
Bantu vote Miss ya dear, agar Miss semangat updatenya.
****
Selama beberapa menit, Marco bungkam. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan dari Veronica yang tak bisa ia jawab. Dasar, Veronica! dia memang suka ingin ikut campur urusan Marco. Sangat ingin tahu, bagaimana kehidupan percintaan bosnya itu setelah kekasihnya meninggal dulu. Tapi anehnya, entah mengapa kali ini Marco justru terpancing dan di masukkan ke hati atas pertanyaan Veronica.
Apa jangan-jangan, dia memang menyukai gadis malang itu? Tidak! Marco menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin menyukai Arumi. Mungkin perasaan yang tumbuh dalam hatinya hanya sebuah rasa kasihan atas nasib sial dan malang Arumi. Menikah dengan lelaki impoten seperti suami. Iya! Marco menyakinkan dirinya. Hanya rasa kasihan tidak lebih.
Lama, Marco bungkam dan termenung sendiri dengan pikirannya yang melayang-layang. Hingga, Arumi keluar dengan satu maxi dress tanpa lengan berwarna hitam. Sialnya, maxi dress yang Arumi kenakan begitu cocok untuknya. Warnanya juga netral, hitam. Namun, begitu elegan dengan pernak-pernik yang tidak terlalu mencolok. Sungguh, Arumi terlihat cantik dan sangat sempurna.
"Ngedip. Belek kemana-mana, tuh."
Veronica menjentikkan jarinya tepat di depan muka Marco. Membuat Marco yang sama sekali tidak berkedip menjadi tergagap hingga nyaris menjatuhkan kopi di tangannya.
"Gimana, bagus gak kalau aku yang pakai?" Arumi tersenyum simpul, tubuhnya yang mungil dan sedikit tinggi berputar meminta penilaian dari Marco.
Tapi memang dasarnya saja, Marco yang sudah kesemsem dengan Arumi hanya mampu menganggukkan kepala seperti burung pelatuk. Tenggorokannya tiba-tiba saja terasa begitu kering, dan matanya seperti baru saja tersihir hingga membuatnya sulit untuk berkedip atau hanya sekedar memalingkan kepala.
__ADS_1
Kenapa, dia bisa secantik ini?
Namun, berbanding terbalik dengan pendapat Veronica. Perancang busanan di butik Marco justru mengatakan, jika gaun yang di kenakan Arumi terlihat kebesaran. Dia segera mencarikan gaun yang sedikit agak ketat agar bentuk tubuh Arumi yang mungil dapat terlihat dengan sempurna dalam balutan gaun. Maka di pilih lah sebuah gaun pesta berwarna hijau tua mini seatas dengkul dengan size lebih kecil dari sebelumnya. Veronica langsung memberikannya kepada dua pegawai tadi dan menyuruh Arumi untuk kembali masuk ke dalam bilik.
"Nah, kan apa di bilang. Kamu ini jatuh cinta sama Arumi. Buktinya liat dia pake dress kaya gitu aja langsung terpesona."
"Jangan mulai, Veronica." Nada Marco terdengar mengintimidasi. Tapi, Veronica sama sekali tidak takut.
Melihat keberanian pegawainya itu, Marco jadi mendesah kesal. Jika lama-lama, dia berada di sini bisa bahaya jadinya, yang ada dirinya akan terus menjadi sasaran bullying Veronica. Itu menyebalkan sungguh. Membuat rasanya hati Marco menjerit. Makanya, tanpa permisi Marco keluar dari dalam kantornya meninggalkan Veronica begitu saja. Veronica yang melihat kepergian Marco, bahkan langsung tertawa geli dengan tingkah Marco yang bak seperti anak kecil.
"Dasar, Marco. Bahkan dirinya saja tak pandai berbohong."
"Ini terlalu terbuka." Arumi mengeritik. Jelas itu sangat terbuka untuk di pakai wanita-wanita Indonesia.
Tapi tidak bagi Veronica, wanita itu justru malah terkagum. Berdecak, sampai bertepuk tangan memuji kecantikan Arumi.
"No.You beautiful, sweety." Pujinya tulus.
__ADS_1
Veronica mencengkram kedua bahu Arumi, memutar-mutar tubuh mungil wanita itu dengan mata berbinar indah. Veronica sangat bangga. Oh, tentu saja! Gaun mini rancangan kembali memukau dan begitu indah di pakai seseorang. Dia sangat bangga kepada dirinya sendiri.
"Lihat." Veronica memperlihatkan tampilan Arumi pada kaca besar di sebelah. "Kau sangat cantik, dear. Suami mu, pasti akan terpukau dengan kecantikan mu."
Arumi malah tersenyum miris. Benarkah? Dia bahkan hanya menyentuhku satu kali. Di pikirannya hanya ada mantan istrinya dan pekerjaan saja.
"Tapi, Veronica ini benar-benar sangat terbuka." Jujur saja, selama hidupnya Arumi tidak pernah memakai gaun terbuka semacam itu. Tapi memang tidak bisa di pungkiri jika dirinya terlihat begitu cantik, apalagi jika di tambah polesan make-up di wajahnya.
"Tidak." Veronica bersikukuh bahwa gaun itu bagus untuk Arumi. "Kau begitu perfect. Jangan membantah. Kau harus ambil gaun ini, karena ini begitu cantik untukmu."
Arumi jadi takut juga heran. Ada ya, penjual seperti Veronica bersikukuh agar barang dagangannya di ambil dan di beli. Jika Veronica, jualan di pasar pasti para pembelinya sudah pada kabur duluan karena pemaksaan seperti ini.
"Baiklah. Aku akan ambil ini." Karena takut, Arumi cari aman saja.
"Tapi di mana, Marco."
"Jangan pikirkan dia. Dia sudah pergi, malam nanti akan ada pesta besar di rumahnya."
__ADS_1
Tanpa menyimpan curiga, dengan polosnya Arumi menganggukkan kepala paham. Dia sama sekali tak curiga, jika Marco sebenarnya adalah rekan bisnis suaminya. Setelah menerima gaun, dia langsung membayarnya dan pergi menuju salon untuk perawatan diri.
****