Terpaksa Menikahi Duda

Terpaksa Menikahi Duda
EPISODE 54


__ADS_3

Setelah perdebatan kecil yang terjadi sepulang lari tadi, Arumi memutuskan untuk langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Tak lupa, Arumi juga menganti perban yang membalut luka di lututnya dengan perban yang baru.


Seraya mengobati luka di lututnya, pikiran Arumi berkecamuk. Dia memikirkan dua pertemuan tak terduga pagi ini. Pertama dengan wanita di pasar tadi yang tentu langsung mengusik hidupnya. Arumi yakin, wanita itu tidak akan melepaskan Arumi begitu saja. Dia pasti akan mencari keberadaan Arumi, guna mencari tahu bagaimana kabar kakaknya Danish yang juga anak kandung dia. Juga tentang Marco, bule tampan yang memiliki nasib menyedihkan. Di tinggal mati tunangannya, dan kini harus menjalankan hidup dalam bayang-bayang masa lalu.


Namun meski begitu, Arumi salut dengan Marco yang masih mampu bertahan hidup hingga hari ini. Jika saja, Arumi yang berada di posisi Marco, mungkin dia sudah sedari dulu mengakhiri hidupnya. Karena tidak kuat hidup menderita karen kematian kekasih hati. Ah! Tapi jika di pikir-pikir lagi, tak ada cinta yang abadi di dunia ini bagi Arumi. Kalau bukan pengkhianatan, cinta bertepuk sebelah tangan, atau kematian? Apalagi yang memisahkan cinta. Mungkin, Arumi belum pernah mengalami hal menyedihkan seperti Marco. Tetapi, dirinya sudah mengalami dua hal menyedihkan tentang cinta. Pertama cintanya dikhianati, dan kedua cintanya bertepuk sebelah tangan. Kalau di pikir-pikir lagi pun, bukan kah hidup Arumi juga semenyedihkan, Marco?


Saat, Arumi masih sedang tepekur dengan pikirannya. Tiba-tiba saja, pintu kamarnya di ketuk. Muncul seorang pelayan dari balik pintu.


"Permisi, nona muda."


"Ada apa, bi?"


"Tuan muda akan segera berangkat. Anda di minta turun."


Kening Arumi mengerut bingung. Berangkat? Berangkat ke mana?.


Diam-diam, Arumi melirik jam dinding di kamarnya. Saat itu, jam baru saja menunjukkan pukul setengah sepuluh.


"Digo, mau pergi ke mana, bi?" tanya Arumi keheranan.


"Bekerja, nona. Tuan muda akan berangkat kerja hari ini."


Arumi tersenyum getir. Ternyata sebegitu sibuknya lelaki yang kini menjadi suaminya itu. Bahkan di hari kedua mereka menikah, Digo sudah bekerja.


"Baiklah. Aku akan menyusul ke bawah."


Bibi pengurus rumah pun pergi meninggalkan Arumi yang saat itu tengah duduk di kursi sambil menatap dirinya di pantulan cermin.


Semenyedihkan itu, ya hidup lo? Selain cinta lo bertepuk sebelah tangan dan lo gak di anggap lagi bini di rumah ini. Sampai bisa tega-teganya orang yang kini berstatus suami lo, pergi ninggalin lo buat kerja di hari kedua pernikahan lo.

__ADS_1


Arumi menapaki anak tangga, melihat dari atas sana tubuh tegap Digo yang terbalut setelan jas rapih tengah berdiri bersama seorang lelaki asing yang tak Arumi kenali. Saat, Arumi turun dia segera menghentikan langkahnya saat melihat lelaki seumuran suaminya itu bergerak tersenyum ke arahnya sejurus kemudian membungkuk badan hormat.


Digo yang menyadari kedatangan Arumi, memutar tubuhnya untuk melihat istrinya yang telah berganti pakaian. Saat itu, Digo belum menyadari jika Arumi baru saja terluka. Makanya, dia bersikap biasa saja dan malah terkesan cuek. Hal itu di perkuat, ketika Digo mengenalkan lelaki di sebelahnya kepada Arumi dengan suara yang begitu dingin.


"Dia, Ken. Asisten pribadi, ku."


Lelaki bernama Ken itu, sekali lagi membungkukkan tubuhnya. Tetapi kali ini, Arumi ikut membalas bungkukannya.


"Saya, Arumi. Salam kenal Asisten Ken."


Lucu. Satu kata yang Ken pikirkan, saat pertama kali melihat Arumi. Berbeda dengan, Luna dahulu yang bahkan tak menganggap Ken sebagai asisten pribadi Digo, malah justru babu Digo. Arumi, nampaknya lebih baik dan tidak sesombong Laluna. Pikir Ken.


"Saya Ken, nona muda."


Ah! Lagi-lagi, Arumi di panggil dengan sebutan nona muda. Dia sedikit agak geli sebenarnya mendengar panggilan itu. Seperti sedang masuk ke sebuah sitkom, di mana dia baru saja menikah dengan seorang Sultan yang begitu di cintai dan di hormati oleh seluruh orang.


"Jadi, kalian mau berangkat kerja sekarang?"


"Ah! Gak apa-apa, kok. Lagi juga, Digo gak ada kerja di rumah. Jadi mendingan kerja aja, ada kegiatan." Meskipun sejujurnya, Arumi masih kesal tapi Arumi mencoba memaklumi. Dia tak mungkin menahan suaminya untuk bekerja hanya karena tak ingin jauh-jauh dari Digo. Selain egois, dia juga pasti malu sebagai wanita.


"Yaudah, aku berangkat dulu." Digo maju satu langkah mendekati Arumi. "Ingat, kalau pergi telpon aku. Awas kalau pergi tanpa izin dari aku lagi." Ultimatum Digo mengancam Arumi.


Ingin rasanya Arumi tertawa. Begitupun dengan Ken yang sudah sangat lama tidak melihat bosnya bucin kepada wanita itu. Tak di sangka pikir Arumi, ternyata Digo tipikal lelaki posesif juga rupanya.


"Iya–Iya."


Arumi meraih tangan Digo, mengecupnya sebelum kemudian mengantarkan kepergian Digo dan asisten Ken.


"Tuan, apakah nona muda baru saja terluka?"

__ADS_1


Pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut Ken, langsung menghentikan aktivitas Digo yang sedang tepekur dengan tablet di pangkuannya.


"Apa maksud mu?"


Sambil mengemudi, Ken menjelaskan.


"Saat nona turun dari tangga tadi, saya melihat jalan nona yang sedikit pincang. Apakah, nona baik-baik saja tuan?"


Digo terdiam. Tangan kanannya diam-diam membuka sedikit jendela mobil. Pandangannya seketika melirik ke arah spion yang mana memperlihatkan Arumi di belakang sana tengah berdiri masih terus memperhatikan laju mobil Digo yang semakin menjauhi rumah.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat meeting, Digo tak bisa berpikir sama sekali. Pikirannya terusik dengan ucapan Ken. Sungguh, dia benar-benar tak mengetahui jika jalan Arumi pincang. Apa yang terjadi dengan wanita itu saat lari pagi tadi? Apa, dia mengalami kecelakaan hingga membuatnya terluka dan pulang terlambat? Ah, sial. Digo tak bisa membuang sedikitpun rasa khawatirnya kepada Arumi. Rasanya, dia ingin sekali menyuruh Ken untuk memutar mobilnya dan kembali pulang.


Tak lama, mobil yang di bawa Ken memasuki sebuah restoran bintang lima yang masih satu kawasan seminyak. Lelaki tampan bertubuh kekar itu menghentikan mobilnya, saat melihat deretan mobil tak kalah mewah terparkir di tempat khusus. Dia melepaskan sabuk pengamannya, memutar tubuhnya sedikit hendak bicara kepada Digo.


"Klain kita hari ini seorang pengusaha terkenal di Inggris. Dahulu, ayahnya adalah rekan bisnis tuan besar. Tapi karena beliau sudah memutuskan untuk pensiun seperti tuan besar, akhirnya anaknya lah yang sekarang menggantikan jabatannya."


"Marco Anderson?" tanya Digo kepada Ken kala melihat profil klian barunya.


"Ya, tuan. Namanya, tuan Marco. Dia adalah Klain terbesar kita yang akan menandatangani kontrak kerjasama dengan kita kalau saya bisa membawa tuan menemuinya hari ini."


Tanpa basa-basi, Digo memberikan tabletnya kepada Ken. Kemudian membetulkan jasnya, lalu turun dari mobil.


"Jadi permintaan Mr.Anderson untuk menandatangani kontrak itu adalah menemuiku?"


"Ya, tuan muda. Tuan Marco, ingin mengetahui lebih dalam bagaimana rekan bisnis ayahnya dulu."


"Oke. Mari kita temui dia. Dan ambil kontrak kerjasama terbesar perusahaan kita."


Keduanya pun melangkah, berjalan memasuki restoran bergaya Amerika classic tanpa menyadari, jika klain yang mereka temui hari ini adalah orang yang sama yang Arumi temui tadi pagi

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2