
Senyap menyapa Arumi, saat dirinya tiba di rumah. Tak ada sama sekali pelayan yang biasanya mundur mandir membersihkan rumah. Lampu-lampu di sana pun nampak di matikan, membuat rumah besar dan mewah itu gelap gulita. Arumi melangkahkan sambil meraba-raba sekitar, mencoba mencari saklar lampu guna menyalahkan. Entah ada apa dengan rumah ini? hingga membuatnya menjadi gelap gulita seperti ini.
"Gak mungkin kan, Digo lupa bayar listrik sampe di cabut sama PLN?" Terka Arumi.
Langkahnya berlahan-lahan mencapai ruang tamu di mana kemarin duduk dia, pengacara pribadi Digo, juga Digo. Mata Arumi memincing, mencoba melihat apakah ada orang di sana. Dan, nampaknya tak ada.
Saat dirinya akan menaiki anak tangga, tiba-tiba sebuah bayangan terlintas di depannya. Arumi kaget bukan main. Di sangka hantu tengah bolong, Arumi sampe loncat dan mengibaskan handuk yang ada di lehernya.
"Hush, pergi. Masa rumah segede ini ada setannya? Pergi jangan ganggu gua."
Klik...
Tiba-tiba semua lampu menyalah. Arumi yang memejamkan mata berlahan membuka matanya. Menoleh ke arah dan kiri. Hingga sosok, Digo terlihat tengah duduk disebuah kursi goyang tengah memandanginya dengan tatapan menyalang. Tatapan mata Digo, mengingat Arumi pada saat dia menatap Laluna di malam penjamuan keluarga besarnya yang saat itu Laluna membanggakan diri menjadi istri Digo dan secara tak langsung menghina Arumi.
Arumi jadi tertegun. Bertanya-tanya pada dirinya, apa dia berbuat salah? Hingga Digo memasang wajah asem di jam yang masih terhitung pagi itu.
"Hai." Memasang wajah lugu, Arumi menyapa Digo sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Digo bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Arumi. Lelaki itu berhenti tepat di hadapan Arumi, masih dengan tatapan lekatnya yang membuat Arumi bergedik setengah mati.
"Lari pagi ke Kuta, huh jam segini baru pulang?"
"Eh. Itu–anu..." Arumi gugup mau menjelaskan.
Digo membungkukkan tubuhnya sedikit berusaha melihat wajah Arumi yang sedari tadi tertunduk dalam.
"Baru sehari tinggal di sini, udah ketemu bule ganteng. Hebat." Katanya dengan nada tertahan.
Kepala Arumi mendongak. Di tatapan wajah Digo lekat. Dalam benak, Arumi bertanya bagaimana Digo bisa tau kalau dia baru saja ketemu bule?
"Kau sudah gila, ya? Loncat-loncat tak jelas ketika aku sedang bertanya serius. Sekarang katakan pada ku? Siapa lelaki itu, huh. Kau mau selingkuh, ya? Sudah lupa dengan perjanjian kita, bahwa tak ada perselingkuhan di rumah tangga ini?"
Tak peduli celotehan Digo. Arumi menanggapi terus dengan senyuman yang menggelikan. Kini gantian bulu kuduk Digo yang tiba-tiba meremang.
"Kau membututiku, ya?" Arumi berbisik di telinga Digo.
__ADS_1
Mata Digo membulat. Tiba-tiba saja, tubuhnya langsung kikuk dan gugup. Niatan ingin menegur Arumi malah berbalik kepadanya. Dia ketahuan oleh Arumi telah membututi dan memata-matai istrinya sendiri.
"Kau cemburu? Melihat aku duduk berdua dengan bule ganteng itu, kan?" Arumi semakin berani. Dia bahkan bicara sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Tidak. Jangan geer. Untuk apa aku memata-mataimu? Pekerjaan ku masih banyak, tak ada gunanya juga memata-matai gadis pemabuk seperti mu."
Mata Digo melirik ke arah Arumi. Senyumanya masih mengembang mengejek Digo. Jika sudah seperti ini, Digo semakin merasa terpojokan.
"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu, huh?"
"Tidak. Memang salah, kalau aku menatap suamiku sendiri?"
Mendengar ucapan Arumi, tiba-tiba buluk kuduk Digo semakin meremang. Tak ingin dirinya semakin terpojokan, Digo segera memutar tubuhnya dan berlahan pergi meninggalkan Arumi dnegan berjalan setengah berlari. Digo masuk ke dalam ruang kerjanya kembali dengan membanting pintu.
Arumi cekikikan. Ia benar-benar tak menduga, ternyata Digo memiliki sifat posesif yang berlebihan seperti tadi. Arumi sampai bergedik membayang dia sedang di luar sana, dan secara diam-diam Digo menyuruh orang memata-matainya.
"Untung sayang. Coba gak."
__ADS_1
...----------------...