasih tau dia sebelumnya karena ingin buat kejutan di hari aniversary pernikahan kami. Tapi sayangnya tepat di malam aku pulang dari luar negeri, aku malah ngeliat kejadian yang paling menyedihkan. Adik aku sendiri tidur..." Digo menjeda ucapannya. Dia menarik napas dalam-dalam tak sanggup meneruskan perkataannya.
Arumi yang melihat itu, langsung menyentuh punggung Digo. Mengelusnya dengan berlahan dan membawa kepala Digo ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Gak perlu di lanjutin. Aku tau kamu terluka, Digo." Arumi mengelus kepala Digo lembut. "Aku tau ini berat buat kamu. Tapi tolong percaya sama diri kamu sendiri kalau kamu bisa lupain kejadian itu."
Rasanya Arumi pengen nangis sekaligus marah. Gak tega liat suaminya yang sedih gara-gara kelakuan laknat adik dan mantan istrinya. Marah juga karena di hatinya ada rasa tak rela, Digo yang masih menyebut dan mengingat kenangan bersama Luna. Tapi, Arumi bisa apa? toh dia bahkan tau Digo tidak mencintainya dan masih memiliki rasa dengan sang mantan istri. Selain harus berlapang dada dan menguatkan sang suami, tak ada lagi hal yang bisa Arumi lakukan.
"Maafkan aku masih mengingat tentang dia. Meskipun kita sudah menikah." Gumam Digo pelan di dalam pelukan Arumi.
Hati Arumi mengeryit sakit. Digo seperti seorang paranormal yang bisa tau isi hatinya. Tanpa Arumi berucap Digo seperti tau apa yang sedang mengusik Arumi saat ini.
Baru saja Arumi ingin menjawab, tiba-tiba pelayan wanita yang tadi di perintah Digo untuk menghubungi pengacara pribadinya datang kembali. Dia berdiri tepar dua kaki di belakang Digo. Berdiri dengan posisi menundukkan kepala sambil menggenggam sebuah kertas yang sudah di sobek.
"Maaf, tuan dan nona."
Digo segera bangkit dan menjauhkan diri sedikit dari Arumi. Melepaskan pelukkan Arumi dan cepat-cepat mengusap wajahnya yang basah.
Melihat wajah Digo yang basah, Arumi terkekeh kecil. Ternyata orang dingin dan terkenal sadis tak punya hati seperti Digo bisa nangis karena cewek juga. Pikir Arumi. Untung saja, saat Arumi terkekeh Digo tidak melihatnya. Kalau saja melihat pasti Arumi sudah di pelototi oleh mata biru milik Digo.
"Pengacara pribadi tuan akan tiba dalam waktu 40 menit. Saat ini dia sedang ada di pusat kota bali untuk menghadiri rapat penting. Setelah rapatnya selesai pengacara tuan akan segera datang ke sini untuk bertemu dengan tuan. Untuk itu aku disuruh menyampaikan ini kepada, tuan." Tangan pelayan wanita itu terjulur hendak memberikan kertas yang ada di genggaman tangannya kepada Digo.
Ragu, Digo menerima kertas tersebut. Membalikkan kertas tersebut dan membacanya.
INI ADALAH SALAH SATU BUKTI KAU SUDAH MENJADI SUAMI YANG BAIK.
Entah apa maksud dari pesan yang dikirimkan oleh pengacara Digo itu. Tapi seperti Digo mengerti maksudnya. Lelaki itu bahkan langsung buru-buru melipat kertas itu lagi dan memasukkanya ke dalam kantung celana. Kemudian meraih tangan Arumi dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Mereka masuk dengan di ikutin oleh lima pelayan tadi. Kemudian, Digo menyuruh Arumi duduk seraya berkata.
"Tunggu pengacara ku disini. Aku akan ke atas sebentar melihat kamar kita sudah siap atau belum."
Urung juga Arumi menjawab, Digo sudah keburu pergi meninggalkannya. Masuk ke dalam lift pintu kaca transparan dan menghilang ketika lift berlahan naik ke lantai atas.
__ADS_1
......................
Setelah hampir lima belas menit, Digo kembali turun dengan membawa beberapa tumpuk kertas. Dia berjalan dengan angkuh menghampiri Arumi. Meletakkan tumpukkan kertas itu tepat di atas meja depan Arumi. Ternyata tanpa Arumi sadari, di atas tumpukkan kertas itu terdapat dua lusin buku tabungan lokal maupun internasional lengkap dengan ATM yang semuanya berwarna hitam, juga tiga kotak besar yang ternyata berisikan logam mulia, dan berlian langkah dengan harga jutaan dollar.
Kening Arumi mengeryit bingung. Apa alasan Digo mengeluarkan semua itu di depannya. Arumi lupa, kalau beberapa menit yang lalu, dia meminta bukti kekayaan suaminya itu. Dan inilah yang terjadi. Digo memberikan bukti, dengan menunjukkan semua harta pribadi miliknya yang memang semuanya di simpan di dalam rumah tersebut. Rumah yang ia beli dan rencanakan untuk hari tuannya bersama Laluna. Meskipun pada akhirnya rencana dan impiannya itu harus ambyar karena perselingkuhannya dengan Chris.
"Apa ini?" tanya Arumi polos masih lupa kalau beberapa saat lalu ia meminta bukti kekayaan dari sang suami.
"Bukti."
"Bukti apa?"
Digo menghela napas sejenak. Sabar sabar. Orang sabar di sayang pacar. Hatinya bergumam dan seketika dia tersadar kalau dia sudah menikah. Mana mungkin di sayang pacar. Kalau di sayang bini gapapa.
"Digo."
"Eh... " Digo bengong kaya orang tolol. Langsung tersadar karena panggilan Arumi.
"Bukti kekayaan aku. Kan tadi kamu sendiri yang minta."
Masih bingung. Gak tau bego atau emang benaran lupa, Arumi terdiam sambil garuk-garuk kepala. Kaya orang lagi mengingat sesuatu. Tapi bodohnya, dia gak tau apa yang lagi di ingat.
"Emang aku tadi minta?"
"BODO, RUM BODO." Sambil elus-elus dada rasanya Digo ingin melambaikan tangan ke kamera tak sanggup menghadapi tingkah Arumi.
...----------------...
__ADS_1