
senja berlahan tenggelam di ufuk timur. Pantai indah berpasir putih terbentang luas di bibir lautan lepas. Deburan ombak bersautan dengan merpati putih yang terbang tinggi di langit senja. Arumi berjalan berdampingan bersama Digo menelusuri dengan kaki-kaki telanjang. Sesekali wanita itu tersenyum takkala angin nakal terhembus membuat rambut-rambut panjangnya berterbangan menutupi wajah. Digo yang melihat hatinya tergelitik hingga akhirnya ikut tersenyum.
Mereka berjalan berdampingan, berpegang tangan bersama menelusuri pantai yang berhadapan langsung dengan rumah milik Digo. Sungguh, mimpi yang jauh melampaui batas bagi Arumi yang mendapat suami sekaya Digo yang mampu membeli rumah di tepat di bibir pantai. Entah haruskah Arumi bersyukur dan bahagia, atau justru takut jika suatu saat kebagian yang baru ia dapat tiba-tiba lenyap dengan sesuatu hal yang tak terduga.
Jangan memikirkan suatu hal yang belum pasti. Digo sudah berjanji meskipun tak ada cinta di hatinya, dia takkan pernah meninggalkan lo.
Tak jauh dari tempat mereka berjalan, ada sebuah gazebo yang sudah di sulap menjadi meja makan minimalis. Digo menarik tangan Arumi dan membawa wanita itu untuk mendekat dan duduk di dalam gazebo tersebut.
Arumi berdecak, terkesan, dan terkagum-kagum melihat ternyata di dalam sana sudah tersedia begitu banyak makanan dan minuman. Dengan telaten, Digo menata bantal yang akan menjadi alas duduk mereka. Memukul-mukul bantal tersebut, dan menyuruh Arumi duduk di atasnya.
"Duduklah. Aku akan memanggil pelayanan untuk membawakan piring untuk kita."
Arumi menurut. Dia duduk lesehan dengan beralaskan bantal ala restoran jepang. Arumi tersenyum kecil, pipinya merah merona. Sungguh dia begitu bahagia mendapatkan suami sebaik, seromantis, dan tanggung jawab seperti Digo. Dia bahkan sempat berpikir betapa bodohnya Laluna yang meninggalkan Digo dengan alasan konyol "kesepian karena Digo menjadi seorang diplomat".
"Dasar cewek gak bersyukur."
"Siapa?"
Arumi terkejut dan langsung tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba saja Digo datang dan mendengar gumamannya.
__ADS_1
"Siapa wanita yang gak bersyukur?" tanya Digo lagi sembari mengambil bantal dan duduk di hadapan Arumi.
"Euhmmm..." Arumi sedikit ragu mengatakannya.
Digo memperhatikan raut wajah Arumi sembari tangannya menyendok buah-buahan dan memasukkannya ke dalam mangkuk kecil.
"Luna." Akhirnya Arumi berkata. Kepalanya sedikit menunduk. Rada takut untuk melihat ke arah suaminya.
Sejenak Digo terdiam. Menaik turunkan alisnya seperti sedang berpikir. Diam-diam Arumi memperhatikan. Dia sedikit lega karena Digo tidak memasang wajah asem yang membuatnya takut seperti pagi tadi ketika dia dan Steve bertengkar.
"Ada apa dengan Luna?" tanya Digo lagi. Kemudian memberikan mangkuk berisikan potongan buah kepada Arumi dan kembali menyendok lagi ke tempat wadah yang lain.
"Aku sedang berpikir saja, kenapa Luna setega itu kepada mu. Padahal kamu itu sempurna; baik, penyayang, romantis, dan bertanggungjawab juga. Tapi masih bisa di selingkuhi. Kamu juga tampan, badan kamu juga uhmmm ya bisa di bilang kaya Steve Roger KW tapi tetap aja ya..."
"Sesempurna apapun manusia, pasti akan ada kekurangannya. Tak terkecuali diriku. Mungkin bagi mu aku sempurna karena kaya dan punya sifat penyayang seperti yang kau bilang. Tapi bagi Laluna tidak. Mungkin pekerjaan ku yang menjadi seorang diplomat adalah kekurangan ku yang selalu pergi meninggalkan dirinya sendiri. Juga aku yang tidak bisa memuaskan hasrat seksualnya dan malah justru Steve
yang bisa, mungkin itu juga salah satu kekurangan diriku." Digo menghela napas sejenak.
"Kau menyesal, Digo bercerai dengan Laluna?" Entah setan darimana muncul pada diri Arumi hingga tiba-tiba dia bertanya demikian.
__ADS_1
Digo tersenyum kecut. "Kau bertanya aku menyesal atau tidak?"
Bodohnya Arumi malah menganggukkan kepala.
"Kalau boleh jujur aku sangat menyesal telah bercerai dengan Luna."
Arumi tertunduk lesu. Entah mengapa hatinya merasa begitu sakit. Dunianya seperti berhenti berputar saat itu juga. Ada yang terasa menyesakkan di dalam sana mendengar ucapan Digo barusan.
"Aku sangat menyesal. Jika saja, aku tau Luna wanita seperti itu, mungkin takkan ada pernikahan dan perceraian di antara kita."
Seketika kepala Arumi kembali menengadah menatap lekat wajah Digo.
"Mungkin aku masih mencintainya dan belum melupakannya. Tapi jika kau bertanya aku menyesal bercerai dengannya jawaban ku adalah; aku bukan hanya menyesal bercerai dengannya. Tetapi juga menyesal mengenal dirinya, pernah menikahinya. Bahkan mencintai. Andai hatiku bisa ku kendalikan, mungkin aku sudah melupakan dia, dan tidak akan mengidap Impoten serta meminta mu menikah dengannya."
Entah ekspresi apa yang harus Arumi tunjukkan. Senangkah? atau sedih? Dia tak tau. Di satu sisi, Arumi bahagia kalau dia bisa menilai Digo ingin melupakan Laluna. Meskipun di sisi lain, cinta sucinya untuk Luna belum juga terhapus. Mungkin, rintangan terbesar rumah tangganya adalah menaklukkan hati Digo dan membantu Digo melupakan Laluna sepenuhnya. Entah apakah Arumi bisa atau tidak.
"Sudahlah. Jangan bicarakan masalah seperti itu dulu, Rumi. Kita sudah berjanji bukan untuk melengkapi. Jadi jangan khawatir, meskipun aku belum bisa melupakan dia, aku janji tidak akan pernah meninggalkan mu sampai kapan pun."
Arumi hanya tersenyum menanggapi. Hatinya tiba-tiba terasa begitu sesak. Berkali-kali, ia coba menahan buliran air mata yang dengan kurang ajar ingin sekali turun.
__ADS_1
Kalau gak ada surat pra nikah itu, apa mungkin lo bakal ninggalin gua suatu saat nanti, Go?
...----------------...