
Sore menjelang malam, takkala kereta api melimpir membawa Arumi dan Digo meninggalkan kota Yogyakarta. Tidak seperti keluarga dan kerabat mereka yang lebih memilih menggunakan transportasi udara untuk kembali ke ibukota. Arumi sengaja meminta Digo untuk kembali ke ibukota dengan kereta api hanya untuk menikmati panorama indah kota kelahiran sebelum dia benar-benar meninggalkan kota tersebut untuk tinggal dengan suami barunya.
Makan malam tiba, Digo sudah sedari habis magrib pergi pamit ke gerbong makanan untuk membeli makan malam. Namun, sudah lebih dari setengah jam sosoknya urung juga kembali. Membuat Arumi yang terduduk sendiri di sebelah jendela kereta cemas memikirkan. Berkali-kali, dia mencoba untuk menghubungi Digo. Namun, sepertinya lelaki itu mengheningkan ponselnya hingga tak tau jika sang istri sudah berkali-kali menelpon dirinya.
Di saat kecemasan menghinggapi dada, akhirnya orang yang di nanti pun tiba dengan membawa sekantung besar berisikan makanan.
"Kenapa aku telpon gak di akan?" Kalimat pertama yang di lontarkan oleh Arumi bernada begitu sinis dan buru-buru ingin mendapat jawab.
"Maaf, tadi di gerbong kereta penuh. Aku jadi harus ngabtri. Terus hape aku silent, aku baru liat panggilan tak terjawab dari kamu pas selesai beli makanan."
Akhirnya Arumi maklum mendengar penjelasan Digo. Di keluarkannya satu persatu makanan dari dalam plastik yang berisikan dua nasi box, dua botol air mineral, dua gelas teh panas, juga beberapa cemilan.
Sebelum makan, Arumi mengingat perkataan ibunya sebelum menjadi istri Digo. Perkataan tentang kodrat istri yang harus selalu setia melayani suami dalam bentuk apapun. Maka dengan sigap sebelum Digo meraih makanan miliknya, Arumi sudah terlebih dulu meraih nasi kotak tersebut. Digo sedikit terkejut dengan perilaku Arumi. Arumi justru tersenyum kepada Digo sebagai jawabannya. Di bukanya tutup nasi kotak tersebut dan di raihnya sendok plastik yang sudah tersedia di dalam nasi box.xox
"Mau aku suapin?" Tawar Arumi yang malah membuat mata Digo mendelik.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu mau suapin aku? Aku bisa kok makan sendiri." Digo meraih nasi kotak miliknya, tidak lupa juga dengan sendok yang ada di genggaman Arumi.
Terdiam bingung, Arumi hanya memandangi suaminya yang sudah melahap nasi berlauk ayam goreng, sambal terasi lengkap dengan lalapan dengan pandangan datar.
__ADS_1
"A–aku cuma mau melayani kamu aja. Sesuai seperti apa yang mama bilang. Kalau kodratnya istri harus bisa melayani suami bukan hanya dalam segi seksual tetapi juga yang lainnya termasuk makan."
Digo terkekeh dan menjeda makannya. Tangannya terangkat, ia langsung menjawil hidung Arumi. Membuat Arumi menjerit kesakitan, dan memukul lengan Digo.
"Tapi gak mesti di suapin, sayang."
Pipi Arumi memerah. Ia menahan malu.
"Cukup dengan kamu menjadi istri penurut, tau tugas seorang istri itu udah buat aku bahagia, Rumi. Kamu ngerti?"
Kepala Arumi mengangguk. Ada rasa hangat yang dia rasakan di dadanya.
"Sekarang kamu makan." Sudah meraih nasi box milik Arumi. Digo membuka penutup nasi box tersebut. Mengeluarkan sendok plastik yang ada di dalam sana, dan meletakkan nasi box tersebut di hadapan Arumi. "Habiskan, abis itu tidur."
Mulai dari suara klakson kereta api yang selalu membuatnya teringat akan film tragedi Bintaro yang dahulu kecil ia tonton bersama Steve, jalur kereta yang terkadang berbelok, menanjak dan turun. Hingga bayangan-bayangan kecelakaan dalam film tragedi Bintaro berputar dalam benaknya secara tiba-tiba. Bak seperti mimpi buruk, yang terus menghantuinya tanpa henti.
Untuk menyembunyikan rasa parnonya naik kereta api dari hadapan Arumi yang sedaritadi tidak tidur-tidur dan malah asik dengan dunianya sendiri. Sudah lebih enam kali banyaknya, Digo mundar mandir keluar masuk kamar mandi. Sampai Arumi dibuat heran dengan tingkahnya. Bahkan saking herannya, sampai Arumi sempat berpikir jika Digo beser karena efek salah minum obat tadi siang.
Jika membayangkan hal itu, Arumi tak dapat menahan tawanya. Dia selalu teringat bagaimana lucunya eksepsi Digo ketika menahan diri dan melawan obat perangs*ng yang ia minum. Digo... Digo, ada-ada saja kelakuan lucunya. Pikir Arumi.
Sejenak Arumi menyenderkan tubuhnya di kursi kereta saat Digo ijin ke kamar mandi lagi untuk ketujuh kalinya. Pandangannya menyapu ke luar jendela kereta. Mecoba menelisik gelap gulitanya malam jawa tengah.
Pikirannya melayang kemana-mana. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan serumit dan se–absurd ini. Di khianati kekasih hingga semua harta miliknya di ambil, dan bertemu duda impoten yang justru menjadi suami barunya. Arumi menikmati perjalanan hidup yang ia lalui itu dengan terus berucap syukur seraya pikirannya terus melayang memutar kembali kepingan-kepingan memori perjalanan hidupnya. Berkali-kali, dia meyakinkan diri. Meskipun belum ada cinta yang tumbuh di hatinya, Arumi yakin dengan berjalannya waktu cinta pasti akan tumbuh dan terukir bukan hanya di hatinya tetapi juga hati Digo.
__ADS_1
Mobil SUV milik keluarga Uparengga sudah sedaritadi menunggu di luar stasiun pasar senen. Pak Ujang, sopir pribadi papinya dengan sigap datang menghampiri Arumi dan Digo saat keduanya Keluar dari stasiun.
"Selamat malam tuan dan nona muda." Ia langsung merampas koper besar yang Arumi seret. Membawanya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai mau memisahkan." Doa setulus hati pak Ujang ucapakan kepada kedua mempelai ketika keduanya telah duduk di kursi penumpang.
"Terimakasih doanya, pak." Jawab Digo dingin seperti biasanya.
"Terimakasih, pak. Salam kenal, semoga bapak betah ya sekarang kerja dengan saya." Berbeda dengan Digo yang nampak dingin terhadap semua orang termasuk pak Ujang. Arumi menanggapi doa tulus sopir yang sudah lama bekerja dengan keluarga Uparengga itu dengan kata-kata lembut.
"Pasti, nona. Saya sudah kenal tuan muda sedari bayi, saya senang akhirnya bisa bekerja lagi untuk melayani tuan muda."
"Oh ya? Wah berarti bapak udah lama ya kerja dengan keluarga Uparengga?" Arumi terkagum-kagum mendengar perkataan pak Ujang yang mengenal Digo sedari bayi.
Pasalnya jika pak Ujang mengenal Digo sedari bayi, sudah pasti lelaki itu telah begitu lama bekerja dengan keluarga Uparengga. Namun, yang membuat Arumi terheran-heran bukanlah berapa lama pak Ujang kerja dengan keluarga Uparengga. Tetapi salah fokus dengan wajah pak Ujang yang terlihat seperti usia empat puluh tahunan, padahal jika di pikir-pikir pasti usia lelaki itu dua atau tiga kali lipat.
"Iya, nona. Sewaktu nyonya besar melahirkan tuan muda, saya ingat betul tuan besar langsung meninggalkan Belanda dan pekerjaan begitu saja demi pulang ke Indonesia dan melihat anak pertamanya lahir. Tuan besar amat begitu bahagia ketika ternyata yang lahir adalah seorang putra. Saking bahagianya, dia bahkan menyiarkan iklan tentang tuan muda di televisi agar semua rakyat Indonesia tau jika dirinya baru saja menyambut kelahiran putra pertamanya."
Mata Arumi mencuri pandang ke arah Digo. Ternyata sedaritadi Digo memperhatikan raut wajah Arumi nanar. Alis Digo terangkat, seperti sedang berkata "Ada apa?" kepada Arumi.
Kepala Arumi menggeleng, sejurus dengan mobil yang melaju meninggalkan stasiun. Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Arumi becekrama dengan pak Ujang. Mengobrol bagaimana bandelnya Digo sewaktu kecil dulu, hingga harus menyewakan babysitter hingga lima orang banyaknya.
****
__ADS_1