Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
Memulai Kehidupan Yang Baru


__ADS_3

Digo mencium kening Arumi saat sang istri terlelap di kursi pesawat di sebelahnya. Dia tak lupa menyelimuti Arumi dengan selimut yang begitu tebal yang ia minta dari seorang pramugari.


"Kita akan tiba sebentar lagi." Bisik Digo di telinga Arumi yang membuat wanita itu mengerjapkan mata.


Di sapunya pandangan mata Kesepenjur kabin pesawat. Lalu, wanita itu tersenyum manis kepada sang suami.


"Aku ingin ke pantai." Katanya dengan lemah.


Digo terkekeh kecil, kembali mengecup kening Arumi sambil tangan kekarnya mengusap lembut rambut panjang terurai Arumi.


"Rumah kita jauh lebih indah daripada pantai."


Seketika mata Arumi berbinar cerah. "Benar?"


Digo menganggukkan kepalanya. "Kamu akan menyukainya."


Dengan hati penuh kegembiraan Arumi memeluk Digo begitu erat. Mencium pipi kanan dan kirinya dan berakhir ingin mengecup bibir lelaki itu. Namun, sebelum bibir mereka saling bertemu, Arumi tersadar akan perbuatannya. Dia langsung menjauh dan bertingkah kikuk. Menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak terasa gatal sama sekali.


"Maaf." Kata Digo tiba-tiba.


Kening Arumi mengeryit. Dia menatap suaminya kembali dalam.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Membentak mu, dan melakukan kekerasan kepada Luna di depan mu."


Arumi diam. Senyap menyapu keduanya. Kepala mereka saling tertunduk kembali mengingat kejadian pagi tadi yang mana berakhir dengan mereka meninggalkan rumah utama.


"Aku mengerti. Kamu hanya menjalankan kewajiban mu sebagai suami. Dan jika aku ada di posisi mu, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama untuk menjalankan kewajiban ku dengan baik."


Digo diam seribu bahasa. Entah mengapa jawaban Arumi membuat hatinya sakit dan terusik. Bukan tanpa sebab Arumi berkata demikian. Andai saja, waktu Digo mengemas pakaian mereka ke dalam koper berkata dia melakukan kekerasan kepada Luna karena tidak rela melihat Arumi terluka atau paling tidak berkata ingin melindungi istrinya. Mungkin Arumi akan berkata berbeda. Penjelas Digo tadi, tak ayal membuat hati Arumi juga sakit. Awalnya Arumi pikir, Digo mulai mencintai dan tak rela ia di sakiti oleh Laluna. Tapi nyatanya, dia melakukan itu hanya sebatas kewajiban dia untuk melindungi Arumi sebagai istrinya.


"Aku membela mu karena selain kamu tidak salah itu adalah bentuk tanggung jawab ku menjadi suami mu. Jangan berharap lebih, Arumi. Aku hanya ingin terlihat sempurna di depan keluarga mu menjadi seorang menantu." Begitu kata Digo tadi. Angan Arumi seketika hancur. Ia yang sudah sangat berharap Digo menyimpan rasa untuknya barang sedikit saja harus rela merasakan sakit hati ketika sang suami berkata seperti itu.


Ingatlah Arumi alasan lo nikah sama dia. Nyelamatin orang tua lo, dan buktikan kalau dia gak impoten. Jangan berharap lebih apalagi sampe ada feeling sama dia. Jangan! Lo bakalan terluka dan kecewa untuk sekian kalinya. Bahkan pasti bakal lebih menyakitkan.


Arumi mengulum senyum. Menahan miris di dalam. hatinya. "Santai aja, Digo." Menepuk punggung lelaki itu beberapa kali.


Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di bandara ngarai, Bali. Di pintu keluar terminal, seorang lelaki setengah baya berpakaian hitam dengan blangkon khas bali melambaikan tangan. Dia tersenyum waktu Digo dan Arumi mendekat.


"Selamat datang di Bali, nona muda." Sapa lelaki setengah baya itu ramah. "Perkenalkan saya Ketut. Nona bisa memanggil saya Pak Ketut." Imbuhnya lagi memperkenalkan diri.


Arumi tersenyum tipis, mengulurkan tangannya riang yang di raih lelaki bernama Ketut itu sungkan.

__ADS_1


"Saya Arumi. Arumi Maharani."


Di ketahui oleh Arumi sendiri, Pak Ketut adalah supir pribadi Laluna dulu. Dia masih bekerja dengan Digo meskipun mereka telah lama bercerai di karenakan Digo sudah mempercayai Pak Ketut untuk mengurus rumah pribadi milik Digo. Pak Ketut sudah sangat lama bekerja dengan Digo. Sewaktu mantan istri Digo berselingkuh sebenarnya Pak Ketut mengetahuinya. Dengan kedatangan Steve adik Digo yang begitu sering saat Digo dinas di luar negeri. Tetapi lelaki itu bungkam tak berani bicara apalagi mengadu kepada Digo, karena takut di pecat sementara dia masih harus menanggung beban keluarganya seorang diri.


Awalnya Digo kecewa dengan ke–bungkaman pak Ketut menutup perselingkuhan istri dan adiknya. Tapi mendengar penjelasan dan alasan lelaki itu, akhirnya Digo berusaha menerima dan memaafkannya kembali.


"Rumah sudah di persiapkan?" tanya Digo yang duduk di bangku penumpang. Sedang mengusap pipi istrinya yang kembali terlelap berkat obat yang dokter Shella berikan tadi.


"Beres, tuan. Bahkan kamar utama tuan saja sudah saya dekorasi ulang. Pokoknya top deh. Tuan pasti suka."


Mata Digo membelalak. Apa maksud dari dekorasi ulang kamar pribadinya. Perasaan, dia tidak memintanya. Dia hanya berpesan untuk membersihkan seluruh rumah karena dia akan pulang dan kembali ke rumah yang ia beli dari hasil bekerja sebagai diplomatik.


"Apa maksudnya? kau mendekorasi ulang kamarku?"


"Masa tuan tidak mengerti. Ini sudah kali kedua tuan menikah bukan? Pasti tau lah apa maksud saya. Pokoknya tuan pasti bakal senang ketika sampai di rumah. Saya juga sudah mempersiapkan ramuan yang di bikinkan khusus untuk tuan." Sambil tertawa renyah pak Ketut menjelaskan.


Digo mengerti arah dan maksud ucapan Pak Ketut. Digo tak menjawab, dia hanya mampu menyandarkan tubuh di samping sang istri sambil mengusap wajah kasar.


Ada-ada saja. Pasti setelah ini Rumi akan berpikir macam-macam lagi kepadaku dan berharap aku mencintainya.


Digo bermonolog. Hatinya bingung, galau, gelisah, merana. Dia bimbang dan bingung dengan perasaan sendiri kepada Arumi. Tidak tau apakah perasaan ini adalah perasaan jatuh cinta atau hanya bentuk tanggung jawabnya yang seperti ia katakan sebelumnya kepada Arumi.

__ADS_1


Termenung sendiri, sambil menyapu pandangan ke luar jendela. Digo diam berpikir. Satu sisi dia merasa marah, amat murka, dan tidak terima Arumi di perlakuan seperti itu. Satu sisi lainnya, Digo amat cemas. Takut dengan perasaan dan tindakannya sendiri. Dia masih belum percaya akan cinta yang membuatnya takut dan memandang Arumi sama seperti Laluna. Digo diam seribu bahasa. Menghela napas teratur sambil membelai mesra rambut istrinya.


Maafkan aku jika belum bisa menjadi suami sempurna di matamu. Aku masih begitu takut dengan namanya jatuh cinta. Terjatuh dan terluka kembali, aku bahkan tak dapat membayang hal itu bakal kembali terjadi jika aku benar-benar mencintaimu. Mungkin seluruh hidup ku akan hancur tak tersisa.


__ADS_2