
Pernahkah kau melihat langit di hatiku?
Pecahan awan dan bintang indah terbentang tanpa batas...
Di suatu tempat di sudut langit itu...
Tau kah kamu bahwa bintangku memanggil dirimu?
Ketika kau datang sambil menggandeng tanganku dengan mimpi-mimpiku di bawah sinar bulan...
Tau kah kau betapa bahagianya diriku?
Aku akan memberikan mu seluruh bintang dari cintaku, yang ku rawat dan bersinar paling terang...
Pandangan Arumi tak bisa lepas memandangi sosok Digo. Lelaki yang kini sedang berdiri dengan pak Ketut dan dua lelaki lainnya di pinggir pantai itu begitu mempesona di mata Arumi. Arumi benar-benar sudah jatuh cinta dengan Digo, hanya saja dirinya belum menyadari akan hal itu. Arumi selalu mensugestikan diri kalau apa yang hatinya rasakan hanya bentuk rasa kasian kepada Digo yang Impoten.
"Mau barbeque–an?" Entah sejak kapan Digo muncul, Arumi terkejut melihat sosok suaminya yang sudah berada di depannya.
Dia tersadar dari lamunan yang sedang mengkhayal tentang Digo, mengerjapkan mata cepat lalu berkata.
"Barbeque? Bukan kita udah baru habis makan?"
"Emang ada yang ngelarang? abis makan terus makan lagi."
__ADS_1
Arumi diam, kepalanya menggeleng pelan.
"Atau mau bakar jagung?"
"Boleh."
"Yaudah, aku siapin dulu alat-alatnya."
Digo memutar tubuhnya dan berjalan menjauh untuk mendekati ketiga lelaki yang Arumi ketahui adalah anak buahnya semua. Kembali, Arumi memandangi sosok Digo di atas ayunan kayu single yang sesekali ia ayunkan.
Digo andai lo tau hati gua...
Malam baru saja menjemput alam, di bawah langit hitam yang terbentang luas itu, Arumi dan Digo duduk bersama di sebuah batang bekas pohon yang sudah tumbang. Di depan mereka menyalah sebuah api unggun kecil yang berwarna oren, juga terdapat piring besar berisikan jagung bakar siap makan juga minuman kaleng. Arumi menggeser duduknya sedikit lebih dekat kepada Digo, kemudian menyenderkan kepalanya di bahu lelaki membuat Digo yang sedaritadi fokus dengan ponselnya menoleh kikuk.
Digo hanya menjawab dengan deheman saja. Sebab entah mengapa tiba-tiba dirinya di landa kegugupan. Mati-matian Digo menahan debaran di dalam sana, dengan membuang pandang ke arah pantai dan menyibukkan diri memperhatikan yang lain.
Sengaja, Arumi menggoyangkan kepala, dan mendesah. Digo jadi mati kutu. Bingung harus bereaksi apa. Sementara keringat dingin berlahan mulai membanjiri pelupuk dahinya, jantungnya terus berdebar tak karuan di ikuti dengan sesuatu di bawah sana yang ingin sekali berontak.
"Seandainya aku punya cinta sejati, walaupun dia miskin gak punya uang dan gak bisa nurutin keinginan ku, aku gak masalah. Asal dia orang kaya kamu; penyayang, romantis, dan tanggung jawab."
Tak ayal ucapan Arumi barusan membuat Digo menoleh ke arah Arumi. Wangi semerbak shampoo langsung menguap di indra penciumannya. Digo tau jika Arumi sedang menyindir dirinya yang berusaha menjadi suami idaman meskipun di hati tak memiliki cinta sedikitpun.
"Maafkan aku. Karena pernikahan kita, kamu tidak bisa merasakan cinta sejati."
__ADS_1
Kepala Arumi menggelang. Dia menegakkan kembali posisi tubuhnya lalu menatap Digo lekat.
"Bukan itu maksudku." Sungguh, bukan itu maksud Arumi. "Demi tuhan aku bahagia menikah dengan mu. Bukan karena kamu kaya, atau sudah menolong ayahku dan juga mau membantu ku membalaskan dendam kepada mantan kekasihku. Tetapi aku bahagia karena kamu yang begitu baik hati dan juga berusaha menyayangi ku."
Digo tersenyum, tangannya terangkat dan mengelus lembut rambut Arumi. "Aku mengerti. Tapi maafkan aku, Rumi. Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, rumah, mobil, harta, apapun dari ku. Kecuali cinta. Sungguh bukan aku tak mau mencintai mu, hanya saja aku takut membuat mu terluka karena masa lalu ku dengan Luna."
Arumi melepaskan belaian di rambutnya, lalu berdiri dengan tiba-tiba berlinang airmata.
"Maaf, aku gak bisa. Aku gak kuat lagi..." Dalam hitungan detik saja, Arumi berkata sambil sesegukan.
"Apa segitu cintanya lo sama Luna, huh?"
Digo mendongakkan kepala menatap lekat Rumi yang sudah berlinang airmata.
"Apa sebegitu cinta lo sama dia, sampai gak ada ruang di hati lo naro nama gua sedikit aja? Gua cinta sama lo. Meskipun gua gak tau apa alasan untuk mencintai suami gua sendiri." Arumi menjeda ucapannya. Menghapus air matanya kasar lalu tersenyum ketir.
"Oke, maafin gua yang udah bersikap sebaper ini sama lo. Anggap aja gua gak pernah bilang kaya gitu sama lo. Gue janji bakal jaga perasaan gua biar gua gak make feeling kalau lagi dekat sama lo. Gua bakal berusaha untuk tetap menjadi orang asing di dalam kehidupan lo. Menjadi artis yang pura-pura mencintai orang yang berstatus suami gua. Sekali lagi maafin gua."
Arumi langsung pergi begitu saja meninggalkan Digo sendiri yang terkejut dan tetap menatap lekat sosok Arumi. Wanita itu berlari sangat kencang masuk ke dalam rumah meninggalkan semua yang sudah Digo persiapkan untuknya. Digo jadi galau dan serba salah. Dia benar-benar tidak menduga jika sikapnya yang berusaha menjadi suami terbaik untuk Arumi membuat Arumi justru malah jatuh cinta. Dia juga tidak akan melupakan jasa besar Arumi yang berusaha menyembuhkan dirinya meskipun harus mengorbankan seluruh kehormatannya.
Digo memejamkan matanya, kilatan mata Arumi terngiang-ngiang dalam benaknya. Kilatan mata yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan. Kilatan mata yang memancarkan kebencian, kekecewaan, dan kesedihan yang menjadi satu. Digo menjadi sedih dan hatinya sedikit merasa bersalah karena terlalu gegabah mengambil keputusan dulu untuk meminta Arumi menjadi istrinya. Padahal, dia sendiri tau jika luka hati yang Laluna goresan belum benar-benar sembuh.
Maafkan gua, Rum. Gua cuma gak mau goreskan luka di hati wanita lain. Gua yang gak sempurna belum pantas jadi pendamping dalam hidup lo.
__ADS_1
...----------------...