
Sebelum baca jangan lupa Vote dan. beri hadiah🙏🙏
***
sulit untuk Arumi memutuskan. Meski di tangannya kini sudah tergenggam kertas bertuliskan nomor telpon Digo, Satu-satunya orang yang dapat menolongnya keluar dari masalah yang ada. Pikirannya masih bimbang, karena syarat konyol dan gila yang Digo berikan kepadanya.
Pernikahan bukanlah sebuah permainan, atau bisnis yang sewaktu-waktu bisa berhenti. Dia ingin pernikahan yang ia lakukan menjadi pertama dan terakhir. Walaupun fakta jika Digo berjanji tidak akan meninggalkan Arumi kecuali Arumi sendiri yang menodai pernikahan mereka. Tetap saja bagi Arumi, Digo tetaplah lelaki asing yang tidak bisa ia percaya begitu saja.
Maju mundur Arumi ingin melakukan atau tidak. Gagang telpon di angkatnya, kemudian dia letakkan kembali karena bimbang. Hatinya terusik. Pilihan di dalam hidupnya begitu sulit.
Ya Tuhan gue harus pilih apa? Kalau gue hubungi cowok itu, mau gak mau gue harus siap jadi bininya. Gue gak siap nikah muda apalagi sama cowok yang gak gue cintai.
Ting...
Sebuah pesan singkat masuk di ponselnya. Arumi membukannya yang ternyata berasal dari Leon sang mantan kekasih. Arumi sedikit binggung, karena pasalnya dia tidak memberitahu Leon nomer barunya selama di Amsterdam. Mungkin HRD perusahaannya yang telah memberikan nomer barunya kepada Leon atau yang lain.
Pesan di buka, nampak sebuah foto menunjukkan Leon tengah duduk sendiri di meja kebesaran yang dulu di tempati Arumi. Ada sebuah pesan yang tersemat pada foto tersebut bertuliskan aku akan sedikit mendekorasi ruangan ini. Rasanya sungguh pengap, terlebih jika ada Bianca datang mengunjungi ku.
Tangan Arumi mengepal erat. Hatinya tercabik-cabik sakit. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera mengangkat gagang telpon dan menekan tombol angka untuk menghubungi Digo. Dendam dan rasa sakit hatinya kepada Leon sudah mencapai taraf tinggi. Karena Leon juga, ayahnya kini terbaring lemah di rumah sakit. Bagaimana caranya pun, Arumi harus membalaskan sakit hatinya dan merebut kembali miliknya dari tangan Leon.
Lama telpon itu menyambung, hingga suara wanita lansia di ujung sana menyapa dirinya dengan suara lembut dan lemah.
"Halo?"
"Halo, permisi apakah ini benar kediaman Mr. Digo Uparengga."
"Ah, aye. Ini adalah kediaman Digo. Ada yang bisa di bantu?"
Arumi menghela napas sejenak. Ragu mengatakannya, "Bisa saya bicara dengan Mr. Digo?"
"Tentu. Tunggu sebentar, biar saya memanggilnya. Kalau boleh tau ini dari siapa?"
"Arumi. Arumi Maharani."
"Oke. Tunggu sebentar."
Kop telpon di jauhkan. Arumi harus menunggu beberapa menit sampai kop telpon kembali di raih. Selama menunggu itu, jantung Arumi rasanya berdetak begitu hebat. Ia seperti akan menyerahkan diri kepada makhluk paling mengerikan di dunia.
"Halo nona." Suara lembut nan lemah itu kembali menyapa. Buru-buru, Arumi yang menunggu cemas duduk di sofa bangkit.
"Iya, bagaimana?"
"Digo tidak sedang berada di rumah saat ini. Tapi aku akan mengirimkan pesan kepadanya untuk menghubungi mu secepatnya."
__ADS_1
Ada rasa lega, dan sedikit gundah pada hati Arumi. Sambil memancarkan senyum keterpaksaan Arumi pun berkata
"Baiklah. Terimakasih."
"Ya, Sama-sama, nona."
Panggilan pun berakhir, lemas Arumi meletakan kop telpon. Dia berjalan gontai menuju kamarnya. Membanting pintu kamar, menguncinya, dan menjatuhkan diri di ranjang.
Air matanya kembali jatuh, dia bahkan tak peduli badannya yang lengket dan bau karena sisa mabuk semalam. Belum lagi gaun yang ia kenakan sudah sedikit sobek karena berjalan tergesa-gesa ketika ingin mengecek sisa tabungannya tadi.
Hatinya terasa sakit dan panas. Tak tau apa yang dia tangisi, pikirannya sudah bercabang. Antara memikirkan sang ayah, foto yang di kirimkan Leon, juga tentunya tawaran Digo yang pasti akan jika ia terima seketika membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Jalannya sudah buntu, tak ada lagi yang dapat menolongnya selain ia menerima permintaan Digo untuk menjadi istrinya. Maka, meskipun hati Arumi sakit dia harus berusaha kuat untuk dapat menyembuhkan sang ayah juga merebut kembali perusahaannya yang diambil alih oleh Leon.
Sementara itu, Digo yang baru saja mengurus surat imigrannya tiba di rumah sang nenek. Dia masuk ke dalam rumah dan sudah di sambut dengan begitu banyak makanan tersaji di atas meja makan.
"Woah ada acara apa sampai nenek memasak segini banyak?" tanya Digo sambil berjalan mendekati sang nenek yang sudah duduk manis di kursi makan menunggunya.
"Tidak ada. Hanya ingin merayakan sesuatu."
Kening Digo mengerut. "Sesuatu?"
Nenek tersenyum malu. Tangannya sudah dengan cekatan mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring milik Digo.
Digo yang sedang minum air tersendak, hingga nyaris memuntahkan kembali air di dalam mulutnya.
"Wanita? Maksudmu mencari aku?"
Kepala nenek mengangguk mengamini.
Digo tercengang, pikirannya melayang mencoba mengingat-ingat wanita mana yang di maksud sang nenek. Karena pasalnya selama tinggal di Amsterdam, dirinya amat jarang berinteraksi dengan wanita apalagi sampai memberikan nomor rumahnya kepada wanita itu. Rasanya tidak pernah dan tidak mungkin.
"Siapa?"
"Namanya Arumi Maharani. Dari namanya terdengar seperti orang asli melayu, ya?"
Deg...
Jantung Digo seperti baru saja berhenti berdetak. Jadi wanita yang di maksud nenek adalah Arumi. Entah, dia harus senang atau binggung karena yang mencarinya Arumi. Digo pun tak tau apa alasan Arumi menghubungi secepat itu. Padahal belum ada satu jam dia mengantarkannya pulang. Dan sekarang, gadis itu menghubungi dan mencari dirinya.
Seketika, hati Digo terusik. Takut takut kalau Arumi ingin memutuskan untuk tidak menerima permintaan Digo. Hilang sudah selamanya masa depan dirinya. Entah harus seperti apa lagi, Digo mengobati kelainan impotennya. Mungkin selamanya, dia akan tetap seperti ini. Tak dapat lagi merasakan apa itu ... Lust.
Melihat cucunya yang tiba-tiba melamun dan memasang wajah sendu, Gretta menyenggol tangan kekar Digo. Membuyarkan lamunan lelaki itu.
__ADS_1
"Apa yang mengusik mu?"
Digo tersenyum. Berusaha menyembunyikan apa yang sedang mengganggu pikirannya kini. "Tidak ada."
Tiba-tiba saja, Digo bangkit dari duduknya, menyingkirkan piring yang sudah berisikan banyak makanan itu dan menghambur masuk ke dalam kamar.
Dari dalam kamar, Digo berteriak kepada sang nenek.
"Dimana kau menyimpan nomor perempuan itu."
Dari bawah Greta menjawab sambil berusaha menahan tawa.
"Ada di atas nakas tempat tidur mu."
Digo melirik ke atas nakas yang di maksud sang nenek. Di sana di menemukan selembar kertas putih yang sengaja di timbah oleh vas bunga agar tak terbang. Digo meraihnya, dan menemukan sebuah nomer telpon yang tentu saja ia yakini milik Arumi.
Meskipun hatinya berat dan sedikit takut, Digo berusaha menampik itu semua. Di ambilnya ponsel layar datar berlogo apel di gigit dari dalam celananya, kemudian ia mengetik satu persatu nomor yang tertera pada kertas tersebut.
Dengan sekali hembusan napas, Digo mengklik tombol panggil. Menempelkan ponsel miliknya di daun telinga menunggu panggilan itu tersambung dan di angkat.
"Halo?" Suara perempuan yang begitu lembut terdengar dari sebrang sana. Suara itu tidak asing untuk Digo, karena sama persis seperti suara Arumi.
"Hai, Arumi. Ini Digo."
"Akh... Elo, Gue kira siapa."
Tiba-tiba dia menjadi kikuk, seperti terlempar kembali ke masa muda dulu ketika masih ABG saat sedang proses PDKT dengan gebetan.
"Kata nenek gue tadi lo nelpon gue, btw ada apaan?"
Sejenak di seberang sana Arumi terdiam. Membuat Digo yang berdiri di ambang jendela kamar mengepalkan tangan gemas penasaran menunggu jawaban Arumi.
"Gue," akhirnya suara itu terdengar. Suara yang membuat jantung Digo berdebar hebat seperti ingin keluar dari dalam sana. "Gue udah mutusin, Go."
"Mutusin apa, Rum?" Pura-pura tenang padahal hatinya terasa tak karuan.
"Mutusin permintaan lo tadi pagi."
"Oh, ya ya. Jadi gimana?"
Sambil memejamkan mata dan masih mengepalkan tangan, Digo siap mendengarkan keputusan Arumi.
"Gue... Gue mau jadi istri lo."
__ADS_1
***