Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Awal perjalanan cinta


__ADS_3

Arumi sesegukan, tapi hatinya terasa lega sudah mengeluarkan segala uneg-uneg yang beberapa minggu terakhir ia pendam sendiri. Tak peduli bagaimana tanggapan Digo. Yang penting, Arumi puas mengeluarkan segala kekesalan hatinya kepada Digo.


"Udah nangisnya?"


Kepala Arumi mendongak. Dia terheran-heran dengan reaksi Digo yang datar datar saja.


Digo maju dua langkah mendekati Arumi, lalu meraih kedua tangan Arumi dan menggegamnya.


"Gue minta maaf selama beberapa minggu ini buat lo kesal dengan sikap masa bodo gue karena tingkah Laluna. Gue cuma lagi nyari bukti kebusukan Arumi buat gue tunjukkin sama keluarga. Gue juga mau buktiin sama adik gue, kalau sebenarnya tuh cewek gak tulus mencintai dia."


"Dengan ngorbanin pernikahan kita? Hello, Digo come on jangan naif dong." Arumi benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir lelaki itu. Bagaimana bisa, Digo mencari bukti dengan mengorbankan pernikahannya sendiri.


"Hey, listening." Digo meraih kedua bahu Arumi yang hendak menjauh darinya. Menegakkan tubuh gadis itu agar menghadap dan menatapnya. "Semua pernikahan kita akan berjalan sesuai rencana. Lo mau konsep rustic di pantai, course sudah gue siapkan. Gaun pengantin ala kate middleton semua sudah gue pesen sekaligus mahkota berlapis berlian rancangan temen lo."


Mendengar hal itu seketika mata Arumi berbinar. "Lo gak bercanda, kan?"


"Apa muka gue terlihat lagi bercanda?"


Sejenak Arumi menelisik, mencari-cari sesuatu dari binar mata lelaki itu. Lalu sampai tiba-tiba, Arumi menghambur, mengalungkan kedua tangannya di leher Digo dan memeluk lelaki itu erat.


"Digo gue cinta sama lo." Teriak Arumi begitu kencang. "Tapi boong, sih." Bergumam tepat di telinga lelaki itu.

__ADS_1


Hati Arumi menghangat dan bahagia. Dalam sekejap, ia melupakan segala perbuatan yang di lakukan oleh Laluna, membiarkan wanita itu melakukan apapun semaunya. Karena sekarang, dia sudah tau Digo diam-diam telah mempersiapkan semua pernikahan sesuai keinginan Arumi. Dan malam itu, untuk pertama kalinya mereka berdua saling berpelukan. Berbagi kebahagiaan bersama meskipun belum ada cinta yang tumbuh di hati keduanya.


Pagi-pagi sekali, dua hari menjelang pernikahan Arumi sudah di jemput oleh Alex dan Bianca untuk fitting baju pengantin sekali lagi.


Sepanjang perjalanan menuju butik hingga tiba dan selesai, tak sedikit pun Arumi nampak batang hidung Digo. Beberapa kali, Arumi juga menanyakan di mana keberadaan Digo. Tapi hanya di jawab dengan sebuah senyuman dari kedua asisten pribadi calon suaminya itu. Sampai, ia kembali lagi ke hotel Arumi belum juga melihat keberadaan Digo. Membuat hatinya tiba-tiba cemas takut terjadi sesuatu kepada lelaki itu.


Tidak biasanya dia gak kelihatan seperti ini. Apa Digo sibuk dengan pekerjaannya? Tapi masa iya, dua hari menjelang pernikahan dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya? Atau.... Apa jangan-jangan Digo sakit?


Punggung lebar berotot Alex yang sedang mengendarai mobil di colek. Seperti sebuah magnet, bukan hanya Alex yang menoleh ketika bahunya di sentuh tapi Bianca yang duduk tepat di sebelah Alex juga ikut menolehkan kepala melirik Arumi di bangku belakang.


"Digo baik-baik aja, kan? Tolong kasih tau aku, kenapa Digo tak datang untuk fitting baju pengantin terakhir kalinya bersama aku? Dia tidak sakit, kan? Jawab dong kalian, jawab?"


Bagaimana mereka berdua mau jawab, kalau Arumi yang terus merocos tak ada hentinya mengkhawatirkan Digo hingga segitunya.


Benak Arumi seketika terusik. Dia kesal, ternyata hati kecilnya benar jika Digo masih bekerja meskipun hari pernikahannya hanya tinggal menghitung hari.


"Lalu dia tidak mencoba jas pengantin itu?" tanya Arumi kepada kedua asisten Digo dengan nada sebal.


"Kami sudah mengirimkan jas pengantin tuan Digo ke hotelnya, nona. Jadi tolong, agar nona tidak perlu mengkhawatirkan tuan muda, karena kami pastikan tuan muda dalam keadaan baik-baik saja."


Huh untuk apa aku mengkhawatirkannya. Toh orang yang ku khawatirkan dan ku kira sakit makanya tak bisa hadir untuk fitting baju pengantin, nyatanya sehat walafiat dan lebih memilih bekerja di banding pernikahannya.

__ADS_1


Tanpa Arumi sadari, hatinya mulai cemburu dengan kehidupan Digo yang sibuk hanya untuk bekerja bekerja dan bekerja. Ada sedikit ketakutan di dalam sana, jika nantinya setelah menikah Digo malah akan sibuk dengan pekerjaan dan tak ada waktu untuk dia.


Dan seperti tau apa yang sedang Arumi pikirkan, Alex yang sedang menyetir diam-diam ternyata sedaritadi memerhatikan gurat wajah Arumi yang tak suka dan cemburu kala mendengar jika Digo ternyata sibuk bekerja dan tak bisa hadir menemaninya untuk fitting baju pengantin berkata.


"Nona tidak perlu khawatir. Tuan muda adalah orang yang disiplin dan pasti akan memprioritaskan nona di atas apapun."


"Apa kau yakin?" Secara spontan tiba-tiba dia berkata demikian.


"Tentu. Selama saya bekerja dengan beliau, tuan muda saya kenal sebagai sosok pribadi yang begitu menjaga keharmonisan rumah tangga. Sebisa mungkin, dia setia kepada pasangannya meskipun banyak rintangan yang menghalangi."


Hati Arumi tiba-tiba saja terasa tersentuh. Benaknya kembali teringat dengan awal pertemuan dengan lelaki itu di Amsterdam. Lelaki tampan namun jutek yang terus memanggilnya wanita pemabuk karena kuat minum minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.


Tak pernah Arumi sangka, cowok sebaik, seramah, sepenyayang seperti Digo bisa-bisanya di khianati oleh pasangannya hanya karena pekerjaan Digo dahulu sebagai seorang diplomatik.


Dalam hatinya, Arumi berjanji dan bersumpah akan berusaha bukan hanya membantu Digo sembuh dari kelainan impotennya, tetapi juga berusaha mencintai lelaki itu seumur hidupnya. Berjalan bersama dan mendampingi di sisinya selamanya, dan merajut asa sehidup semati untuk saling mencintai hingga maut memisahkan.


"Aku beruntung bisa menikah dengan Digo. Semoga, dia lelaki terakhir yang bisa membawa ku menuju masa depan yang lebih indah."


Bersama, Alex dan Bianca serentak keduanya mengucapkan Amin begitu keras dan panjang hingga membuat Arumi tersadar dari lamunannya. Arumi yang tersadar dari lamunannya dan langsung mengingat ucapan apa yang barusan ia katakan hanya mampu tersenyum dengan wajah berubah merah padam menahan malu.


Gue ngomong apa sih? Kok, bisa gue bilang bersyukur bisa nikah dengan Digo. Berulang kali arumi merutuki ucapannya sendiri. Tapi jauh di dasar hatinya sebenarnya memang dia tak menampik jika Digo memanglah sosok lelaki baik, penyayang, dan penuh cinta.

__ADS_1


Perdana terbitin foto pemeran Digo. Maaf kalau tidak suka, pict hanya sebagai pemanis saja.



__ADS_2