
Arumi menatap bingung kepergian suaminya dan kedua pelayan rumah. Dari dua pelayan itu, jelas Arumi mengenal satunya yang tadi pagi ia selamatkan dari amukan Laluna. Hatinya berdenyut, khawatir dengan kondisi pelayan yang tadi Luna siksa.
"Dokter, apa pelayan wanita itu baik-baik saja?" Akhirnya Arumi sadar sepenuhnya. Meskipun dia sedikit merasakan sakit di area dahinya yang memar dan membiru akibat benturan cukup keras tadi.
"Siapa yang nona maksud?" Dokter Shella kelihatan kebingungan.
"Pelayan wanita yang berdiri di belakang pelayan Gress." Arumi mencoba menjelaskan. Namun sayang, Dokter Shella tetap tidak mengerti. Karena sedaritadi, dia melihat dua pelayan itu nampak baik-baik saja.
"Nona, kedua pelayan itu baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Khawatirkan–lah dirimu sendiri. Kau baru saja terjatuh dan kepala mu terbentur meja makan cukup keras."
Kepala Arumi menggeleng. Dia merasa dirinya baik-baik saja. Malah seharusnya, pelayan wanita tadi yang seharusnya di perlakuan spesial. Paling tidak periksa tubuhnya dan obati lukanya. Karena Arumi yakin, pelayan itu pasti memiliki luka serius karena cambukan yang tadi Laluna berikan.
"Dokter setelah ini, tolong periksa pelayan itu. Berikan dia obat yang sama seperti yang kau berikan kepadaku. Biarkan aku yang membayarnya." Arumi menggenggam tangan dokter Shella dan memohon.
Sejenak dokter Shella termangu. Hatinya tergugah, karena baru pertama kalinya melihat keluarga uparengga yang memiliki hati penyayang selain Digo dan nyonya besar.
"Baiklah. Aku akan menunggu, dan memeriksa pelayan itu untukmu."
Arumi menghela napas lega. Tersenyum seraya berkata.
"Terima kasih."
Sementara di ruang kerja, Digo duduk di bangku kebesarannya. Ria dan Gress berdiri bersebelahan dengan kepala tertunduk dalam, sembari sesekali saling melempar lirikan.
"Jelaskan sejujurnya kepadaku apa yang terjadi." Digo berkata sambil tangannya mengetuk-ngetuk meja.
Semua diam, semua senyap. Hanya keheningan jawaban akan pertanyaan Digo. Membuat Digo menghela napas, dan melonggarkan duduknya.
"Saya bertanya sekali lagi. Jika kalian berdua tidak mau menjawab, saya pastikan hari ini menjadi hari terakhir kalian bekerja di rumah ini."
"Tolong jangan pecat saya, tuan." Ria tiba-tiba bersimpuh di depan meja kerja Digo. Tangannya saling bertautan, memohon kepada Digo untuk tidak memecatnya.
Ria tidak akan pernah bisa membayangkan jika dia di pecat dari sana. Dia masih harus menafkahi keluarganya di kampung. Belum lagi, sang ayah yang sedang koma di rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas beberapa bulan lalu. Pasti sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika, Ria di pecat entah bagaimana nasib keluarganya nanti.
"Berdiri. Aku tidak menyuruhmu bersujud seperti itu. Aku menyuruhmu untuk berkata dan menjelaskan apa yang terjadi."
Dengan di bantu oleh Gress, Ria bangkit dan berdiri kembali. Bibirnya sedikit bergetar. Takut, jika yang dia akan katakan ini membuat masalah baru di keluarga Uparengga.
"Jangan takut. Katakan sejujurnya kepada tuan muda. Biar semua cepat selain dan kau mendapatkan keadilan." Gress mencoba menguatkan dan meyakini Ria.
__ADS_1
Sejenak, Ria menoleh menatap dalam wajah Gress yang selama dua tahun terakhir sudah dia anggap menjadi ibunya sendiri. Gress tersenyum, menganggukkan kepala menyakini Ria.
"Se–sebenarnya nona terjatuh dan kepalanya terbentur meja karena menolong saya dari hukuman nona muda Luna."
Alis Digo mengernyit. "Jelaskan lebih detail."
"Jadi pagi tadi, saya di perintah oleh nona Luna untuk menyetrika bajunya untuk pemotretan siang tadi. Karena nona juga menyuruh saya menyiapkan sarapan, akhirnya saya bingung dan melupakan setrikaan baju nona yang belum saya cabut. Akhirnya baju itu bolong dan robek. Nona menghukum saya dengan mencabuk saya, tapi tiba-tiba nona Arumi datang dan menyelamatkan saya."
Mata Digo nanar melihat Ria. Telinganya fokus terpasang mendengar setiap kata demi kata yang Ria katakan.
"Nona Luna tak terima, saya di bela oleh nona Arumi. Nona Arumi di dorong cukup keras hingga terjatuh. Tapi Nona Arumi masih berusaha bangun, dia memeluk saya ketika Nona Luna kembali melayangkan cambukannya. Alhasil, cambukan itu mengenai tubuh Nona Arumi. Bukan merasa bersalah, nona Luna malah menarik tangan nona Arumi dengan kasar dan mengatainya gila. Setelah itu, nona mendorong nona Arumi kembali hingga membuat nona Arumi terjatuh dan kepalanya terbentur meja makan."
Rahang Digo mengerat. Tak di sangka dalang di balik kejadian itu adalah mantan istrinya lagi. Digo benar-benar sudah mencapai batasannya. Dia sudah naik vitam, dan menyuruh kedua pelayan itu untuk keluar ruangan kerjanya sementara dia bergegas dengan tergesa-gesa menuju ruang keluarga
"Laluna! Steven! Keluar kalian sekarang juga!" Suara Digo menggema memenuhi lantai tiga tepat di ruang keluarga.
Matanya memicing penuh amarah ke arah kamar Steve sang adik yang masih tetap tertutup tanpa ada tanda sedikitpun terbuka.
"LALUNA! STEVEN! Keluar sekarang juga, atau rumah ini akan ku hancurkan."
Mendengar suara teriakan Digo di luar kamar yang terus memanggil-manggil nama adik dan iparnya, Arumi segera bergegas turun dari ranjang. Dia sedikit meringis, merasakan perih di bagian bahunya akibat luka cambukan yang Laluna lakukan. Dengan sigap, Dokter Shella membantu Arumi untu bangkit. Dia menuntut wanita itu dengan perlahan-lahan keluar dari kamar. Membawa Arumi untuk mendekati Digo yang berdiri berkacak pinggang tepat di tengah ruang keluarga.
Tubuh Digo berputar. Dia langsung menggapai tangan Arumi dan membawa kepelukannya.
"Kamu, tidak apa? Katakan mana yang sakit, huh?" Digo menempelkan kedua tangannya di pipi Arumi. Menelisik wajah istrinya dan tubuhnya.
"Tubuh kamu sakit? Di sebelah mana, huh? Katakan padaku?" Terus bertanya sembari memeriksa setiap inci tubuh Arumi.
Hingga, ia berhenti tepat di bahu Arumi yang mana bajunya sudah terkoyak memanjang. Digo juga dapat melihat dengan jelas luka yang cukup parah di balik baju yang terkoyak itu.
"Digo, aku baik-baik aja."
Digo tak menjawab. Darahnya mendidih melihat luka di tubuh istrinya. Segera, Digo melepaskan genggaman tangannya dan berjalan sambil menahan gejolak amarah ke arah kamar Steve dan Laluna.
Bruk... Bruk... Bruk...
Digo mengetuk pintu kamar. Tak beberapa lama, suara kunci terdengar di susul pintu kamar terbuka yang memperlihatkan Selulit tubuh langsing Laluna.
"Aduh, Digo ada apa sih? Masih pagi gedor-gedor kamar orang. Gak tau apa, semala aku sama Steve..."
__ADS_1
Plak...
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Laluna. Mata Arumi terkejut bukan main. Dia lantas berlari mendekati Digo hendak melerai keduanya yang takut akan semakin memanas.
"Digo, cukup. Jangan kasar sama cewek." Arumi sudah menarik tangan Digo untuk hendak membawanya menjauh dari sana.
Tapi sayang sebelum Arumi berhasil membawa Digo menjauh dari sana, Steve sudah keburu keluar dan melihat Laluna menangis histeris memegang pipi kanannya.
"Lo apain dia, bang?" tanya Steve masih santai.
Digo terdiam, sama halnya dengan Arumi yang tak tau harus menjawab apa.
"Digo nampar aku, Steve. Aku gak tau salah aku apa. Tiba-tiba, dia ngetuk pintu kamar kita dan langsung tampar pipi aku." Sang ratu drama mulai berakting. Begitu kata hati Arumi. Laluna menjelaskan kepada Steve sembari menarik-narik manja baju tidur Steve dan suara menangisnya yang di buat-buat.
"Lo keterlaluan, bang." Steve mencengkram kera baju Digo. Arumi reflek mencoba melepaskan tangan Steve dari kera baju Digo.
"Steve, udah aku mohon."
"Mohon? Sebelum lo mohon kak, lo bilangin sama laki lo jangan kasar sama cewek. Apalagi sama iparnya sendiri."
Digo tertawa mendengar ucapan Steve, yang mana membuat ketiga orang di sana menoleh dan menatap Digo dalam.
Bruk...
Steve ambruk, ketika secara tiba-tiba Digo memukul wajahnya. Laluna berteriak, jongkok dan mencoba membantu suaminya untuk bangun.
"Steve, kamu baik-baik aja?" tanya Laluna khawatir.
"Sebelum lo marah sama gue karena tampar istri lo, lo cari tau dulu alasan apa yang mendasari gue ngelakuin itu." Jelas Digo.
"Istri lo udah kurang ajar sama bini gue. Gak seharusnya seorang adik ipar melakukan hal kasar dan kurang ajar sama kakar iparnya sendiri. Lo mau jadi penguasa dirumah ini? Gue bakal keluar dan ngalah sama lo."
Setelah berkata seperti itu, Digo menuntun Arumi dan membawa wanita itu pergi dari sana. Steve hanya terdiam membisu, memperhatikan jalan kakak iparnya yang terseok-seok dengan luka cambuk di bagian bahunya.
"Steve, kamu gak apa-apa?" Laluna kembali bertanya.
Saat, tangannya hendak menyentuh bibir Steve yang berdarah dengan kasar Steve menampik tangan Laluna.
"Apa yang kali ini kamu perbuat, Luna?"
__ADS_1
****