
Sebenarnya, Digo menahan malu di depan para pelayan mati-matian. Bagaimana tidak, pagi-pagi buta dengan mata masih penuh dengan belek, dia di suruh memakai topi kerucut khas topi di pesta ulangtahun anak-anak. Belum lagi, dirinya mengenakan atribut alay bin ajaib berupa bando berbentuk kelinci, baju couple berwarna pink bergambar hati sebelah. Tetapi, entah demi membuat Arumi bahagia, atau memang dirinya sudah memiliki rasa. Digo pasrah saja dan menuruti apa yang Arumi perintah. Mulai dari tiup lilin bersama, potong kue, hingga berselfie ria dengan tingkah romantis yang tentu saja hanya sebuah kamuflase menutupi kedok pernikahan palsu mereka.
"Posting." Pencet-pencet sana sini, mencari foto yang menurutnya bagus. Kemudian segera memosting foto tersebut di akun media sosial.
Selama Arumi memilah milih foto yang bagus untuk dia posting, di sebelah Digo nampak terlihat terus menatap Arumi begitu dalam. Dirinya bahkan tanpa sadar mengulas senyum simpul kala melihat sang istri begitu asik menulis caption yang amat romantis.
Happy anniversary ke seminggu sayang. Semoga kita bisa merayakan aniversary bukan yang ke seminggu aja tapi sebulan, setahun, dan seterusnya hingga kita menua bersama.
Begitu isi caption yang Arumi tulis.
Ternyata, nih cewek bisa gombal juga.
"Selesai." Arumi meletakkan ponselnya di atas meja makan, kembali mengambil kue yang sudah di potong dan hendak menyuapnya.
Tetapi, tiba-tiba saja saat hendak kue tart itu masuk ke dalam mulut Arumi dengan cepat Digo melahap tart yang ada di tangan Arumi.
Hap
Arumi diam mematung sejenak. Terkejut sekaligus shock dengan tingkah tiba-tiba Digo. Hampir saja bibir mereka saling menempel, jika tadi Arumi menggerakkan sedikit saja kepalanya. Mata Arumi perlahan melirik pergerakan Digo yang tengah asik duduk menguyah kue di sebelahnya tanpa dosa.
Dengan keras, Arumi langsung saja memukul punggung Digo.
Plak... Plak... Plak...
Digo menghindar, meringis merasakan sakit hingga tersendak kue yang sedang ia makan.
__ADS_1
"Digo nyebelin banget." Gerutu kesal Arumi.
Bukan marah karena di pukul Arumi tiba-tiba, Digo justru tertawa keras karena melihat pipi Arumi yang merah merona.
"Heh, itu pipi kenapa kaya udang rebus?"
Kedua tangan Arumi segera terangkat menutupi kedua pipinya yang merah merona dan menundukkan kepala dalam-dalam. Dia malu, ketahuan salah tingkah di depan Digo. Tanpa basa-basi pun, Arumi bangkir dari kursi makan dan bergegas begitu saja meninggalkan Digo naik ke lantai atas.
Melihat Arumi yang bangkit tiba-tiba sambil menutupi kedua pipinya, Digo pun ikut bangkit. Dia menatap dan memperhatikan Arumi lekat, sengaja diam saja tak bertanya hendak mau kemana Arumi tiba-tiba pergi meninggalkannya. Baru setelah Arumi hendak masuk ke dalam kamar, Digo berteriak dari lantai bawah dengan begitu keras.
"Jangan lupa siap-siap, malam ini kita bakal ada acara di rumah teman ku."
"Hmmmm..." Arumi hanya menjawab deheman panjang sejurus kemudian pintu kamar tertutup dengan bantingan keras.
Di dalam kamar, Arumi berdiri bersender pada pintu. Mata terpenjam kembali membayangkan kejadian beberapa saat lalu di bawah.
Cukup lama, Arumi mengingat kejadian di bawah tadi hingga suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya. Dia membalikkan tubuh, menggengam handle pintu dan membukakan pintu kamar.
"Ngerem di dalam kamar mandi?" Digo sudah berdiri di ambang pintu dengan satu tangan yang bersanggah pada dinding kamar.
"Maaf." Gumam Arumi pelan. Kepalanya tertunduk dalam, masih tak cukup berani menatap Digo saking menahan malu yang menelusup dada.
"Yaudah, siapin baju aku. Aku mau mandi." Digo melengos begitu saja berjalan masuk ke dalam kamar dan menuju ke walk in closed. Sementara Arumi, dengan sigap segera menyadarkan diri dan beranjak dari tempatnya berdiri mengambil pakaian kerja sang suami lengkap dengan segala aksesoris yang biasa Digo kenakan.
Setelah Digo selesai bersiap, Arumi akan menyiapkan sarapan berupa roti bakar dan teh hangat atau kopi pahit seperti kesukaan Digo. Lalu, dia akan mengantar kepergian Digo di depan teras rumah sambil menyapa asisten Ken dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Asisten Ken. Tolong jaga, Digo, ya. Perhatikan apa yang dia makan dan minum selama di kantor, juga tolong bawa mobil hati-hati supaya selamat sampai tujuan."
Awalnya terdengar agak alay dan berlebihan. Akan tetapi, semakin kesini tiap hari asisten Ken yang mendengar sapaan selamat pagi Arumi menjadi sadar betapa begitu mencintainya Arumi kepada Digo. Hingga untuk hal sekecil dan sesepele itu, Arumi tak pernah lupa dan bosan untuk selalu mengingatkan Ken.
"Baik, nona. Saya tidak akan lupa pesan, nona muda."
Arumi hanya akan membalas dengan senyuman kepada Ken, lalu tetap berdiri hingga Ken masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah.
Setelah kepergian suaminya, Arumi bergegas mengambil tasnya. Memanggil pak Ketut hendak minta di antarkan ke butik bagus kota sini. Tak perlu banyak pikir, pak Ketut yang sudah tau seluk beluk kota Seminyak Bali segera saja menancap gas menuju butik.
Butuh waktu cukup lama memang, sekitar 40 menit untuk mencapai butik yang pak Ketut tuju. Sebuah butik kecil dengan pintu masuk khas rumah kebanyakan di Bali. Yaitu gapura dengan beberapa anak tangga sebagai akses jalan masuk menuju keberadaan butik sesungguhnya.
Menurut info dari pak Ketut, butik bernama La Mera itu adalah butik terbaik di kota itu. Pemiliknya adalah seorang bule asal kota Inggris yang menurut rumor, dia membuka butik tersebut karena ingin mengujudkan impian mendiang calon istrinya yang meninggal beberapa saat sebelum hari pernikahan mereka tiba. Sang pemilik butik, bahkan mempekerjakan seorang disainer dari paris langsung untuk mengenang mantan kekasihnya. Tragis memang, tapi juga terdengar begitu romantis mengingat Arumi kepada seseorang yang pernah ia jumpai beberapa hari lalu.
"Bapak tunggu di sini, ya. Kalau bapak butuh sesuatu telpon saya saja. Jangan tinggalin saya, saya bisa nyasar kalau suruh pulang sendiri." Begitu kata Arumi berpesan kepada Pak ketut.
Di belakang pengemudi, Pak ketut tertawa renyah. "Ya, masa saya ninggalin nona. Tidak mungkin. Saya masih butuh uang dan pekerja saya."
"Yaudah, aku masuk ke dalam dulu ya, pak." Arumi membuka pintu mobil, dan turun dari dalam.
Dia berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Masuk ke dalam halaman butik yang di tumbuhi beraneka ragam tanaman yang mampu menyegarkan mata. Dan, saat Arumi hendak membuka pintu kaca butik. Tiba-tiba saja, dari arah belakang suara seseorang memanggil namanya. Arumi pun menoleh, matanya membulat terkejut mendapati seseorang yang amat dia kenal tengah berdiri sambil tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.
Penasaran, Arumi pun bertanya
"Kau, disini?"
__ADS_1
...****************...