Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
EPISODE 59


__ADS_3

Entah takdir rumit nakal macam apa yang sedang mempermainkan Arumi. Di butik yang katanya butik terbaik menurut Pak ketut, dia kembali bertemu dengan Marco kembali. Bule tampan, dengan sejuta pesona yang memukau tapi dengan perjalanan cinta yang penuh liku dan luka.


"Kau disini?" Arumi membulatkan matanya sedikit, berusaha memastikan pengelihatannya tak bermasalah.


Nyatanya benar, matanya tak bermasalah. Dengan senyum ceria yang merekah, Marco melambaikan tangannya sementara tangan satunya menenteng goodie bag besar yang entah berisikan apa.


"Woah, aku tidak tahu kau akan datang ke butik ku."


"Butik mu?" Tanya Arumi dengan nada setengah terkejut. Bagaimana bisa seorang lelaki seperti Marco, yang terlihat tidak berbakat dalam dunia Fashion memiliki sebuah butik bagus. Bahkan paling bagus satu kota Bali.


"Ya. Ini butik ku." Jawabnya penuh yakin.


Mata Arumi berbinar, alisnya mengerut. Sungguh, dia tidak percaya lelaki seperti Marco memiliki sebuah butik. Dia bahkan, lebih cocok menjadi seorang CEO sebuah perusahaan ketimbang pemilik Butik.


Dan, menyadari jika Arumi tidak mempercayai jika itu butik miliknya, Digo mendekat. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam butik. Dan, selama berjalan masuk itulah Digo menjelaskan asal muasal bagaimana dirinya bisa memiliki sebuah butik di Bali.


"Bukan kah, kau seorang CEO?" Tanya Arumi mengingat ucapan Digo beberapa hari lalu saat pertama kali keduanya bertemu.


"Ya. Tapi kau pasti ingat dengan impian kekasihku, bukan?"


Kepala Arumi mengangguk. Masih terbayang cukup jelas dalam benak Arumi, setiap kata yang Marco katakan kemarin mengenai semua tentang kekasihnya.


"Ya, dia ingin memiliki usaha."


"Usaha butik." Marco melanjutkan. "Dia sangat menyukai pendiri brand terkenal Channel, dan berharap suatu saat nanti memiliki butik dengan brand-brand ternama seperti Channel. Maka dari itu, dia berangkat ke Inggris untuk belajar fashion dan berharap bisa membuka butik cantik di Indonesia."


Lagi, Arumi terpanah dan tergugah mendengar cerita dari Marco. Dari penuturan lelaki itu, jelas Arumi bisa dapat menggambarkan bagaimana sifat kekasih Marco yang telah pergi. Seorang wanita yang gigih, pekerja keras, dan mungkin sedikit ambisius. Oh sungguh, Arumi ingin sekali menjadi wanita seperti itu. Seorang pekerjaan keras, gigih, dan sedikit di bumbui dengan ambisi. Pasti, perusahaan kosmetik miliknya dulu tidak akan jatuh ke tangan orang lain seperti sekarang.


Dan, selagi Arumi sedang meratapi nasibnya juga mengagumi sosok kekasih Marco, tiba-tiba saja dia di kejutkan dengan sebuah tepukan di punggung.


Wanita itu sebenarnya sedang duduk di salah satu kursi Butik. Duduk berdua dengan Marco sembari menyeruput secangkir kopi latte hangat kesukaannya.

__ADS_1


Arumi pun segera tersadar dari lamunannya, dan mendapati Marco sebagai si penepuk bahunya.


"So, ada urusan apa kau datang ke butik milikku?" Marco bertanya mencoba mengalihkan pembicaraan.


Segera mungkin Arumi menutup pikirannya dan kembali seperti semula, mencari gaun cantik untuk ia kenakan ke pesta kolega suaminya.


"Aku butuh sebuah gaun cantik, untuk ku pergunakan ke acara pesta kolega suamiku nanti malam. Tolong carikan gaun yang bagus dan pastinya cocok denganku."


Ternyata ada baiknya juga, Marco jadi pemilik Butik tempat itu. Arumi tak perlu susah-susah mencari gaun yang pantas untuknya sendiri. Dia tinggal menyerahkannya kepada Marco, dan pasti Marco akan senang hati membantunya.


Benar saja. Setelah tau tujuan Arumi, Marco langsung bangkit dari duduknya dan memanggil beberapa pegawai butik.


"Bawa Arumi ke kantorku. Panggilkan Veronica dan katakan bawa rancangan terbaiknya ke kantorku." Dua pegawainya langsung menganggukkan kepala patuh, dan segera menjalankan perintah yang Marco berikan.


"So, gaun seperti apa yang kau inginkan?" Setelah sampai di kantor Marco. Arumi duduk di sofa panjang.


Kantor itu terlihat besar dan sangat bersih. Hanya ada satu meja kecil berserta kursinya yang berada di tengah-tengah ruangan. Juga ada sebuah sofa berwarna senada dengan warna cat dinding kantor yakni biru terpajang tak jauh dari pintu masuk. Juga ada sebuah tirai berwarna maroon yang terpasang tepat di tengah ruangan sebagai pemisah antara sofa panjang yang kini Arumi duduki dengan meja serta bangku kecil.


"Sebuah gaun simple tapi elegan." Dengan nada sedikit tergagap Arumi menjawab. Sungguh, wanita itu begitu sulit untuk menjawab ucapan Marco dikarenakan terlalu terpukau dengan ruangan tempat Marco bekerja.


"Tunggu sebentar. Perancang terbaik butik ku akan segera datang."


Dan benar saja, tak beberapa lama dua pegawai yang tadi Marco panggil datang bersama dengan seorang wanita setengah baya berpakaian glamor sembari membawa banyak gaun indah dengan hati-hati. Arumi bangkit dari duduknya, tersenyum kepada wanita paruh baya berpakaian nyentrik itu dengan sedikit membungkuk badan.


"Hello, dear. Perkenalkan nama saya Veronica Wilhelm. desainer resmi butik milik, sir Marco Anderson." Wanita paruh baya bernama Veronica itu mengulurkan tangannya, sembari memperkenalkan diri dengan bahasa inggris dan logat British yang begitu kental.


Malu-malu, Arumi meraih tangannya dan mereka pun berjabat tangan.


"Hello madame, nama saya Arumi." Arumi mencoba berkata dengan sesopan mungkin.


"Baiklah." Dia melepaskan jabatan tangannya, kemudian menyuruh kedua pegawai untuk menggantungkan semua gaun yang mereka bawa ke tempat khusus yang sudah ada di dalam ruangan.

__ADS_1


"Dia mau gaun simple tapi kelihatan elegan di pakai." Marco langsung to the point kepada Veronica. Veronica pun yang tahu pekerjaan apa, segera meraih satu gaun dan memberikannya kepada Arumi tanpa basa-basi.


"Coba pakai yang ini." Suruhnya dan kemudian meminta tolong kepada kedua pegawai tadi untuk membantu Arumi mengganti baju.


Dengan di bantu kedua pegawai tadi, Arumi masuk ke dalam sebuah bilik kecil yang tersembunyi di balik dinding kantor. Dan seperti sebuah magic, sesaat Arumi masuk semua dinding biru itu berubah menjadi cermin besar tanpa cela.


"Siapa dia? Wanita mu?" sambil menunggu Arumi ganti pakaian, Veronica bertanya ngasal kepada Marco.


Seperti yang sudah-sudah setiap kali Marco membawa seorang wanita ke butiknya dan di tanya oleh Veronica. Marco akan dengan tegas menggelengkan kepala menampik terkaan ngasal Veronica.


"Dia sudah memiliki seorang suami. Tidak mungkin aku menyukai seorang yang sudah beristri."


Kepala Veronica mengangguk-angguk. Tapi, dari anggukan ini Veronica malah kembali melontarkan ucapan yang makin ngasal.


"Jadi jika dia tak punya suami, kau mencintainya."


Shocknya, Marco tak langsung merespon. Membuat Veronica yang sudah sangat lama mengenal dia menjadi tertegun dan semakin penasaran.


"So, kau menyukainya?"


Tawa menggelegar di ruangan itu. Marco tertawa begitu lepas hingga matanya menyipit dan mengeluarkan air mata.


"Tidak. Aku hanya mencintai kekasihku. Aku hanya kasian kepadanya. Di nikahi seorang impoten yang tidak mencintai dan ia cintai."


"Kamu berbohong, Marco." Tiba-tiba nada suara Veronica terdengar serius.


Marco menghentikan tawanya, dan menolehkan kepala menatap Veronica yang tengah asik menyeruput kopi miliknya.


"Aku berbohong?" Tanya Marco tak mengerti.


Kepala Veronica pun mengangguk. "Mata mu menunjukkan ketertarikan kepada wanita itu. Ketertarikan bukan kasihan. Kau boleh menampik dan membohongi semua orang dan dirimu sendiri. Tapi tidak untukku yang telah lama mengenalmu. Aku tahu, kau menyukai wanita itu, semua terlihat jelas dari mata mu."

__ADS_1


****


__ADS_2