
Tiga puluh menit berselang. Saat, Arumi keluar dari dalam ruangan walk-in closet selepas mandi. Dia tidak menemukan Digo di manapun. Malah, Arumi mendapatkan sebuah nampan berisikan segelas susu dan buah-buahan di atas meja depan sofa. Di sebelah nampan, terselip sebuah kertas berwarna putih kecil. Pelan-pelan, Arumi mengambil surat itu, membuka kertas tersebut, dan membacanya.
Makan dan minumlah susu juga buah ini. Jangan menunggu ku. Aku masih ada pekerjaan yang harus ke selesaikan di ruangan papi, dan mungkin akan selesai saat fajar tiba. Tidurlah, dan beristirahat.
Digo
Seulas senyuman terpancar dari bibir ranum wanita itu. Ia segera duduk di sofa, meraih sebiji buah apel juga susu hangat putih bikinan Digo.
Merasakan perutnya sudah kenyang dan terisi penuh. Arumi pun beranjak menuju ranjang. Wanita itu merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga leher, dan segera pergi menuju alam mimpi.
Ternya dongeng itu benar. Susu hangat dapat membuat orang lebih rileks dan cepat pergi tidur. Tanpa sepengetahuan Arumi, Digo sedaritadi ternyata berdiri di balik pintu. Memperhatikan Arumi yang melahap abis buah yang ia sajikan dan juga susu putih hangatnya.
Paginya, Arumi terbangun dengan suara bising yang memekakkan telinganya. Ia bahkan sampai loncat dan langsung berlari, ketika mendengar suara teriakan seorang wanita dari lantai bawah. Arumi menurunkan satu persatu anak tangga dan melupakan jika di dalam rumah itu ada lift. Pikirannya tiba-tiba melayang. Kacau dan takut dengan situasi yang mencengangkan di tengah tidur lelapnya.
Ketika sampai di bawah, betapa terkejutnya Arumi kala mendapati Laluna yang sedang memukuli tubuh seorang pelayan dengan sebuah ikat pinggang. Arumi bahkan melihat darah keluar mengucur dari kaki sang pelayan yang ternyata terkena goresan piring yang tadi pelayan itu buat.
"Laluna, apa yang kau lakukan." Sudah memegang kedua bahu pelayan wanita itu. Dan begitu marah atas apa yang terjadi kepadanya.
"Biarin, Arumi. Jangan ganggu pagi gue!" Bentak Laluna dan kembali menghujami tubuh pelayan itu dengan ikat suaminya dulu yang ia belikan oleh dia.
Melihat pelayan itu kesakitan, tentu membuat Arumi tak tega dan langsung menghampiri pelayan tersebut dan memeluknya.
Splash.. Splash...
Berhenti menghujami pelayan tersebut dengan cambukan kasarnya. Laluna terdiam di buatnya, ketika melihat Arumi memeluk pelayan wanita yang mana membuatnya tanpa sadar menyambuk tubuh ringkih wanita yang sekarang memiliki status kakak iparnya.
__ADS_1
"Arumi, lo gila?" Teriak Laluna histeris. Dengan kasar, Laluna menarik lengan Arumi. Melepaskan pelukannya dan mendorong Arumi hingga terbentur kursi meja.
"Gue udah bilang, lo jangan ikut campur. Lo itu baru di rumah ini. Jangan sok. Babu gak tau diri ini harus gue kasih pelajaran, karena udah buat baju kesayangan gue gosong." Hendak kembali mengayunkan cambukan. Tapi kali ini cambukannya terhenti karena Arumi sendiri dengan berani mencekal tangannya.
"Gue bilang stop, Laluna." Kata Arumi sambil menahan geram.
"Lo bener-bener, ya." Berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Arumi, dan setelah lepas Laluna kembali mendorong tubuh Arumi sukses membuat kepalanya terbentur meja makan.
Tubuh Arumi ambruk, pingsan di iringi dengan cairan kental berwarna merah yang keluar dari keningnya.
"Nona muda." Pelayan yang di cambuk histeris. Melihat sang majikan yang membelanya terkapar mengeluarkan luka dan tak sadarkan diri.
Tubuh Laluna seketika bergetar. Ikat pinggang yang ia genggam jatuh melihat Arumi yang tersungkur dan pingsan akibat dorongannya yang begitu keras. Laluna tidak berniat mencelakai Arumi. Sungguh. Tapi mengapa ini malah terjadi. Dia pasti akan di salahkan Digo dan membuat lelaki itu semakin membencinya.
"Nona, aku mohon tolong panggilkan yang lain. Aku takut nona muda kenapa-kenapa."
"Tolong! Tolong! Tolong!" Pelayan mengangkat kepala Arumi. Memangkunya sambil terus berteriak minta tolong.
Tak lama, dua orang penjaga datang. Shock melihat apa yang terjadi kepada nona mudanya, dan langsung membawa nona mudanya masuk ke dalam kamar. Sementara sang pelayan di bawan ke ruangan kepala pelayan untuk di mintai keterangan atas kejadian yang menimpa Arumi.
Di dalam ruangan kerja sang Papi, Digo yang mendapatkan kabar jika Arumi terluka di dapur dan pingsan langsung berlari keluar dari ruangan. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Arumi yang sedang di perban oleh dokter pribadi keluarga Uparengga di temani oleh beberapa penjaga, kepala pelayan, empat pelayan biasa termasuk pelayan yang bersamaan Arumi saat insiden terjadi.
"Apa yang terjadi?"
"Dia terbentur meja makan cukup keras." Jelas Dokter pribadi keluarga uparengga.
__ADS_1
Digo merangkak menghampiri Arumi. Mengusap lembut rambut istrinya dan kemudian mengecup keningnya dengan mesra.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Digo dengan nada menahan geram.
Tak ada yang berani menjawab. Bahkan pelayan wanita yang tadi di bela Arumi. Dia mundur satu langkah, menyembunyikan diri di belakang tubuh tua kepala pelayan. Berharap wanita itu dapat menolongnya dari amuk Digo.
Lama menunggu meminta jawaban dari para pelayan dan penjaga yang ada di dalam kamarnya. Sekali lagi Digo bertanya, tetapi kali ini dengan suara yang begitu keras.
"Saya bilang, siapa yang melakukan ini? Jika kalian tidak maju dan mengaku, saya pastikan hari ini menjadi hari terakhir kalian kerja. Termasuk kamu, Gress." Menunjuk Kepala pelayan yang sama takutnya mengaku atau memberitahu siapa pelaku sebenarnya yang menyerang istrinya.
Pelayan yang tadi di bela Arumi pun memberanikan diri untuk maju. Dia mengingat kembali ketika nonanya menolong dia dari nenek sihir, Laluna. Memeluk tubuhnya untuk menyelamatkan tubuh ringkihnya yang sudah terluka parah akibat cambukan Laluna.
"Kau yang melakukan ini kepada, Arumi?"
Pelayan itu menganggukkan kepala. Entah apakah yang di lakukannya adalah hal bodoh atau tidak. Tapi satu yang pasti, dirinya tak ingin berkata jujur siapa dalang yang membuat nona mudanya terluka karena tak ingin membuat keluarga ini kembali renggang. Termasuk hubungan antara adik kakak, Digo dan Steve. Para pelayan di rumah itu, rata-rata amat mengetahui bagaimana menderitanya tuan muda Digo karena pengkhianatan Laluna. Pelayan itu tak ingin, karena kejadian ini tuan muda Digo menjadi berang kepada Laluna, dan kembali meninggalkan rumah itu lagi.
"Maafkan saya, tuan."
"Ambilkan aku cambuk." Digo kepada penjaga dan menghiraukan perkataan maaf pelayan tersebut.
Tahu apa yang akan di lakukan Digo, Gress nama kepala pelayan itu mencoba menghentikannya.
"Tuan, ini sebuah kesalahan. Ria tak..." Gress tidak melanjutkan ucapannya, saat tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menggengam dirinya.
Kepalanya menoleh dan mendapati Ria, pelayan yang di bela Arumi memasang wajah melas memohon untuk tidak memberitahukan sejujurnya kepada Digo. Gress hanya mampu menghela napas. Memundurkan tubuhnya lagi sambil berkata.
__ADS_1
"Maafkan saya, tuan."
****