Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Mantan Istri Digo


__ADS_3

Wanita cantik dengan tubuh langsing, tinggi semampai, kaki jenjang, dan surai panjang indah itu terus memperhatikan Arumi. Menelisik penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai atas kepala begitu tajam. Seperti tidak suka dan sedang memasang tembok penghalang antara keduanya.


Wanita bergaun navy panjang itu bahkan tak sadar jika Digo juga memperhatikannya sama tajam seperti dia memperhatikan Arumi.


Dia kenapa sih? Sambil menggaruk-garuk tengkuk leher Arumi berpikir apakah ada yang salah dengan diri atau penampilannya. Kenapa wanita ini terus memperhatikan gue kaya gitu sih?


"Digo, mami kangen banget."


Setelah puas memeluk Digo, wanita paruh baya bernama Irene itu akhirnya melepaskan pelukannya. Kemudian mengalihkan pandangannya melihat Arumi yang berdiri kikuk di belakang punggung sang putra.


"Hey, who are you?"


Arumi gelagapan ketika Irene menanyainya. Dia segera melirik Digo meminta bantuan. Buru-buru, Digo menghampiri Arumi. Berdiri di sebelah Arumi sambil memegang kedua bahu Arumi mesra. Irene yang melihat gestur tubuh Digo pun terlihat kaget begitupun dengan ketiga orang yang duduk di sofa keluarga.


"So..." Irene memainkan matanya ke arah Baskara sang suami kemudian kembali menatap Digo dan Arumi bergantian tak sabar menunggu jawaban dari mereka.


"Dia Arumi..." Menjeda ucapannya dan diam-diam kembali melirik wanita cantik yang duduk dengan menundukkan kepala gusar. "Calon istri saya."


Ruangan semula hening mendadak riuh karena pekikan Irene bersautan dengan sang suami Baskara. Kedua pasangan paruh baya itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat sang putra sulung akhirnya membawa wanita baru ke dalam rumah itu.


Karena memang sudah sangat lama, Digo tidak pulang ke rumah di mana ia di lahirkan semenjak sang istri menikah dengan adiknya sendiri.


"Oh my god, finally my son..." Irene tak mampu melanjutkan ucapannya. Dia kembali menghambur memeluk Digo sambil sesekali tersenyum ke arah Arumi dan menyeka air matanya.


Sementara Baskara juga ikut menghambur memeluk Digo dan memberikan ucapan selamat kepada sang putra karena pada akhirnya bisa move on dari Arumi.


Arumi masih tak bersuar meskipun ia berusaha tersenyum kepada ibunda Digo beberapa kali. Sungguh, dia merasa tak nyaman dengan tatapan wanita yang duduk di sebelah adik kandung Digo yang terus meliriknya secara sembunyi-sembunyi atau bahkan menatapnya terang-terangan dengan tatapan begitu tak bersahabat.


Seharusnya gue bahagia karena keluarga Digo menerima gue tanpa embel-embel status keluarga gue. Tapi kenapa sih, gue tetap aja gak tenang sama cewek itu. Seakan dia baru aja mengibarkan bendera peperangan. Siapa dia?


Termangu, Arumi masuk ke dalam alam bawah sadarnya sendiri untuk menerka-nerka siapa wanita yang duduk di sebelah adiknya Digo, Steve.


Tangan Arumi terangkat membekap mulutnya sendiri, ketika ia menyadari dan menemukan jawaban akan pertanyaannya sendiri tentang siapa wanita di itu.


Digo yang mendengar dengusan Arumi menolehkan kepala dan melirik dengan isyarat mata.


Ada apa? Begitu arti tatapan Digo.


Dia Laluna. Mantan istri Digo. Tak mempedulikan tatapan mata Digo yang melotot. Arumi malah takjub dan terkejut akhirnya dapat melihat langsung mantan istri calon suaminya.


Tanpa di sadari saking Arumi takjub dan terkejut melihat bagaimana mantan dari seorang Digo Uparengga, ibunda Digo sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Buru-buru Arumi menutup pikirannya dan mengalihkan pandangan ke arah calon mertuanya. Mulai mensugestikan diri untuk percaya diri menaklukkan hati sang calon mertua.


"Malam tante." Cengegesan sok kenal dan sok akrab.


"Good Night, Dear." Aksen Inggrisnya begitu kental. Arumi yakin jika ibunda Digo bukanlah orang oriental Indonesia. Terlebih melihat wajahnya yang kebarat-baratan khas orang bule. Sama persis seperti wajah Digo.

__ADS_1


"Siapa nama mu?" tanyanya dengan ramah.


"Arumi, tan. Arumi Maharani."


"Kau sangat cantik." Pujinya sambil membelai lembut rambut Arumi. Dan tanpa di sadari oleh semuanya, ada seseorang yang terlihat begitu keki dan menahan geram melihat Arumi yang di terima baik di keluarga Uparengga.


Malam itu acara berjalan dengan lancar. Sambil makan malam bersama, Digo mengutarakan keinginannya untuk segera mempersunting Arumi. Ayah dan Ibu Digo pun setuju. Tinggal menunggu ayah arumi sembuh untuk membicarakan lebih lanjut.


Setelah makan malam, Arumi sengaja di ajak jalan-jalan mengelilingi rumah itu. Melihat betapa luasnya istana Uparengga mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, kamar, sampai tempat gym, spa dan berakhir di halaman belakang rumah yakni kolam renang.


Sambil duduk duduk santai dan menyantap cemilan Digo dan Arumi bercengkrama ria. Sesekali, mereka tertawa lepas membicarakan hal-hal lucu selama mereka berada di Amsterdam.


"Gue sebenarnya itu anak alim, kok." Seru Arumi membantah Digo yang selalu mengatainya wanita mabuk. "Kemarin emang karena gue sakit hati aja pengen gue luapin dengan minuman keras."


Digo hanya manggut-manggut meledek. Tak terima, Arumi memukul lengan Digo hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.


"Gue percaya, Rum. Asli." Mengangkat tangannya membentuk huruf v.


Tapi melihat wajah Digo yang cengegesan terus. Arumi kembali memukul lelaki itu sambil merengut kesal.


"Muka lu itu pengen gue tabok, tau."


"Dih, muka gue emang kenapa? Ganteng begini juga."


Mata Arumi melotot tak terima.


Dan saat mereka masih asik mengobrol, tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka.


"Maaf mengganggu. Tuan besar memanggil tuan muda untuk di ruang kerjanya."


Digo langsung bangkit dari duduknya. "Bentar ya. Jangan kemana-mana. Nanti ilang repot."


Arumi mendengus dan mengerucutkan mulutnya. "Udah sana sana." Mengibas-ngibaskan tangan seperti mengusir hewan.


Sambil cekikikan Digo berjalan di buntuti oleh sang pelayan yang tak bisa menyembunyikan wajah takjubnya melihat tuan mudanya yang begitu bahagia sekali. Pelayan itu bahkan sesekali melirik Arumi dan berdecak kagum.


sepeninggal Digo, Arumi kembali duduk di kursi besi belakang rumah. Meminum jus stoberi yang di sediakan pelayan sambil berselancar di media sosialnya.


Leon memosting sebuah foto. Foto mesra dia dengan seorang wanita cantik di sebuah restoran mahal. Di caption foto Leon menuliskan makan malam bersama bidadari tersayang.


Melihat hal itu, Arumi bukan kesal atau panas justru menyunggingkan senyuman geli.


Dasar bedebah. Enak sekali dia memakai uang gue buat makan malam mewah sama pacar barunya.


Otak liciknya tiba-tiba saja mengeluarkan ide cemerlang. Membuka galeri foto dan melihat foto paling bagus yang di potret saat makan malam bersama tadi lalu meng-uploadnya dengan caption terimakasih semoga bisa menjadi keluarga baru yang baik dan menyenangkan.

__ADS_1


Terkirim. Dia kembali mengulas senyum. Pasti Leon melihat postingan barunya akan kepo.


Selepas dirinya memposting foto di akun media sosialnya, tiba-tiba dia di kejutkan dengan kedatangan wanita cantik yang tak lain dan tak bukan Laluna.


Wanita yang dulu pernah bekerja sama dengan perusahaan kosmetiknya sebagai brand ambassador itu berdiri di depan Arumi sambil bersedekap angkuh. Arumi berdiri, meletakkan ponselnya di meja bundar kayu menatap Luna dengan tatapan waspada.


"Saya akan to the poin sama kamu." Serunya dengan nada begitu angkuh. "Saya tau kenapa Digo memilih kamu sebagai istri dia."


Deg...


Mata Arumi mengerjap cepat. Seketika nyalinya ciut. Karena Arumi pikir Laluna mengetahui jika ada kongkalikong dan perjanjian tertulis sebelum pernikahan mereka. Tapi tak lama nyali Arumi kembali naik saat mendengar Laluna berkata.


"Secinta apapun Digo sama kamu, jangan bermimpi akan gantiin saya di hati Digo. Karena cinta sejati Digo itu saya. Ngerti!"


Mulut Arumi mencebik, sukses membuat Laluna membeliakkan matanya.


"Percaya diri banget sih mba jadi orang. Sadar diri dong dan tau kapasitas."


Laluna maju selangkah dan hendak mendorong tubuh Arumi. Untungnya Arumi sudah membaca gerak tubuh Laluna dan berhasil menghindar.


"Kamu..." Melotot sambil menunjuk Arumi dengan jari telunjuknya. "Jangan berharap bisa jadi ratu di sini. Meskipun Digo nikahin kamu, jangan pernah bermimpi bisa mendapatkan hati dan cinta Digo. Meskipun kamu berusaha mati-matian pun selamanya Digo gak akan pernah cinta sama kamu. Aku tau kenapa Digo mau nikah sama kamu, itu karena desakan ayah yang mau menyerahkan jabatan CEO kepada Digo dan syarat untuk menjabat sebagai CEO Digo harus punya istri baru."


Arumi masih stay kalem. Mendengarkan cerocosan Laluna yang panjang lebar enggan.


"Itu sebabnya Digo milih kamu. Dia terpaksa nikahin kamu karena menginginkan jabatan itu. Karena aku tau, cuma aku wanita satu-satunya yang Digo cintai."


Entah mengapa kalimat terakhir dari mulut Laluna berhasil sedikit mengusik hari Arumi. Tetapi, sebisa mungkin Arumi menguatkan hatinya untuk tidak terpancing oleh wanita di depannya.


Dengan gaya tak kalah angkuh, di singkirkan tangan Laluna yang satu senti lagi mengenai matanya dan berucap.


"Mba jadi orang itu sadar diri dan tau diri. Kan situ dulu yang selingkuhi Digo sama adeknya sendiri, dan dengan tidak tau malunya anda juga yang mau menjadi istri Steve. Lah sekarang, percaya diri banget bilang cinta Digo cuma situ. Situ siape? Mantan bini modelan begini di inget. Gak tau adab. Mending gue perawan dan bisa menjaga cinta dari Digo."


Tangan Laluna mengepal kesal. Ingin sekali rasanya dia menampar pipi gadis tak tau diri di depannya itu.


"Jangan kurang ajar sama saya."


"Hey Maimunah, kalau gue jadi bini Digo ada itu elo jangan kurang ajar sama gue. Secara sebentar lagi gue kan bakal jadi kakak ipar lu. Udah sepatutnya lo hormatin gue."


Bukan marah karena ucapan kurang ajar Arumi, Laluna malah tersenyum penuh penghinaan.


"Kakak ipar?" Tiba-tiba dengan gerakan cepat Laluna mendorong tubuh Arumi sampai membuat gadis itu nyaris jatuh terduduk di kursi besi. "Kamu boleh aja bisa mendapatkan status jadi istri Digo. Tapi jangan bermimpi dan berharap Digo bakal kasih cinta dan hatinya untuk kamu."


Tidak mau kalah, meskipun hatinya meyakinkan akan ucapan Laluna, Arumi menempelkan tubuhnya pada tubuh Laluna dan mendongakkan kepala berbisik tepat pada telinga Laluna.


"Mau taruhan? Gue yakinin Digo bakalan cinta dan lupain bini gak tau malu kaya lo. Dan saat gue berhasil membuat Digo lupain lo, gue pastikan lo bakal nyesel permainkan cinta dari Digo. Karena gak akan ada kesempatan kedua untuk lo, buat dapatin Digo lagi."

__ADS_1


****


__ADS_2